
Tatapan mata Reva tajam melihat Windy datang bersama Winda yang langsung berlari menemui Papinya.
"Dari mana Windy? Mami hampir jantungan menunggu kalian."
"Maaf Mami sayang, soalnya kita pergi ke mall bersama Winda dan geng nakalnya."
"Oke, sekarang kalian ada di sini, cepat masuk Papi menunggu kalian dengan cemas." Reva menghela nafas kasar.
Steven tersenyum memberikan minuman jus apel tanpa gula kesukaan Reva yang selalu menjaga tubuhnya, tidak mengkonsumsi banyak gula.
"Aku menerimanya karena haus, sekarang aku tidak diet lagi." Reva langsung berjalan meminum jusnya.
"Tidak pernah terbayangkan ternyata wanita galak menjadi ibu mertua aku." Steven tertawa kecil langsung melangkah masuk.
Di dalam hotel sudah penuh orang yang akan terlibat di dalam acara pesta, Bima secara langsung menetapkan seluruh keamanan demi kenyamanan para tamu undangan.
Senyuman Steven terlihat menatap pelaminan yang sudah delapan puluh persen, pundak Stev ditepuk oleh Bima.
"Kak Bim."
"Kamu menyukainya."
"Sangat menyukainya, tapi hal yang paling Stev sukai dari semua ini putri cantik Papi."
"Kamu memang menjadi pemiliknya, tapi ingat Stev aku cinta pertamanya."
Bima tertawa bersama Steven, remaja yang dulunya Bima tolong, hanya hitungan hari akan menjadi menantunya.
"Stev, kamu ingin mengundang keluarga dari pihak Ayah kamu?"
"Tidak, Steven tidak punya keluarga selain Vero."
"Kak Bima sudah menawarkan, jangan jadi beban pikiran kamu harus happy."
"Terima kasih kak Bima, seandainya dulu kak Bim menyerah soal Steven kemungkinan sekarang kita sangat jauh."
"Kamu salah Stev, bukan karena kenal kita dekat, tapi karena hati kita memang didekatkan lalu saling kenal. Walaupun kita belum bertemu, takdir akan mempertemukan dengan jalan yang berbeda."
Steven menganggukkan kepalanya, melangkah bersama Bima ke aula belakang tempat ijab kabul.
Senyuman Steven terlihat sangat mengagumi dekorasi, terlihat juga Viana secara langsung membawa tim VCLO untuk membantu dekorasi.
"Bagaimana calon pengantin bagus tidak?" Vi tersenyum.
"Bagus sekali kak Vi, terima kasih ini bunga kesukaan kak Stevie." Steven menundukkan kepalanya.
"Jangan bersedih, Stevie pasti sekarang bahagia melihat kamu bahagia."
__ADS_1
"Terima kasih kak Vi, hanya terima kasih yang bisa Stev ucapkan."
"Sama, hanya ini yang bisa kami berikan Steven. Kami hanya bisa mengantarkan kamu ke arah kebahagiaan." Viana tersenyum menatap Steven yang mengusap air matanya.
Steven menatap Rama yang tersenyum, mengizinkan Stev memeluk istrinya mengungkapkan perasaan seorang adik yang merindukan kakaknya.
Viana mengusap kepala Steven, memintanya untuk menganggap Viana kakaknya.
"Terima kasih kak Vi."
"Terima kasih sudah kembali, terima kasih sudah bersama kami kembali, jangan pergi dan menghilang lagi, kami terluka Stev."
"Kekuasaan, kemewahan, harta yang berlimpah tidak bisa membantu kami menemukan kamu lebih cepat, usaha kami memang tidak membuahkan hasil karena Allah sudah menyiapkan pertemuan yang jauh lebih baik dari harapan kami."
"Terima kasih kak Rama, Steven juga bahagia bisa bersama kalian lagi, tapi bisa tidak Ravi jangan terlalu dekat dengan Windy, dia sudah besar." Steven langsung melangkah pergi menyingkirkan tangan Ravi yang merangkul Windy.
Viana menatap tajam, Stev sangat cemburuan bahkan dengan Ravi yang sejak kecil bersama Windy juga menjadi masalah.
"Rama kamu marah tidak jika aku merangkul Viana?"
"Aku yang marah!" Reva melotot menatap Bima.
"Jika aku merangkul Reva seperti ini." Rama tersenyum merangkul pundak Reva.
Bima langsung menarik Reva ke dalam pelukannya, Viana langsung cemberut menangis melihat Rama merangkul Reva.
"Ada apa Mom."
"Dia merangkul pelakor." Viana menunjuk ke arah Reva.
Ravi mengerutkan keningnya, langsung melangkah pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
Rama tersenyum langsung memeluk Viana, meminta maaf karena dia hanya bercanda.
"Kamu mantan Bima?"
"Belum jadi mantan, Vi cinta monyet tenyata Bima juga cinta Viana, jika tahu Viana ingin mencoba pacaran."
"Tega sekali bicara seperti itu." Rama mengerutkan keningnya.
"Viana cinta Bima, Bima juga cinta Viana, sedangkan Reva cinta Rama, lalu siapa pelakor?" Jum tertawa melihat Viana dan Reva melotot.
"Viana cinta masa lalu, dia memang wanita baik tapi Allah mengirimkan wanita yang jauh lebih baik dari Viana yang bisa melengkapi hidup aku. Mungkin dulu Viana mencintai aku, tapi Allah juga mengirim lelaki yang baik seperti Rama yang bisa melengkapi hidup Vi. Allah paling tahu yang terbaik untuk kita." Bima memeluk Reva, Rama juga memeluk Viana.
"Kenapa dulu tidak merebut Vi saat tahu dia ingin menikahi Rama?"
"Untuk apa? di mata aku Rama pria baik, dia bisa memperbaiki Viana."
__ADS_1
"Kamu tidak mencintai aku saat itu?"
"Pastinya cinta, tapi saat Rama mengucapkan saya terima nikah dan kawinnya Viana, Cinta lenyap dengan keihklasan hati."
"Reva cemburu."
"Sayang, kamu wanita yang paling sempurna baik bagi aku juga anak-anak kita, tidak pernah aku sesali pernah dikejar-kejar oleh wanita playgirl." Bima mencium kening Reva.
Steven dan Windy hanya duduk manis menatap keromantisan cinta masa lalu orang tua yang cukup rumit, Bisma dan Jum juga duduk bersama Stev dan Windy sambil tersenyum.
"Jum, dulu kamu suka tidak dengan Bima?"
"Tidak Ayah."
"Kenapa padahal kami kembar?"
"Wajah boleh sama, tapi pilihan hati tidak bisa ditentukan."
"Kenapa dulunya Bunda mencintai pria brengsek seperti kak Bisma?" Stev tertawa melihat Bisma memukulnya.
"Karena Bunda percaya ada kebaikan dihatinya, Bisma berjuang menjaga kak Vi dan Ravi, membesarkan Ravi penuh kasih sayang sehingga rasa percaya langsung muncul, jika dia lelaki pilihan Allah, bukan memandang baik buruknya dia, tapi Allah mengerakkan kami berdua untuk saling memperbaiki diri saling melengkapi." Jum tersenyum manis.
"Istriku tercinta, bidadari surgaku. Terima kasih sayang I love you." Bisma mencium kening Jum.
"Steven juga mau sayang." Stev menatap Windy yang mendekati hidung Stev.
"I love you Om bule." Windy tertawa bahagia.
"I love you Om duren." Reva mencium pipi Bima.
"I love you suami ABG ku." Viana mencium bibir Rama.
Suara tawa terdengar, Winda, Vira, Bella dan Billa saling tatap.
"I love you Wildan." Vira memberikan ciuman jarak jauh.
"I love you kak Tian." Bella memonyongkan bibirnya.
"I love you kak Erik." Billa tersenyum malu-malu.
"I love dedaunan, love you bunga, love you burung, love you kekasih tidak terlihat." Winda memeluk tiang dekor.
Windy tertawa kuat melihat Winda yang menyedihkan, langsung melangkah pergi karena menjadi bahan ejekan.
Stev merangkul Windy sambil tersenyum melihat seluruh keluarga berkumpul dengan penuh kebahagiaan.
"Terima kasih ya Allah untuk keharmonisan keluarga ini, jadikan aku suami yang sabar seperti kak Bima, penyayang seperti Rama, penuh cinta seperti kak Bisma juga bisa menjadi Ayah dan suami terbaik untuk Windy dan anak kami.
__ADS_1
***