MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MENGEJAR CINTA OM BULE


__ADS_3

Hari pertama Windy kuliah, melihat banyaknya Bule yang berbeda jauh kulitnya dari dirinya, Windy tidak memiliki teman selama di kampus, dirinya berjalan mencari ruangan kelasnya.


Saat masuk Windy sudah melihat banyaknya mahasiswa yang duduk diam, sangat berbeda seperti di saat dia SMA saat masuk kelas terdengar suara berisik, tapi kali ini Windy tidak melihat keributan, setiap orang fokus dengan buku masing-masing.


"Winda benar, aku akan menjadi siswa urutan terakhir, melihat orang yang fokus belajar, sedangkan Windy tujuan awal mencari teman.


Acara belajar di mulai, Windy tidak mendengar sedikitpun suara orang berbicara, hanya suara dosen yang terdengar. Windy heran dia seperti sedang berada di kota zombie.


Seluruh pelajaran yang di bahas tidak masuk ke dalam kepala Windy, saat jam pelajaran berakhir seluruh mahasiswa keluar dengan rapi, tidak ada acara saling mendorong.


"Wohh, baru satu hari ada rasa sesal kuliah di sini."


Windy membuka bekal makan siangnya, langsung melakukan video bersama adik kecilnya Winda. Terlihat senyum Winda membuat Windy langsung tertawa kuat. Wajah adiknya penuh dengan es krim, suara Mami terdengar sangat kuat, Winda sedang dimarahi karena memakan es krim tidak izin.


Wajah lucu adik cantiknya terlihat sedang menahan air matanya, sesekali lidahnya keluar menjilati bekas es krim di bibirnya, sampai lab kotor menempel di wajahnya. Windy terus tertawa, melihat Winda menangis kuat, suasana yang Windy rindukan saat di rumah.


"Dia adik kamu, lucu sekali."


Windy langsung mematikan ponselnya, melihat ke arah belakang, seorang pemuda bule yang berbicara menggunakan bahasa Inggris. Dia bisa langsung menembak jika Windy bukan orang asli.


"Hai, perkenalkan aku Lukas." Lukas ingin menyambut tangan Windy, senyum kecil terlihat, Windy melipatkan kedua tangannya.


"Aku Windy, maaf ya aku permisi dulu." Windy langsung pamit pergi, keluar kelasnya.


Lukas mengejar Windy, berjalan di depannya. Windy berhenti langsung kesal.


"Win, ayo makan siang bersama."


"Terima kasih, aku membawa bekal dari rumah."


"Kamu seorang muslim, aku juga muslim Daddy asli orang sini, sedangkan Mommy asli Arab. Kami sekeluarga menganut Islam."


"Aku tidak bertanya."


"kamu jutek sekali, aku hanya ingin berteman. Ini alamat restoran milik Mommy, di sana makanan halal semua. Lain kali kamu sempatkan waktu untuk mampir, aku akan menemani kamu, untuk yang pertama gratis, kedua dan ketiga wajib bayar." Lukas tersenyum langsung melangkah pergi.


Windy juga tersenyum menatap kertas kecil yang menjual makanan halal, Windy langsung melangkah untuk ke perpustakaan. Banyak buku yang harus dia bawa pulang.

__ADS_1


Jam kuliah akhirnya berakhir, Windy berjalan membawa banyak buku. Masuk ke dalam mobilnya, melaju arah pulang.


Mobil Windy berjalan pelan, menikmati keindahan kota tanpa sadar Windy tidak tahu jalan pulang. Mobil menyasar sangat jauh, sampai malam Windy masih mengikuti jalan yang tertera di mobilnya.


"Aduh Windy di mana? dasar GPS sesat." Windy memukul setir mobilnya.


***


Steven baru saja pulang, melihat CCTV depan untuk melihat Windy sudah pulang atau belum. Steven binggung melihat Windy belum pulang padahal sudah malam.


"Pergi ke mana Windy?" Steven langsung mencari ponselnya, menghubungi Windy tapi tidak aktif.


"Ya Allah, anak ini ke mana?"


Steven langsung keluar, masuk ke mobilnya. Masih berusaha menghubungi Windy yang hilang kontak. Coba menghubungi kampus, ingin bertanya kepada teman, tapi Windy belum memiliki teman.


"Windy Bramasta kamu di mana?"


Setelah berputar-putar tidak jelas, ponsel Windy tersambung. Mendapatkan jawaban, jantung Steven langsung berdegup mendengar suara tangisan Windy yang ketakutan.


Setelah Steven memikirkan lokasi Windy, Steven cukup kaget, Windy berjalan sudah sangat jauh. Dengan sabar Steven meminta Windy untuk berada di keramaian. Barulah Steven menyusul ke sana. Windy yang ketakutan tidak ingin mematikan ponsel, dengan penuh kesabaran Steven setuju.


Windy duduk di sebuah cafe, hampir dua jam dia menunggu Steven barulah mobil Steven terparkir. Cepat Windy berlari memeluk erat tubuh Steven yang juga langsung memeluk.


"Kenapa kamu bisa menyasar Win, Om Stev khawatir."


"Jangan salahkan Windy Om, GPS yang gila, belok kanan belok kiri, lurus belok lagi, terus saja bicara tidak jelas, Windy akhirnya nyasar." Air mata Windy mengalir, ingus menempel di baju Stev.


Sebenarnya Steven ingin tertawa, Windy mirip Maminya menyalahkan benda mati. Bocah kecil yang dulu selalu mengatakan ingin menikahinya, menjadi gadis cerewet, juga menggemaskan.


"Windy sudah makan?"


"Belum Om, mana mungkin Windy bisa memikirkan makan, rasanya Windy ingin teriak-teriak memanggil Mami." Windy terus mengomel, Steven mengerutkan keningnya, bajunya basah air mata bercampur dengan lendir dari hidung Windy.


"Baiklah, ayo Win kita makan dulu."


"Nanti Om, Windy menenangkan diri dulu, Windy trauma, kaget, cemas, jantung Windy berdegup kencang. Windy belum ingin mati perawan Om, masih ingin menikah punya anak." Tangisan Windy kembali terdengar.

__ADS_1


Steven menahan tawa, orang hilang harusnya mencari kantor polisi, tapi Windy sibuk berputar-putar tidak bisa berpikir. Windy masih terlalu polos dengan dunia luar.


Dengan lembut Steven membawa Windy duduk, mengambil air mineral dari dalam mobilnya. Steven mencari tempat makan terdekat yang halal, sesekali Steven menatap wajah Windy yang memonyongkan bibirnya.


"Win sudah tenang belum, kita makan sebentar langsung pulang, karena sudah sangat malam."


"Windy tidak mau membawa mobil Om, tapi mobil Windy nanti hilang Om." Windy sibuk berpikir, Steven hanya tersenyum.


"Kita bisa membawa mobil kamu Win, nanti mobil Om bisa di ambil nanti saja."


Windy tarik nafas buang nafas, Steven memegang jantungnya masih merasakan pelukan Windy. Steven coba menepis perasaannya, dia hanya khawatir karena Windy sudah seperti putrinya.


Setelah sampai di tempat makan, Windy makan dengan lahap. Dia sangat kelaparan karena menyasar. Steven pergi ke toilet untuk membersihkan bajunya, masih merasakan jantungnya yang berdegup kencang.


"Kenapa aku deg-degan? dia tidak sama seperti wanita lain Steven, dia seorang putri yang sangat dicintai, tugas aku harus menjaga, melindungi dia, tidak mungkin aku menyimpan rasa." Steven merasakan konyol dengan dirinya sendiri.


Steven berusaha kembali fokus, memakan makanan di hadapannya. Windy menatap Steven yang sangat penyabar seperti Papi nya.


"Salah tidak Om, Windy mencintai Om. Jika salah tolong jangan terlalu baik." Batin Windy kembali fokus pada makanannya.


Setelah makan Steven menerima panggilan, memijit pelipisnya yang terasa pusing. Windy melihat Steven yang sedang binggung, mengotak-atik handphone.


"Om ada masalah apa?"


"Di jalan pulang ada razia besar-besaran, penangkapan komplotan narkotika. Jadi jika kita pulang, kemungkinan akan mengalami macet panjang."


"Menginap di hotel saja."


"Kita harus tetap pulang, nanti akan ada fitnah jika kita masuk hotel bersamaan."


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA


***

__ADS_1


__ADS_2