
Matahari bersinar, beberapa maid sudah berkumpul takut melihat Vero juga berada di rumah utama. Steven duduk di dalam ruang makan keluarganya.
Biasanya Stev akan berlari mengejar keponakannya yang berusia 3 tahun, suara Stevie kakaknya akan mengomeli mereka.
"Maafkan Vero, seharusnya rumah ini ramai anak-anak, tapi karena Vero sepi rumah mewah yang kosong, tanpa pemilik." Vero menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, nanti Windy isi dengan anak Windy saja." Windy dengan santai mengunyah roti, tidak menyimak ucapannya.
"Benar ya, aku menginginkan anak banyak." Steven tersenyum menatap Windy yang menggagukan kepalanya.
"Iya, Windy buat satu saja, minta Vero kembar sembilan. Sisanya anak kucing, Ayam, ikan." Windy tertawa langsung menatap Steven yang tersenyum.
"Om tadi bicara apa?" Windy mendekatkan kursinya kepada Steven.
"Kembar sembilan, sepertinya sobek perut Mommynya?" Vero melihat garpu langsung memasukkan makanan ke mulutnya.
"Ver, tadi Om Stev mengatakan apa?" Windy menatap Steven.
"Katanya benar ya, aku menginginkan banyak anak." Vero langsung kaget menatap Steven yang sudah melangkah pergi ke luar.
Windy langsung berdiri berlari mengejar Steven yang sudah berlari keluar rumah, Vero juga tersenyum langsung berdiri berjalan membawa roti ditangannya.
"Om, coba jelaskan kepada Windy untuk menjadi Ibu dari anak Om?" Windy menutup mulutnya.
"Kamu memangnya siap memiliki banyak anak?" Steven melihat mobilnya yang terparkir.
"Selama Om Daddy-nya." Windy tersenyum mengikuti Steven.
Vero berjalan santai di depan Steven menatap tajam, mempertanyakan ucapan Steven berarti Windy si gadis kecil calon kakak iparnya.
"Apa yang kalian berdua lakukan mengikuti aku?" Steven masuk ke dalam mobil sport, menghidupkannya untuk mengetes, Vero duduk di depan mobil.
Seseorang datang menyampaikan kepada Steven jika perlengkapan kuliah Windy, seluruh bajunya sudah dipindahkan.
"Kita pindah di sini Om?" Windy lompat-lompat bahagia, akhirnya bisa memiliki banyak orang yang bisa dia jadikan teman berbicara, tidak sendirian di rumah.
"Kalian berdua bersiaplah untuk kuliah." Windy langsung mengagukan kepalanya, Vero masih terdiam mengulum permen.
"Vero apa yang kamu tunggu?" Steven keluar mobil melihat adiknya masih santai.
"Kenapa?"
"Cepat bersiap untuk kuliah." Steven memukul kepala Vero.
"Kuliah, aku kuliah. Kenapa aku harus kuliah?" Vero mengejar Steven.
__ADS_1
"Jika kamu ingin mengikuti aku, kuliah kamu harus memiliki mimpi." Steven menyingkirkan Vero yang menutup jalannya.
"Aku hidup dalam persembunyian, hanya ada beberapa orang yang ingin mengenal aku, belum tentu juga mereka setia, bukannya berbahaya aku harus kuliah."
"Kamu takut mati?" Steven menatap Vero.
"Tidak, aku hanya takut melibatkan orang lain."
"Jika kamu hidup bersama aku berarti, tanggung jawabku." Steven menjitak kepala Vero.
Stevero tertawa, ada juga yang akhirnya memarahinya. Vero masuk ke dalam kamar Steven untuk memilih baju, memilih baju sesuai karakternya.
Windy keluar sudah siap untuk kuliah, Vero berlari menuruni tangga. Menggunakan baju switer, celana jeans, ada topi juga, menggunakan sepatu merek Jordan.
"Wow, keren sudah tidak mirip preman lagi. Ternyata kamu juga tampan Vero." Windy tertawa menepuk bahu Vero.
"Tampan, wajahnya masih mirip gembel." Steven menendang meja.
"Wajah gembel, ketampanan seorang Steven tidak beda jauh dengan seorang Stevero." Vero tertawa melihat dirinya di kaca, dirinya terlihat seperti manusia.
Mobil Steven terbuka, Vero duduk di sampingnya, sedangkan Windy duduk di belakang. Jarak cukup jauh dari kampus Windy, sehingga perginya lebih pagi.
"Om, hari ini masih menyelidiki kasus kemarin?" Windy memakan cemilan di mobil.
"Iya Win, tapi Om ingin pergi ke kantor terlebih dahulu."
"Belum tahu Win, semua masih dugaan, setidaknya perusahaan mereka sudah ditahan polisi."
"Kalau kamu Vero, kira-kira siapa?" Windy melihat Vero.
"Mungkin salah satu mantan pacar kak Stev, dia seorang playboy." Vero menatap Steven.
Windy terdiam, tangannya menyentuh pundak Stev, wajahnya langsung serius. Vero menatap Windy aneh, memegang keningnya mungkin saja Windy kesurupan.
"Om, Angel C gambar malaikat kecil memiliki sayap hitam juga bermata merah, sudah mirip hantu tuyul. Windy pernah melihatnya." Windy langsung duduk tenang, mobil juga berhenti mendadak.
"Siapa di mana Win?" Steven langsung melihat ke kursi belakang, menatap Windy penuh harap.
"Saat Windy menghadiri persidangan terakhir Om, Windy bertabrakan dengan Jaksa yang mencintai Om Stev, dia terjatuh, stoking di area paha dia sobek, Windy melihat jelas tato yang dia miliki." Windy menatap Steven tanpa keraguan.
"Windy tahu dari mana dia mencintai Om?"
"Windy menguping pembicaraan kalian, karena kesal Windy sengaja menabraknya."
Steven menjalankan mobilnya, meminta Saka mengawasi Renata di kantor, sedangkan Bagus menyelidiki di kediaman Renata. Stev tidak bisa terlibat, dia masih harus mengurus daftar sekolah Vero.
__ADS_1
"Vero akan mengurus sendiri, sekalian menjaga Windy. Kak Steven bisa pergi." Vero melihat wajah serius Steven.
"Pendidikan kamu penting, walaupun aku di sana tidak bisa menahan langsung, aku pengacara bukan polisi, lagian belum ada bukti." Steven memasukkan mobilnya ke parkiran.
Windy keluar, Vero juga keluar bersamaan dengan Steven. Langkah kaki Windy mengikuti Stev, banyak mata yang memandang.
Pesona Vero dan Steven membuat Windy melotot, dia seperti dijaga dua bodyguard tampan. Tangan Steve merangkul pundak Windy, menunjukkan pada publik jika Windy sudah mempunyai gandengan, juga sekaligus Steven mengumumkan jika dia bukan pria singel.
Sampai di depan kantor Steven langsung masuk, Windy Vero menunggu di luar, Wilona sudah teriak kuat melambaikan tangannya.
Wilo terdiam menatap Vero yang sangat tampan, Wilo mengulurkan tangannya, Vero mengabaikan masih sibuk memainkan ponselnya.
Windy tersenyum melihat Vero yang mendadak pendiam, ternyata Vero cukup memilih soal dekat dengan seseorang.
"Vero kenalkan dia temannya Windy namanya Wilona."
"Aku Stevero."
"Wil dia Vero, adiknya Om Stev." Windy mengenalkan.
Vero dipanggil ke dalam kantor, Windy sudah duduk bersama Wilo dan Lukas, makan masakan terbaru dari keluarganya.
Tawa ketiga mahasiswa terdengar, Lukas bahagia melihat Windy tertawa lepas. Pintu terbuka Steven dan Vero keluar.
"Selamat bergabung Vero, semoga kamu betah." Guru seksi langsung menyentuh lengan Steven.
"Bisa lebih sopan, ini di sekolah berikan contoh yang baik." Steven langsung mendekati Windy yang kekenyangan.
"Kamu masuk jurusan apa Ver?" Windy menatap Vero yang memasang wajah bete.
"Aku dipaksa masuk jurusan tata busana, memangnya aku Veni." Vero menatap sinis Steven.
"Salah sendiri tidak punya cita-cita?"
"Memang om cita-citanya menjadi apa?"
"Pengacara polisi, hakim, jaksa, aku ingin mengungkap kematian banyak orang, salah satunya kak Stevie." Steven menatap sinis Vero.
"Iya maaf, aku akan bercita-cita menjadi hakim, agar bisa menyelamatkan kak Steven jika saja dituntut, karena memiliki banyak pacar." Vero tertawa diikuti oleh Windy dan Wilo.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
__ADS_1
***