MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 KEMBALI PULANG


__ADS_3

Semuanya berkumpul untuk pamitan kepada keluarga kerajaan, Windy memeluk neneknya berjanji jika ada waktu akan berkunjung.


Ayahnya juga memeluk Windy, meminta Windy berhati-hati jangan lupa juga memberikan kabar.


Athala memeluk adik satu-satunya, mengusap punggungnya. Bangga memiliki adik seperti Windy.


Windy dan Wilona menangis, karena mereka harus berpisah. Athala tidak mengizinkan Wilo lanjut kuliah di luar negeri, memintanya kembali melanjutkan kuliah di negara mereka.


Steven juga memeluk Atha yang memintanya menjaga Windy, Stev tidak perlu diminta juga pasti akan melakukannya.


Stev memeluk Ayah Hanz, Ayah mengucapkan terima kasih kepada Stev, dia bukan hanya berhasil menjaga Windy, tapi juga orang penting yang membantu kemerdekaan kerajaan Cana. Ayah Hanz menjadikan Stev dan timnya orang yang dihormati di negaranya.


Stev tersenyum, dia juga sudah membuka kerjasama dengan kerajaan seperti rencana awal. Stev juga baru tahu, jika Bima membuka bisnis juga di Cana.


Keluarga besar Bramasta pamit pulang, keluarga kerajaan melambaikan tangan melihat satu persatu mobil meninggalkan kerajaan, Windy tersenyum menatap Maminya, memeluknya erat, menggenggam tangan Papinya.


"Mami, Windy ingin menangis bahagia." Air mata Windy menetes.


"Papi, Windy sayang sekali sama Papi. Cintai Windy sekalipun Windy orang lain di keluarga ini."


"Apa yang kamu katakan nak? Papi tidak pernah rela melepaskan kamu, Windy anak Papi, tidak perduli kamu terlahir dari mana. Papi akan selalu melakukan yang terbaik agar kamu bahagia."


Windy tertawa, langsung mencium Papinya, mencium tangan Bima, memeluknya erat. Lelaki pertama yang Windy cintai, pria paling tampan saat Windy membuka matanya, nama pertama yang Windy panggil saat dia bisa berbicara.


"Papi, Windy punya satu tubuh, tapi harus berpindah-pindah negara terus."


"Memang negara mana saja Win?"


"Cana, Indonesia dan Amerika."


"Kamu hanya sementara di Amerika."


"Suami Windy orang Amerika Papi, Windy membutuhkan jet pribadi agar Indonesia Amerika lebih cepat." Windy tersenyum manis, memainkan baju Bima.


Bima menatap Reva, kepala Reva hanya menggelengkan tidak tahu apapun.


"Papi, Windy membutuhkan waktu 20jam, jika bisa lebih cepat setidaknya 12 jam."


"Windy, kamu tadi mengatakan suami, setidaknya fokus kuliah dulu sayang."


"Papi tidak merestui Windy, jika begitu Windy pindah kuliah saja tidak ingin bertemu Om Stev lagi."

__ADS_1


"Bukan seperti itu sayang, Papi memberikan restu, tapi Windy masih muda pikirkan lagi."


Windy memeluk Bima, dia sudah memikirkannya berkali-kali. Berusaha fokus kuliah dengan bekerja, tapi tetap saja bertemu Stev terlalu membuat nyaman, Windy takut dosa, jika menikah tempatnya halal, tidak meninggalkan pekerjaan dan kuliah, Windy tidak mempermasalahkan usianya dan Stev yang terpaut jauh.


Reva menatap Bima, mengusap kepala putrinya. Melihat Wildan dan Winda yang masih asik bermain di belakang, Wildan dengan tabletnya, Winda dengan mainannya.


"Baiklah, jika Windy yakin. Izinkan Papi melihat keseriusan Steven. Dia memiliki perasaan ragu untuk menuju serius."


"Stev ragu karena masih ada Brit yang akan menjadi penghalang." Reva menutup mulutnya keceplosan.


Bima diam melihat ke depan seluruh mobil berhenti, Stev keluar dari mobil depan mengetuk pintu mobil Bima meminta keluarga pergi duluan, Stev masih ada urusan.


"Windy ikut Yang Stev." Windy langsung meminta jalan kepada Maminya.


"Mau ke mana Stev?" Bima menatap Stev.


Steven membisikan sesuatu, jika di depan ada ratu Mariam melarikan diri dari penjara mengacaukan jalanan, dia menggunakan pisau ingin mengiris tangannya.


Reva keluar melihat seorang wanita teriak kuat mengatakan kejelekan Raja, menjatuhkan nama baik kerajaan. Banyak polisi yang mengelilinginya memintanya tenang.


Senyum Reva terlihat, meminta Windy tetap di dalam mobil. Reva melangkah ke depan Steven kaget melihat Reva langsung berlari mengejar, Bima juga langsung keluar.


Langkah kaki Reva mendekati Mariam yang menatapnya, polisi meminta Reva menjauh karena wanita di depannya berbahaya.


Baju apapun yang Reva gunakan akan terlihat indah, tubuhnya yang tinggi, kurus menggunakan high heels tinggi menatap Mariam sambil tersenyum.


"Siapa kamu?"


"Mami yang membesarkan putri Anna, aku mendidik dia, mengajarinya, bahkan tidak menaikan sedikitpun nada bicara, menjaga dan melindunginya, bahkan saat dia sakit, aku menangis semalaman, beraninya kamu memukulnya. Bukan hanya menyakiti anakku, tapi hatiku." Reva mengangkat tangannya menunjuk Mariam.


"Seharusnya dia tidak lahir ke dunia ini, dia menghancurkan hidupku." Mariam teriak histeris, mengarahkan pisau ke arah Reva.


Reva melangkah mendekat, senyuman Reva sudah hilang. Menatap tajam serasa ingin membunuh.


Mariam berlari mendekati Reva, ingin menancapkan pisau, seseorang menahan tangan Mariam langsung membantingnya.


Reva melihat high heels yang tidak asing menginjak tangan Mariam, kedua tangannya diinjak high heels lancip.


Suara teriakan Mariam terdengar, Viana menatap sinis. Vi sangat membenci wanita pengecut yang beraninya menyerang menggunakan benda tajam.


"Kedua tangan ini kamu gunakan untuk menyakiti orang lain, sebaiknya tangan ini tidak berfungsi lagi." Vi menekan kuat.

__ADS_1


"Kak Vi bagian Reva di mana?" Reva melihat Mariam yang meringis.


"Tampar dia, beraninya dia memukul Windy."


Reva menampar kuat wajah Mariam, Jum langsung menarik Reva dan Viana tidak boleh memukul.


"Istighfar Kak Vi, mbak Reva." Jum melihat Mariam sudah diangkat oleh kepolisian, memborgol tangannya.


"Dia menampar Windy, menjambak rambut Windy."


"Astaghfirullah Al azim mbak tidak boleh memukul anak, dosa." Jum memukul Mariam tanpa sadar.


Viana dan Reva tertawa melihat Jum, langsung meminta polisi membawa Mariam. Reva melambaikan tangannya, Vi juga memberikan ciuman jarak jauh.


Vi tersenyum masuk mobil ternyata tenaganya masih kuat membanting orang, Rama menatap Vi, mengusap kepalanya meminta Vi tidak boleh menyerang orang.


Reva cengengesan masuk mobil, Stev dan Bima hanya terdiam. Reva tidak bisa dinasehati soal memukul orang. Windy memeluk Maminya menyemangati.


Steven tidak heran melihat Windy bar-bar, emaknya juga singa betina.


Akhirnya perjalanan pulang bisa dilanjutkan, pesawat sudah terbang meninggalkan kerajaan Cana. Semuanya tidur di pesawat, karena penerbangan yang cukup jauh.


Hanya Steven yang tidak tidur, menatap Windy yang tertidur di sampingnya. Senyum Stev terlihat mengusap wajah Windy.


***


Bagus sudah menunggu di bandara menunggu Steven dan yang lainnya sampai.


Saat mendengar suara anak-anak Bagus langsung mendekat mencari Steven, Winda paling heboh mengatakan mansion Steven sangat besar, banyak mobil, juga ada akuarium besar.


Steven keluar memeluk Bagus, Saka juga memeluk Bagus dan Glen yang sudah menunggu.


"Steven, di Mansion kamu ada masalah, seorang wanita bernama Britania mencari kamu, bahkan dia mengumpat kasar, berhasil masuk merusak mobil Vero." Bagus mengehentikan ceritanya melihat semua orang melongo.


"Lebih parah lagi dia masuk ke dalam rumah merusak semuanya." Glen menghela nafas.


"Britania?" Steven dan Windy teriak bersamaan.


***


...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA...

__ADS_1


...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...


***


__ADS_2