MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MENGEJAR CINTA OM BULE


__ADS_3

Mobil Saka langsung berhenti, belum sempat dimatikan Saka sudah berlari kencang. Mengeluarkan seluruh orang yang ada di Restoran, bukan hanya Saka yang datang, Bagus juga langsung berlari masuk ke dalam.


"Siapa mereka Ver?" Windy melihat dari dalam mobil, menunggu Steven keluar.


"Polisi, sudah lama mereka menyamar. Mengejar tangan kanan bandar narkoba, sekarang waktunya bukti terkumpul, bertepatan mereka dalam urusan bisnis." Vero melihat ke arah dalam, berharap Stev keluar, dia ingin meninggalkan Windy, tapi Stev menitipkan Windy padanya.


Seluruh orang keluar, senjata berada di kepala masing-masing. Stev dan Tegar saling menodongkan senjata, Windy melihat darah di wajah Stev, Vero juga melihatnya.


Vero langsung keluar, Raka dan Bagus juga sudah mengarahkan senjata. Vero juga mengeluarkan senjatanya, Tegar hanya tersenyum melihat ke arah mobil, Windy sudah di tahan seseorang dengan senjata.


"Jangan khawatirkan Windy, ini tidak menakutkan sama sekali." Windy tersenyum melihat Steven yang mulai terpancing emosinya.


Windy di bawa mundur, Tegar mendekati Windy. Steven hanya diam melepaskan senjatanya, Saka, Bagus, Vero juga melepaskan senjatanya.


Tegar tertawa kuat, Steven dan Tim belum bisa menangkapnya, bahkan gadis kecil cantik milik Stev ada di tangannya.


Windy tersenyum, menepuk pundak Tegar. Wajah Tegar menatap tajam Windy, senyum Windy terlihat memberikan senyuman termanis, Tegar langsung ambruk di kaki Windy, senjata sudah jatuh di tangan Windy diarahkan kepada pria bertopeng di belakangnya.


Tatapan Windy tajam, senyuman Windy terlihat. Memegang tangan langsung memutarnya, senjata jatuh melayangkan pukulan dan tendangan, Steven langsung berlari mendekati Windy menjauhkannya dari Tegar, pria bertopeng langsung ditangkap.


Saka menatap Tegar yang jatuh pingsan, melihat jarum suntik dipundak Tegar.


Steven memeluk erat Windy yang hanya tertawa, Vero tersenyum melihat Windy yang memang pemberani.


"Di mana yang luka, ada yang sakit.?" Steven mengecek seluruh tubuh Windy.


"Sudah Windy katakan jangan khawatir Om, Windy bukan gadis lemah, walaupun tubuh Windy kecil, tapi bisa bela diri. Erik dan Ravi selalu lari jika ingin bertarung dengan Windy."


"Syukurlah, ternyata kamu sudah punya modal bertahan. Om minta maaf melibatkan kamu."


"Windy senang bisa berada di sini, melihat Om secara langsung. Sering-seringlah melibatkan Windy." Windy memeluk lengan Steven.


Saka mendekati Windy menunjukkan suntikan, Windy mengambil kembali. Langsung menutupnya menyimpan dalam kantong celananya.


"Suntikan apa yang kamu gunakan?"

__ADS_1


"Tidak tahu, milik Wildan. Dia bilang gunakan jika Om Steven ingin memeluk dan mencium Windy." Windy tersenyum menutup mulutnya, Steven langsung menatap kaget.


Saka menahan tawa, Steven benar-benar berhubungan dengan gadis kecil. Windy terlihat saja polos, tapi aslinya dia tidak punya tempat takutnya.


"Windy berbohong sedikit saja, jangan terlalu jujur." Steven menatap Windy tidak enak di dengar banyak orang.


"Jika Winda tahu Windy bohong, ceramah dia bisa panjang om, azab akhirat sudah dia jelaskan, siksaan neraka." Windy tertawa kecil.


"Dia mati atau tidak Windy?"


"Tidak Om polisi, dia hanya pingsan." Windy melihat wajah Steven yang berdarah, menghapus darahnya.


Windy tersenyum melihat Stev, sejak kecil dia bersama Ravi, Erik, Tian sudah belajar bela diri, Mommy Viana secara langsung yang mengajari, terkadang juga belajar bersama Uncle Bisma, terkadang juga belajar cara melindungi diri dari Maminya.


Reva sudah membekali Windy cara bertahan, tidak memperlihatkan kemampuan, tapi bisa digunakan saat terdesak.


Windy juga selalu memperhatikan Wildan yang sibuk sendiri dengan komputernya, menatap Billa yang sibuk membuat cairan yang tidak Windy mengerti, tapi yang pasti Wildan dan Billa sama cerdasnya.


Setiap pulang sekolah, Windy harus bertarung dengan Bella, Winda dan Vira yang gila bertarung. Memiliki banyak adik yang mempunyai banyak keanehan juga keistimewaan membuat Windy belajar cepat sebagai kakak tertua.


Mengimbangi Winda yang setiap hari mengejar ikan di kolam, Bella yang suka menembak memanah burung, Vira yang menangkap kodok dan cacing, hanya Wildan dan Billa yang paling tenang.


"Jangan Om, ini punya Wildan." Windy langsung bersembunyi di belakang Steven.


Saka menatap Steven yang meminjam sebentar untuk menjadi barang bukti. Steven menjelaskan Tegar tangan kanan yang selama ini mengikuti Stev, megagalkan semua rencana Saka dan Bagus, Tegar juga menghilangkan banyak barang bukti yang Steve miliki, bahkan dia juga yang membuat Steven kecelakaan.


Vero mengatakan semuanya kepada Steven, awalnya Steven tidak percaya, tapi langsung membuktikannya sendiri dengan dibantu oleh Saka dan Bagus.


Seluruh bukti yang Wildan berikan cukup kuat untuk menahan Tegar, mencari komplotan lainnya yang sekarang sedang dalam pengejaran.


Stev juga mengikuti saran Bima untuk melindungi Vero yang sedang dalam pengejaran, dia dianggap berkhianat demi melindungi Steven.


"Stev, kita ke kantor polisi sekarang?" Saka meminta Stev, Windy, dan Vero ikut bersama mereka.


Tangan Stev menggenggam erat tangan Windy, menenangkannya untuk santai saja, Windy tidak takut sedikitpun, selama Steven bersamanya bukan masalah besar baginya.

__ADS_1


Vero berjalan sambil memegang perutnya, Steven langsung merangkul Vero, tapi menolak menatapnya. Tangan Vero memeluk pinggang Steve ikut berjalan.


Di mobil Windy tidak berhenti mengemil makanan milik Saka, Vero melirik Windy yang tidak memiliki beban pikiran. Melihat ponselnya Lukas menawarkan menu terbaru, Windy langsung setuju untuk mencicipinya.


"Om boleh meminjam uang tidak? Lukas menawarkan menu baru, Windy ingin mencobanya, lumayan Om kita menjadi pelanggan pertama, biasanya ada diskon." Windy tersenyum senang.


"Mulut kamu saja masih penuh Win, sudah memikirkan makanan lain." Vero menggelengkan kepalanya.


"Kamu sebenarnya meminjam uang, atau minta traktiran." Saka menatap Windy dari kaca.


"Om, Windy ini anak kuliahan, belum menghasilkan uang, jadi harus bisa menghemat."


"Papi kamu orang terkenal, kekayaannya tidak terhitung, tapi kenapa putrinya mirip gembel?"


"Papi yang kaya, Windy belum."


"Sudah malam Win, besok pagi kita ke Restoran Lukas."


"Niatnya memang besok Om Stev, jam segini semua orang sudah tidur." Windy mengembalikan makanan Saka memejamkan matanya tidur, sambil memeluk lengan Stev.


Steven menatap Vero, mempertanyakan luka tusuk diperutnya, sementara Stev akan membawa Windy ke rumah utamanya, di sana aman, Vero juga di minta ikut bersama Steven.


"Sampai persidangan selesai, juga penangkapan utama tertangkap, aku belum bisa tenang, terutama soal keamanan Windy." Steven mengusap rambut Windy.


"Kali ini dia tidak akan bisa lari lagi Stev, seluruh pengerebekan sudah dilakukan, barang bukti sudah diamankan, dia akan menjadi tersangka utama."


"Jangan anggap remeh Gus, mereka bisa saja membuat Vero menjadi tersangka utama, berarti aku akan memenjarakan adikku sendiri, membebaskan kembali dalang utama, kegagalan masa lalu memberikan aku banyak pelajaran."


"Maafkan aku Stev, seandainya dulu aku mendengarkan kamu, mungkin dia masih hidup sekarang."


"Sudahlah, aku sudah terbiasa dikhianati. Berhubungan baik dengan Tegar sejak aku masih muda, tapi akhirnya dia juga yang berkhianat, mungkin suatu hari antara kita bertiga ada yang berkhianat, walaupun tidak secara langsung, tapi melalui paksaan." Steven memeluk tubuh kecil Windy yang tidur nyenyak.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2