
Di dalam kamar Bisma kebingungan, mengejar Reva atau mengejar Bima. Cepat Bisma menemui Bima yang sudah hampir menjalankan mobilnya. Bisma ikut masuk ke dalam terjadi keheningan selama beberapa saat.
"Kak!"
"Jangan membela dia Bisma, seorang wanita yang menampar tanpa tahu sebabnya sangat tidak pantas."
"Reva masih labil, kakak harus ingat perjuangan Reva."
"Aku tahu! karena itu aku juga ingin berjuang. Tapi sifat labil Reva, emosi yang tidak bisa dikontrol belum siap berumah tangga."
"jadi pernikahan kalian dibatalkan, semudah ini hanya karena salah paham." Bisma menggelengkan kepalanya.
"Sebelum bertemu Reva, aku menemui orang tuanya. Jadi sebelum mengakhiri dengan Reva, aku akan bertemu bapak dan ibu."
"Kak Bima!" inilah Bima yang selama ini Bisma kenal, dia baik tapi jika terluka langsung melupakan semuanya.
"Kakak tahu jika Brit melakukan perdagangan wanita, dia juga berkerja sama dengan Reno pria yang mencintai Reva untuk menjebak Reva."
"Masalah Brit bukan urusan aku, dan untuk pria yang suka Reva juga tidak terhitung. Apa yang mereka berdua lakukan?"
"Reva dijebak di hotel, tapi salah target. Sekretaris Reva yang pergi karena Reva harus menemui Tian di panti yang sedang sakit. Karena Reno marah yang datang bukan Reva, sektretaris Reva di lukai."
"Apa yang ingin dilakukan Reno, Kenapa Reva mau bertemu laki-laki di hotel."
"mereka ada meeting bersama para investor, sisanya kakak bayangkan sendiri. Sudah lama bekerja di dalam bisnis tidak mungkin tidak tahu baik buruknya."
Bima hanya diam, Reva tidak jujur dengan Bima padahal mereka sudah sepakat untuk berbagi masalah. Kesibukan Bima yang harus menyelesaikan banyak masalah, melepaskan Reva dengan masalahnya sampai tidak berbagi.
"Kak Bim tidak ingin tahu alasan Reva tidak cerita."
Sekilas Bima menatap Bisma lalu fokus kembali ke depan, Bima sudah malas bicara. Tubuhnya capek dan lelah berpikir.
"Reva diam karena Windy, dia sangat menyayangi Windy. Tidak mau Windy berkecil hati melihat pekerjaan bundanya."
"Tapi dia juga menutup masalah dengan Reno, dan berbagi dengan kamu."
"Jika dia mengatakan soal Reno yang keluarganya tajir, otomatis kak Bim pasti akan melumpuhkan bisnis mereka, Reno ditahan polisi dan Brit juga terlibat karena bergabung dalam pengedaran obat terlarang. Soal penjualan wanita juga pasti akan diketahui publik dan pastinya Windy terluka."
__ADS_1
"Sejauh ini Reva bergerak dan aku tidak tahu apapun."
"Awalnya aku berpikir Reva akan menghancurkan Brit, tapi kasih sayangnya ke Win lebih besar dari kemarahannya."
"Dari mana kamu tahu semuanya?" Bima menatap Bisma tajam, jangan bilang Reva tergabung dalam kegiatan Bisma dan Vi.
"Karena Reva juga yang menutupi identitas Tian, ayah kandung Tian kembali ke tanah air dan memberikan Brit uang yang sangat banyak dengan syarat menemukan putranya. Sejak saat itu aku tahu Reva sedang berperang dengan Brit, memaksa Reva mengakui semuanya."
"Tapi tetap saja Reva menampar aku!"
"Ya Allah Bima! sudah tua masih suka ngambek, ini kembalikan lagi kepada pemiliknya." Bisma menyerahkan kembali cincin pertunangan Reva sambil tersenyum.
Selama diperjalanan Bisma dan Bima bercerita banyak hal, sudah lama mereka berdua tidak bicara sedekat ini.
"Gadis kecil yang selalu mengganggumu sekarang sudah dewasa, dia licik juga pintar. Dia sangat mirip Viana hanya saja Vi terjun ke dunia gelap tapi Reva menggunakan kelicikannya untuk menarik orang agar bisa mendapatkan segalanya. Dia tidak mudah dikalahkan, sekarang Reva wanita yang kuat."
"Aku tahu! pikirkan saja dirimu. Memilih Jum atau bule Sisil."
"Pastinya Jum, aku akan lebih dulu menikah daripada kalian yang sama-sama super sibuk."
***
Sepanjang perjalanan Bisma menceritakan soal pertengkaran Reva dan Bima. Sampai sekarang Reva tidak bisa dihubungi.
Jum sangat khawatir dan ingin cepat pulang, dia harus memberitahu Viana soal Reva yang menghilang.
Setelah mendapatkan waktu yang tepat, Jum mendekati Viana yang sedang sibuk, karena Rama sedang sakit.
"Kak Vi, kemarin Reva sama Bima bertengkar besar, sampai Reva membuang cincin pertunangan, Jum coba menghubungi Reva tapi sampai sekarang tidak bisa."
"Karena apa?" Viana binggung, Bima bukan tipe yang mudah tersulut emosi nya.
"Bule Sisil, beberapa minggu ini dia pergi bersama Bisma tidak tahu apa yang mereka cari,tapi kemarin dia tidur di apartemen Reva. Karena lelah Reva yang baru tiba dari Paris langsung ke apartemen bertemu dengan bule sedang bersama Bima."
"Tahu dari mana Jum."
"Bisma, karena dia minta Jum mencari Reva."
__ADS_1
Viana menggenggam tangan mengigat wajah Sisil, Jum dan Reva memutuskan siang akan pergi mencari Reva. Setelah izin dengan Rama barulah Vi dan Jum pergi.
***
Kepala Viana sudah pusing berkeliling mencari Reva dan bertanya ke banyak teman Reva baik teman bisnis sampai teman sekolah.
"Jum kita jemput Ravi sekarang, kepala Vi rasanya mau pecah, mencari Reva tanpa tujuan."
Jum setuju langsung menjemput Ravi dan menuju rumah sakit menjenguk Ammar.
Sampai di rumah sakit, Viana mengandeng Ravi masuk ke dalam, Ravi langsung berlari memanggil daddy dan langsung berada dalam gendongan Rama.
Semuanya masuk melihat Ammar yang sudah membuka matanya tapi belum bisa bergerak, Viana tersenyum dan mengucapkan terimakasih, Vi juga memandang Septi yang menjaga Ammar terheran-heran. Viana bisa menebak pasti ada sesuatu.
Bima beruntung dapat daun muda Reva, Bisma juga bisa dekat dengan wanita cantik dan polos, sekarang Ammar juga bisa dekat dengan Septi sang koki hebat dan masih muda.
Viana menatap Bisma tajam memintanya keluar mengikutinya, Bisma menghela dan akhirnya ikut juga.
"Apa yang terjadi Reva, Bima dan bule." Mata Viana menunjukkan Kemarahan.
"Sebenarnya di apartemen ada gue juga cuman sedang keluar menjemput putranya Sisil, pas Reva masuk. Tahu sendiri amarah Reva, dia langsung menampar Sisil juga Bima dan membatalkan pernikahan." Bisma tidak ingin mengakui jika dia keluar karena ponselnya ketinggalan, pasti Vi bakal mengomel panjang lebar.
"Astaga! lagian mengapa dia masih di sini, bule pembuat masalah." Viana mengaruk kepalanya menambah pusing.
"Mana Bima, dia mencari Reva."
"Bima pergi ke China pembukaan cabang baru bisnisnya, dan mengabaikan Reva dia juga marah karena di tampar tanpa mendengarkan penjelasan."
Viana menghela nafas memikirkan Reva yang menemukan batu penghalang kebahagiaannya, lama Reva memperjuangkan Bima tapi bisa berakhir dengan kesalahpahaman.
Vi coba menghubungi Bima tapi diabaikan, Viana tidak habis pikir Bima lebih mementingkan bisnis daripada memperbaiki hubungan atau mencari Reva. Lelaki memang tidak ada yang mengerti perasaan wanita.
"Laki-laki memang tidak ada yang peka maunya menang sendiri."
"Bukannya perempuan yang selalu ingin menang!" Bima mengelus kakinya yang sudah mendapatkan tendangan dari Viana.
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
***