
Pesta ulang tahun Vira dirayakan sangat meriah, banyak anak panti diundang, juga pembagian hadiah yang disposisi perusahaan BB.
Reva menyingkir dari keramaian, dia merasakan perutnya sangat sakit. Mommy Viana tidak sengaja melihat Reva yang sedang meringis menahan sakit, Mommy meminta Reva tenang, berjalan santai perkiraan Mommy Reva akan segera melahirkan.
Mommy langsung mencari Bima yang sedang bertemu rekan bisnisnya, Mommy menarik Bima dan mengatakan Reva kontraksi. Bima langsung error dan linglung tidak mengerti artis kontraksi l.
Viana juga mendapatkan kabar Reva sudah kontraksi, Vi langsung berkerut melihat Vira yang belum sempat memakan kue ultahnya. Mulut Vira mengaga tapi Vi mengembalikan kue langsung menyerahkan Vira kepada Rama dan langsung mencari Reva.
"Va, bisa ditunda tidak lahirannya?"
"Kak Vi dulu bisa tidak menunda, sampai Reva malam pertama."
"Tidak bisa, berarti kamu juga tidak bisa."
Bisma sudah menyiapkan mobil, Bima berusaha tenang menggendong Reva dan menguatkannya. Belum sempat mobil Bima berjalan, Jum teriak perutnya juga sakit, Bisma langsung keluar dari mobil.
"Rama, bawa mobil kak Bima nanti saja makan kue nya." Rama langsung menyerahkan Vira kepada mertuanya, wajah kesal Vira sudah terlihat karena kedua orangtuanya menunda memberinya kue yang dia inginkan.
Bisma mengeluarkan mobilnya, meminta Ammar yang membawa mobil. Kepala Bisma berdenyut, melihat istrinya menahan sakit.
Viana begong di rumahnya binggung ingin melakukan apa, Septi yang menjaga anak-anak yang sudah berteriak memanggil orang tua mereka.
"Kenapa harus sekarang?" Viana kesal melihat pembalasan akan kelahiran Vira, yang mengacau malam pertama Reva.
Sesampainya di rumah sakit Reva langsung di tangani, Bima memang sudah memesan tempat khusus tapi jadwal lahiran Reva tidak sesuai.
Jum juga ditangani, ruangan bersebelahan membuat Bisma dan Bima tersenyum. Bahkan anak-anak ingin lahir bersamaan.
Bukan Reva yang ingin melahirkan tapi Jum, air ketuban juga memang sudah memberikan tanda keluar dari pagi tapi Jum mengabaikannya. Reva juga masih sempat melihat ke dalam ruangan Jum, Dokter Laras tersenyum melihat Reva dan Jum.
"Reva, kemukiman dalam beberapa jam kamu akan melahirkan, jadi tenangkan diri jangan panik. Ingat yang saya ajarkan?" Dokter Laras langsung masuk ke dalam ruangan Jum.
Bima mengelus perut Reva, menciumnya yang membuat Bima hampir jantungan karena Reva mendadak merasakan sakit.
"Ya Allah, lindungi kak Jum berikan kemudahan, kelancaran."
"Amin ya Allah, kamu juga ya sayang harus kuat." Bima merangkul Reva.
Rama dan Ammar mendekat, cukup kaget melihat Reva yang masih bisa mondar-mandir menunggu Jum.
"Reva tidak jadi lahiran kamu?" Rama mendekati Reva yang sesekali merasakan sakit.
__ADS_1
"Baru bukaan dua, masih ada waktu karena Reva ingin lahiran normal."
"Bismillah ya Va, perjuangan kamu harus kuat demi dua bayi yang ada dalam kandungan kamu."
"Insyaallah Ram, minta doanya ya."
Di dalam ruangan Jum tidak berhenti mengucapkan istighfar, karena rasa sakit yang teramat sakit. Bisma menggenggam tangan Jum yang sudah berkeringat, Bisma juga berkeringat merasakan khawatir melihat keadaan istrinya dan terus istighfar.
"Ya Allah lindungi istriku, kedua anakku." Bisma berdoa dalam hati sambil meneteskan air matanya, rasa cinta Bisma terhadap Jum berkali-kali lipat semakin besar saat melihatnya tetap merasakan kuat dan sesekali air matanya mengalir.
"Aku sangat mencintai kamu Jum, kamu harus kuat ya sayang. Maafkan kesalahan mas jika pernah menyakiti dan mengecewakan kamu."
"Mas Bisma ada selingkuh ya, sekarang baru menyesal?" Jum langsung lupa dengan sakitnya, menatap Bisma cemberut.
Dokter suster tertawa melihat tingkah Jum yang cemburuan, kagum juga dengan Bisma yang sangat mencintai istrinya.
"Apa istimewanya aku Jum, sempurna aku karena kehadiran kamu. Aku tahu pulang, aku tahu merindukan, aku tahu rasanya dicintai hanya saat bersama kamu. Tidak ada alasan untuk aku melihat orang lain, kamu terlalu sempurna sayang."
"Hallo, bisa kita keluarkan baby dulu baru kalian saling menyatakan cinta."
"Iya Dok, tolong bantu istri saya?" Bisma menggenggam tangan Jum.
Suara tangisan bayi tidak terdengar oleh Bisma, dia fokus melihat Jum yang sangat kelelahan.
"Masih sanggup Jum?" Dokter Laras menatap tersenyum Jum yang mengaguk.
Sekarang bukan hanya tangan Bisma, tapi satu tangan Jum menjambak rambut Bisma. Rasa sakit hampir lepas rambut Bisma dari kulit kepalanya, tidak ada niatan Bisma untuk melepaskan tangan Jum. Air matanya menetes setelah mendengar suara kencang bayi.
"Terima kasih sayang, masih ada satu lagi kamu harus kuat."
Jum yang sedang lemah, kehilangan banyak tenaga ingin sekali memukuli Bisma, yang menyuruhnya melahirkan satu lagi.
"Sudah dua Bisma, kamu ingin aku melahirkan apa lagi."
"Sudah dua, mereka lahir bersamaan?" Bisma langsung melihat dia bayi yang sedang menangis.
"Alhamdulillah ya Allah, dua anakku lahir dengan selamat. Terima kasih sayang, aku mencintai kamu Jum."
Bisma dengan rasa bangga menggendong anaknya, mengambil putri pertama dan melantunkan azan di telinga kanannya, lalu ditelinga kirinya Iqamah. Mengambil putri keduanya mengadzani telinga kanan, lalu kiri dengan Iqamah.
"Jadi wanita Sholehah ya nak, terima kasih sudah hadir dalam hidup ayah dan bunda, peluk cinta kami untuk Bella dan Billa." Bisma mencium bergiliran kening kedua putrinya.
__ADS_1
Di luar Tian duduk di samping Rama, tangannya saling menggenggam, Viana juga baru datang bersama Ravi. Vi melihat Reva yang berjalan pelan, dan melihat ke arah ruangan Jum.
"Belum ada kabar ya hubby?"
"Belum sayang,"
"Reva, perut kamu sudah ke bawah sekali, sebaiknya bersiap-siap."
"Nanti kak lihat kak Jum dulu, Reva ingin melihat anaknya."
"Tian, Bunda pasti baik-baik saja." Vi mengelus kepala Tian yang ketakutan.
"Doakan bunda ya mommy, semoga adik Tian juga baik, Bunda sehat."
"Pasti sayang," Viana tidak bisa menahan air matanya, menangis melihat Tian yang memejamkan matanya berdoa.
Pintu kamar terbuka, Bisma keluar langsung memeluk Bima dan menangis.
"Bagiamana keadaan di dalam?"
"Alhamdulillah kak, semua sehat tidak kurang sedikitpun." Bisma langsung menggendong putranya, dan mengatakan kedua adik Tian baik-baik saja.
"Selamat ya sayang sekarang sudah menjadi Kaka." Bisma mencium kening Tian yang langsung menangis dan memeluk Bisma.
Dua boks bayi di keluarkan, Viana menatap dua bayi mungil, Reva juga melihat dua bayi mengemaskan akan dipindahkan ke ruangan bayi. Ammar dan Septi, Viana Rama langsung mengikuti untuk menjaga bayi.
"Reva, semangat. Kamu pasti bisa mengeluarkan dua bayi."
"Iya selamat atas kelahiran kedua putri Bramasta."
"Selamat menjadi ayah Bisma." Bima memeluk adiknya, dan menepuk punggungnya.
"Kalian berdua juga bersiaplah untuk menjadi orang tua." Bisma pamit masuk ke dalam untuk menemani Jum.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1