
Bima sedang berada di hotel melihat lokasi pernikahan dirinya, Reva sampai dan berlari. Bima langsung tersenyum melihat tawa ceria Reva.
"Hotel mau ditutup tidak? atau kita kosongkan saja khusus untuk keluar besar."
"Biarkan saja Ayy, lagian keamanan juga banyak."
Bima mengandeng Reva untuk ikut rapat mengenai pernikahan mereka, beberapa tim Reva ikut berpartisipasi. Ada yang sangat bahagia menyambut pernikahan bos mereka tapi ada juga yang tidak suka.
Reva sangat mempercayai timnya yang selalu menjadi andalan di setiap acara pesta mewah para konglomerat ternama. Bima melarang Reva ikut ambil dalam penentuan dekor dll, orang yang terlibat juga ratusan, belum tamu undangan yang sangat ramai.
Melihat status Reva, sebagai seorang desainer yang lalu lalang dalam dan luar negeri juga menjadi sorotan banyak media. Awalnya Reva ingin acara pernikahan sederhana tapi Bima menolaknya demi status Reva. Bima juga yang sangat terkenal sebagai seorang pembisnis hebat, memiliki banyak rekan kerja luar dan dalam negeri. Dua orang berpengaruh terlibat pernikahan, dengan pesta yang sangat spektakuler.
Seluruh orang yang terlibat sudah dikumpulkan, dana untuk pernikahan juga terbilang sangat fantastis. Reva tidak pernah membayangkan sebuah pernikahan yang sangat mewah.
Setelah selesai rapat, Bima dan Reva keluar seorang pria menunggu Reva di depan hotel. Saat melihatnya Reva langsung berlari sambil teriak.
"Kak Satya!" Reva langsung berlari ke pelukan Satya, tangisan Reva pecah. Satya menenangkan Reva melepaskan pelukan mereka, menghapus air mata Reva.
Bima yang melihat hanya terdiam menjadi patung, melihat calon istrinya memeluk pria lain dengan penuh rasa rindu. Bima hanya diam ingin marah tapi tidak ingin terlihat kekanakan, biarkan saja Bima memutuskan untuk menegur Reva disaat yang tepat.
"Reva jangan manja, kamu sebentar lagi menikah. Lelaki pasti akan kecewa melihat kamu memeluk pria lain walaupun statusnya sahabat." Satya bicara pelan dihadapan Reva.
"Iya lupa, kebiasaan."
"Hilangkan kebiasaan kamu, mau suami kamu bertemu temannya langsung cepika-cepiki?"
"Tidak mau, Reva buat botak kepalanya."
Satya mengacak rambut Reva yang belum juga berubah, Bima mendekat dan menatap santai. Satya mengulurkan tangannya memperkenalkan diri, langsung dibalas oleh Bima sambil tersenyum.
"Satya, sahabat Reva."
"Bima."
"Dingin banget! pantesan Romi bilang Bima sangat posesif dan cemburuan." Batin Satya dalam hati.
"Va, kak Satya ingin minta maaf karena tidak hadir di pernikahan kamu."
__ADS_1
"Kenapa kak, hanya satu kali seumur hidup Reva."
"Istri Kaka akan melahirkan, tidak mungkin ditinggalkan. Kamu harus mengerti, doa Kaka mengiringi kebahagiaan kamu. Menjadi istri yang Sholeh berhenti jahil, turutin suami kamu."
"Iya kak, semoga persalinan istri Kaka lancar, banyak berdoa."
"Iya Va, ini hadiah pernikahan kamu." Satya mengeluarkan sebuah boneka kaca kecil berwarna kuning dan di dalamnya sebuah liontin kecil.
Tangisan Reva kembali pecah, Satya menatap Bima meminta izin melalui pandangan. Bima hanya menggagukan kepalanya, Satya memeluk Reva yang menagis sesegukan.
"Terimakasih kak, sebuah boneka yang membuat Reva mengejar mobil karena terpesona akan keindahannya. Selama ini Reva mencari boneka kecil ini, tapi tidak ada."
"Aku selalu mengingat janji yang aku katakan, akan mengabulkan segala yang kalian impikan. Keinginan Septi keinginan kamu, sekarang kamu akan segera ada yang menjaga lepas sudah janjiku Reva. Hanya masih menanti Septi ditemukan dengan jodohnya."
"Terimakasih kak, Reva tidak bisa membalas kebaikan kalian, Reva mempunyai hutang yang tidak akan pernah bisa dibayar. Hanya terimakasih yang bisa Reva katakan."
Satya melepaskan Reva bahagia bersama Bima, dia lega karena gadis yang selalu berpura-pura kuat, yang sangat terkenal suka mempermainkan banyak lelaki sekarang sudah berubah menjadi wanita mempunyai nama dan kekuasaan, mendampingi pria yang juga sangat luar biasa.
Walaupun Reva dan Satya saling tangis di depan hotel tidak ada yang memperhatikan karena Bima memberikan perintah menutup akses masuk.
"Om diam saja, apa dia cemburu?" Reva bergumam dalam hati.
"Ayy!"
"Emhhh!"
Reva menelan ludah pahit mendengar jawaban Bima, jadi seperti Bima jika cemburu langsung diam seribu bahasa. Sebenarnya Bima tidak marah tapi dia hanya kesal tidak rela, diam cara Bima menenangkan perasaan yang sedang berperang.
"Maaf, dia sahabat seperti kakak untuk Reva."
"Iya, tapi jika boleh jangan berpelukan seperti itu. Berlari meninggalkan aku, seperti punggung merindukan bulan." Bima bicara tanpa menoleh kearah Reva.
"Maaf Ayy, seribu lelaki yang mengelilingi Reva tapi hati Reva sudah ada pemiliknya."
"Tapi kamu pernah mencintai Rama."
"Ayy juga pernah mencintai kak Viana!" suara Reva langsung nyaring.
__ADS_1
Keduanya langsung tertawa, Bima mengambil tangan Reva dan menggenggamnya.
"Viana hanyalah masalalu yang sudah aku lepas, karena masa depan mengiringi aku menemukan kamu."
"Rama hanyalah seseorang yang pernah aku kagumi, tapi tidak pernah ingin Reva kejar."
"Aku percaya dengan sebuah kesetiaan, dampingi aku Va sampai maut memisahkan kita."
"Iya Ayy, aku akan menjaga hatiku hanya untuk Ayy, dan menjadi hati Ayy hanya untuk Reva."
Drama cemburu selesai, saat memutuskan mencintai seorang wanita yang temannya hampir semuanya lelaki di Bima menyetok kesabaran yang ekstra. Hal yang Reva pegang selalu mengakui Kesalahan tidak mengutamakan keegoisan.
Jika hubungan ingin langgeng, mengalah dan juga menahan diri dari rasa marah. Membicarakan masalah bukan dengan saling membentak tapi saling mengerti dan mengakui.
Hal yang paling ditakutin Reva hadirnya orang ketiga, sebesar apapun dia percaya kesetiaan Bima tapi tidak bisa menjamin tidak adanya rasa bosan dan ingin suasana baru. Jika Bima belajar mengenali wanita muda coba memahami kebiasaan agar lebih banyak sabar, berbeda dengan Reva yang melakukan segala cara membuat Bima nyaman jika dia tempat dia kembali. Lelaki berpaling bukan hanya karena sebuah kecantikan tapi kenyamanan, jika dia terlalu nyaman diluar sudah dipastikan lupa pulang.
***
Persiapan pernikahan sudah 80persen, selama berbulan-bulan keduanya sibuk mengurus pernikahan. Bima juga heran mengapa menikah sangat ribet, dia pikir satu minggu pengurusan selesai tapi ternyata sangat ribet dan melelahkan.
Hotel mewah sudah disulap menjadi istana indah yang sudah berdiri, baju pengganti, mas kawin juga sudah berada di kamar khusus.
Seluruh undangan sudah tersebar, mendekati hari H kehebohan terus terjadi. Menghadapi penikahan bukan tidak ada masalah, perdebatan yang harus salah satu mengalah.
Bima bersyukur karena Reva wanita yang ingin menurut, Bima juga banyak mengalah jika emosi Reva mulai naik. Salah satu saling mundur jika suasana mulai panas, sejauh ini Bima dan Reva berhasil melewati keributan besar, saling mengontrol diri.
Di tengah kesibukan persiapan pernikahan, berkumpul juga orang yang siap menghancurkan pernikahan.
"Aku tidak rela kalian menikah!"
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***
__ADS_1