MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 RAJA FIRZA


__ADS_3

Windy berdiri di depan seorang nenek yang langsung meneteskan air matanya, senyuman ceria Windy sangat mirip dengan Ratu Sinta.


"Halo nenek, Windy datang berkunjung. Masih ingat dengan Windy?" Tangan Windy menyambut tangan keriput menciumnya, memberikan hormat.


"Bagaimana mungkin aku bisa lupa dengan wajah cantik kamu? sudah selalu nenek katakan kamu masih hidup?" Ibu suri langsung memeluk erat Windy, keduanya saling berpelukan.


Steven menundukkan kepalanya menunjukkan rasa hormat, ibu suri meminta semuanya duduk.


Windy diam melihat wajahnya di balik kaca besar, Ratu Mariam meminta Windy duduk, tapi tidak dihiraukan. Windy mengikat rambutnya, mengikuti penampilan ibundanya, senyum Windy terlihat mendekati ratu Mariam, meminta maaf langsung mengambil mahkota ratu, memasangnya di kepalanya.


Teriak marah Ratu terdengar, pengawal Raja langsung mencengkram lengan Windy.


"Jangan pernah sakiti dia." Raja Hanz menatap tajam, meminta pengawal membiarkan Windy.


Mata Windy tajam, menunjukkan mahkota di kepalanya, merendahkan pengawal yang melangkah mundur.


Raja meminta pengawal keluar, Windy juga di minta untuk duduk di sisinya. Windy akhirnya menurut, menatap Raja tanpa berkedip.


"Bisa kita bahas bisnis sekarang?" Steven berusaha mencairkan suasana.


"Bisa sebentar saja turunkan status Raja, aku ingin berbicara dengan Ayahku." Windy menatap dengan mata berkaca-kaca.


"Silakan, bicaralah sebagai seorang putri kepada Ayah." Raja Hanz melihat mata Windy yang menyimpan kemarahan.


Windy meneteskan air matanya, duduk mendekati Raja Hanz ingin menyentuh tangannya, tapi menggelengkan kepalanya.


"Sejauh apa jarak kita Ayah? kenapa membenci Windy, tugas seorang Ayah menjaga keluarganya agar selalu utuh. Ayah boleh membenci ibu, tapi jangan salahkan Windy. Sekarang Windy marah kepada Ayah, juga takdir, kalian kejam. Siapa yang Ayah lindungi sehingga memilih kehilangan kami?" Windy tertawa juga menangis, Raja Hanz hanya diam saja.


"Kamu terlalu lama hidup di luar, sehingga tidak ada yang mengajari tata Krama, etika yang baik kepada kamu." Ratu Mariam tersenyum lucu melihat Windy.

__ADS_1


Tatapan Windy langsung tajam, mencengkram erat rahang Ratu, Stev langsung berdiri menarik Windy menjauhi Ratu yang sangat terkejut.


"Jaga ucapan kamu, Mami dan Papi selalu mengajarkan etika yang baik, besarnya cinta mereka tidak bisa diukur dengan apapun, Papi Windy tidak pernah membiarkan satu nyamuk menyentuh kulit Windy, Mami Windy tidak pernah membiarkan siapapun menghina Windy. Jika Mami tahu kamu mengatakan Windy tidak beretika, mulut busuk kamu sudah lama Mami remas." Windy menunjuk wajah Ratu Mariam yang terlihat marah.


Puluhan pengawal masuk, memaksa Windy untuk keluar, Steven tersenyum merangkul Windy disisi-nya.


Pengawal Raja mengancam, jika Windy tidak pergi mereka akan melakukan tindakan hukum, jangan salahkan kerajaan jika bersikap kasar.


Steven menatap Windy, senyum Stev terlihat karena tidak melihat ketakutan sama sekali dari wajah Windy. Dia masih berdiri santai, memperbaiki mahkotanya.


Raja Hanz menatap Windy, langsung berdiri di depannya memberikan perintah tidak ada yang diizinkan menyakiti Windy, jika sampai publik tahu, istana pasti heboh.


Wajah Windy yang mirip dengan Ratu Sinta, Ratu kebanggaan kingdom Cana yang masih hidup di dalam hati rakyat, jika wajah Windy masuk publik, pasti membuat banyak pertanyaan.


"Bukannya seharusnya kepulangan putri kita umumkan?" ibu suri berdiri menatap Windy.


Senyum Windy terlihat kedatangannya bukan untuk kembali menjadi seorang Putri, dia sudah memiliki keluarga, Windy hanya ingin melihat ibundanya, bertemu ayahandanya yang kejam, neneknya, kakaknya, juga sahabatnya.


"Siapa orang yang ingin mencelakai aku? sekarang aku sudah datang. Jangan panik juga khawatir, kalian pikir kita berdua datang mengantarkan nyawa, kalian salah. Aku ingin tatap muka dengan orang yang ingin membunuhku. Masih kurang aku keluar dari istana ini, bahkan kalian masih menginginkan nyawaku."


"Ayah akan melindungi kamu, tidak akan membiarkan ada yang menyakiti kamu." Raja Hanz menatap seluruh pengawal memintanya untuk pergi.


Seluruh pengawal tidak ada yang menurut kepada Raja, bahkan ibu suri sudah angkat bicara masih saja tidak ada yang bergerak.


"Sudah waktunya aku mengakui siapa aku?" Pengawal Raja meminta penjaga keluar, barulah semuanya menurut.


Steven tertawa kecil meminta Windy tetap ditempat. Stev mengeluarkan ponselnya menunjukkan foto Raja Firza yang sedang dalam perawatan, juga saat sembuh, sebelum operasi plastik, sampai akhirnya wajahnya berubah total.


Raja Firza tertawa melihat keberanian Steven, langsung berdiri melepaskan pedang meletakan di leher Steven.

__ADS_1


"Sebelum anda menyakiti saya, berpikir terlebih dahulu. Jangan berpikir aku datang dengan tangan kosong, sekalipun aku mati, kamu tidak akan bisa menyentuh istana ini, jadi berpikirlah." Di dalam hati Stev mengumpat kasar, dia biasanya hanya bermain pisau daging untuk masak, tapi kenapa sekarang dia harus melihat pedang dilehernya.


"Seharusnya aku membunuh kalian sejak awal?"


"Sudah terlambat!" Steven menunjukkan video kejahatan yang Firza lakukan, dia juga orang yang sudah membunuh Ratu Sinta.


Teriakan ibu suri kuat, Raja Hanz juga hampir jatuh lemas. Selama ini Raja Hanz menuruti kejahatan Firza demi melindungi ibunya, kerajaan, putra putrinya.


Hanz sudah kehilangan istrinya Ratu Sinta, juga kehilangan wanita yang dia cintai ibu Athala, bertahan menjadi orang jahat, juga bersikap kejam kepada Atha sudah cukup menyiksa, tapi ternyata banyak hal yang tidak dia ketahui.


Tangisan ibu suri mencaci maki Firza, tapi bukannya takut Firza langsung tertawa kuat, duduk di kursi menatap ibu suri.


"Kamu yang membuat aku menjadi orang jahat, seandainya kalian tidak menikahkan Sinta dengan Hanz mungkin kami sudah bahagia."


"Jika kamu mencintainya, kenapa membunuhnya?" Hanz teriak kuat.


Firza tertawa mengingat wanita yang dicintainya menolak untuk melarikan diri bersamanya, memaksa tetap bertahan dengan Hanz, kemarahan Firza lebih besar lagi saat tahu Sinta hamil anak Hanz, dia meminta Sinta mengugurkan, tapi tetap menolak, kebencian Firza tumbuh saat setelah Sinta melahirkan, dia mengatakan telah jatuh cinta kepada suaminya, juga buah hatinya.


Tujuan Firza hanya menghancurkan hidup Hanz dan Sinta, membunuh anak mereka dengan perebutan kekuasaan. Hanz yang masih muda hampir membunuhnya, lalu naik tahta, Firza mengirim wanitanya dengan membawa anak kandung Hanz dan membunuh kekasihnya.


Athala yang mengalami trauma lupa dengan ibunya, sehingga satu-satunya wanita yang dia kenalin hanyalah Ratu Mariam.


Pintu terbuka, Atha melangkah masuk mendengarkan cerita Firza, beraninya orang yang membunuh ibunya tidak merasa bersalah sama sekali.


"Hai pangeran Atha, kenapa kamu kembali?"


"Aku kembali untuk membunuh kamu, melenyapkan kalian semua yang menghancurkan keluarga kami."


"Kamu pikir mudah membunuh aku, bodoh kamu Atha, Ayah kamu saja tidak mampu melawan aku, karena semua kejahatan sama dengan diriku. Hanz jangan berpura-pura menjadi Ayah yang baik, jika sebenarnya kamu dan aku sama."

__ADS_1


Atha mengangkat senjata, mengarahkan kepada Firza, Windy berdiri di depan Atha memintanya menurunkan senjata.


***


__ADS_2