MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
SALAH TARGET


__ADS_3

Tangisan ibu Jum tidak ingin berpisah dengan Tian, hari ini Bisma sekeluarga akan kembali, tapi masih tidak tega dengan ibu yang sangat menyayangi Tian.


"Embah jangan menangis, nanti Tian main lagi ya." Tian memeluk hangat, kakeknya langsung menggendong Tian dan menciumnya.


Bisma membukakan pintu mobil untuk istri juga putranya, mereka langsung melaju pergi meninggalkan Desa dengan haru. Tian mengeluarkan kepalanya sambil melambaikan tangannya.


Selama di perjalanan Tian hanya diam saja, Jum memperhatikan dan melihat kearah Tian.


"Apa yang kamu pikirkan nak?"


"Tian! boleh tidak pulang ke panti."


"Tidak boleh." Suara Jum tinggi, Bisma sampai kaget.


Jumi tidak akan membiarkan Tian kembali ke panti, Tian harus tinggal bersamanya.


"Sayang, dengarkan dulu pembicaraan Tian. Dia pasti punya alasan."


"Tian harus tinggal sama Bunda, kita sudah janji akan tinggal bersama." Jum langsung ingin menangis.


"Maafkan Tian Bunda, jangan menangis. Tian hanya ingin menemui teman-teman dan mengucapkan perpisahan, walaupun Tian tidak dekat dengan mereka setidaknya Tian bagian dari panti."


"Tapi Bunda ingin tidur bersama Tian."


"Lalu aku tidur sama siapa bunda, enak-enak juga belum sudah mau ditinggal sendirian." Bisma protes, dia belum sempat malam pertama karena Jum haid.


"Satu hari saja, besoknya Bunda jemput Tian."


Akhirnya Jum setuju, setelahnya Jum tidak akan membiarkan Tian pergi darinya. Dengan bersorak-sorak dalam hati Bisma akhirnya bisa berduaan.


Sesampainya di kota, Bisma langsung menuju panti, menyapa sebentar dan meninggalkan putranya. Besok pagi langsung menjemput Tian, Jum tidak mau turun karena tidak ingin berpisah.


Selanjutnya, Jum dan Bisma melihat rumah mereka yang menjadi hadiah pernikahan, tidak jauh dari kediaman Rama.


Jum melihat rumah yang besar dan sangat unik, rumah sudah di desain sesuai kesukaan Jum dan Bisma.


"Kita jual saja ya sayang?"


"Tidak mau! Jum mau tinggal di sini titik."


Semua perabotan rumah sudah tersedia yang membuat Jum dan Bisma tertawa setiap perabotan mempunyai nama pengirimnya.


Sofa tamu dari Ivan, meja makan Reva, semua peralatan dapur untuk memasak dari Septi semua peralatan model canggih, ranjang tidur dari Viana, Lemari kaca dari Ammar. Mami Nita, mommy dan daddy Vi, Verrel, Septi, semuanya menyumbangkan seisi rumah yang sudah lengkap. Bisma kesal mencabut semua nama mereka yang bahkan membeli cat tembok juga ditulis.


"Kamu yakin tinggal di sini sayang?" Bisma masih ragu untuk menetap di Indonesia.


"Iya! Jum suka rumahnya dan semua kenangan nya."


"Cari asisten rumah tangga 5, rumah sebesar ini mana sanggup kita berdua membersihkannya."


"Jum bisa membersihkannya sendiri, Jum sudah biasa bekerja beres-beres rumah."


"Saya menikah kamu bukan untuk menjadi pembantu tapi melayani saya."

__ADS_1


"Jum akan tetap melayani mas."


"Cukup layani suami kamu saja sayang, urusan rumah biar orang lain yang mengerjakan sekalian kita memberikan sedikit rezeki untuk mengurangi ekonomi orang lain."


"Oke deh, Jum setuju! berarti sekarang Jum akan menjadi nyonya Bisma Bramasta." Jum tertawa merasa geli dengan ucapnya sendiri.


***


Jum dan Bisma masuk kamar setelah makan malam, belum ada yang mengetahui kedatangan mereka.


"Sayang! sudah siap belum. Satu Minggu aku menunggu." Bisma masih kesal tidak bisa malam pertama karena mendadak Jum datang bulanan.


"Eemhh ... terserah mas." Jantung Jum berdegup kencang membuatnya mulai merasakan takut dengan malam pertama mereka.


Bisma menggendong Jum menidurkannya di atas ranjang, wajah Jum mulai memerah. Bisma menyadari jika Jum sangat grogi.


"Mas izin ya sayang, kamu jangan tegang santai saja, mas tidak akan memaksa jika kamu masih menolak."


Permainan panas, dengan keringat bercucuran.


"Maaf Jum, jika aku menyakiti kamu." Bisma menghapus air matanya Jum dan bangkit dari atas tubuh Jum menutupinya dengan selimut.


"Kenapa berhenti mas Bisma?" Jum membuka matanya.


"Kita lanjutkan besok saja, kamu istirahat."


"Yakin! besok lusa dan seterusnya Jum gak bakal kasih jatah, mau?"


"Tega kamu, sekarang juga kepala aku sakit Jum, kamu enak sudah merasakan kepuasaan , gue belum!"


"Kamu yakin, tadi teriak!"


"Mas tidak bilang mau masuk, Jum kaget!"


"Ada ya orang bercinta tapi mengobrol seperti kita."


"Makanya mas banyak kerja jangan ngobrol." Jum menutup mulutnya yang langsung membuat Bisma tertawa.


"Oke! aku buat kamu teriak."


Setelah selesai dengan perdebatan, juga candaan dari kepolosan Jum. Perang selesai dengan akhir bahagia.


"Mandi bareng ya sayang?" Bisma bangkit memandangi Jum.


"Pasti mau minta lagi, Jum capek mas."


"Siapa yang ngajarin kalau mandi bareng minta jatah."


"Reva! dia bilang jangan mau diajak mandi bareng bisa ratusan ronde tidak usai."


"Reva Reva Reva Reva. Dia seperti wanita berpengalaman saja. Bahkan berciuman saja belum dapat."


"Reva bilang, banyak-banyak nonton video biar berpengalaman."

__ADS_1


"Bima gue kasihan ke Lo, calon istri Lo gesrek dan menodai kepolosan istri gue."


"Jum sayang, jangan dengarkan Reva. Dia wanita gila!"


***


Di dalam kantornya Bima masih sibuk dengan berkas penting, seseorang mengetuk pintu dan memberikan laporan soal kecelakaan yang hampir melukai Reva. Bima cukup kaget karena pelakunya seorang gadis yang sakit jiwa, atas perintah kakaknya Thea dia membayar penjahat dengan bayaran tinggi.


"Thea!"


"Iya tuan, sekarang sedang menjadi buronan."


"Kumpulan orang kamu, temukan Thea aku tidak akan membiarkan dia berulah lebih jauh."


"Baik tuan,"


Bisma menghela nafasnya, wanita cerdas berpendidikan tinggi tapi mempunyai iri hati yang sangat dengki.


"Ya Allah lindungilah hamba, putri hamba, juga Reva. Jauhkanlah kami dari orang-orang yang mempunyai niat jahat."


Sedangkan di tempat lain, Reva sedang tersenyum dihadapan seseorang yang wajahnya kusut, penampilan berantakan, terlihat stres sekali.


"Selamatkan aku, dari kejaran polisi juga Bima Reva." Thea menunduk dan memohon.


"Aku bukan Bima yang tidak tega melihat orang terluka, aku sangat menyukai orang jahat terkena karma." Reva tertawa lucu, sudah saatnya Reva memanfaatkan Thea untuk mendapatkan informasi soal Stevie, sosok wanita yang membuatnya penasaran.


"Kenal dia!" Reva melemparkan sebuah foto.


"Stevie!" Thea menatap Reva tidak mengerti.


"Temukan dia!"


"Menemui dia di neraka!" Stevie menggelengkan kepalanya.


"Jangan bermain-main Thea!" tatapan Reva langsung tajam, hawa dingin akhirnya keluar.


"Dia sudah meninggal 5tahun yang lalu, adiknya Steven yang menjadi pengacara Bima."


Reva langsung melangkah menjauh menghubungi Viana, jika Stevie sudah meninggal. Keinginan Viana bertemu Stevie tidak bisa terpenuhi.


"Apa penyebab kematian Stevie?"


"Kecelakaan, dia berserta suami juga anaknya ikut meninggal."


"Kedatangan Steven untuk balas dendam."


"Kau gila! Bima yang menawarkan kepada Steven untuk menjadi orang kuat, setelah kepergian seluruh keluarganya. Pemberitaan ini sangat viral di dalam sekolah hukum di Spanyol."


"Astaga salah target! sia-sia aku memanfaatkan Thea jika tidak ada gunanya." Awalnya Reva niatnya menolong Thea agar bekerja untuknya mendapatkan informasi kejahatan Steven dan Stevie karena mereka satu jurusan sejak sekolah, tapi kenyataannya, dia kehilangan info besar jika Bima yang menyongsong masa depan Steven.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA

__ADS_1


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***


__ADS_2