
Bima tersenyum melihat Steven yang bercerita bersama Winda, Steven langsung berusaha untuk duduk menyapa Bima.
"Bagaimana keadaan kamu Stev?" Bima duduk di kursi melihat keadaan Steven yang sudah duduk bersama Winda.
"Papi Kakak bule sudah sehat, laki-laki harus kuat." Winda menatap Steven yang tersenyum.
"Kapan datang kak Bim? maaf aku kesiangan telat menyapa." Steven menyalami Bima, tidak melihat Windy dan Reva bersama Bima.
"Panggil Papi kak, Papi bilang ingin mengunjungi kak Win dan kak Steven yang sudah dianggap sebagai putra." Winda langsung menatap tajam.
"Iya maaf Om Stev biasanya memanggil Kak Bim." Steven mengelus kepala Winda.
"Winda laporkan kepada Mami, kak Stev nakal." Winda langsung turun, duduk di dekat Wildan, wajahnya cemberut kesal.
Suara salam terdengar, Reva muncul bersama Windy membawa banyak makanan. Winda langsung berlari memeluk Maminya meminta makan.
"Mami lama sekali, cacing Winda sudah mengamuk, sebentar lagi perut Winda bolong." Winda memonyongkan bibirnya, Bima membantu Winda duduk menyiapkannya makanan.
"Mami, kak Stev nakal. Dia memanggil Papi Kak Bim. Tidak sopan." Winda mengunyah makanannya, langsung melahapnya.
"Kenapa kamu memanggil kak Stev? panggil Om Stev." Windy menyiapkan minum untuk Winda.
"Papi bilang tadi putranya, berarti Kakaknya Winda, panggilnya kak Stev. Jika panggilnya Uncle, berarti saudaranya Papi seperti Uncle Bisma." Winda terus mengoceh.
Bima memanggil Wildan untuk makan, Reva memberikan makanan untuk Steven, langsung menyiapkan makan untuk suaminya yang masih meladeni Winda yang mengomel.
Steven menatap keluarga Windy yang harmonis, Steven menyuapi Winda yang masih saja mengoceh sampai Bima harus memberikan pengertian, Reva menyuapi Windy dan Bima sekaligus, sedangkan Wildan sudah makan mandiri.
Steven melihat makannya, sudah lama Steven tidak melihat keluarga harmonis, dulu dia juga selalu makan dari tangan kakaknya, berebutan dengan keponakan kecilnya.
Sudah terlalu tua bagi Steven untuk merindukan kehangatan keluarga, Stev coba fokus kembali, tidak ingin menginginkan sesuatu yang sudah pasti tidak bisa dimilikinya.
Winda menatap Steven, cepat menghabiskan makanannya. Selesai makan langsung minum, mengucapkan terima kasih kepada Papinya.
__ADS_1
Winda langsung melangkah ingin naik ke atas ranjang Stev, Steven membantu Winda untuk naik, tangan kecil Winda mengambil makanan Steven langsung mengaduknya pelan.
"Kak bule, Winda suap saja ya? makanan dari tangan orang yang di sayang rasanya enak. Coba saja."
Steven terdiam melihat sendok di dekat mulutnya, langsung menatap yang lain, Windy tersenyum meminta Steven menerima suapan Winda, Reva Bima juga tersenyum.
"Bagaimana kak bule? enak tidak?" Winda menunggu jawaban Steven.
"Enak sekali, ini makanan terenak yang pernah Om Stev coba." Steven tersenyum, menerima setiap suapan Winda, Windy mengantarkan minum, Winda membantu Steven minum.
"Terima kasih Winda cantik, makanan ini akan pernah Om Stev lupakan."
"Sama-sama kak bule, tapi mengapa hanya makanan yang tidak dilupakan, seharusnya Winda?"
"Makanan ini tidak terlupakan, karena selalu mengingat kamu." Steven tersenyum melihat senyum lucu Winda.
Selesai makan, Reva pamitan untuk membawa anak-anak ke apartemen Windy untuk beristirahat. Bima akan kembali bersama Steven setelah mengurus seluruh biaya rumah sakit.
Setelah semuanya pulang hanya tersisa Bima dan Steven yang saling diam, Bima sudah lama mengenal karakter Steven yang sangat dingin jika sedang dalam masalah, Bima juga yakin kecelakaan yang terjadi disengaja.
"Stev, Kak Stev mendengar Vero kembali, dia juga sudah menemui Windy."
"Apa? kapan kak?" Steven kaget, ternyata Vero tidak main-main dengan ucapannya, Steven mengepalkan tangannya.
"Tidak penting Steven, sepertinya Vero mengkhawatirkan kamu, sudah cukup kalian bermusuhan, dia adik kamu sudah saatnya kamu rangkul dia." Bima menunjukkan kertas dari Vero untuk Windy.
Steven menarik nafas panjang, berdamai dengan Vero sesuatu yang tidak pernah Steven bayangkan. Vero orang yang menyebabkan kematian kakaknya, walaupun tindakan Vero karena keinginan Ibunya. Steven dan Stevie kehilangan sosok Ibu, juga sosok Ayah yang memilih pergi bersama wanita lain, juga putra mereka, meninggalkan Steven yang akhirnya menjadi tanggungan Stevie.
"Buang dendam kamu Steven, Vero sebenarnya baik dia hanya besar dalam keluarga yang keras, juga salah didikan." Bima menepuk bahu Steven.
"Memaafkan dia kak Bim, dia yang membunuh kak Stevie. Steven yang bodoh membiarkan dia tertawa di luar sana, padahal dia yang memutuskan rem mobil, kecelakaan itu bukan hanya membunuh kak Stevie, suami dan anaknya, tapi lima orang jadi korban. Setelan Steven mendapatkan bukti, memilih membiarkan dia bebas, untuk kesekian kalinya dia menipu Steven yang harus kalah dalam persidangan bandar narkoba terbesar. Dia bebas kak Bim, semuanya karena Vero." Steven bicara dengan nada tinggi.
"Maaf kak, sekali ini Steven tidak bisa mendengarkan kak Bima, Stev tidak akan memberikan dia kesempatan lagi." Steven menudukan kepalanya.
__ADS_1
Bima mengusap punggung Steven, meminta maaf karena tidak memahami perasaan Steven yang sangat kecewa. Bima tidak bisa menolong Steven soal Vero yang memang sudah memilih mendukung pengusaha lain yang tidak sesuai hukum.
"Soal kecelakaan kamu, biarkan orang kepercayaan kak Bima yang mengurus, kamu beristirahat full di rumah."
"Jangan kak, Steven akan melakukannya sendiri. Jangan khawatir, secepatnya dia akan terseret ke dalam jeruji besi." Steven tersenyum sinis.
"Stev, kamu harus ingat pesan kak Bima. Orang yang memiliki uang bisa mengalahkan orang yang punya kuasa, tapi orang yang licik bisa mengalahkan orang beruang dan berkuasa. Bukan kak Bima mengajari kamu menjadi orang licik, tapi mengingat kamu perbedaannya."
"Semua pesan kak Bim akan Steven ingat, Stev akan berusaha walaupun perjuangannya panjang, Stev akan membela kebenaran."
"Kak Bim percaya kamu, yakin kamu anak yang cerdik dan licik. Ingatlah jangan pernah salah jalan, kak Bim akan selalu disisi kamu, membantu kamu dalam segi apapun.
Steven tersenyum, kebaikan Bima membuat Steven semakin takut dengan perasaanya terhadap Windy, Steven tidak bisa mengecewakan Bima yang sudah seperti keluarganya, mana mungkin memberikan putri kesayangannya.
"Ayo bersiap-siap kita pulang, kak Bim keluar sebentar untuk menemui Dokter." Bima melangkah pergi.
Steven menarik nafas dalam-dalam, menepuk pelan dadanya untuk melupakan Windy, tidak boleh menyamakan Windy dengan wanita lain. yang menjadi pacarnya.
"Tidak mungkin aku mencintainya, aku tidak boleh mengecewakan kak Bim, ingat Steven Windy wanita yang sangat Bima cintai, jangan pernah kamu bermimpi untuk memilikinya." Gumam pelan Steven.
Seorang suster datang, langsung membantu membuka infus, mendoakan Steven cepat sembuh. Steven tidak merespon, masih dengan pikirnya yang terus tertuju kepada Windy.
"Stev, apa yang kamu pikirkan?" Bima menepuk pundak Steven.
"Windy."
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
JANGAN LUPA JUGA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA
***
__ADS_1