MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
HASIL CINTA


__ADS_3

Ammar keluar dari ruangan karena baru saja menyumbangkan darahnya kepada putranya, Septi yang shock sedang dirawat karena pingsan mendengar kabar Erik kritis.


"Mar bagaimana keadaan Erik?"


"Sudah mendingan, dia kehabisan darah karena benturan kepalanya yang tidak dilindungi."


Ivan yang baru saja mendapatkan kabar langsung ikut duduk bersama Rama, Bima, Bisma, dan Ammar mendengarkan kasus kecelakaan para putra.


Ravi aman karena kepalanya dipeluk olek Erik, tubuhnya dipeluk Tian sambil berpegangan kuat. Tapi Erik bukan hanya memeluk Ravi, tapi melepaskan pegangannya untuk melindungi Tian juga. Seandainya Erik berpegangan tidak mungkin terluka parah. Dua pengasuh yang panik tidak bisa mengendalikan diri, sibuk menyelamatkan diri sendiri, tidak berpegangan sehingga mengalami pendarahan otak dan meninggal.


"Jika Erik tidak melindungi kepala Tian, mungkin juga akan terluka parah."


"Saya akan menuntut rumah sakit ini atas keamanan yang lalai," kemarahan Bisma memuncak, dia tidak bisa memaafkan karena putranya sampai terbaring, istrinya sampai jatuh pingsan.


Septi dirawat, Reva juga dirawat, tiga bocah juga dirawat, Jum juga sudah pasang infus karena semakin melemah.


Bima diikuti yang lainnya memasuki Masjid melaksanakan sholat Jum'at, memohon kebaikan, meminta dijauhkan dari marabahaya, ini ujian yang cukup berat terutama bagi Ammar.


***


Setelah tiga hari, semuanya menunggu di depan rumah ruangan Erik. Tian yang mengalami luka di tangannya sudah diperbolehkan pulang, Reva juga sudah stabil, hanya Erik yang belum juga sadar.


Ammar meneteskan air matanya, ini hukuman untuknya karena pernah mengatakan Erik parasit, Erik kesalahan hidupnya yang tidak bisa dia terima.


"Kak, Erik pasti sembuh." Septi masuk ke dalam pelukan Ammar.


"Iya sayang, dia anak yang kuat. Seharusnya aku yang dihukum karena tidak mengakuinya, tapi mengapa harus dia yang merasakan sakit."


Ravi dan Tian bersama Viana, Reva dan Jum berada di dalam melihat Erik. Tangan Ravi menggenggam erat sahabatnya, Ravi membisikan sesuatu yang tidak terdengar. Tian meletakkan robot kesayangan untuk Erik, Ravi juga memberikan mobil remote yang baru dia beli, Windy juga ikut memberikan boneka barbie membuat Ravi melotot.


"Erik tidak main boneka." Ravi mengembalikan boneka Windy.


"Tapi Windy hanya punya boneka, yang terpenting Windy ikhlas."


"Bawa pulang lagi, belikan saja mainan laki-laki."


"Biarkan saja Ravi, Erik suka." Suara pekan terdengar, Viana langsung memanggil Septi dan Ammar, Erik sudah sadar.


"Erik, bagian mana yang sakit?"


"Mami, Erik baik-baik saja." Senyum terlihat, Septi mendekat dan mencium Erik, Dokter juga langsung datang dan memeriksanya.


Selesaikan pemeriksaan semuanya bernafas lega, Erik hanya butuh pemulihan. Senyum masih saja terlihat di wajahnya, tidak ada keluh kesah Erik langsung tertawa bersama Ravi yang memberikannya mainan.


"Terima kasih sudah menolong Ravi."

__ADS_1


"Kita sahabatan, harus saling tolong menolong, jika Erik dalam bahaya tolong selamatkan Erik."


"Pasti, Ravi akan menjaga Erik suatu hari nanti."


"Anak mama pintar, baik dan kamu sangat terdidik." Septi menciumi wajah Erik yang memegang baju Septi.


"Erik takut," Septi langsung memeluknya, tangisan Erik pecah.


"Iya peluk Mama ya sayang, ada Mama dan papa yang akan menjaga kamu, jangan takut lagi."


Ammar mendekat, mengusap kepala Erik pelan yang masih dibalut kain. Ammar tidak tahu harus mengatakan apa, tidak tahu cara mengungkapkan kasih sayangnya, tidak tahu cara menenangkan Erik.


"Ma, kita harus keluar dari rumah sakit sekarang, biaya rumah sakit mahal."


"Kamu tahu dari mana?"


"Waktu itu Erik sakit, dan ibu bilang mati saja dari pada harus ke rumah sakit, biayanya mahal lebih mahal dari biaya pemakaman."


"Kamu mahal sayang, sekalipun aku harus jatuh miskin tidak akan Mama biarkan kamu merasakan sakit." Septi menangis, memukuli dada Ammar, Erik tidak mengerti dengan kemarahan Septi.


Reva mendekat, duduk dan menatap mata Erik. Melihat tatapan Reva membuat Erik tersenyum dan mengelus wajah Reva.


"Jika kamu menjadi Dokter, saat melihat pasien. Apa kamu masih memikirkan biayanya?"


"Tentu," jawaban Erik membuat Reva penasaran.


"Karena kita berada dalam dua golongan, si miskin dan si kaya."


Bima tersenyum, Erik sudah melihat banyak jenis orang dari golongan kaya dan miskin. Bima mendekati Erik dan membisikan sesuatu membuat Erik tertawa.


"Apa yang Ayy bisikkan?" Reva langsung melotot, dia tidak tahu jawaban dan tidak mengerti ucapan Erik.


"Tidak ada sayang, Erik bocah jenius pengetahuannya luas."


"OHH, jadi Ayy bilang Reva pikirannya pendek, dangkal. Menyebalkan!" teriak Reva, langsung duduk di samping Jum memakan martabak.


Bima yakin Erik sangat cerdas dan pikirannya sangat luas dan mudah memahami sesuatu. Dari cara berbicara, berpikirnya bahkan caranya menutupi kesedihan.


"Papi dan Mami pulang ya, Erik cepat sembuh nanti Papi belikan mainan."


"Terima kasih Papi, hati-hati di jalan Erik sudah punya mainan, dua saja sudah cukup, ehh tiga dengan boneka kak Windy sudah lebih dari cukup."


"Tapi Papi melihat mata kamu menginginkan sesuatu?"


Erik tersenyum dan membisikan sesuatu untuk Bima, senyum Bima terukir.

__ADS_1


"Baiklah,"


Bima mendekati Ammar, membisikkan permintaan Erik untuk pulang dia ingin makan mie dan meminta Bima membantu mamanya membayar biaya rumah sakit dan saat besar akan menggantinya.


"Papa bisa membayar biaya rumah sakit." Ammar mendorong Bima menjauh.


Semua orang pulang hanya tersisa Erik, Ammar dan Septi. Mata Erik mulai terpejam kembali dengan penuh kelembutan Septi menjaga Erik penuh kasih sayang, bahkan mereka berdua menghabiskan waktu cuti Ammar untuk menemani Erik di rumah sakit sampai pulih total.


***


Di perjalanan Reva mengelus perutnya, Bima memperhatikan gerakan tangan Reva dan fokus kembali ke depan.


"Sayang, kamu lapar, sakit perut atau apa?" Bima ikut memegang perut Reva.


"Reva tidak sabar...."


"Ayy juga tidak sabar ingin menyapa mereka, sudah lama libur."


"Wohh, otak kamu sekarang isinya sesat semua, untung Windy ikut Bisma."


"Astaghfirullah Al azim, tidak boleh bicara seperti itu sayang. Lagian Ayy bercanda tapi jika dikabulkan Alhamdulillah." Reva mencubit lengan Bima kesal, Bima bukannya marah tapi tertawa.


"Ayy, semoga saja Erik akan bahagia bersama Ammar dan Septi."


"Amin sayang, Allah tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuan kita."


"Iya, dibalik musibah pasti ada hikmahnya, mata Ammar terbuka untuk menerima Erik padahal awalnya dia sangat membenci Erik."


"Iya, seperti kita, dulu aku juga kesal karena selalu diganggu bocah ABG tapi sekarang aku rindu bocah ABG itu."


"Sekarang bocah ABG akan segera menjadi ibu, dari Om-om." Reva menekan Om-om untuk Bima.


"Aku umur saja tua, tapi lihatlah aku jauh lebih tampan, bahkan bisa menyaingi ketampanan Rama."


"Iya tampan, makanya Reva mau, biar om-om banyak duitnya, Reva cinta uang Om."


"Yakin, terus yang diperut itu hasil cinta duit atau cinta Om?" Bima mengelus perut Reva.


"Ini hasil cinta Om duren." tawa Reva dan Bima terdengar, Bima ingin cepat bisa melihat buah cintanya.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2