
Di dalam ruangan rapat hotel, Bima duduk seorang diri sambil membaca berkasnya. Seorang pria membuka pintu dengan kasar, dan langsung menendang kursi membuat Bima tersenyum.
"Brengsek kamu Bima!" Dodi menatap Bima dengan kemarahan.
"Aku sudah memperingati kamu," Bima menatap sesaat, lalu fokus kembali pada pekerjanya.
"Kembalikan perusahaan aku, setelah ini aku akan pergi sejauh mungkin dan tidak akan menggangu Reva."
"Kamu sudah mengabaikan 2kali peringatan juga kesempatan. Aku tidak sebaik yang kamu pikirkan, jika menyangkut keluargaku tidak ada ampun untuk kalian."
"Berikan aku kesempatan ketiga! aku janji pergi jauh dari negara ini."
Bima hanya menatap dingin, melempar berkas cepat Dodi membacanya. Tangannya gemetaran memohon agar Bima tidak menyita perusahaannya.
"Bima saya mohon!"
"Satu kali lagi bicara, kamu kehabisan waktu." Cepat Dodi berdiri dan berlari keluar. Bima menyita perusahaannya dan memberikan perusahaan yang baru buka sebagai gantinya.
Kemarahan Bima sudah di atas ambang kesabarannya, berkali-kali Dodi mengancam Reva dan sekarang coba bermain saham dengan menyingkirkan Reva. Bima muak melihat lelaki yang tidak tahu malu, mengancam Reva dengan kata-kata vulgar semakin merusak otak Reva yang memang penuh dengan konten dewasa. Sudah dua kali Bima memberikan peringatan tapi bukannya dihindari tapi semakin menantang.
Steven membuka pintu dan tersenyum, melihat Bima yang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangannya menghadap ke atas.
"Kita pasti menang!" Steven tertawa berhasil mengejutkan Bima.
"katakan pada Stevie ucapan terimakasih soal Dodi."
"Siap! cinta memang bisa mengubah kupu-kupu menjadi burung pemangsa." Steven tertawa lucu melihat Bima.
"Menikahlah biar otak kamu normal, bule tengil."
"Aku sudah terikat oleh putri kecilmu." Steven teringat ucapan Windy yang mengatakan 10tahun lagi untuk menunggunya.
"Gila!" Bima memukul kepala Steven dengan map.
"Kita tidak pernah tahu kak, kemungkinan sekarang memanggil kakak nantinya menjadi Papi." Steven tertawa terbahak-bahak, melihat wajah Bima yang sudah kesal.
"Ya tapi aku hanya ingin berdoa, jika kamu jodohnya tolong diganti." Bima menatap kesal kearah Steven yang asik tertawa.
***
Reva berjalan keluar dari mobilnya, seorang wanita seksi dengan pakaian hampir sobek pahanya menghampiri Reva. Tangannya siap menampar Reva tapi langsung ditahan Reva.
"Siapa!? netizen." Reva memelintir tangan yang ingin menamparnya dengan keberanian.
__ADS_1
"Wanita penggoda!"
Reva mendorong seorang wanita yang mungkin usiannya sangat muda, tapi dandannya sudah mirip nenek-nenek lupa meratakan wajahnya.
"Saya akan membunuh kamu!"
Reva hanya terdiam dengan tatapan aneh juga binggung, bahkan Reva tidak mengenalinya tapi bisa menjadi lawannya. Karena sudah terlalu lelah Reva mengabaikannya, mungkin hanya sebuah salah paham. Tapi Reva kembali berhenti kemungkinan juga sebuah peringatan untuk lebih berhati-hati.
Sesampainya di apartemen, Reva langsung membersihkan dirinya. Suara ponselnya berdering, Om Duren melakukan panggilan yang langsung Reva matikan. Bima kembali menghubungi dan berkali-kali Reva sengaja mematikan, setelah terlalu banyak Reva akhirnya menjawab.
[Hallo!"] Reva menjawab panggilan sambil menahan tawanya.
[Di mana kamu? sama siapa? kenapa dimatikan? jawab!] Bima memberikan pertanyaan yang bertubi-tubi, dia lupa tujuan awalnya menghubungi Reva.
Dengan tawanya, Reva menjawab semuanya dengan kejujuran. Reva juga menceritakan soal wanita yang mengancam ingin membunuhnya. Reva hanya terlihat santai tapi berbeda dengan Bima yang nampak sangat khawatir.
Selesai bercerita panjang lebar, sampai Bima menemani Reva tidur melalui panggilan.
"Good night, mimpi indah Va." Bima mengakhiri panggilan karena Reva yang sudah terlelap.
"Ya Allah lancarkan niat baik kami, jadikan dia halal untukku. Jauhkan kami dari dosa rasa rindu."
Bima berdoa dalam hati, karena beberapa hari ini Reva mengganggu pikirannya.
***
Sesampainya di restoran, suara berisik Ivan sudah terdengar dari ruangan khusus yang mereka pesan. Bima mengucapkan salam sambil tersenyum, duduk di samping Ammar.
Mereka membahas rencana berangkatnya ke kampung Jum. Ammar tidak bisa pergi bersama karena kebetulan dia sedang bertugas, baru akan datang di hari H. Bima juga tidak bisa pergi karena akan ada persidangan dengan Brit. Ivan juga sama tidak bisannya karena urusan pekerjaan mendadak.
"Jadi gunanya kalian ke sini untuk apa?" Reva menatap kesal.
"Kamu tunda pekerjaan Van, tega lihat kita pergi sendiri." Septi juga kesal.
"Ya sudah pergi pas hari H saja."
"Otak bodoh kamu masih dipelihara! Jum kamu suruh pakai daster menyambut tamu." Reva melotot membuatnya Septi dan Tya tertawa.
"Sudahlah Reva, kita pergi bertiga sekalian temui kak Vi. Semakin ramai ya semakin seru."
"Oke!"
Selesai makan bukannya beraktivitas kembali, ketiga wanita lanjut belanja. Bima mengerutkan keningnya karena lelah berputar-putar tidak jelas tanpa ada yang di beli.
__ADS_1
"Sumpah nyesel ikut makan siang, kalau tahu mereka lanjut belanja." Ammar mengeluh.
"Kabur sajalah! atau santai di cafe." Ivan memijit kakinya yang terasa membawa candi Borobudur.
***
Keesokan harinya, semuanya berkumpul di rumah Viana untuk berangkat ke tempat Jum. Bima mengantar Reva yang selalu memperingatinya untuk berhati-hati.
Di rumah Rama sudah berkumpul Reva, Septi juga Tya. Mereka bertiga akan pergi ke desa Jum untuk melakukan persiapan.
Dengan penuh penyesalan Rama menolak, keinginan Viana pergi lebih dulu karena kandungan Vi, belum lagi semuanya wanita. Rama tidak mempercayai jika tidak ada dirinya.
"Maaf Reva, kamu pasti mengerti jika Vi sedang hamil."
"Santai Ram, aku tahu jika kamu sangat posesif dengan istri dan anak kamu."
"Bukan posesif! Vi lagi hamil, aku tidak percaya melepaskan Vi tanpa aku." Rama coba menjelaskan kepada Reva soal penolakannya memberikan izin.
"Viana juga mau pergi hubby." Rama memandangi Viana serius membuatnya langsung menunduk.
Reva tersenyum melihat Viana yang tidak berani membantah Rama. Septi juga memperhatikan Rama yang sangat berbeda saat bersama mereka yang sangat cuek, tapi berurusan dengan anak dan istrinya berlebihan sekali.
"Ya sudah lah kak, nanti perginya bareng Rama. Lagian kak Vi tidak dibutuhkan, palingan kerjaan ngibah." Septi tersenyum.
"Emangnya kalian dibutuhkan." Viana melotot dengan nada tinggi, membuat semuanya tertawa.
"Tya ahli dekorasi pelaminan, Septi yang memantau catering, dan Reva yang bertugas memastikan sang pengantin menjadi sang ratu." Reva bicara dengan gayanya yang berlebihan.
"Kalian hanya pergi bertiga?"
"Rencananya berempat Ram, tapi Lo tidak mengizinkan."
"Kalian pergi saja bertiga, Viana pergi bareng gue." Viana langsung menghela nafas memonyongkan bibirnya melihat Rama yang melarangnya pergi lebih dulu.
Akhirnya Reva hanya pergi bersama Septi dan juga Chintya, Rama menjadi daddy super posesif yang mengawal Vi 24jam full.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA
***
__ADS_1