MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
MENGEJAR CINTA OM BULE


__ADS_3

Tiba di bandara Bima langsung yang menjemput bersama Reva, dari kejauhan terlihat Steven mengandeng tangan Windy.


Dari kejauhan terlihat seorang wanita seksi mengejar Windy, saat jarak dekat Steven langsung melepaskan koper melemparkannya ke depan, langsung menarik Windy ke sampingnya untuk melindungi Windy dari wanita yang ingin menjambak rambutnya.


Seorang wanita jatuh tersungkur menghantam koper Steven, Windy kaget melihat wanita seksi, bajunya sampai terangkat ke atas pahanya sobek membelah sampai terlihat bodynya.


Vero yang membawa dua koper langsung berlari ke depan, melihat paha putih tersungkur dihadapannya.


"Wow, pahanya lebih nikmat paha Ayam, lihat ada koreng." Vero tertawa kuat bersamaan Windy dan Reva yang juga melihat kejadian.


"Makanya Tante, kalau niat jahat tidak mendapatkan ridho Allah, akhirnya senjata makan tuan." Windy tertawa, langsung melangkah mendekati Mami langsung memeluknya, mencium tangan Mami.


Reva menciumi wajah Windy, baru Windy memeluk Papinya, mencium tangan Bima. Steven juga mencium tangan Bima, tersenyum menyapa Reva.


"Hai Vero, apa kabar kamu?"


"Tidak baik kak Bim, pergi tanpa pemberitahuan baru saja ingin balap mobil, mendapatkan panggilan, dalam waktu 30 menit belum sampai rumah uang jajan tidak cair, sampai di rumah langsung pergi. Vero dimasukan ke dalam bagasi, duduk di belakang, sampai jatuh ulah kak Stev, lebih buruknya lagi, Vero duduk di pesawat bersama Nenek genit." Vero mengerutkan keningnya, matanya menatap Stev tajam.


"Jangan suka balapan, bahaya. Carilah sesuatu hobi yang aman, bermanfaat sehingga kita tidak khawatir." Bima menepuk pelan pundak Vero, mendengar cerita singkat Vero


Bima memberikan kunci mobil kepada Steve, yang lainnya masuk ke kursi belakang, Bima duduk di samping Steven.


Sepanjang perjalanan Windy bercerita banyak hal, menceritakan rumah mewah Stev yang sangat besar, Reva selalu tertawa setiap mendengar Vero bercerita.


"Vero kamu memiliki banyak beban hidup?" Reva tersenyum melihat Vero yang kaget langsung menatap Reva.


"Maksudnya?" Vero berpura-pura tidak mengerti.


Reva tertawa, dia tahu orang yang paling ceria bisa saja orang yang memiliki banyak beban hidup, menyimpan seorang diri.


Vero tersenyum melihat Reva, dia memang menyimpan luka, memilki dendam yang besar, tapi kehadiran Steven melupakan dendam Vero.


"Mami, adiknya Windy di mana?"


"Mereka asik bermain, Vira, Bella Billa baru saja kembali." Reva mengusap kepala Windy.

__ADS_1


Sebelum pergi ke rumah, Reva meminta Stev berhenti sebentar di pinggir jalan, Reva ingin membeli cemilan bakery cake untuk anak-anak yang sedang asik bermain.


Vero menemani Mami Reva dan Windy untuk masuk ke dalam, sedangkan Bima diam di mobil bersama Steven.


Di dalam toko cukup ramai, Vero meminta Reva duduk saja, dia yang akan mengantri untuk mendapatkan yang Reva inginkan.


"Vero tidak perlu mengantri, sebelum menjemput kalian kak Va sudah memesan terlebih dahulu. Kita duduk di sini saja menunggu pesanan." Reva meminta Windy dan Vero duduk bersamanya.


Dengan senang hati Vero langsung duduk di samping Reva, banyak wanita yang menatap Vero membuat Reva tersenyum.


"Di sini manusia banyak yang aneh kak Va?"


"Tentu kamu menjadi pusat perhatian, Papi yang sudah menikah, memiliki anak masih menjadi pusat perhatian banyak wanita." Windy tersenyum, Papinya tidak suka keramaian, apalagi menjadi pusat perhatian.


"Wajar saja Win, Kak Bim ganteng gitu."


"Kamu tidak tahu Ver sebelum menikah." Reva tersenyum menggigat suaminya.


Reva menceritakan saat mereka belum menikah, Bima setiap pulang bekerja selalu mampir ke sebuah cafe untuk bersantai, meminum susu, melihat orang lalu lalang. Saat jam Bima tiba, cafe langsung rame, banyak orang yang datang hanya sekedar menatapnya, salah satunya Reva.


Vero tertawa, Reva mengincar seorang Om-om duda, bukan hanya tampan, tapi seorang pengusaha.


"Lalu bagaimana Tante bisa menikahi Om Bim? pura-pura hamil, menjebak ya?" Vero langsung tertawa kuat.


"Taruhan, semuanya berawal dari sebuah taruhan, sampai aku mengejar cinta Om Duren."


"Maminya mengejar cinta Om Duren, putrinya mengejar cinta Om bule. Memang keluarga kalian berdua." Vero menatap Windy, tatapan Windy tajam.


"Sejauh apa hubungan mereka berdua Vero?" Reva menatap Vero dingin.


"Sepasang kekasih, selalu mengatakan aku mencintai kamu, akan memperjuangkan kamu." Vero langsung menutup mulutnya, baru ingat peringatan Windy untuk tidak bocor.


Reva terdiam menatap Windy sambil mengerutkan keningnya, kekhawatiran Reva terjadi Steven tidak melepaskan Windy.


"Kalian pacaran Win, bisa kamu menunggu pacaran 2 tahun lagi, Steven pria dewasa, dia sudah sewajarnya memiliki anak, sedangkan kamu masih kecil." Reva menatap tajam.

__ADS_1


"Windy berjanji akan menjaga diri Mami, tolong percaya sama Windy dan Om Stev." Windy memasang wajah memelas.


"Mami tidak percaya, tidak ada lelaki yang bisa menahan diri saat bersama wanitanya. Steven seorang playboy, kamu tidak tahu Win berapa banyak wanita bersamanya, dia tidak seperti Papi kamu yang tidak melirik wanita." Reva mulai kesal.


"Maafkan Windy Mami."


"Mami ingin kamu mengakhiri hubungan kalian, sebelum Mami menceritakan kepada Papi kamu. Ingat Windy Mami mengizinkanku kamu untuk kuliah di sana bukan untuk mengejar Steven, tapi membuka mata kamu, untuk melihat siapa Steven." Reva langsung melangkah pergi, Windy langsung mengejar Maminya.


Tiba di mobil, Reva langsung masuk membanting pintu. Stev kaget melihat Reva yang terlihat marah.


"Ada apa Va?"


"Stev, aku sudah memperingatkan kamu untuk menjauhi Windy." Mata Reva menatap Tajam.


"Iya aku ingat, juga berusaha, tapi tidak bisa."


Reva melihat Bima berada di luar bersama teman bisnisnya, Windy langsung masuk duduk di samping Stev.


"Mami maafkan Windy." Wajah Windy langsung ingin menangis.


"Mami, ingin kalian berdua mengakhiri hubungan." Reva menatap Stev dan Windy penuh keseriusan.


"Aku menolak Reva, seharusnya kamu mengerti saat ada di posisi kami, dulu bukannya kamu juga mengejar cinta pria dewasa." Steven berbicara pelan, tapi penuh penekanan.


"Beda cerita Steven, Om Bima Pria setia, kamu playboy."


"Itu bukan alasan Va, aku tetap menolak."


"Terserah, saat Bima tahu hubungan kalian, saat itu tiba kamu merusak hubungan Windy dan Papinya, hubungan kamu dan Bima, karena pada kenyataannya kalian berdua sulit bersatu."


Steven menoleh ke arah Reva, tersenyum melihat kemarahan Reva.


"Pertama kami bukan saudara kandung, jika sulit berarti masih ada kesempatan, hanya saja perjuangan panjang dan melelahkan." Steven tersenyum..


"Stev, aku hanya tidak ingin kita memiliki hubungan buruk. Kembali seperti awal Stev, jangan sampai Bima tahu."

__ADS_1


"Memangnya ada apa Mam? Kenapa kami sulit bersama, apa Bunda kandung Windy membunuh keluarga kak Stev, atau Ayah kandung Windy. Sebenarnya siapa Windy?"


***


__ADS_2