
Tatapan mata Reva melihat mata Bima yang juga memandanginya, Reva tidak mengerti ucapan Bima yang terdengar aneh.
"Aku belum pernah berhubungan suami-istri!"
Mata Reva semakin melotot, dia tidak percaya dengan pendengarannya. Bima belum pernah berhubungan suami-istri sedangkan statusnya seorang duda. Bima masih perjaka, Reva antara senang tapi juga shock.
"Ayy masih perjaka!?" Reva memperjelas ucapan Bima.
"Ya,"
"Brit, Ayy pernah menikah." Reva masih tidak percaya.
"Hanya status, jangankan menyentuhnya melirik saja aku tidak tertarik." Bima masih mengingat kemarahan saat menikahi Brit.
"Kenapa Ayy? mengapa Ayy sangat membenci Brit?"
"Tidak benci, hanya kecewa."
"Kita suami istri, jika berkenan aku ingin tahu."
Bima menceritakan penyebab pernikahannya, Brit menjebak Bima untuk tidur dengannya, tapi gagal lalu memutuskan untuk bunuh diri. Setelah berbulan-bulan, Brit datang dengan keadaan hamil besar mengancam keluarga Bima sampai ibunya drop. Brit juga akan membunuh bayi dalam kandungannya. Bima tidak tega melihat bayi yang tidak berdosa harus dibunuh, Brit mendekati Bima karena seluruh harta kekayaan keluarga jatuh di tangan Bima, tapi sebenarnya Bima tidak menerima sepeserpun. Dia menyerahkan segalanya untuk Bisma, saat mengetahui kebenarannya Brit langsung murka dan mencaci-maki.
Setelah 2bulan melahirkan, Brit membawa pria berhubungan di dalam rumah Bima. Windy juga dalam keadaaan mengenaskan karena jatuh dari ranjang, setelah melahirkan Brit langsung pergi meninggalkan Windy tapi saat pulang dia mengusir pengasuh dan bercinta di kediaman Bima, bahkan langsung di dalam kamar Bima.
"Kamar ini ya Ayy!?" Reva langsung berdiri di atas ranjang.
"bukan, rumahnya sudah dijual." Bima sedang memegang tangan Reva meminta untuk duduk.
Reva bukannya duduk, tapi lompat di atas kasur membuat tubuhnya terjatuh di atas tubuh Bima.
"Terus Ayy." Reva masih berbaring di atas tubuh Bima sambil tersenyum.
"Terus pisah, aku mengambil Windy dan merawatnya, saat usia 3tahuan Brit datang mengugat aku menculik anaknya. Akhirnya hak asuh Windy jatuh ke Brit dan mereka menghilang." Bima memeluk Reva, dia pernah sangat lelah berurusan dengan wanita.
"Ayy setiap orang punya masalalu yang berbeda, tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat kita membicarakan masalalu. Lebih baik kita membuat masa depan."
Reva tertawa, tidak pernah dia bayangkan Om Duren yang sangat sensitif dia sentuh, ternyata memang belum tersentuh.
"Ayo Ayy mulai," Reva mulai memancing Bima, yang memang sedang binggung.
"Va jangan bicara seperti itu, aku merasa aneh." Bima merasa malu karena dia benar-benar tidak mengerti.
__ADS_1
Lama keduanya diam sambil berpelukan, Reva juga diam membiarkan Bima terbiasa. Jika Reva buka kartu kepada Tri istri sudah pasti heboh sekali, tapi biarlah dia menjadi orang yang istimewa bisa menikahi seorang duda perjaka.
"Ayy ikuti naluri, lelaki kamu saja. Jangan cemaskan aku, jika tidak nyaman Reva bakal bilang." Reva yakin Bima pasti sedang ragu, karena Reva agresif sedangkan Bima sangat polos.
Suara ponsel Reva mengganggu, tapi cepat Reva bangkit dari atas tubuh Bima mengambil ponselnya. Dia langsung menjawab panggilan, Viana meminta untuk segera mencari penerus pimpinan VCLO, jika Reva belum menemukan pengganti dia harus masuk kerja, jangan kelamaan menganggur.
[Kandidat juga belum punya kak Vi.]
[kamu sibuk bulan madu, aku juga sibuk jaga Vira, Sisi tidak bisa diandalkan karena dia fokus mengawasi Verrel.]
[bukan mengawasi tapi mereka berdua asik pacaran.]
Bima sudah berdiri di belakang Reva, memeluk erat pinggangnya. Kepalanya juga sudah berada dileher Reva. Viana masih saja mengomel tapi Reva sudah tidak fokus lagi, Reva tidak tidak tahu Vi bicara apa.
"Kamu minta aku ikut naluri lelaki, jadi maafkan aku jika menyakiti." Bima memutar tubuh Reva menghadapnya.
[Naluri lelaki apa Va, kamu sama Bima lagi apa? Kenapa harus pakai naluri.] Viana masih teriak membuat Vira menangis, Bima langsung mematikan ponsel Reva meletakkannya di atas meja.
Tangan Bima sudah menangkup wajah Reva, mata keduanya bertemu. Jantung Reva berdegup kencang, melihat wajah Bima yang semakin mendekat, mata Reva langsung terpejam. Sentuhan bibir Bima membuat Reva ingin lompat-lompat, awalnya semuanya pelan, Reva hanya diam membiarkan Bima melakukan sendiri, ini pertama kalinya untuk Reva juga untuk Bima.
Permainan Bima yang lembut semakin liar, Reva juga sudah membalas. Reva memukul dada Bima karena dia kehabisan nafas, Bima menghentikan dan melihat Reva yang mengambil nafas. Bibir Reva sudah merah, belum sempat Reva bicara, gerakan dilehernya membuatnya menggeliat tangan Bima menahan tubuh Reva yang merasakan aneh ditubuhnya. Tangan Bima juga sudah menggakat baju, menyentuh perut dan terus naik. Reva tidak ingat apapun, yang dia sadari mereka sudah di atas ranjang tanpa baju.
Keduanya saling tatap, tangan Reva menutupi dadanya yang sudah terlihat oleh Bima. Wajah Reva juga berubah merah, perempuan otak Omesh akhirnya punya malu.
"Ayy matiin lampu, Reva malu."
"jangan menganggu aku Reva." Bima langsung membisikkan doa ditelinga Reva yang sempat dia hapalkan saat Reva di kamar Windy, Bima melanjutkan permainan, Reva terus bergerak. Tangan satunya menutup mulutnya dengan kuat karena suara bodoh yang keluar dari mulutnya.
"Ayy!" Reva menjambak rambut Bima, tangan Bima sudah ke bawah membuat Reva semakin menggila.
"Aku mulai ya sayang," Bima mencium lama kening Reva, menatap matanya.
Reva yang masih menikmati wajah Bima, langsung teriak merasakan sakit. Sebenarnya Bima tidak tega tapi sudah resiko yang memang harus menjadi awal hubungan mereka, melihat Reva mengigit bibirnya Bima langsung menciumnya agar lebih tenang.
Tubuh Reva dipeluk erat, air matanya dihapus Bima. Reva pikir hanya drama menangis di malam pertama tapi yang membuat menangis bukan hanya rasa sakit, tapi saat ikhlas melepas harta yang paling dijaga oleh wanita.
Reva tersenyum saat rasa sakit berubah, menikmati setiap permainan Bima yang memang tidak sehebat cerita orang tapi Reva sangat menggila dibuatnya. Tubuh keduanya basah sampai Bima jatuh ditubuh Reva.
"Terimakasih karena masih menjaga kehormatan untuk diriku." Bima menciumi wajah Reva.
"Ayy,"
__ADS_1
"Emhhh,"
"Enak tidak."
"Enak, karena tidak mungkin namanya surga dunia jika tidak enak. Tapi yang membuat bahagia karena dilakukan dengan wanita yang dicintai bukan karena memenuhi nafsu semata."
"Banyak lelaki yang mencari kenikmatan di luar rumah,"
"Aku tidak punya jawabnya, karena aku tidak tahu yang mereka cari. Pertanyaan aku, kamu menikmati hubungan kita?"
"Iya Ayy. Sentuhan Ayy gerakan sangat mengimbangi Reva, tidak mengikuti nafsu karena masih sering menatap mata Reva, Ayy sengaja memberikan kenyamanan."
"Kenyamanan bukan hanya untuk kamu, tapi aku juga. Menurut kamu apa aku bisa dibilang berpengalaman."
"Tidak, Ayy ragu juga banyak mikir tapi nafsu sudah membuat kepala Ayy pusing."
"Kamu tahu dari mana?"
"Gerakan tubuh Ayy, sesekali menggeleng pelan, dan menutup mata."
"Capek tidak?"
"Capek Ayy, jangan minta lagi akhirnya Omesh juga, ayo tidur." Reva mencubit Bima yang sudah memeluknya, memejamkan mata.
"Ya Allah jadikanlah aku suami yang bisa membimbing istri dan anakku. Syukur hamba ucapkan diberikan seorang istri seperti Reva. Aku mencintai kamu karena Allah Reva." Bima mencium kening lalu mengikuti Reva yang sudah terlelap.
***
BIMA BRAMASTA
VISUAL@ WEILONG
REVA PRATIWI
VISUAL@ RADA DURASSY
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA