
Suara tawa terdengar menyambut kepulangan Ar dan Winda juga twin A, dibalik kebahagiaan ada kesedihan karena twins tumbuh selama tiga bulan di rumah sakit.
Bahkan keduanya sudah bisa tersenyum, Arum juga sangat lucu saat tertawa membuat semua orang selalu merindukannya.
"Alhamdulillah akhirnya pulang." Reva menggendong cucunya masuk rumah.
"Di mana Winda?" Kasih mencium Arwin, tapi langsung memalingkan wajahnya, dia tidak suka ada yang mendekati wajahnya.
"Mengantar keluarga Ar untuk kembali ke Paris." Mami mencuri ciuman dari wajah Arwin membuatnya langsung cemberut ingin menangis.
"Masya Allah lucunya Arum, senyuman kamu bisa meruntuhkan hati." Bella tersenyum langsung menggendong Arum yang hanya tersenyum melihat Bulan yang duduk sambil makan.
"Dia ingin makan, tapi belum boleh sayang." Vira langsung mengambil Arum membawanya pergi untuk di dandan.
Keluarga besar akan mengadakan acara foto bersama, sebagai foto kenang-kenangan kehadiran keluarga baru.
Semua anak-anak wanita di dandan, Asih, Ning, Embun, Bulan, dan Arum sedang di make up oleh ibu masing-masing.
"Mommy, Asih pakai mahkota ini ya."
"Tidak ada mahkota Asih, semuanya menggunakan mahkota bunga." Kasih merapikan rambut putrinya mengantikan bajunya.
"Ning, tidak suka ini."
Binar menatap tajam putrinya, jika tidak ingin mengganti baju dia larang ikut berfoto.
"Em, lapar ma."
"Kamu ingin ikut berfoto tidak?" Billa mengancam putrinya, tidak boleh makan karena akan mengotori bajunya.
Vira tersenyum memakai gaun untuk Arum yang selalu tersenyum melihatnya, Bella juga masih tenang melihat putrinya yang diam saja.
Suara Winda terdengar besar, semua orang melihat ke arah pintu menatap satu pengacau pulang.
"Eh eh tolong." Asih melihat Bulan menendang Arum sedangkan Embun menarik baju Arum membuatnya tergantung.
Vira langsung teriak kuat, Winda lebih histeris lagi, Bella dan Billa juga berteriak. Kasih menutup wajahnya, Binar juga mengusap dada.
Embun yang kaget langsung melepaskan Arum membuatnya merosot jatuh ke bawah, Embun langsung melangkah keluar sambil menangis.
Winda langsung mengambil putrinya yang hanya tertawa lucu, Bella langsung ingin mengigit kaki putrinya yang nakal.
Baru saja kepala berputar, kaki putrinya sudah melayang. Vira mengusap wajah Arum yang tidak menangis sama sekali.
Tangisan Em terdengar oleh Erik, langsung berlari memeluk putrinya. Wajahnya yang sudah menggunakan make up langsung luntur.
"Kenapa sayang?"
"Em tidak salah Papa, Buntel yang nakal. Kakinya menendang Dede Arum, Em hanya menolong, tapi Dede Arum lehernya dicekik baju." Tangisan Em sangat kuat, menjelaskan kepada semua orang, jika dirinya berniat menolong.
Ar yang mendengar langsung berlari ke kamar, tapi Winda sudah keluar membawa Arum yang cekikikan tertawa.
"Arum jatuh Win?"
"Enggak, cuman gantung kepalanya." Winda menyerahkan Arum kepada Abinya.
__ADS_1
Tatapan Ar dingin, Winda langsung diam tersenyum mengatakan jika Arum baik-baik saja.
"Jika anak jatuh jangan tertawa Win, periksa anak bagian mana yang sakit." Ar langsung melangkah pergi membawa putrinya.
"Kenapa Vir Arum bisa jatuh? anak kecil belum bisa bicara bagian mana tubuhnya yang sakit." Wildan menatap tajam, menegur Vira dan Winda yang masih bisa tertawa melihat bayi kecil jatuh.
Embun juga takut, bisa-bisanya orang dewasa mengganggap sepele. Wildan langsung pergi melihat Ar yang minta Erik mengecek keadaan putrinya.
"Sabar." Billa tertawa melihat Winda dan Vira wajahnya kesal.
"Gara-gara Bulan, kita dimarah." Winda langsung menggelitik perut Bulan, tendangan maut menghantam wajah Bella.
Vira langsung teriak menangkap Bulan yang badannya gemuk hampir jatuh, suara teriakan Tian kuat memanggil Bella.
"Kalian jika ingin bercanda lihat tempat." Tian mengambil putrinya.
"Kak Tian, Bella ditendang. Aku tidak ingin menyusui anak satu itu, selama ini tidak pernah membentak. Gara-gara bocah bulat satu ini
aku selalu dimarah." Bella langsung ingin menangis.
Suara tawa terdengar, Billa merasa lucu melihat ketiga wanita mendapatkan kemarahan karena anak perempuan.
"Akhirnya kalian merasakan penderitaan Billa saat membesar Em yang sangat nakal, hanya kak Kasih yang mengerti perasaan Billa." Tawa Billa terdengar mengejek.
Ketenangan masih terlihat di bagian pria, hanya Wira yang sibuk sendiri membuat wajahnya semakin tampan, bahkan dirinya menggunakan warna rambut ungu.
Seluruh keluarga berkumpul untuk melakukan pemotretan keluarga, menunggu antrian rambut Asih sudah berantakan, keluarganya terlalu banyak apalagi para nenek yang cerewet harus banyak ganti gaya.
"Lama sekali, rambut Asih sudah mirip nenek gayung." Asih menatap Raka yang masih duduk tenang, Elang lebih tenang lagi.
Raka langsung berdiri, mengecek celananya mungkin memang bolong karena sudah lama menunggu.
Elang pindah tempat duduk, mengusap bagian bodynya karena lelah duduk menunggu.
"Keluarga Ravi silahkan."
"Asih Aka ayo cepat." Kasih menatap putrinya yang berantakan.
"Asih tidak punya semangat lagi, kenapa kita tidak foto tengah malam saja, satunya menjadi kuntilanak, gederuwo, pocong, vampir." Asih berdiri di depan, melihat semua orang tertawa melihat rambutnya.
Ravi dengan lembut merapikan rambut Asih, meletakkan mahkota bunga di kepala putrinya.
Ravi merangkul Kasih sambil tersenyum, Raka berdiri santai meletakan kedua tangannya di kantong celana, sedangkan Rasih tersenyum satu tangannya memeluk lengan Raka kepalanya bersandar di pundak kakaknya.
"Lanjut keluarga Tian Bella." Viana tersenyum melihat putranya Ravi bersama keluarga kecilnya.
Bastian menggendong Bulan, Bella mencium pipi suaminya sedangkan Bintang duduk di kursi sambil tersenyum.
"Astaghfirullah Al azim, tampan sekali Bintang tersenyum. Kenapa dia sangat sulit memperlihatkan senyumannya?" Jum gemes melihat cucunya.
"Minggir, Em ingin foto. Capek menunggu."
Erik tertawa, memeluk putrinya Embun yang mencium pipinya. Billa juga memeluk putranya Elang yang tersenyum kecil, tapi memperlihatkan ketampanannya.
Bisma tersenyum melihat Embun yang tidak ingin berhenti, kenakalan Embun sudah terlihat sejak kecil.
__ADS_1
Ar maju bersama Winda, bayi perempuan lucu berada dalam pelukan Winda, sedangkan Arwin berada di pelukan Ar. Keempatnya berfoto sambil tersenyum.
Tawa Arum juga terlihat membuat semua orang tertawa, meminta Arum dan Arwin fokus melihat ke depan.
"Winda, terima kasih sudah memberikan keluarga bahagia. Aku sangat mencintai kamu, mencintai anak-anak kita."
"Aku tahu, sampai kapanpun terus cintai kami." Senyuman Winda terlihat.
"Kembalikan putriku, sekarang giliran kami." Vira mencium Arum yang berfoto bersama keluarga Wildan.
Virdan berada dalam pelukan Wildan, sedangkan Vira memeluk Arum. Bibir Arum monyong ingin mencium Virdan membuat Vira dan Wildan tertawa lepas.
Tama juga berfoto bersama Binar, Bening dan Tiar, keluarga mereka juga terlihat sangat bahagia.
"Sekarang giliran Wira."
"Sudah selesai fotonya Wira, kamu terlalu lama." Windy menatap tajam.
"Ya sudah Wira foto sendiri saja."
Steven merangkul Windy untuk lebih sabar menghadapi Wira, mereka bertiga akhirnya bisa berfoto.
Lajut foto anak-anak yang semuanya dikumpulkan.
Winda melangkah pergi mengikuti Ar yang menjawab panggilan, memeluknya dari belakang.
"Abi, Winda ingin dipeluk."
"Kenapa sayang? kamu rindu berduaan. Aku akan selalu memeluk kamu siang dan malam selama aku masih bernafas." Ar memeluk Winda yang juga memeluk dengan erat.
Kebahagiaan mereka sangat terlihat, menatap seluruh keluarga yang tertawa bahagia.
"Sayang, perjalanan kita masih panjang. Temani aku selalu, kita besarkan anak-anak kita."
"Iya Abi, Winda bahagia memiliki Abi." Kecupan mendarat di hidung Ar.
"Abi, sepertinya lucu jika Abi menggunakan rambut seperti Wira."
"Sayang, jangan macam-macam malu sudah punya anak." Ar memeluk istrinya yang sangat jahil.
***
CUKUP SAMPAI DI SINI CERITA WINDA.
AUTHOR INGIN FOKUS KE VIRA WILDAN.
***
TERIMA KASIH YANG SUDAH MEMBACA NOVEL INI, SAMPAI EPISODE TERAKHIR.
KITA BERTEMU KEMBALI DI NOVEL BARU AUTHOR.
KELANJUTAN WIRA DAN ANAK-ANAK LAIN MUNGKIN PINDAH JUDUL.
***
__ADS_1