MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 MENGAKUI


__ADS_3

Windy menemui Wilona yang duduk di taman belakang, sahabat Windy yang super heboh. Lama Windy menunggu hari Wilona mengakui siapa dirinya.


"Tuan Putri Anna, maafkan saya yang lalai." Wilo langsung bersujud.


Windy tertawa, duduk melihat Wilona yang mencium kakinya. Hal yang paling tidak Windy suka, saat orang mulai bersujud, memuja dirinya. Aturan adat istiadat yang membedakan derajat antara manusia.


"Wilo, pergi dan kembalilah. Aku tidak menyukai orang yang berlutut, bagi aku siapa aku, derajat aku, pinta aku hanya satu bisa hidup normal, jauh dari perbedaan, siapa yang berhak dan tidaknya dihormati. Hormati orang tua, tidak perduli sehebat apa kita, karena dia lebih tua, lebih berpengalaman, lebih mengenal suka duka kehidupan. Hal baik ambil, hal buruk tinggalkan, jangan kamu angkat tangan menunjukkan kemarahan, jangan kamu bersujud kepada sesama manusia memohon ampun, karena tempat kita bersujud dan meminta ampun kepada yang maha kuasai, pemilik diri kita." Windy meneteskan air matanya jika mengingat Papinya yang memeluknya, menasehati dirinya.


Wilona langsung berdiri, duduk di samping Windy. Menghapus air mata Windy, memeluknya dengan erat.


"Maafkan aku Windy." Wilona menangis sesenggukan.


Kedatangan Wilona bukan untuk kuliah, tapi mendapatkan perintah meneruskan tugas ibunya untuk melindungi putri.


Awalnya Wilo membenci sosok Windy, karena Windy dia kehilangan ibunya, padahal saat itu Wilo masih berusia 3 tahun, masih membutuhkan Kasih sayang, tapi karena ibunya seorang pengawal putri raja, dia berkewajiban menyelamatkan sang putri.


Ratu meminta Wilona menemui Windy, menjadi orang terdekat Windy, melindunginya seperti ibunya yang melindungi Putri sampai akhir hayatnya.


Rasa benci berubah menjadi nyaman, Windy bisa menjadi teman yang satu pikiran. Kebaikan Windy menghilang kebencian Wilona, tapi berkali-kali Wilo juga kehilangan kesempatan untuk menjaga Windy karena terbatasnya akses mendekati Windy.


"Maafkan aku Wil, karena aku kamu kehilangan seorang ibu." Windy menghapus air mata Wilo, memeluknya sebagai seorang kakak.


"Bukan salah kamu, izinkan aku menjalankan tugas menjaga kamu Win." Wilo melipatkan kedua tangannya.


Windy tersenyum memberikan izin Wilona untuk melindunginya, berjanji untuk selalu menganggap Windy sebagai sahabat bukan tuan Putri. Berjanji saling melindungi, Wilo hanya boleh mengikuti perintah Windy, bukan ratu atau siapapun.


Windy menjadi orang satu-satunya yang harus Wilona dengarkan, tidak mendengarkan masalah dari banyak pihak. Windy tahu akan ada hari dia mulai ketahuan oleh kerajaan.


Wajah Windy yang sangat mirip dengan sang ratu sebelumya, seakan menghidupkan kembali ratu yang sudah menutup matanya.


"Mulai sekarang tinggallah bersama aku Wilo, kita bisa selalu bersama."

__ADS_1


"Terima kasih Windy, kamu memang wanita baik, dibesarkan oleh keluarga yang sangat luar biasa. Memiliki Papi dan Mami siap pasang badan untuk kamu." Wilona bahagia untuk pertama kalinya melihat keharmonisan keluarga.


Sejak kecil Wilo hanya belajar soal kerajaan, cara melindungi Putri, tata Krama kerajaan, tidak ada yang bertanya apa yang Wilo inginkan, semuanya hanya memaksa Wilo menjadi pengawal masa depan.


"Win, boleh aku bertanya sesuatu?" Wilona menatap Windy serius.


"Apa? kamu ingin tahu aku mempercayai ratu atau tidak? kenapa aku tidak mempercayai ratu yang sekarang?" Windy langsung tertawa.


Wilona menganggukkan kepalanya, Windy berdiri berjalan ke depan, melipat kedua tangannya. Sebenarnya Windy sudah penasaran dengan dirinya sejak usia 10 tahun, tapi coba menahan diri, semua ajaran Windy telan, apapun yang terbaik untuknya akan menjadi modal untuk dirinya melindungi diri.


"Seseorang pernah mengatakan dia melarikan diri ke sebuah negara yang dipimpin oleh seorang raja, sebenarnya ceritanya sindiran untuk Windy agar memahami sebuah kerajaan, satu pelajaran yang Windy ambil. Kita hidup di dunia yang penuh keserakahan, harta tahta dan kekuasaan menjadi nomor satu, dia bisa mengendalikan semuanya." Windy tersenyum sinis.


"kamu ingin mengatakan jika ratu menginginkan posisi kamu, dia ...."


"Wilona, buka mata dan hati kamu. Penjahat dan pelindung beda tipis, bagaimana jika dia sedang melindungi dirinya dari dua sisi, baik di kerajaan, juga baik di pihak Windy. Sampai sejauh ini kalian tidak pernah melindungi aku, Papi Bima Bramasta yang melindungi aku. Ratu belum bisa mengalahkan Papi, di kerajaan raja yang berkuasa, di luar kerajaan, semua orang mengenal Bima Bramasta, keluarga Bramasta. Kamu pikir mudah menyentuh keturunan mereka, belum lagi Bramasta memiliki banyak orang kuat." Windy tersenyum melihat Maminya.


"Benar juga, memang tidak ada yang bisa dipercaya di dunia ini."


***


Bima sedang berdiri di atas balkon, santai melihat pemandangan, sambil berpikir. Steven mengetuk kaca tersenyum melihat Bima yang menoleh ke arahnya.


Stev melangkah mendekat setelah dipersilakan, jantung Steven berdegup, berusaha menenangkan dirinya.


"Apa yang sedang kak Bima pikirkan?" Steven menatap cahaya lampu yang berada di sepanjang jalan mansion.


"Entahlah Stev, pikiran kosong hanya ingin berdiam saja. Menikmati hari ini untuk menyambut hari esok." Bima tersenyum menepuk pundak Steven.


Windy melangkah bersama Reva pelan, Vero juga mengikuti di belakang melihat Bima dan Steven berdiri berdua, melihat lampu.


Terdengar obrolan ringan, Windy memegang dadanya yang berdegup. Menggenggam tangan Reva, Vero menatap Windy memberikan semangat.

__ADS_1


Bima tertawa mendengar candaan Steven yang sedang berusaha mencairkan suasana.


"Kak Bim, Steven ingin mengatakan sesuatu, juga ingin mengakui sesuatu, maafkan jika menyinggung kak Bima." Steven menarik nafas, menenangkan dirinya.


"Katakan, jujur lebih baik dari pada semakin lama menutupi sesuatu." Bima tersenyum, melihat ke bawah, banyaknya mobil yang bersusun.


Steven menyentuh dadanya, pertama kalinya Steven merasakan takut, tidak percaya diri, ingin bersembunyi dari kenyataan, tapi Steven ingin hidup bersama Windy, tidak ingin menyembunyikan hubungan mereka.


"Kak Bima, Steven berpacaran dengan ...." Steven terdiam, Bima menatap Stev, mengerutkan keningnya.


"Sejak kapan kamu pacaran laporan dulu, kak Bim juga tahu kamu suka gonta-ganti pacar."


"Kali ini beda kak Bim, Steven ingin menetap, menikahi dia, menjaga melindungi dia, menjadi pendamping hidupnya, Steven sangat mencintai dia kak Bim."


"Bagus, akhirnya kamu menemukan wanita yang tepat, apapun pilihan kamu kak Bima dukung." Bima mengacak rambut Steven.


"Wanita yang Steven cintai Windy Bramasta, putri kak Bima. Stev mencintai dia kak, sangat mencintai dia." Steven memberanikan diri menatap mata Bima.


Tatapan Bima berubah dingin, tidak ada suara yang keluar, Stev sudah mematung, keras, kesulitan bernafas.


Bima menatap, menunjukkan ketidaksukaannya, suara nafas Bima terdengar melangkah pergi meninggalkan Steven tanpa jawaban.


Di depan pintu, Windy dan Reva menahan Bima, Vero sudah menundukkan kepalanya.


"Aay, izinkan Reva yang menjelaskan." Reva melihat Bima melepaskan tangannya.


"Papi, Windy ...." Windy juga melihat tangannya disingkirkan.


Bima langsung melangkah pergi, meninggalkan semua orang.


"Reva jangan dikejar, biarkan kak Bim sendiri, aku tidak ingin kalian bertengkar karena hubungan kami."

__ADS_1


***


__ADS_2