
Steven duduk bersama Ravi, Tian dan Erik yang menunggu dapur lebih tenang. Suara teriakan Reva terdengar mengurus Winda yang seharusnya sudah bisa mengurus dirinya sendiri, tapi masih saja membuat Reva teriak-teriak.
Viana tidak kalah besar suaranya memarahi Vira yang susah di atur. Steven duduk dipojokan melihat langkah kaki ibu sama anak yang kejar-kejaran.
"Setiap hari suasana rumah kalian seperti ini?" Stev memandang tiga bocah di sampingnya.
"Ini masih mending, biasanya suara Mami tembus ke rumah Ravi, nanti suami Mommy tembus ke ujung jalan, manggil Vira menggunakan mix, suara barang pecah terdengar dari rumah bunda Jum. Semua ini makanan sehari-hari." Ravi menggaruk kepalanya.
"Saat kalian semua besar, menikah mempunyai keluarga pasti akan merindukan suasana keributan ini." Stev tersenyum.
"Bunda." Bella keluar kamar, bajunya basah semua.
"Bunda, kak Bella jatuh." Billa menangis.
Tian langsung menggendong adiknya Bella yang baju basah kakinya juga berdarah.
"Kenapa Bella yang digendong, seharusnya Billa?" Steven binggung.
"Kalau Tian mementingkan Billa lebih dulu, Bella bisa ngamuk." Erik langsung menghapus air mata Billa, menggendongnya menenangkan.
Jum datang sudah mengomel melihat Bella dan Billa, Bisma mengikuti setiap langkah istrinya yang marah.
"Yang, kenapa duduk di situ?" Windy turun bersama Wildan.
"Takut sayang, nanti penggorengan Bunda Jum terbang, sepatu lancip Mommy Vi melayang, belum lagi handphone Reva yang bisa memecahkan otak." Steven tersenyum melihat tiga ibu-ibu rempong.
"Sudah biasa, ayo kita ke meja makan." Windy menggenggam tangan Stev.
Suara teriakan Vero terdengar, Steven dan Windy sudah tertawa terbahak-bahak. Ravi, Tian dan Erik tidak kalah besar suaranya tertawa melihat Vero dilempar Viana dengan high heels, gigi Vero sampai berdarah.
Viana, Reva dan Jum terdiam di lantai dua melihat Vero meringis melihat giginya lepas satu. Vi tersenyum melihat Vero dia tidak sengaja melempar sepatunya karena salah warna, Vira menghilangkan sepatu Vi.
Suara tawa Vira dan Winda terdengar nyaring, mengatai Vero ompong mendapatkan jurus sepatu terbang ala Mommy Viana.
Rama baru kembali bersama Bima, melihat Vero yang merengek melihat giginya, membuang sepatu Vi yang membuat Bisma terjatuh karena tidak sengaja menginjak sepatu.
Suara tawa terdengar besar, saat semua orang tertawa melihat Bisma yang jatuh di atas tubuh Tian. Jum turun melayangkan pukulan kepada Bisma yang melukai Tian.
"Ayah baik-baik saja?" Tian melihat kaki Ayahnya.
"Makasih sayang, pukulan Bunda kamu lebih sakit." Bisma mengusap punggungnya.
"Makanya mata digunakan untuk melihat jalan, sepatu besar seperti ini tidak kelihatan, kalau Tian sampai patah tulang, kamu mau bagaimana? aku patahkan juga tulang kamu."
"Woy, giginya Vero ini bagaimana?" Vero merengek mengusap darah giginya.
"Pasang gigi palsu saja, Mommy tidak sengaja." Viana tersenyum.
"Viana, kamu bukan hanya menyakiti Vero, tapi Bisma dan Tian juga." Rama menegur Vi.
"Bukan salah Vi hubby, Viana tadi melihat tidak ada orang salah Vero sendiri berlari dari luar, sepatu langsung masuk mulut dia."
__ADS_1
"Kenapa kamu membuang sepatu?"
"Salah Vira hubby, hari ini jadwal Vi mengunakan sepatu biru, tapi dia membuang sepatu Vi di Cana." Viana teriak kesal.
"Vira kenapa sepatu Mommy dibuang?"
"Soalnya koper tidak muat lagi Daddy, menutup koper susah, jadi Vira buang satu biar bisa ditutup, ternyata satunya ketinggalan." Vira cengengesan.
"Auk ahhhh." Vero melangkah naik ke lantai atas menuju kamarnya merajuk melihat giginya patah.
"Salah Om Vero, tidak pulang semalaman jadinya kena karma." Winda tertawa.
Vero menghentikan langkahnya melihat ke bawah, Winda menjulurkan lidahnya, menunjukkan giginya mengejek Vero.
Steven dan Windy sudah di meja makan tidak berhenti tertawa, melihat satu-persatu keluarga bergabung untuk sarapan. Meja makan penuh, anak-anak di meja lain makan sambil bercanda.
Steven memanggil Vero menggunakan telepon dapur, Vero muncul langsung duduk di samping Windy yang masih tertawa.
Semuanya sarapan pagi bersama, Steven bahagia melihat meja makannya penuh dengan orang.
"Steven."
"Iya kak Bim."
"Kamu sudah hafalkan belum?"
"Jus ya kak Bim?" Vero menatap Bima.
Semua orang di meja makan menatap Steven yang tiba-tiba gelisah.
"Makanya Stev jangan terlalu banyak tertawa, akhirnya menangis." Reva tersenyum mengejek.
Steven menatap sinis, tersenyum melihat Bima yang masih menatapnya.
"Kamu belum menghafal Stev?" Bisma menatap Steven.
"Kak Bisma jangan mancing." Steven berbisik.
"Stev bilang hafalan tidak penting kak Bima." Bisma tertawa melihat Steven dan Bima.
"Bohong, Stev tidak mengatakan seperti itu." Steven mengambil air minum menatap Bima.
Steven mengakui jika dia sudah berusaha menghafal, menyempatkan waktu setiap hari untuk belajar menghafal Al Qur'an, tapi waktu yang Bima berikan terlalu singkat setidaknya Stev butuh waktu sedikit lagi.
"Apa susahnya Stev? kamu butuh waktu satu tahun."
"Iya maaf kak Bim, Stev akan mempercepat hafalan."
"Meminta kamu menghafal bukan untuk melupakan Stev, tapi kamu bisa memetik hikmahnya, juga menjadi kebiasaan kamu mengigat dan menambah bacaan, juga hafalan kamu, setidaknya bekal untuk kamu mendidik anak-anak kamu."
"Sorry ya Stev bukan kak Bis sombong, saat menghafalnya dulu kak Bisma hanya butuh waktu tiga hari."
__ADS_1
"Rama satu hari."
"Reva tidak hafal."
"Viana apa lagi."
"Jum hanya setengah."
"Ravi hafal tapi butuh waktu satu minggu karena Ravi waktu itu masih kecil, sekarang sudah lupa ingat."
"Erik juga hafal, tapi sedikit lupa."
"Tian hafal, belajar sama Ayah."
Vira, Bella, Billa dan Winda binggung menatap Wildan. Mereka tidak tahu sedang menghafal apa.
"Hafalan apa Daddy?" Vira menatap Daddy-nya sambil berdiri.
"Jus, hafalan jus 30." Vero menatap Vira yang duduk kembali
"Vira hafal, jus apel, mangga, strawberry, anggur, semangka, banyak lagi capek menyebutnya."
"Soal makan Winda lebih hafal, bahkan setiap hari Winda ingat terus, tapi Winda tidak suka jus jeruk, asam."
"Vira juga tidak suka, paling enak jus tebu."
"Mana ada jus tebu." Winda melotot.
"Billa juga suka jus, tapi lebih suka coklat."
"Minum Billa bukan makanan." Vira dan Winda teriak sambil melotot.
"Bella pilih es krim."
"Vira juga suka, ditambah coklat enak sekali."
"Ada Snack kentang juga, terus di bawah pohon. Emhhh enak sekali kita kemping di sana." Winda menelan ludah.
"Vira, Bella, Billa dan Winda orang tidak ada yang membahas makanan. Mereka bukan menghafal jus minuman, tapi juz Alquran. Otak kalian isinya hanya makanan." Wildan menatap tajam, meletakan sendok melangkah pergi.
Steven menghela nafas, meminta maaf karena dia tidak sehebat yang lainnya. Stev baru bisa menghafal sampai 29 juz selama berbulan-bulan, berusaha akan mempercepat untuk menghafal sampai habis.
"Stev jangan bilang kamu menghafal dari juz satu?" Bisma menatap Steven.
"Iya, kak Bim minta juz 30 ...." Steven langsung terdiam melihat wajah Bima.
Semua orang menatap Steven tercengang, Bima langsung tertawa kecil sambil tersenyum. Rama menepuk tangan dari sekian banyaknya masalah, juga banyaknya pekerjaan Stev masih sempat membaca sampai 29 juz hanya tersisa satu dia menjadi hafidz.
"Hanya juz 30 Steven, tapi lanjutkan hafalkan semuanya." Bima tersenyum melangkah pergi.
Steven terduduk lemes, dia sudah stres memikirkan hafalan, ternyata hanya juz 30 bukan 30 juz.
__ADS_1
***