MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
KEKHAWATIRAN BIMA


__ADS_3

Sudah dua jam Bima menunggu tapi belum juga mendapatkan kabar dari Reva, melacak keberadaan mobilnya tidak keluar jalur. Bima coba menghubungi tapi tidak aktif, kekhawatiran mulai dia rasakan karena Reva tidak menempati janji akan menghubunginya satu sekali. Coba menghubungi Septi juga sama, Chintya juga sama. Bima menebak pikiran terbaik, jika lokasi mereka tidak memiliki sinyal.


"Va, cepat hubungi aku." Bima mondar-mandir merasakan khawatir.


Windy datang memandangi Papi dengan wajah terheran-heran, lama Windy duduk di tangga menatap sambil tersenyum.


"Papi yang mau menikah uncle, tapi papi yang gelisah." Windy akhirnya bicara sambil memeluk tangga.


"Mami tidak bisa dihubungi sayang, Papi khawatir." Bima menatap putrinya lalu memandangi ponselnya kembali.


"Khawatir jangan mondar-mandir Papi, tapi sholat berdoa meminta keselamatan sama Allah." Windy tertawa, biasanya Papi yang bicara seperti itu.


"Iya sayang." Bima langsung duduk, memanggil Windy mendekatinya.


Windy masuk ke dalam pelukan Bima, tempatnya bersandar juga tempat ternyaman. Windy memeluk Bima seakan takut kehilangannya.


"Windy mau tinggal bersama Mami Reva?"


"Windy pengen tidur dalam pelukan Mami."


"Sayang, jangan membenci Bunda kamu ya nak. Dia wanita yang melahirkan juga menyusui kamu." Bima memeluk Windy putri kecilnya yang sangat dia sayangi.


"Iya Papi, tapi mengapa Mami yang hanya orang lain sangat menyayangi Windy melebihi Bunda. Saat pertama Windy bertemu Mami, Windy memberikan nama Tante cantik karena bukan hanya wajahnya yang cantik tapi hatinya Mami."


"Windy pilih Papi apa Mami." Bima tidak pernah tahu sejauh mana kedekatan Reva dan Windy diluar pengawasan Bima.


"Bukan pilihan! Papi tempat Windy bersandar, sedangkan Mami tempat Windy bercerita dan mengeluh. Mami meninggalkan pekerjaan saat tahu Windy terjatuh dan dilarikan ke UKS sekolah, Mami ngamuk sampai datang ke sekolah high heels beda warna." Bima dan Windy tertawa bersama, Bima tahu soal Windy jatuh tapi tidak tahu jika Reva yang datang, pantas saja pihak sekolah meminta maaf karena kelalaian pembersih sekolah yang lupa meletakkan kain pel ditempatnya.


"Apa lagi sayang yang tidak Papi ketahui."


"Banyak Papi! ini yang paling lucu tapi janji ya, jangan kasih tahu Mami, katanya ini aib." Windy meletakan jari telunjuknya di bibir, Bima juga mengikutinya.


"Hari Minggu Mami sama Windy jalan santai, tapi Mami pakai high heels tinggi banget. Karena lelah akhirnya melewati jalan pintas, Windy sudah katakan di lorong ada anjing tapi Mami tidak percaya. Akhirnya Mami dikejar anjing, Windy juga coba kejar Mami tapi anjing berbalik arah mengejar Windy, terus Mami coba mengejar Windy, kita bertiga kejar-kejaran."


"Lalu!" Bima sudah menahan tawanya, Reva masih mirip ABG yang belum dewasa.

__ADS_1


"Mami masuk dalam got, karena high heels nyangkut di batu. Jorok banget Mami!" Windy sampai merinding jika mengingat tingkah konyol Mami.


"Windy tidak tertawa! Bima sudah tersenyum menahan tawanya.


"Tidak tega Papi, kasihan Mami. Windy hanya menolong mami terus Mami bilang tidak boleh tertawa di atas penderita orang." Windy tersenyum melihat Papi yang sudah tertawa ngakak, Windy memukuli Papi memintanya diam.


Karena terlalu banyak tertawa mendengarkan cerita Windy, Bima sampai mengeluarkan air mata. Banyak cerita yang Reva berikan kepada Windy melebihi dirinya yang tidak punya banyak waktu.


***


Sudah lebih dari delapan jam Bima menunggu, belum juga mendapatkan kabar. Bima kebinggungan coba menghubungi siapa, tidak mungkin mengganggu Bisma tapi tidak punya pilihan, Ivan juga tidak bisa dihubungi. Kalau Ammar sedang bertugas, tidak mungkin memegang ponsel.


"Ya Allah Reva, kamu bisa membuat saya gila." Bima memijit pelipisnya yang terasa pusing kepala.


Suara panggilan dari Bisma membuat Bima cepat mengangkatnya, Bisma yang niat bertanya tapi mendapatkan pertanyaan balik yang semakin kebinggungan. Bima semakin khawatir karena Reva belum juga sampai, jika dalam 1 jam Reva belum sampai Bima akan langsung menyusul, Bisma langsung setuju dia juga pusing melihat calon istrinya seperti cacing kepanasan yang tidak bisa diam.


Bima juga meminta Bisma selalu menghubunginya, cepat Bima mengambil kunci mobilnya tapi pesan dari Septi menghentikan langkah Bima yang langsung terduduk, jika mereka hampir sampai di kampung Jum.


"Alhamdulillah ya Allah, Terimakasih karena terus melindungi mereka." Bima mengucapkan syukur, masuk kembali ke dalam kamarnya, menuju ruangan kerja menyelesaikan pekerjaannya.


***


Kasus kecelakaan mobil Reva, akan di selidiki lebih lanjut, Reva mengatakan jika pelaku bukan hanya yang berada di mobil. Reva memberikan teka-teki kepada polisi agar mendekati Thea, karena adik Thea tidak mungkin masuk penjara, karena mengalami gangguan jiwa tapi Thea bukan hanya kehilangan karirnya tapi bisa membusuk di dalam penjara.


Selesai sudah masalah kecelakaan, Reva melanjutkan perjalanan dengan baju sobek, Septi memeluk Reva dari samping karena bangga melihat Reva yang cerdik.


"Sayang banget sama kamu Va, hari ini tidak akan pernah terlupakan." Septi tersenyum mencium pipi Reva yang membuatnya melotot, Tya juga keheranan melihat keduanya.


"Tolong ambil baju Sep, tidak lucu kita datang dengan penampilan seperti habis perang ranjang." Reva tertawa sambil membuka bajunya meminta Tya mengambil tas dan memberikan baju ganti.


"Sumpah pikiran kamu tidak pernah jauh dari hal kotor, heran aku."


"Berperang di atas ranjang tidak mungkin baju yang sobek, karena tidak menggunakan baju." Tya menggeleng, Septi dan Reva menatapnya.


"Masih perawan tidak kamu Tya!?" pertanyaan Reva membuat Septi dan Tya melongo.

__ADS_1


Dengan malu-malui Tya mengaguk, Septi dan Reva tertawa mereka membayang hal yang belum mereka rasakan. Kata orang surga dunia.


Karena lelah Reva bergantian dengan Septi membawa mobil, karena Reva perlu dandan agar penampilannya sempurna. Mobil berhenti dipinggir jembatan, Reva langsung melihat ke bawah jembatan yang airnya jernih.


"Lompat dari sini mati tidak?"


"coba saja Va, mana tahu kalau belum jatuh." Septi menggelengkan kepalanya.


"Kalau mati gimana?"


"Jadi hantu!" Tya membuka kaca mobil sambil tersenyum, sedangkan Reva langsung melotot.


Septi mengantikan Reva membawa mobil melajukan perjalanan, Reva masih sempat berdandan karena hampir tiba di desa Jum.


Tya juga merapikan rambutnya yang berantakan, Septi juga sudah menganti bajunya.


"Siapa yang mengajari Lo licik Reva?"


"Kak Vi, dia memperingati aku jika mendekati hari pernikahan para cacing akan berbuat nekat. Kak Vi juga mengajari Reva cara mengendalikan keadaan di saat terdesak. Hari ini Reva membuktikan semua ucapan kak Vi."


"Kak Vi memiliki banyak pengalaman untuk mengatasi kejahatan, perjalanan hidupnya memberikan dia banyak pelajaran."


"Iya hanya satu orang yang dia takuti."


"Rama!" ucap mereka bertiga bersamaan.


"Astaghfirullah Al azim! gue lupa kasih kabar ke Ay Bima, handphone gue mati."


Teriak Reva membuat Septi dan Tya tertawa.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP

__ADS_1


***


__ADS_2