
Kepulangan Reva di undur sampai sudah jatuh jadwal menginap di rumah utama, kali ini mereka akan menginap tapi Windy tidak begitu bersemangat karena Tian, Ravi, Erik sedang tidak ada.
Sesampainya di kediaman utama Reva sedikit binggung, banyak sekali mobil yang sudah bersusun. Windy langsung berlari karena mengenali teriakan pertengkaran Tian dan Ravi.
"Hai gays." Windy berlari memeluk Ravi, Tian dan Erik yang ternyata sudah dari pagi tiba.
Reva sangat terkejut melihat rumah lama mereka penuh orang, Ivan dan Tya juga hadir dengan anak bayi mereka.
"Hai Sasha, cantik sekali." Reva langsung menggendong Sasha yang sudah gemuk.
Vira yang sudah pintar berjalan, dijaga oleh Rama sibuk ikut main bersama kakaknya.
"Lama sekali Va datangnya, kita sudah dari pagi kumpul." Viana membawa banyak makanan, asisten rumah tangga masing-masing juga datang untuk m membantu.
"Iya, soalnya kepulangan sempat diundur."
Jum juga datang dan memeluk Reva, membawanya ke dalam ruangan khusus bayi. Di sana ada nama Vira, Sasha, Winda, Bella, Billa dan Wildan.
"Wildan nasibnya seperti Windy, satu-satunya." Tawa Viana terdengar, beberapa kamar ternyata sudah Bima renovasi dengan baik sehingga sangat nyaman.
"Hari ini kita acara makan apa?" Reva menatap Viana yang pertama kali datang.
"Barbeque,"
"Kak Vi, bagaimana penikahan Verrel?"
"Istimewa, tapi Vira menangis terus dia tidak nyaman dengan suasana di sana." Viana menunjukkan foto pernikahan Verrel dan Sisi yang digelar sangat meriah pewaris keluarga Arsen melepaskan masa lajang.
"Verrel hebat bisa dengan muda mengontrol perusahaan, dan sekarang bisa merambat ke luar negeri." Jum mengagumi Verrel yang bukan hanya tampan tapi cerdas.
"Mami, Erik punya sesuatu untuk mami." Erik membawa sebuah kotak kecil, Reva langsung membukanya sambil tersenyum.
"Wow cantik sekali, Mami suka sayang." Reva langsung menggenakan gelang cantik yang Erik beli saat liburan.
"Mami suka?"
"Tentu, Mami akan menyimpan gelang ini dengan baik, pemberian pertama Erik."
"Terima kasih Mami, gelang ini sama dengan mama."
Erik melangkah mendekati Jum, memberikan gantungan boneka untuk Bella dan Billa.
"Erik melihat ini, sepertinya cocok untuk Aunty dan berikan ke adik kembar."
"Terima kasih Kaka Erik, mau Bunda jodohkan dengan salah satunya."
"Tidak boleh, mereka adiknya Bastian!" teriak Tian kuat mengagetkan banyak orang, tatapan marah juga terlihat saat menatap Erik yang hanya tertawa.
"Aku tidak akan menyakiti mereka, tapi akan membantu kak Tian untuk menjaga twins."
__ADS_1
Bisma yang mendengarkan keributan, menasehati Tian agar menghilangkan pandangannya yang terlihat buruk. Bisma juga menjelaskan jika tidak ada yang akan mengambil adiknya, tidak ada yang bisa menyentuh Bella dan Billa tanpa seijin Tian.
"Dia adiknya Tian ayah, Erik tidak boleh menggambil adiknya Tian. Jika mau adik minta sama Aunty Septi."
"Iya sayang, Bella Billa punya Tian."
"Ravi juga mau satu, tukar dengan Vira."
"Tian tidak mau sama Vira, dia nakal. Tian hanya ingin adik Tian." Kejahilan Ravi terus mengejek Tian akan mengambil adiknya membuat Tian menangis, Erik coba menenangkan Tian yang berada dalam gendongan Bisma.
"Ravi!" teriak Viana memarahi putranya.
"Tian tidak tahu ribetnya punya adik, apalagi perempuan, tidak bisa diajak main, hanya tahunya susu." Ravi berlari meninggalkan Tian yang menangis.
Karena terlalu lelah, Bisma menggendong Tian sampai tidur. Bisma mengerti putranya ingin dimanja, karena Jum terlalu sibuk dengan kehamilannya, Bisma juga menemani Tian tidur sampai Jum masuk.
"Sudah tidur mas?"
"Sudah sayang, dia sepertinya merindukan kita. Tian anak yang dewasa tidak mudah menangis."
"Jum juga berpikir seperti itu,"
Bisma sangat menyayangi Tian sejak pertama bertemu, begitupun dengan Jum. Dia sangat mencintai Tian seperti terlahir dari rahimnya sendiri.
"Mas, Jum tidak ingin kehilangan Tian, sekalipun dia telah dewasa."
"Tidak akan pernah sayang, dia akan menjadi penerus keluarga Bramasta."
Bisma terserah saja, biarkan mereka yang menentukan jalan cinta masing-masing. Jika Tian berjodoh dengan salah satu putri Bisma sangat bersyukur, karena Bisma juga tidak siap kehilangan Tian.
***
Acara barbeque sangat ramai, selain keluarga Rama, Bima, Bisma, Ivan, Ammar, Romi juga datang bersama kekasihnya. Acara makan-makan di lakukan penuh canda dan tawa, mendengarkan ocehan para bocah juga lawakan Romi dan Ivan.
"Gays main game yok." Romi memberikan usulan.
"Game kejujuran pasti, pulang dari sini tidur pisah." Ivan sudah bisa menebak pikiran busuk temannya.
Permainan yang biasanya digunakan para anak muda di mulai, Reva rada khawatir jika pertanyaan para sahabatnya akan menyesatkan.
"Reva bima, berapa banyak mantan pacar?" Viana yang mulai.
"Satu, Reva Pratiwi."
"Tak terhingga." Reva menudukan kepalanya tidak ingin melihat Bima, tawa yang lain sudah terdengar, Reva memang playgirl.
"Ivan Chintya, berapa kali, kalian berciuman Sebelum menikah?" Reva sangat yakin Ivan penuh dan tidak terhingga.
"Lima kali dengan orang yang berbeda,"
__ADS_1
"Tapi mantan kamu banyak?" Ivan menuduh istrinya, sudah ada tanda-tanda pertengkaran dalam rumah tangga.
"Tapi tidak semuanya, kamu pikir aku obral." Tya mulai kesal.
"Aku banyak, bahkan baru pdkt sudah nyosor duluan." Ivan nyegir, menjauhi Tya yang melotot.
Bisma tidak kalah takut, berapa banyak kesalahannya di masa lalu, syukurnya dia tidak mudah main sembarangan lubang, sampai bisa menghalalkan Jum.
"Bisma Jum, apa tujuan kalian pacaran." Ivan menatap Bisma nyegir.
"Untuk menuju jenjang yang serius." Jum langsung menatap Bisma yang celingak-celinguk.
"Emhh, mendapatkan keuntungan, aku tidak pernah serius dengan perempuan karena itu semua mantan bukan wanita baik, karena aku hanya memanfaatkan. Hanya satu wanita yang aku serius dia Jum."
"Jahat sekali, anak kita perempuan mas. Bagaimana jika anak kita juga di sakiti, karma bapak turun ke anak." Teriak Jum kesal.
"Aku patahkan leher mereka berani menyentuh putriku."
"Viana Rama, pernah tidak kalian berdua merasa bosan, kecewa dengan pernikahan. Karena Rama masih muda dan perlu bersenang-senang." Bisma menatap dua orang yang tersenyum.
Rama memegang tangan Vi, Viana juga tersenyum menatap suaminya.
"Tidak pernah aku sesali pertemuan kita, tidak pernah aku kecewa dengan kebersamaan kita hanya satu yang membuat aku marah, tidak bisa melindungi kamu sampai akhirnya pergi meninggalkan aku, kegagalan terbesar dalam hidupku, bahkan sampai akhir nafas tidak akan pernah bisa membayar kesalahan masalalu." Rama mencium tangan Viana.
"Aku hanya ingin tahu, Ammar, Bisma pernah tidak kalian mencintai istriku, Ammar mendampingi Vi saat aku belum hadir, Bisma mendampingi Vi saat aku tiada."
"Tidak pernah, Viana terlalu berharga sampai aku tidak berani jatuh cinta." Ammar menggenggam tangan Septi.
"Aku tidak tahu, bagi aku Viana mirip nenek lampir setiap hari mengomel." Botol susu Vira melayang menghantam kepala Bisma.
"Ayy Bima, sekarang masih cinta Viana tidak?" Reva menatap Bima yang hampir tertawa.
Menjawab dan tidak menjawab tetap akan membuat Reva marah, tapi sudahlah Bima lebih memilih menjawab walaupun was-was dengan reaksi Reva yang selalu cemburu dengan Vi.
"Aku hanya mencintai Reva Pratiwi, hari ini, esok dan nanti."
"Berarti kemarin masih mencintai kak Vi!?" tatapan marah Reva terlihat.
"Nah mampus Lo Bima, ayo sayang kita masuk kasihan Sasha." Ivan menarik istrinya masuk, yang lain juga ikut masuk meninggalkan Bima yang sedang memohon.
***
GAGAL TAMAT, MASIH ADA BEBERAPA EPISODE LAGI, TAPI KEMUNGKINAN TIDAK UP 2EPS, KARENA AKAN FOKUS UP RAVI DAN KASIH.
LIHAT JUGA KISAH ERIK, TIAN, SALSA, VIRA, WILDAN, WINDA, BELLA, DAN BILLA DEWASA DI SEASON 2 SUAMIMU MASIH ABG
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP