
Di luar istana sudah ditutup, Saka berdiri santai menatap banyaknya penjaga yang masuk ke dalam istana, Ghina memegang lengan Saka memintanya untuk masuk.
"Kamu masuk lebih dulu, tutup pintu." Saka mengusap pelan pipi Ghina.
"Jangan gila Saka, mereka bisa menyakiti kamu."
"masuklah, jangan cerewet. Aku tidak suka wanita yang membantah." Saka mendorong Ghina untuk pergi masuk.
Ghina berlari masuk ke dalam ruangan yang sedang terjadi perdebatan, Ghina mengatakan jika di luar seluruh penjaga sudah menutup gerbang siap menyerang.
Suara tawa Firza terdengar menggema, Raja melihat ke arah luar. Stev hanya tersenyum tidak pernah terbayangkan ternyata Raja Hanz hanya boneka, tidak punya pasukan, juga kekuasaan.
"Jangan sakiti mereka, biarkan Windy, Atha juga ibu keluar dari sini. Jika nyawaku bisa membayar cukup bunuh aku, kamu bisa menguasai istana." Raja Hanz langsung berlutut, melipatkan kedua tangannya.
"Ayah, kenapa harus memohon. Athala lebih baik mati daripada harus meninggalkan Ayah." Atha memeluk Raja Hanz.
"Maafkan Ayah Atha, kamu tersiksa hidup di sini, seharusnya kamu pergi sejak lama, saat Ayah mengusir kamu."
"Maafkan Atha Ayah."
"Kamu yang harus pergi dari sini, bukan kami." Windy duduk santai mengangkat kakinya di atas meja, berhadapan dengan Raja Firza.
"Kamu tidak punya takut, kalian pikir bisa keluar dari sini secara hidup!" Firza teriak kuat dihadapan Windy.
"Tentu, aku belum ingin mati muda, masih ingin menikah, mempunyai anak, hidup bahagia." Windy tersenyum sambil menghayal.
"Apa yang membuat kamu tidak punya rasa takut?"
"Apa juga yang membuat kamu tidak punya rasa takut?" Steven duduk menatap Raja Firza dan Windy.
__ADS_1
Senyuman licik Raja Firza terlihat, meminta Ratu Mariam duduk di dekatnya. Hanz hanya Raja pengganti, dia orang yang sudah mencelakai Raja Firza, membunuh istrinya Sinta, Firza sudah merangkum semua kejahatan Hanz, bukti yang Steven miliki bukan yang aslinya.
Hanz sengaja mengubah semuanya agar dia bisa menjadi Raja, ibu Suri juga mengetahui jika Hanz yang membunuh Ratu Sinta, Hanz juga yang menyebabkan peperangan, menyebabkan ribuan pasukan gugur, Hanz juga orang yang sudah meracuni petinggi istana, juga membunuh pengawal pribadinya.
Bahkan Raja Hanz yang memberikan perintah untuk membunuh pengawal pribadi putri Anna.
"Steven kamu orang luar, tidak mengerti soal kerajaan. Siapa pembunuh sebenarnya. Tidak ada sedikitpun bukti yang menyudutkan aku."
Wajah Windy langsung pucat, tapi berusaha untuk terlihat santai. Dia menatap Raja Hanz yang meneteskan air matanya.
"Kamu benar aku hanya orang luar, tapi kedatangan kami bukan untuk mengetahui kebenaran soal siapa pelaku sebenarnya. Jangan remehkan orang luar, kedatangan kami sudah dengan persiapan matang." Steven tertawa, dia satu-satunya orang yang mengetahui segalanya yang terjadi di masa lalu.
Steven sampai tiga hari tiga malam mengurung diri hanya untuk memahami segala masalah yang terjadi, sebagai seorang pengacara Stev bisa menyimpulkan semuanya, juga bisa membedakan pelaku yang sebenarnya.
"Raja Hanz tidak membunuh Ratu Sinta, tapi Ratu Sinta bunuh diri demi Raja Hanz." Stev tersenyum menunjukkan bukti pertemuan Raja Firza dengan Ratu Sinta, Stev sengaja menuduh Raja Firza yang membunuh agar Raja Hanz mempertanyakan alasan Firza menyakiti wanita yang dicintainya.
Dugaan Steven benar, Hanz sendiri tidak tahu penyebab kematian Ratu Sinta, dia pulang dalam keadaan mabuk saat bangun Sinta sudah dingin.
"Sekarang kamu ingin aku mengungkap semuanya?" Steven menghembuskan nafasnya, menatap Windy yang tersenyum dengan terpaksa, Stev tahu Windy sedih mendengar ibundanya bunuh diri.
"Ratu takut mengkhianati Raja Hanz, juga mencoreng nama kerajaan, dia meminta pengawalnya membawa putrinya pergi jauh."
Semuanya hening, Stev juga tahu yang memberikan perintah membunuh pengawal bukan Raja Hanz atau Firza, tapi Ratu Mariam, dia pelaku utama dari semua.
Raja Hanz dan Raja Firza menatap Ratu Mariam yang menggelengkan kepalanya.
Steven juga mengatakan Raja Firza jangan pernah merasakan menang karena berhasil mengendalikan Raja Hanz, karena sebenarnya manusia paling bodoh Raja Firza yang menjadi mainan Ratu Mariam.
Seluruh kendali ada pada Ratu Mariam, bahkan jadwal kematian Raja Hanz sudah dia tentukan, satu hari setelah kematian pengawal Raja, akhirnya dirinyalah yang akan naik tahta.
__ADS_1
Seluruh aset kerajaan memang sudah pindah atas nama Raja Firza, tapi tanpa sepengetahuan siapapun, semuanya sudah berganti menjadi milik Ratu Mariam.
Dia yang mencintai Raja Hanz, tapi tidak pernah terbalaskan. Akhirnya memanfaatkan keadaan sekarat Raja Firza, menyelamatkan menjadinya boneka yang bisa dia kendalikan, tanpa ada perlawanan.
Penjaga tidak pernah menuruti perintah Raja Hanz atau Firza, tapi Ratu Mariam. Bukan hanya Steven Windy dan tim yang sedang diserang, tapi Raja Firza juga.
"Manusia bodoh, dialah manusia yang mengaku dirinya hebat. Stev hanya ingin mengingatkan, jika ingin menjadi penjahat, jangan bergantung dengan siapapun, tapi buatlah semua bergantung padamu. Pada akhirnya kamu manusia bodoh Raja Firza!" Steven tersenyum meminta Windy mendekat, merangkul pinggang Windy erat.
Raja Firza langsung berdiri, menarik rambut Ratu Mariam, menamparnya habis-habisan sampai mengeluarkan darah.
Rambut Ratu Mariam di tarik keluar, suaranya meminta tolong kepada penjaga terdengar. Stev tersenyum menggaruk kepalanya melihat kerajaan yang penuh kekonyolan. Hidup ternyaman, bisa hidup sederhana tidak kekurangan juga tidak berlebihan, tidak syirik juga iri hati.
"Yang, jika publik tahu, Ratu Mariam celaka bisa saja kerajaan terkena masalah, dia yang memegang kekuasaan di istana." Windy menatap panik keluar.
"Siapa bilang dia yang berkuasa? karena putri menolak menjadi Ratu, jadi kita mengangkat pangeran menjadi Raja. Dia satu-satunya orang yang paling mengetahui soal kerajaan, tapi sisi buruknya." Steven mengacak rambut Windy yang masih melongo.
"Steven, sampai kapan kamu ingin menatap wajah Windy, sebelum Ratu Mariam mati, kita masih mempunyai satu mainan lagi, cepatlah!" Saka teriak kuat.
"Sabar Saka, bahkan aku belum menceritakan semuanya, tapi mereka sudah bertengkar di luar." Steven langsung melangkah keluar, meminta Atha menjaga Windy.
Steven melangkah keluar, meminta Ghina menutup pintu, jangan ada yang keluar.
"Siapa Steven sebenarnya? dia terlalu licik." Raja Hanz berdiri, mengusap punggung Atha memeluknya erat.
"Dia calon suami Windy, orang yang pintar menyimpan rahasia, tidak mudah patah hati, tidak takut terluka, hanya takut kehilangan." Windy memeluk neneknya sambil meneteskan air matanya.
"Nenek senang, Windy dijaga oleh orang-orang hebat. Semoga kamu bahagia sayang."
"Nenek juga harus bahagia, habiskan masa tua penuh kebahagiaan, nanti temani Windy ke kastil yang tidak jauh dari sini." Windy tersenyum memohon.
__ADS_1
"Pasti sayang, kita berkunjung ke rumah kedua Ratu Sinta, Ibunda kamu."
***