
Acara selesai tamu mulai meninggalkan pesta, keluarga besar kedua mempelai juga sudah kembali, Windy juga ikut dengan neneknya, jadi Reva dan Bima akan menginap di hotel. Sebelum semuanya bubar, mereka masih mengobrol ringan sampai Ravi mengamuk tidak ingin pulang.
"Pesta sudah selesai, kita tidur di rumah." Viana coba membujuk.
"Menginap saja Vi, mungkin dia capek."
"tapi besok Rama harus ke kantor, dia juga sekolah." Viana kesal melihat Ravi yang mulai ngambek.
"Ravi kita pulang saja ya, besok sekolah."
"Kak Tian ikut neneknya, kak Windy juga. Nenek Ravi langsung berangkat ke luar negeri, pokonya Ravi mau menginap."
"sangkut pautnya dengan nenek, Windy, Tian apa? banyak alasan saja kamu Ravi."
"Sudahlah Vi, menginap saja." Rama mengendong Ravi.
"Iya kak, pasti Ravi ketagihan tidur di sini?"
"Ya sudah kamu tidur sama aunty Reva."
"Tidak mau! kita mau malam pertama."
"Yakin! Jum sakit tidak malam pertama?" Viana menatap Jum, diikuti Reva."
"Banget, sampai robek-robek." Jum tersenyum, sekarang giliran mereka menjatuhkan mental Reva.
Wajah Reva juga langsung berubah, dia menunduk sambil mengerutkan keningnya. Viana sudah menahan tawa, Rama hanya menggeleng.
"Tapi kamu ketagihan!" Bisma ngakak langsung lari sebelum Jum mencubitnya.
Mata Reva menatap Bisma, wajah Bisma tersenyum mengejeknya.
"Tanya Jum, dia sampai teriak-teriak histeris. Kamar bergoyang hampir roboh ranjang. Teriaknya mengalahkan...."
"Bisma!" Bima datang dengan tatapan dingin, cepat Bisma menutup mulutnya menahan tawa.
"Bohong!" Reva memandangi Bima, karena kata orang lelaki yang berpengalaman akan lebih lembut, tapi kalau kasar habis juga.
"jangan bahas aib rumah tangga, biarkan menjadi rahasia suami istri." Bima menatap Bima yang hanya menahan tawa.
"hanya bercanda, Reva yang penasaran." Bisma masih membela diri dan langsung pamit untuk pulang.
"Jum pulang yan mbak Reva, selamat malam pertama." Jum memeluk Reva yang langsung mendekati suaminya.
"Kenapa tidak menginap saja Bis."
"Besok ada meeting, repot kalau dari hotel. Di rumah juga ada mertua."
__ADS_1
Bima menggagukan kepalanya setuju, Ammar dan Septi juga pamit diikuti Ivan dan Tya.
Hanya tersisa Rama family dan pengantin. Rama dan Viana masih menginap di hotel karena keinginan Ravi.
Setelah mengantar yang lainnya pulang, Bima juga sudah mengirim orang untuk mengusut kasus baju Reva. Bima yakin yang merusak pasti bagian dari Tim Reva, karena keamanan di luar hotel sangat ketat. Tidak sembarang orang bisa masuk. Hanya orang dalam yang tahu ruangan khusus baju pengantin.
"Ayo kita naik, langsung beristirahat." Bima mengandeng tangan istrinya.
"Daddy! siapa yang membersihkan sisa acara pesta?"
"kalau kamu mau silahkan Ravi, lumayan dapat uang tambahan." Viana menimpali membuat bibir Ravi manyun.
"Ada tim khusus yang akan membersihkannya, sisa makanan juga akan kita kirim ke panti. Semuanya sudah ada yang mengatur." Bima memang sudah mengatur sedetail mungkin agar tidak ada yang terbuang mubasir.
"Reva sudah disiapkan belum baju tempur, punya kamu warna apa?" Viana tersenyum sambil langsung masuk lift.
"Putih! biar langsung kelihatan bentuknya."
"Serem banget, kayak kuntilanak!" Reva dan Viana tertawa.
"Daddy, Mommy ngomongin apa?" Ravi heran dengan baju bisa jadi kuntilanak.
"jangan kepo Ravi, anak kecil tidak boleh tahu." Reva menyentuh hidung Ravi.
"Ravi juga mau aunty, baju putih punya kuntilanak." Ravi dengan polosnya membuat Reva dan Viana semakin tertawa.
"Baju ini spesial untuk cewek!"
"Kenapa pada ngomongin pocong kuntilanak?" Bima paling anti soal makhluk tidak terlihat.
"Uncle mau baju pocong juga?"
"Terimakasih Ravi!"
Mereka keluar dari lift Viana langsung terdiam dan tidak bergerak lagi, Rama dan lainnya heran melihat ekspresi wajah Vi.
"Hubby! Viana mau melahirkan." Teriak Viana kuat membuat semuanya kaget.
"Baru 8bulan mom, mungkin Vira hanya menendang." Rama panik mengelus perut Viana.
"Rama! gue tahu rasanya ingin melahirkan beda jauh saat ditendang." Vi mulai kesal.
"Kak Bim, lakukan sesuatu. Istri Rama mau melahirkan." Kepanikan Rama menjadi membuatnya tidak bisa berpikir.
"Melakukan apa? ini hotel bukan rumah sakit." Bima sama paniknya, saat melihat air keluar dari balik baju Viana mengalir.
"Air ketuban sudah pecah!" Reva mengangkat baju Vi.
__ADS_1
"Astaghfirullah Al azim, sakit ya Allah. Vira tidak memberikan kode ingin keluar." Viana teriak memejamkan matanya, sesaat sakit terasa perlahan juga hilang.
"Kam Bima tolong dong, ini gimana?" Rama mengelus perut Vi.
"Ya apa? di mana yang sakit." Bima mengaruk kepalanya.
"Perut Ayy, tidak mungkin kepalanya yang sakit."
"Kak Bima sudah berpengalaman, Rama binggung." Reva dan Ravi saling pada melihat dua pria seperti orang linglung.
"Pengalaman dari Hongkong, yang melahirkan Brit bukan gue." Teriak Bima kesal membuat Viana tertawa sambil menahan sakit.
"Iya tahu Kak Bima tidak melahirkan, tapi sudah tahu caranya." Rama masih gelisah.
"Tidak tahu! aku hanya membawa Windy dari rumah sakit."
"Kalian berdua diskusi apa? yang akan melahirkan Viana bukan Brit." Reva jadinya kesal, dari tadi membahas Brit yang melahirkan.
"Kalian berdua mendingan cari Brit, tanya dia apa yang harus dilakukan sebelum aku jambak." Viana ikutan kesal mendengar nama Brit.
"Salahkan kak Bima sayang!"
"Kenapa aku? kamu yang mulai bahas." Bima masih tidak mengalah ditengah kepanikan.
"Daddy! uncle! Ravi pusing cepat gendong mommy daddy, uncle siapakah mobil, aunty Reva tolong telpon rumah sakit. Mana handphone Daddy? Ravi menghubungi Oma opa, nenek kakek uncle kalau perlu orang satu kampung Ravi telpon. Cepat bergerak selamat adik Ravi!" tangan Ravi sudah menekan tombol lift, semuanya bergerak sesuai perintah Ravi.
"Dua pria dewasa bilangnya pembisnis, tapi sekarang kelihatan oon tidak bisa berpikir." Reva membantu Vi masuk, masih meninggalkan dua lelaki yang saling pandang.
"Cepat masuk Rama Bima!" Reva teriak kencang, langsung cepat keduanya masuk. Viana menahan tawa melihat kelucuan Bima dan Rama yang nampak linglung.
Reva langsung menghubungi rumah sakit, jarak juga tidak terlalu jauh jadi tidak akan memakan waktu lama. Setelah memesan kamar VVIP, juga tim medis yang lengkap dan handal.
"tahan ya kak Vi, Vira juga sabar sebentar." Reva mengelus perut Vi yang sangat kencang.
"santai saja Reva, ini anak kedua jadinya aku sudah paham." Viana tersenyum, tapi dua lelaki dewasa masih diam dengan ketakutan masing-masing.
"Vira terimakasih, kamu berhasil menggagalkan malam pertama." Reva tersenyum, sambil terus mengelus perut Vi.
"Reva, hubungin Jum minta Mbah Jambrong datang." Viana masih bisa melucu.
"jangan Mbah Jambrong, nanti Vira masuk lagi karena ketakutan. Kalau lihat bule dia cepat keluar, tapi kalau Mbah Jambrong. Auto gagal lahir!"
Sebenarnya Reva sangat khawatir, tapi dia yakin ini cara Allah menyempurnakan seorang wanita melalui proses lahiran.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***