
Windy tertidur dalam pelukan Papinya, Reva menepuk pelan pundak Bima, memeluknya dari belakang, tangan Bima mengusap kepala istrinya.
"Aku takut sayang, semakin Windy besar rasa takut juga semakin besar, tapi aku tidak bisa mengehentikan perkembangan dia, Windy butuh kebebasan." Bima memejamkan matanya, pelukan Reva semakin erat.
"Windy bisa mengatasinya, Ay sudah menjadi Ayah terbaik, Ayah paling luar biasa bagi keluarga kita." Reva mencium pipi Bima.
"Reva, aku tidak bisa memahami Windy lagi, tidak mengerti yang dia inginkan, sulit sekali memahami perasaannya."
"Ay, Windy tumbuh sebagai wanita tangguh, sejak kecil kita sudah mengajari dia untuk menyadari siapa dirinya, dia seorang Putri yang tidak akan jatuh oleh kerajaannya sendiri. Dia bisa mengatasinya, Reva Mami yang membesarkannya, banyak waktu yang kami habiskan bersama, dia hanya berpura-pura tidak mengerti, Windy sudah mempersiapkan dirinya untuk menghadapinya, jika saja pihak kerajaan menemuinya, Windy bisa mengatasinya." Reva meminta Bima masuk, membawa Windy ke kamarnya.
Dalam hati Windy tersenyum, Maminya memang paling mengerti dirinya, mereka tidak perlu saling berbicara, hanya melalui tatapan sudah mengetahui yang diinginkan masing-masing.
Windy sudah tahu soal kerajaan yang Papinya katakan, kerajaan modern yang sangat elite, tapi sayang di dalamnya dipimpin oleh raja yang tidak pantas dijadikan panutan.
Awalnya Windy berpikir semua ini konyol, tapi melihat sekitarnya, Windy menyadari ada ibu tirinya, ratu yang sekarang menjadi pelindungnya. Selain Papi, ada pihak lain yang menjaga Windy bahkan sangat dekat dengan dirinya.
Windy akan terus diam seakan-akan dia tidak mengetahui apapun, Windy hanya ingin bahagia bersama lelaki yang dicintainya. Soal masalah masa lalunya urusan belakang.
Bima meletakan Windy di atas ranjang, Reva menunggu di depan pintu, menyambut tangan Bima untuk beristirahat, hari semakin malam, mereka sudah seharian beraktivitas.
Steven masih duduk di tempat persembunyian bersama Reva, ucapan Bima harus menunggu lima tahun terlalu lama, dia juga pria dewasa yang tidak bisa menahan diri, bisa saja setan lebih kuat dari dirinya.
Stev tahu Windy masih muda, perjalannya panjang, belum lagi masalah keturunan Windy yang masih belum terselesaikan.
Peringatan Bima soal beberapa orang yang terus menyelidiki Windy tidak pernah berhenti, tapi mereka kesulitan mendekati Windy karena Windy gadis yang peka.
Stev memijat kepalanya, perasaannya campur aduk, binggung harus melakukan apa. Hati Stev ingin mengakui hubungannya dengan Windy secepatnya mungkin, apapun jawaban Papi Windy Stev siap.
Suara langkah kaki terdengar, Stev berdiri melihat Vero pulang mengendap seperti seorang maling.
"Vero."
__ADS_1
Vero langsung mengumpat, menutup mulutnya, meminta maaf atas ucapan yang tidak sopan, dia kaget melihat Stev berdiri di pojokan, niatnya lewat pintu belakang agar aman, ternyata pemilik rumah memang berada di belakang.
Steven meminta Vero mendekatinya, langkah kaki Vero terasa malas, mengikuti kakaknya duduk di taman di waktu larut malam.
Vero duduk di bawah, bersandar di kursi, Stev duduk di atas kursi taman, melihat bintang yang sangat banyak, kediaman Steven memang jauh dari keramaian, karena hampir seluruh tempat menjadi lokasi rumahnya.
"Kenapa kak Stev belum tidur?" Vero melihat langit, tidak berani menatap Stev.
"Sedang berpikir, hubungan aku dan Windy harus dibawa ke mana?"
"Kenapa sekarang terlihat ragu, jika ingin menyerah sekarang namanya pengecut, sudah setengah jalan, hanya perlu kejujuran, jangan ditunda lagi kak." Vero menyentuh dadanya, ada rasa sakit, Vero membenci perasaan yang mengagumi Windy.
"Ver, aku tahu kamu suka Windy, tapi jangan berharap aku akan menyerahkan Windy kepada kamu." Steven menatap tajam Vero, mata Vero juga menatap Stev.
"Maafkan Vero kak, dari lubuk hati Vero paling dalam tidak ada niat sedikitpun untuk merebutnya, apalagi berharap mendapatkan balasan, boleh potong kepala Vero."
Steven tersenyum, memukul kepala Vero yang memohon maaf. Steven tidak pernah marah kepada lelaki manapun yang mengagumi wanita yang belum sah miliknya, wanita berhak mendapatkan yang terbaik, jika memilih bertahan, akan Stev perjuangan, tapi jika sedikit saja berpaling, sudah siap Stev tinggalkan, berlaku juga untuk Windy.
"Ver, jika bukan aku jodoh Windy, aku harap itu kamu. Kita memang dua orang yang berbeda, tapi aku tahu kamu bisa jauh lebih baik dari aku, Stevero, jika aku jauh dari Windy jaga dia, bahagiakan dia." Stev menundukkan kepalanya, dadanya merasakan sesak melihat Windy bersama orang lain.
"Aku akan mengakui hubungan kami, jangan mencoba mengacau." Steven tertawa melangkah masuk.
Vero tersenyum bahagia melihat Steven yang memang orang yang sangat santai, selalu siap bertarung secara terang-terangan.
Janji Vero kepada bulan dan bintang akan selalu berdiri di sisi Steven dan Windy, akan menjaga hubungan keduanya, menjadikan dirinya sebuah perisai.
Vero sudah mendengar soal Windy, juga sangat mengerti pikiran Steven yang akan melindungi Windy mati-matian, bahkan siap berkorban. Vero tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kakaknya, wanita yang kakaknya cintai.
"Woy bocah, cepat tidur." Stev meneriaki Vero yang langsung berlari masuk.
Suara langkah kaki Vero masuk, Vero langsung melompat ke punggung Steven meminta sekali saja digendong sampai ke kamarnya. Steven menolak memaksa Vero turun, tapi tangan Vero memeluk erat tidak ingin melepaskan diri.
__ADS_1
Steven terpaksa menggendong Vero menaiki tangga, menuju kamar Vero. Senyum Steven dan Vero terlihat, ada rasa sedih juga karena mereka hanya berdua, tanpa orang tua.
"Kak, Vero sayang kak Stev, jangan pernah meninggalkan Vero kak."
"Berarti kamu jangan pernah pergi dari rumah." Stev meminta Vero turun, karena sudah tiba di kamarnya.
"Kak, boleh tidur berdua." Vero langsung berlari masuk ke kamarnya, menutup pintu karena Stev ingin menonjok.
"Di kasih hati minta jantung." Stev langsung kembali ke kamarnya.
Stev berdiri melihat foto di dinding yang berukuran sangat besar.
"Selamat malam wanitaku." Stev langsung melompat ke atas tempat tidur.
***
Stev terbangun merasakan pelukan erat di tubuhnya, cepat Stev berdiri melihat Vero tidur bersamanya. Suara ketukan pintu terdengar, Stev keluar melihat Wildan mengatakan ingin sholat.
"Tunggu sebentar Wil, kak Stev mengganti baju terlebih dahulu." Stev melihat Vero yang tidur mengorok.
Cepat Steven mengganti bajunya, langkah kaki Stev terhenti melihat Vero yang mengigau menyebut nama Stevie.
"Kak maafkan Vero, seharusnya Vero berlari untuk menyelamatkan kakak, terimakasih sudah memberikan Vero hadiah ulang tahu, Vero sayang kakak." Air mata Vero menetes, Steven langsung pergi menutup kamar pelan.
Keluarga Bima sudah menunggu Steven untuk sholat berjamaah. Stev yang menjadi imam, di tengah sujud Stev meneteskan air matanya.
Selesai sholat dan berdoa, Stev menatap Reva yang berdebat dengan Winda.
"Va, kado yang bagus untuk Vero apa?"
"Vero ulang tahun?"
__ADS_1
"Ohhh, pantas saja Mami uncle Vero sedih melihat seorang anak kecil ulang tahun saat di restoran, kata uncle dia terakhir meniup lilin saat dihari kepergian orangtuanya, tanpa keluarga. Winda jadi sedih." Winda langsung memeluk Bima.
***