
Sesuai ucapan Rama, Steven sudah guling-guling di sofa, ada rasa menyesal meminta penawaran 5 tahun, dia menghafalkan bisa lebih dari 5 tahun, hafal sholat saja sudah sujud syukur, hafalan 30 jus.
"Kak Stev kenapa?" Vero memukuli tubuh Steven yang bicara sendiri.
"Hafalan 30 jus, hafalan Ver bukan membaca, tapi menghafal, bisa kamu bayangkan menghafal." Steven berguling lagi.
"Ya sudah hafalkan, jika hanya mengeluh tidak akan ada hasilnya, jadi coba perjuangkan untuk bisa menghafalnya." Vero memberikan semangat, dia juga tidak tahu apa yang harus Stev hafalkan.
Windy mendekati Steven, menyemangatinya pasti bisa, dia akan membantu karena sudah kesepakatan untuk saling membantu.
Stev menatap Windy, dia sangat tahu Bima orang yang sangat tepat janji, tidak menganggap remeh ucapannya, jika dia bilang A sudah pasti A.
"Semangat Stev, kamu bisa menyelesaikan tugas menghafal, usaha tidak pernah mengkhianati hasil, atau hasil tidak pernah mengkhianati usaha, apapun itu aku bisa." Steven menyemangati dirinya sendiri.
Wilona menatap Steven, memintanya untuk melihat ke depan, larangan yang harus Stev dan Windy patuhi.
Di larang berduaan, tidak pergi berdua, tidak ada sentuh menyentuh, ke manapun Windy harus bersama Wilona, apapun kegiatan yang Stev dan Windy lakukan harus bersama orang lain.
"Peraturan apa itu? aku permisi ke kamar, ingin menghafal jus, tolong juga sekalian pesan jus apel." Steve langsung melangkah pergi, mencium kepala Windy.
Wilona sudah teriak, Steven tertawa bersama Vero, Windy hanya tersenyum melihat Om bulenya yang kekanakan.
Tatapan mata Wilo sinis, menghembuskan nafasnya duduk di depan Windy. Stev memang tampan, sangat tampan, tapi Windy muda juga bisa mendapatkan pria muda.
"Win, kenapa harus Steven lelaki pilihan kamu?" Wilona menghela nafasnya.
"karena dia pria pertama yang mengatakan jangan jatuh cinta, tapi nyatanya Windy jatuh cinta pandangan pertama, banyak hal yang tidak kita ketahui soal Om Stev, dia pria baik , sangat baik, memiliki banyak beban, tapi terlihat santai saja. Windy menjadikan Om Stev contoh hidup Windy yang harus berdiri kuat, sekalian pun badai datang."
Windy meminta Wilona mempercayai dirinya dan Stev, membangun kepercayaan memang tidak mudah, tapi memberikan kesempatan untuk percaya tidak ada salahnya.
__ADS_1
Wilo tersenyum melangkah masuk ke kamar merapikan baju bersama, Vero tersenyum melihat foto Stevie, melangkah mendekati foto sambil tersenyum memberikan jari kelingkingnya berjanji akan menjaga Steven.
***
Di kamar Steven hanya menatap benda di atas meja, langsung menuju ranjang, menutup matanya untuk beristirahat. Berharap dalam mimpi bisa hafal segalanya, tersenyum juga bisa bersama Windy, walaupun syaratnya hanya Allah dan Steven yang tahu akhirnya.
Windy juga memejamkan matanya, siap menyambut hari esok, soal hubungannya dengan Stev bukan rahasia lagi, hanya membutuhkan sedikit waktu lagi.
Jika Steven dan Windy sedang bahagia, berbeda di tempat lain yang sedang memecahkan bingkai foto ratu.
Langkah kaki seorang wanita cantik, berjalan dengan anggun mendekati seorang pria yang sedang menatapnya tajam.
"Di mana Putri Anna? jika kamu tidak mengatakannya putra kesayangannya kamu tidak akan pernah menjadi pengganti ku."
"Aku tidak tahu keberadaan dia, sekalipun aku tahu jangan harap kamu bisa mengetahui keberadaannya Raja Hanz."
Tawa menggelegar terdengar, tamparan kuat juga melayang menampar Ratu Mariam. Tubuhnya terlempar jatuh ditangan seorang pemuda tampan Pangeran Athala, dia berusia 20 tahun, sudah menjadi saksi kekejaman Ayahnya.
"Ibunda, sampai kapan terus seperti ini? Atha ingin hidup bebas jauh dari raja Hanz yang kejam."
"Atha, dia Ayah kamu hormati dia."
"Dia hanya seorang raja, bukan seorang Ayah. Dia tidak pernah memiliki anak, hati, pikiran, otak, jiwanya hanya memikirkan kekayaan, kejayaan, juga takut turun tahta."
Atha langsung melangkah pergi, melihat seorang nenek tua yang paling dihormati. Atha menundukkan kepalanya memberi hormat.
"Mariam, aku sudah memperingati kamu Hanz tidak membutuhkan kamu, nama kamu hanya ada sebagai status, tapi kehadiran kamu tidak pernah dibutuhkan, sampai saat ini kamu tidak bisa membuat Hanz berubah."
"Maafkan Mar ibu, Mar akan terus berusaha."
__ADS_1
"Berhentilah Mar, sudah hampir 17 tahun, Anna harus mengambil posisi Hanz agar kerajaan ini kembali damai, hidup jaya dan penuh keadilan."
"Nenek, kenapa kalian hanya mementingkan Anna, pernah tidak sedikit saja memikirkan perasaan Atha, membuat keadilan, kedamaian bagi rakyat, selamatkan dahulu Ibunda dan Athala dari kekejaman kalian semua."
Tatapan mata nenek tajam, kehadiran Athala yang membuat masalah di dalam kerajaan.. Ratu tidak mungkin meninggal jika tidak mengalami keterkejutan soal calon raja memiliki seorang anak dari seorang wanita pelayan.
Seharusnya Mariam dan Athala tahu diri, sadar di mana posisi mereka. Sampai kapanpun, Athala tidak akan pernah menjadi penerus.
"Atha tidak menginginkan kerajaan, aku juga sudah muak melihat kekacauan."
"Pergi dari sini, temukan Putri Anna, kamu punya waktu 3 bulan untuk menjadikan Anna ratu."
Mariam menolak, tidak mengizinkan Atha menemukan Anna, tapi Atha menyetujuinya membuat perjanjian, jika Anna kembali dia bisa pergi jauh bersama ibundanya, meninggalkan negara yang sangat dibencinya.
Keinginan Athala dikabulkan, dia langsung melangkah pergi, menuju ke tempat keberadaan Anna.
Athala membenci Anna, dia yang membuat hidupnya hancur, hadir hanya sebagai benalu. Tangan Atha tergenggam kuat, membenci seluruh orang yang berada di istana.
Mobil Atha keluar dari istana yang dia datangi 17 tahun yang lalu, Atha berpikir dia akan bahagia, tapi ternyata dia salah, hidupnya hancur.
Atha menghentikan mobilnya, keluar melihat istana yang sangat mewah, tapi di dalamnya penuh kejahatan. Kemewahan yang terlihat hanya bungkus, di dalamnya banyak yang rusak.
"Aku harap saat aku kembali hanya untuk menjemput Ibunda, membawanya pergi jauh membiarkan putri Anna, putri yang akan menjadi ratu. Aku harap istana mewah ini hancur rata ditangan sang ratu." Atha membalik badannya, masuk mobil ke negara yang sangat jauh.
Di dalam istana tangisan ratu menyayat hati, akan ada pertumpahan darah kembali, kembalinya Ratu hanya akan membuat kerajaan dipandang jelek, juga sangat bahaya bagi putri, dia hanya akan menjadi kambing hitam untuk menutupi segala kesalahannya.
"Ratu, lihatlah kekacauan, kejadian 17 tahun yang lalu akan terulang kembali, aku sudah berusaha melindungi putrimu, sekarang aku hanya bisa diam menunggu dan berharap dia tidak akan kembali." Marian menyentuh foto, Ratu yang terpampang jelas, wajahnya yang cantik, mempesona.
Raja Hanz juga menatap foto Ratu pertama, istrinya yang meninggal bersama hilangnya Putri mereka.
__ADS_1
"Dia tidak boleh kembali, dia lebih baik mati, anak pembawa sial, ingin menjadi ratu jangan harap. Kamu sebaiknya mati Anna, jangan membuat masalah." Hanz tersenyum melangkah pergi.
***