MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
BUMIL


__ADS_3

Sudah satu minggu Reva berdiam diri menunggu waktu dia haid tapi belum juga datang. Reva ingin melakukan tes tapi takut kecewa, Viana sudah mendengar cerita Jum soal Reva. Ketiganya berkumpul di rumah Viana untuk membahas soal Reva, Vi memberikan tespack yang baru dia beli meminta Reva segera memeriksanya.


"Dasar kak Jum mulutnya bocor, sudah janji ini rahasia, kenapa sekarang dibocorkan."


"Keceplosan," Jum tersenyum, sekarang Jum sudah jauh berubah karena setiap hari mendapatkan teguran dari Viana, yang selalu mengawasinya sambil meminta Jum belajar mengurus bayi melalui Vira.


"Lagian kamu kenapa tidak mau melakukan tes, positif tidaknya urusan belakangan. Kebanyakan orang hanya garis satu tapi positif."


"Berarti garis dua ada juga yang tidak positif?" Reva meletakan kembali tespack yang Vi berikan.


"Kalau kamu menolak, aku akan kasih tahu Bima, memintanya memeriksa ke Dokter."


"Jangan kak Vi, ihh tidak lucu." Cepat Reva berdiri, membaca cara menggunakannya.


Setelah keluar Reva melangkah dengan terus berdoa, apapun hasilnya semoga saja ini pilihan yang terbaik, siap tidak siap Reva menyakinkan diri bisa menjadi seorang ibu.


"Reva, kamu belum ingin hamil ya?" Viana bisa membaca ekspresi Reva.


"Astaghfirullah Al azim, kak Vi setiap wanita yang menikah pasti ingin segera punya anak." Jum yang menimpali tapi langsung menatap Reva tajam.


"Reva belum siap kak, tapi Bima sangat menginginkannya." Reva meneteskan air matanya, hamil sangat menakutkan bagi Reva.


"Dengarkan kak Vi, jika Bima tahu dia pasti sangat kecewa. Dia tidak akan marah dan menerima keinginan kamu untuk menunda tapi lebih tepatnya tidak memiliki anak dari kamu. Kak Vi pikir kamu sudah mengenali sifat dan sikap suami kamu. Jika dia sudah kecewa, sulit membangun kepercayaan lagi, dan mungkin ini akan menjadi bumerang dalam rumah tangga kalian."


"Astaghfirullah Al azim, jangan sampai kak Vi." Jum ikut menangis tidak habis pikir dengan pikiran Reva.


Reva terdiam, setiap malam Bima selalu berdoa agar segera memiliki anak. Setiap elusan tangannya di perut Reva menunjukkan harapan yang sangat besar. Tapi berbeda dengan Reva yang sangat takut, dia sangat menyukai anak-anak tapi tidak siap mengandung.


"Reva takut kak, Reva tidak mengerti alasannya tapi perasaan ini terlalu khawatir kak."


"Jum juga takut, tapi rasa ingin memiliki anak jauh lebih besar dari rasa takut, Jum bisa membayangkan tangisannya, tawanya, mengajarinya bicara, berjalan, sampai dia tubuh besar."


"Setiap wanita pasti mempunyai rasa takut, kalian lupa dulu aku hamil sendiri. Jika kamu diposisi aku apa mungkin kamu akan mengugurkan kandungan kamu."


"Astaghfirullah kak tidak mungkin, Reva akan mempertahankannya."


"Aku dulu takut sekali Va, ingin sekali rasanya bunuh diri tapi saat membayangkan tangisannya hati kak Vi sakit, dia tidak bersalah, dia berhak lahir dan melihat dunia ini."


Reva mengelus perutnya, tangisan juga senyuman Reva terlihat. Dia siap memiliki anak.


"Jika kamu ada di sini sehat terus ya sayang, Mami siap mengandung kamu, melahirkan dan juga membesarkan kamu."


"Lihat dulu hasilnya, nanti negatif!" teriak Viana mengejutkan Reva.

__ADS_1


"Kak Vi! jangan hancurkan harapan Reva."


Jum yang melihat hasilnya, Viana dan Reva saling pandang dan terlihat cemas. Teriak seseorang dari luar diabaikan oleh ketiganya.


"Garis dua positif!" Septi mengambil tespack dari tangan Jum.


Tangisan Jum langsung terdengar, Septi panik dan meminta maaf mengembalikan tespack Jum dan langsung diam. Viana dan Reva masih melongo, Jum berniat mengagetkan Reva tapi karena Septi jadi gagal, melihat tatapan Reva Jum tersenyum.


"Mau tahu hasilnya?" Jum menatap Reva, Septi sudah mengerutkan keningnya, semakin hari tingkah Tri istri semakin aneh.


"Hasilnya adalah jreng jreng jreng...."


"Reva juga hamil, jadi benar Reva hamil." Reva seakan tidak percaya, dia dikasih kepercayaan untuk memiliki anak.


"Jum belum mengumumkan," bibir Jum langsung monyong.


"Hasilnya apa Jum, ayo cepat umumkan?" Viana menahan tawa, dia juga merasakan kebahagiaan akhirnya Bima dan Bisma akan segera menjadi ayah, di an dua wanita spesial akan menjadi ibu.


"Hasilnya positif, selamat mbak Reva, kita hamil." Jum memeluk Reva, tangisan keduanya terlihat.


Septi ikut menangis memeluk erat tubuh Reva, kini sahabat gila nya bukan hanya menjadi seorang istri tapi juga seorang ibu.


"Selamat ya Va, jaga kandungan kamu dengan baik. Jika mau makan apapun, bilang saja aku akan memasak apapun yang kamu inginkan."


"Jum tidak ditawar?"


"Kak Jum juga, sekarang dua bumil lagi pengen makan apa?"


"Makan gratis!" Reva tertawa, walaupun matanya masih meneteskan air mata.


Viana menggenggam tangan Reva, memeluknya penuh haru. Reva juga merasakan bahagia mendengar kabar kehamilannya, tidak terbayangkan ekspresi Bima jika tahu.


"Mas Bram pasti seneng banget Va, kamu sama bayi kamu harus sehat terus."


"Makasih kak Vi, rasanya Reva bahagia banget. Membayangkan Bima yang pasti jauh berlipat-lipat bahagianya."


***


Septi sedang sibuk di dapur Vi memasak untuk dua bumil, juga memasak kesukaan Viana. Ammar datang sesuai janjinya ke Vi untuk berkunjung dan melihat si kecil Vira.


"Di mana calon istri gue?"


"Masak!" jawab tiga orang bersamaan.

__ADS_1


"Kompak!"


Ravi berlari memeluk Ammar, dan Ravi juga mengatakan makanan sudah siap. Semuanya menuju meja makan, dan banyak sekali makanan yang menggugah selera. Tidak heran Septi menjadi koki yang memiliki banyak cabang restorannya. Selain masakannya yang enak. Septi memiliki ciri khas yang spesial.


Viana melotot melihat Reva dan Jum yang selalu berebut, padahal makanan sangat banyak. Ammar menatap aneh beda dengan Septi yang tersenyum bahagia karena kedua bumil menyukai masakannya.


"Va kapan kamu akan memberitahu Bima?"


"Nanti malam kak,"


"Ini akan menjadi kabar paling bahagia untuknya."


"Ada kabar apa?" Ammar mulai kepo.


"Biasalah urusan perempuan?" Septi yang menjawab.


"Memangnya Bima perempuan." Mendengar jawaban Ammar Septi menoleh sambil melotot.


"Sudah berapa persen penikahan kalian?"


"70persen Vi, hanya menunggu dekorasi untuk 90persen, dan 10persennya pas hari H."


"Septi, kamu yakin menikah dengan Ammar. Dia banyak wanita, kamu harus ekstra sabar."


"Kamu juga Reva hati-hati, pesona suami kamu sangat menggoda kaum hawa. Sekuat apapun dia, jika terus digoda pasti lepas kendali juga."


"kamu sedang mengejek diri kamu sendiri, aku tahu kamu pria setia tapi ada masalalu yang membuat kamu trauma. Jika kamu sampai menyakiti Septi, aku yang akan menghancurkan kamu."


"Reva, biarkan semuanya menjadi masalalu, kita tidak akan maju jika terus mengingat masalalu."


"Kamu benar tapi ingat, masalalu bisa saja membuat masalah di masa depan."


"Rama Viana menikah tanpa Cinta, Bima Reva menikah setelah berjuang 6tahun, Bisma Jum menikah dengan sifat, sikap, kehidupan, yang berbeda jauh, Ivan Tya menikah karena rasa tanggung jawab walaupun harus memohon restu orangtuanya, Aku dan Septi juga sedang meniti untuk melengkapi perbedaan itu. Aku akan melakukan segala cara untuk mempertahankan Septi."


Reva tersenyum mendengar jawaban Ammar membuat Reva rindu Bima, Reva mengelus perutnya. Dia tidak sabar ingin memberitahu Bima.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2