MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 JANTUNG BERHENTI


__ADS_3

Setiap hari Windy dan Steven lewati penuh canda dan tawa, meskipun Windy tidak bisa bebas bergerak sebagaimana mestinya wanita hamil lainnya, Windy tetap merasa bahagia.


Lelahnya mengandung tidak terasa, hari demi hari berlalu sangat cepat. Reva, Viana dan Jum yang paling bersemangat menyambut cucu pertama.


Baju sudah di persiapkan, bahkan kamar bayi sudah di siapkan berdekatan dengan kamar Wildan yang membagi kamarnya dengan baby W.


Setiap hari wajah Winda berlipat-lipat cemberut, dia merasa tersaingi sejak kehadiran Wira, tidak begitu diperhatikan lagi, semua orang fokus hanya kepada baby W yang sedang menunggu kelahirannya.


Pintu terbuka, Wildan tiba membawa kopernya memasuki kediaman Bramasta. Winda menatap tajam kakaknya.


"Kak Wil sudah pulang? tidak ada yang menjemput. Semuanya karena kehadiran Wira, tidak ada yang mempedulikan kita lagi?" Winda menendang kursi menatap tajam ke arah kamar bayi.


"Jangan berlebihan Winda, kamu tidak membutuhkan perhatian lagi. Belajar menjadi gadis dewasa yang mandiri, jangan apapun yang kamu butuhkan disediakan oleh orang lain." Wildan melangkah pergi melewati adiknya yang cemberut.


Di dalam kamar sudah heboh, menyusun baju bayi. Banyak sekali mainan yang di susun di kamar.


Wildan mengucapkan salam saja tidak didengarkan, menatap kamarnya yang hanya sisa ranjang saja.


"Assalamualaikum Mami, Bunda, mommy." Wildan mengulangi salam langsung memilih untuk beristirahat.


Tatapan mata Wildan melihat layar ponselnya, memperhatikan seisi rumah, sesekali mendengar pembicaraan Reva yang ingin membesarkan rumah lagi.


"Wildan pindah saja ke kamar atas, dia juga tidak memiliki banyak barang penting." Viana memberikan saran.


"Wildan tetap di sini Mom, lebih baik jika ada Wira, jadinya Wildan bisa bebas di kamar bawah." Senyuman Wildan terlihat menatap tiga wanita yang teriak kaget.


"Wildan, kapan kamu kembali?"


Cepat Wildan mencium tangan mommy, Mami dan Bunda. Tidak memberikan jawaban apapun, Wildan langsung melangkah pergi ke bangunan bawah tanah yang khusus dibangun untuk dirinya.


Baru saja Wildan duduk sudah berdiri langsung berlari kencang, melangkah keluar membuat Viana hampir jantungan, karena kaget melihat Wildan berlari kencang.


Windy melangkah sambil tersenyum membawa makanan ke taman belakang ingin menemui Winda, Vira, Bella dan Billa yang sedang mengobrol sambil mengerjakan tugas sekolah, secara tiba-tiba makanannya berhamburan.


Pandangan Windy langsung gelap, melangkah perlahan sambil berpegangan. Winda berlari melihat kaki Windy sudah penuh darah.


"Kak Windy." Winda langsung menahan tubuh Windy yang hampir jatuh, karena jatuh pingsan. Sedangkan tubuh Winda tergelincir jatuh ke bawah tangga, kepalanya terbentur sambil terguling.


"Winda." Vira langsung berlari.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, tolong kak Windy." Winda menatap kakaknya yang sudah tergeletak, Vira dan Bella langsung berlari menaiki tangga yang tidak terlalu tinggi.


Wildan langsung meminta Vira menghubungi rumah sakit, Bella hubungi Steven, Billa minta supir menyiapkan mobil.


Sekuat tenaga Wildan mengangkat tubuh Windy, Winda langsung merangkul Windy bersama Wildan untuk segera ke rumah sakit.


Stev langsung berlari menggendong Windy yang sudah tidak sadarkan diri, semuanya sangat terkejut juga khawatir melihat darah sangat banyak.


Reva langsung ke rumah sakit, Wildan langsung menutup beberapa jalanan agar mobil yang membawa Windy bisa lebih cepat untuk sampai ke rumah sakit.


Stev menatap Wildan yang tangannya gemetaran, bahkan ada darah yang memenuhi bajunya.


Windy tersadar, menatap Stev yang tersenyum meminta istrinya kuat. Sebentar lagi mereka sampai di rumah sakit, dokter sudah bersiap untuk melakukan tindakan.


Prediksi dokter meleset, seharusnya Windy sudah dirawat minggu depan, tapi keadaan sudah lebih dulu membuat spot jantung melihat keadaan Windy yang mengalami pendarahan kembali.


"Ay, kenapa Wira tidak bergerak lagi?" Windy langsung khawatir menyentuh perutnya.


"Sayang, jangan dipikirkan. Kita berdua sudah sepakat untuk mengutamakan kamu, jadi kamu harus kuat." Stev mencium tangan Windy, mengusap perut istrinya yang memang tidak ada pergerakan lagi.


Di rumah sakit sudah penuh dokter, langsung mengeluarkan Windy membawanya ke ruangan operasi.


"Steven segera urus surat pernyataan untuk segera melakukan operasi, kita akan mengeluarkan bayi sekarang."


"Dia belum masuk sembilan bulan dok, satu minggu lagi baru sembilan bulan." Stev menatap dokter Nana yang menggelengkan kepalanya.


Stev memegang kepalanya, Reva meneteskan air matanya meminta Steven sabar. Mereka percaya Windy kuat.


***


Sudah lebih lima jam belum ada kabar, dokter berlarian mencari darah, karena pasien kehabisan darah. Rama bahkan menyumbangkan darahnya untuk membantu Windy.


Steven tertunduk meneteskan air matanya, tubuhnya rasanya kehabisan tenaga hanya bisa berdoa agar istrinya baik-baik saja.


Di dalam ruangan operasi dokter berjuang untuk menghentikan pendarahan, bahkan menunda mengeluarkan bayi karena khawatir melihat keadaan ibu bayi semakin memburuk.


Setelah pendarahan selesai, dokter Nana langsung memimpin melahirkan secara Caesar. Tidak butuh waktu lama bayi berhasil di keluarkan.


Dokter Nana terdiam melihat bayi yang tidak menangis, rasanya jantung dokter Nana juga berhenti berdetak melihat bayi yang dia dan Windy perjuangan untuk bertahan tidak mengeluarkan tangisannya.

__ADS_1


Bayi mungil langsung di serahkan kepada dokter lain, dokter Nana melanjutkan jahitan.


Keadaan Windy masih memprihatinkan, apalagi jika dia tahu anaknya tidak bergerak.


"Dokter, bayinya meninggal."


Seorang dokter juga masuk melihat bayi kecil yang berada di dalam tabung inkubator, dokter Nana menatap tajam setelah membaca surat izin barulah dokter Nana melangkah mundur.


"Keponakan Uncle kenapa?" Air mata menetes, langsung mengeluarkan bayi memompa jantungnya perlahan.


"Bangun Wir, kasihan mommy Daddy kamu."


Dokter Nana yang mengawasi Windy meneteskan air matanya, beberapa dokter sudah keluar ingin mengabari keluarga soal keadaan bayi dam ibunya.


"Dok, sebaiknya menyerah saja. Dokter obgin juga sudah menyatakan jika jantung bayi tidak berdetak lagi sejak keluar."


"Tangan dia masih hangat, tubuhnya juga hangat."


"Dokter, anda tidak tahu soal bayi."


"Jika aku tahu mungkin akan menurut menjadi dokter kandungan saja, semua dokter sama hanya punya tugas masing-masing. Letakan dia di dada ibunya."


Dokter Nana langsung menyambut bayi, beberapa dokter menggelengkan kepalanya melihat dua dokter tidak menerima kenyataan.


Seorang dokter keluar, menatap keluarga korban.


Ravi dan Tian berlari kencang mendengar Windy melahirkan.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?"


"Dia selamat, masih dalam pengawasan, tapi bayinya tidak bisa diselamatkan. Dokter utama akan menjelaskan detailnya soal keadaan bayi kenapa bisa meninggal, kami permisi."


Steven langsung terduduk, tidak ada lagi air mata yang keluar. Reva langsung jatuh pingsan, tidak sanggup membayangkan keadaan putrinya.


Jum memeluk Bisma,bahkan ditangan Jum masih memegang baju bayi. Mereka sudah menyiapkan 99% untuk menyambut cucu pertama keluarga Bramasta.


Viana menangis kuat, ingin menjambak rambut dokter yang terasa ucapannya tidak sopan, tidak bisa menjaga perasaan keluarga yang sedang berjuang.


Ravi dan Tian terduduk lemas, Wildan juga memegang jantungnya merasakan kehilangan.

__ADS_1


***


__ADS_2