
Liburan ke vila yang sudah direncanakan gagal total karena Jum hamil muda, Bisma kewalahan mengikuti keinginan istrinya. Belum lagi sikap Jum yang mudah ngambek, marah-marah juga terlalu manja.
Reva juga terkena masalah karena Bisma setiap hari merengek seperti bocah, bahkan sampai menangis meminta Reva membujuk Jum kalau sedang ngambek. Terkadang Windy yang harus turun tangan untuk menemani Jum kalau kabur dari rumah hanya karena hal sepele.
"Jum, kamu marah kenapa lagi?"
"Mas Bisma telepon sama cewek lain Va, dia muaki mendua." Tangisan Jum pecah, membuat Reva memijit pelipisnya.
"Dia sekertaris Bisma Jum, tidak mungkin mereka komunikasi pakai surat, ini zaman modern."
"Tapi Jum cemburu, mas Bisma juga tidak mau makan masakan Jum."
"Kamu masak apa?"
"Jum melihat di YT makanan yang...."
"Cukup Jum, kalau kamu terus mengikuti bawaan Bisma benar-benar bisa berpaling. Berpikir positif, jangan mencari kesalahan orang lain tapi coba perbaiki diri kamu."
"Jum tidak mengerti."
"Kamu muak melihat Bisma, tapi pikirkan saat kalian berpisah, kamu marah ingat saat kalian baik. Jika kamu manja lakukan hal wajar, jangan bikin malu Bisma."
"Mbak Reva tahu dari mana Jum sedang bosan melihat Bisma, setiap dia bicara bawaannya kesal tapi kalau dia pergi kangen, pikiran langsung jelek."
"Tentu aku tahu, karena aku juga merasakan hal yang sama, tapi aku tidak ingin mengikutinya karena aku punya cinta, tidak akan pernah aku biarkan berpisah dengan lelaki yang aku cintai kecuali maut yang memisahkan."
"Mbak Reva hamil!" Jum langsung menatap kaget, menunggu Reva menjawab.
"Enggak, tapi aku juga merasakannya."
Reva langsung diam, Jum juga terdiam. Keduanya saling memikirkan diri masing-masing. Reva mengigat terakhir dia datang bulan.
"Astaga Jum, ini bukan ke dua aku tidak haid." Reva menatap Jum, berharap yang sedang dia pikirkan benar.
"Alhamdulillah, semoga saja ya Mbak. Kandungan Jum masuk dua bulan, berarti mbak Reva berapa ya?"
"Belum tahu kak Jum, Reva antara senang sama takut."
"Periksa saja Va, biar Jum temani."
"No no no, nanti kak Jum melihat orang makan es cream minta juga, orang beli pesawat nanti minta juga."
__ADS_1
"Ihh Reva, Jum hanya penasaran saja. Janji mulai sekarang akan mengontrol diri, bawaan bayi Jum aneh."
"Bagus, awas saja bikin masalah, kak Jum lupa bahkan pernah merebut permen Tian, sampai Bisma marah, dan kak Jum bukan minta maaf tapi ngambek."
"Iya, tapi sudah Jum ganti." Suara tetawa Jum terdengar.
"Kak Jum, rahasia soal Reva ya ada sampai semuanya pasti."
"Oke,"
Suara salam dari luar terdengar, Bisma pulang kerja sekalian menjemput Tian pulang sekolah. Windy juga ikut bersama Bisma karena Reva berada di rumahnya.
"Mami!" Windy teriak sambil memeluk Reva.
Berbeda dengan Tian, sejak Jum hamil perhatian Jum tidak lagi padanya. Bahkan sikap Jum lebih kekanakan dari Tian, bibir Jum cemberut karena Tian tidak memeluknya padahal dia sedang rindu.
"Bunda, Tian beliin Bunda coklat. Satu buat Tian, satu buat Bunda." Tian menyerahkan coklatnya dan berlari ke kamarnya.
Tangisan Jum menghentikan langkah Tian yang sedang berlari, Bisma menatap tajam hampir tertawa. Drama apa lagi yang akan di buat istrinya, Tian yang melihat Jum menangis langsung tertunduk. Langkah kaki Tian mendekati Jum langsung memberikan semua coklatnya sambil matanya berkaca-kaca.
"Bunda tidak mau coklat, tapi sekarang Tian tidak sayang Bunda lagi. Pulang sekolah tidak peluk Bunda?" Tangisan Jum membuat Tian binggung.
Reva dan Windy hanya menatap sambil geleng-geleng, Tian langsung melangkah memeluk dan menghapus air mata Jum, mencium pipinya.
"Maafkan Bunda ya sayang, yang cengeng bukan Bunda tapi adik kamu."
"Fitnah, lebih kejam dari pelakorr Jum." Reva tertawa diikuti oleh Bisma.
"Kenapa mas tertawa, jangan-jangan mas punya." Jum langsung diam menatap Reva yang sudah melotot.
Karena banyaknya drama yang juma buat, kepala Reva sampai pusing. Bima datang menjemput barulah mereka pulang ke rumah, selama di perjalanan Reva memilih tidur karena tubuhnya sangat lelah. Windy juga tertidur karena lelah bermain, belum lagi dia harus les berbagai bahasa bersama Tian membuat otaknya sudah terbelah.
"Aku sudah mirip supir." Bima menatap anak dan istrinya.
Sesampainya di rumah Bima tidak tega membangunkan Reva dan Windy, akhirnya Bima menggendong Windy terlebih dahulu memindahkannya di dalam kamar. Barulah Bima menggendong Reva membawanya ke kamar mereka.
***
Pagi-pagi Reva memandangi taman Bunga yang sedang bermekaran, dilihatnya banyak kupu-kupu juga lebah. Bima memperhatikan sikap Reva yang lebih banyak diam, hanya bicara seperlunya saja tapi terkadang sangat berisik.
"Pagi Nyonya, bunganya cantik ya?"
__ADS_1
"Cantik tapi murahan."
"Kenapa Nyonya?" Lela menatap binggung, tidak biasanya Reva bicara dingin dan ketus.
"Lihatlah, dia sudah memiliki kupu-kupu yang cantik, tapi masih menerima kumbang."
Kening Lela berkerut, pertanyaan dan jawaban Reva sangat lucu tapi tidak berani menjawab.
"Lela pikir mungkin karena bunga tidak bisa bergerak, sehingga menerima keduanya."
"Kalau tahu tidak bisa bergerak, Kenapa dia harus berkembang?"
"Lela tidak tahu."
"Bunga memberikan contoh wanita lemah, kumbang menunjukkan sikap yang tidak setia, kupu-kupu juga sama tidak cukup memiliki satu."
Lela garuk kepala, dia tidak mengerti dengan kemarahan Reva terhadap bunga, menuduh kumbang dan kupu-kupu tidak setia, menuduh bunga murahan.
Bima datang meminta Lela pergi, dipeluknya tubuh istrinya yang sangat wangi juga cantik.
"Sayang, bunga itu istimewa sehingga mengundang banyak kumbang dan kupu-kupu."
"Dia tidak istimewa tapi murahan!" Reva teriak kesal, Bima mengelus rambutnya dan mencium pipi Reva gemas.
"Mereka saling menguntungkan, lihatlah kecantikan bunga, kupu-kupu, juga kumbang. Bunga harus menarik perhatian kumbang agar bisa berkembang biak, kumbang juga membutuhkan bunga. Kamu bilang mereka tidak setia?"
"Iya,"
Bima tertawa memeluk istri tercintanya, menjelaskan soal bunga juga kumbang serta kupu-kupu sampai Reva mengerti. Sama seperti dirinya yang hanya tertarik dengan Reva, berharap secepatnya diberikan kepercayaan untuk segera memiliki keturunan. Sama dengan Bunga yang menginginkan bibit baru untuk penerusnya.
"Jadi Bunga dan kumbang pacaran?"
"Reva sayang, sebaiknya kita berhenti membahas mereka, nanti aku cemburu karena kamu terlalu memperhatikan taman ini."
"Reva tidak mungkin selingkuh dengan kumbang, apalagi kupu-kupu. Reva sukanya sama burung." Senyum jahil Reva mulai terlihat, memeluk Bima seakan menggoda.
"Burung apa sayang?"
"Burung Ayy," tawa Reva terdengar, Bima langsung tersenyum memeluk erat pinggang ramping Reva, menciumi wajahnya.
Setelah berdebat dengan Bunga, Reva Bima bergandengan tangan masuk ke dalam rumah, tawa canda terdengar dari keduanya yang sangat bahagia.
__ADS_1
***
KEMUNGKINAN AKAN TAMAT DI AKHIR BULAN.