
Reva memasuki ruang rapat dengan wajah dingin, semuanya berdiri memberikan hormat tapi hanya mendapatkan tatapan tajam. Rapat dimulai, Reva lebih banyak diam. Kemarin dia melihat Brit menemui Windy pasti ada tujuan buruk yang terselubung, belum lagi Reva bertemu dengan bosnya Reno pemilik cafe. Reva kembali fokus ke meeting, dia mendengar nama rekan rekan kerja samanya membuat darah Reva mendidih.
"Siapa yang memberikan izin?!" Nada bicara Reva sangat tinggi, membuat semua orang panas dingin.
Viana melangkah memasuki VCLO, sudah terdengar keributan di ruang meeting yang di pimpin Reva, Clara keluar buru-buru atas perintah Reva.
"Ada apa Cla? Lo diusir."
"Tidak! Reva bakal mengamuk dan meminta aku keluar takut anak gue denger dia marah, mendengar teriakan Reva anak gue langsung nendang."
"Upz kasihan kesayangan aunty, kita kabur saja gue juga takut nanti di telan Reva, dia lebih galak dari gue." Viana mengelus perut Clara yang sudah besar,
Viana dan Clara pergi menjauh, suara keras terdengar dari dalam ruangan, Vi dan Cla menoleh dan langsung pergi.
"Kasihan Sisi bisa cepat tua bekerja dengan Reva, mana masih jomblo. Sepertinya gue harus cariin dia jodoh."
"Tidak perlu, Sisi punya ABG tampan, tidak kalah sama hubby Lo, tapi dia tidak sedingin Rama."
"Mana mungkin! Rama limited edition, spesial satunya di dunia ini,"
Tawa Viana dan Clara bersama mengigat Sisi yang selalu gagal dalam percintaan.
Reva berjalan menuju ruangannya, Viana sudah duduk santai sambil tersenyum.
"Reva! ayo kita liburan sekalian mencari Bisma."
"Tidak bisa kak! Reva sibuk!" Reva langsung duduk di kursi kerjanya.
"Bima juga pergi, kamu tidak takut calon suami kamu digodain bule."
"Kak Vi, soal Bisma ada yang harus kita urus terlebih dahulu. Telpon Jum, ini juga ada sangkut pautnya dengan Jum."
"Ada masalah? cerita Va."
"Ikut Reva, tapi jemput Jum dulu."
Reva dan Viana keluar meninggalkan VCLO, mereka langsung menjemput Jum yang berada di Mall bersama temannya.
"Sejak kapan Jum punya temen."
"Jangan anggap remeh Reva, Jum pesona tidak kalah jauh sama Desainer muda seperti kamu. Dia sangat cantik dengan wajah polosnya."
"Dia kencan kak?"
"Mungkin! berusaha melupakan ciuman pertama."
Sampai di Mall Jum sudah menunggu, cepat dia masuk ke dalam mobil. Mobil Reva melaju dengan kecepatan tinggi, soal kebut-kebutan Reva sang ratunya. Dia tidak bisa jalan santai.
"Mau ke mana kita?"
__ADS_1
"Tidak tahu Reva!"
"Kak Jum, jangan kaget ya. Misalnya calon suami kakak punya anak. Pokonya intinya cerita mirip dengan Reva yang memilih pria yang memiliki anak, kak Jum terima tidak?"
"Tergantung!"
"Bisma punya anak ya Reva? atau punya istri, jangan-jangan pacarnya Bisma hamil dan sekarang melahirkan."
"Benar mbak Reva! Jum tidak Sudi menerima laki-laki yang suka meninggalkan wanita, apalagi sudah punya anak."
"Bukan kak Jum, mulutnya kak Vi jangan didengar. Haram hukumnya!"
Reva menceritakan soal Bastian ke Jum sedetail-detailnya, saat tiba di panti Jum langsung melihat sosok Tian. Air matanya ingin sekali terjatuh, melihat anak kecil yang duduk diam menatap langit yang cerah.
"Jum mau menerima Tian sebagai anak Jum, Ya Allah jahat sekali ibu kamu nak." Jum meneteskan air matanya langsung mendekati Tian, tapi Tian sangat dingin.
"Mau menjadi anak Tante!"
"maaf Tante, nanti ayah akan menjemput Tian."
"Iya kita tunggu ayah pulang, baru kita pulang ke rumah ya."
"Bunda Jumi!" Tian langsung berdiri dan memeluk Jum.
"Iya ini bunda!"
'Bunda cantik! benar kata ayah. Tian pengen cepat pulang."
"Ayah bilang mau pergi sebentar, menyelesaikan masalah lalu melamar Bunda dan menikah setelahnya baru jemput Tian."
"Sekarang pun kalau Tian mau bisa ikut bunda, tidak perlu menunggu menikah." Jum memeluk Tian penuh kelembutan.
Reva tersenyum sambil memeluk Viana yang juga ikut terharu.
"Reva beruntung kak Vi, bisa bertemu kakak yang sangat baik dan sayang Reva. Kak Jum juga yang mempunyai hati yang bersih, Reva sangat sayang Kalian."
"Saya juga beruntung Va bertemu kalian, para wanita baik akan menemukan laki-laki baik. Kak Vi sangat senang karena kamu yang bersama Bima, dia pantas mendapatkan kebahagiaan. Bisma juga pemuda baik, hanya ucapan dan tingkahnya saja yang buruk, tapi hatinya sangat lembut."
***
Bima yang mendengar Rama akan liburan ke negara N mengerutkan keningnya, keadaan lagi banyak pekerjaan belum lagi urusan Bisma dan pernikahan nya.
"Minta Ammar kembali kak,"
"Apa?!" Bima lebih kaget lagi, dan tidak mengerti dengan pikiran Rama.
"Kamu saja yang pergi bersama Ivan, kakak mengurus pekerjaan, dan Ammar tetap di sana."
"Kakak harus ikut, Reva pasti mengamuk. Kita punya waktu 1hari menyelesaikan pekerjaan."
__ADS_1
Bima duduk di sofa menghembuskan nafas kasar. "Reva bukan mengamuk lagi tapi sudah kabur dan melempar cincin pertunangan."
Ammar masuk ke ruangan Rama dengan wajah cemberut, dia langsung duduk dengan tatapan kesal.
"Maaf ya kak Ammar, jika Vi tidak mengancam membawa Ravi mungkin aku juga tidak pergi, karena Vi tidak akan pergi tanpa Ravi."
Hembusan nafas kasar Ammar terdengar mengundang tawa Bima yang dari tadi sibuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Sudah ini kak Ammar boleh liburan, Rama tidak punya orang kepercayaan."
"Janji terus Ram, dari usia 25tahun ikut Viana sekarang usia 38tahun masih jomblo, kamu tidak kasihan."
"Lo yang menolak jodoh Mar,"
"Gak usah ikutan Bim, bentar lagi juga Lo bakal ngerasain yang namanya neraka dunia."
Rama dan Bima hanya tertawa melihat kekesalan Ammar, di depan orang lain mereka sosok pria yang dingin dan keras tapi saat bertemu penuh canda dan tawa.
Pintu di dobrak, Ammar langsung menodongkan senjata, Ivan langsung angkat tangan dan tertawa terbahak-bahak tanpa sebab.
Ammar melihat Ivan yang datang langsung menundukkan kepalanya semakin lesu, Ivan yang melihat Ammar masih tertawa tidak jelas membuat Rama dan Bima binggung.
"Hai kak Ammar," mata Ammar hanya memincing mata membalas sapaan Ivan.
"Lo bahagia banget Ivan, ada apa?"
"Kak Ammar tidak menjalankan misi, tapi pacaran! kalian tahu siapa pacarnya,"
Ammar langsung berdiri dan memukuli Ivan sampai diam, membuat Rama geleng-geleng dan Bima hanya tersenyum.
***
Bima sedang mengadakan rapat, dia bertemu rekan-rekan bisnisnya saat masih muda. Mereka semua merintis karir dari usia muda.
Reva berlari masuk ke restoran mencari Bima, Reva langsung memanggil Bima, banyak mata terpesona melihat kecantikan Reva.
"Dia tunangan kamu Bima, pemimpi VCLO grup Desainer terkenal."
Reva hanya mengaguk, pamit ke semuanya untuk pergi. Bima melangkah mendekati Reva yang tersenyum manis. Tangan Bima menarik tangan Reva keluar.
"Reva bisa kamu ganti pakaian ini, lihat banyak mata yang memandangi kamu."
"Baju aku sopan Ayy, tidak ada yang terbuka. Baju panjang pakai celana panjang dari mana seksinya."
"Sekalian pakai hijab." Bima membukakan pintu Reva.
"Om cemburu, gemes banget makin cinta."
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
***