MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 MEMOTONG RAMBUT


__ADS_3

Keterkejutan Ar terlihat menatap kamar yang berhamburan, meletakkan bubur di atas meja. Mami dan Winda saling tatap tajam.


"Ada apa ini Winda?" Baju berserakan, Ar langsung mengambil tas yang baru Winda beli untuk melihat talinya yang putus semua.


"Maafkan Mami, niatnya hanya bercanda saja. Ar bisa membelikan yang baru." Senyuman Mami terlihat langsung melangkah pergi, membiarkan Winda yang masih terdiam.


Ar menghela nafasnya, merapikan baju yang sudah bolong penuh gunting. Meletakkan tas yang putus semua, jam tangan Winda juga banyak pecah.


Winda langsung duduk memeluk tas barunya yang belum dia gunakan, tapi sudah rusak. Bagi Winda tas kesayangan anak, siapapun yang mencelakai anaknya akan cacat sama seperti apa yang dilakukan.


"Nanti kita beli baru, tunggu tubuh kamu sehat." Tangan Ar menggenggam tangan Winda.


"Aku tidak akan membeli sesuatu jika tidak tertarik, tas ini sangat aku sukai. Sekarang rusak, tidak ada yang sama lagi, karena hanya satu-satunya." Winda menepis tangan Ar, langsung meminta keluar.


"Winda."


"Keluar." Tatapan Winda dingin, tidak ingin dibantah lagi.


Akhirnya Ar membiarkan Winda sendirian, cepat Winda mengunci pintu langsung memejamkan matanya mengendalikan emosinya.


Rasanya Winda ingin sekali menghancurkan seisi villa, meluapkan amarahnya yang menggebu-gebu.


"Sabar Winda, sabar. Dia belum tahu jika kamu mulai gila." Winda tertawa, memejamkan matanya untuk tidur.


***


Senyuman Ais terlihat, duduk makan malam hanya ada dirinya, Mami dan Ar tanpa ada pengacau Winda.


Ar tidak bisa makan, karena memikirkan Winda yang manis berdiam diri di kamar. Beberapa kali Ar mencoba mengetuk pintu, tapi tetap tidak ada respon baik.


"Kak Ar ayo makan."


"Mami, kenapa merusak tas Winda? maaf bukan maksud Ar menyinggung, tapi kasihan Winda, juga mubazir merusak barang." Tangan Ar memijit pelipisnya, melangkah pergi ke kamar.

__ADS_1


Aisyah tertawa, puas bisa melihat Winda berdiam diri di kamar. Akibatnya berani berurusan dengan dirinya, pasti akan sengsara.


"Ais, kamu jangan merasa menang dulu. Winda seperti air yang tenang, tapi bisa membunuh. Dia jika sudah diam, sekali meluap kamu hancur." Mami langsung melangkah pergi menuju kamarnya.


Ar berlari dari lantai atas, menegur maminya mempertanyakan ingin makan apa, karena Ar ingin keluar mencari makanan yang Winda inginkan.


Tatapan Mami tajam melihat Winda yang turun menggunakan baju seksi, membiarkan Ar pergi.


Senyuman Winda terlihat, mengunci pintu utama langsung menarik lengan Mami dengan kasar ke dalam kamar.


"Lepaskan Winda, sakit." Mami mendorong Winda mundur.


"Armand Prasetya, dia adik sepupu dari Rama Prasetya. Ayah Ar saudara kembar ayah Rama. Kelahiran Ar tidak ada yang mengetahuinya, termasuk keluarga besar Prasetya. Daddy Rama juga tidak tahu jika dia memiliki Paman kandung yang memiliki putra lebih muda, dari putranya Ravi Prasetya. Ar memiliki darah keluarga besar Prasetya yang memiliki anak dan cucu. Sekarang katakan siapa Aisyah?" Winda menatap Mami yang khawatir ada rekaman CCTV, atau pelacak.


"Jangan khawatir, villa ini aman tidak bisa ditembus oleh pelacak apapun. Ar jauh lebih teliti daripada kita." Winda sangat memahami ketakutan Mami.


"Aisyah bernama asli Ranty, dia salah satu wanita yang memiliki kekuasaan di negara ini. Terserah kamu ingin percaya atau tidak, dia ingin mendapatkan Ar untuk menyelamatkan kesejahteraan bisnis keluarganya." Mami menarik nafas panjang, jantungnya berdegup kencang, karena takut.


Winda tersenyum ternyata dugaannya selama ini benar, Mami tidak pernah berniat bertemu Ar lagi tetapi keadaan memaksanya untuk memanfaatkan Ar.


"Winda, dengarkan Mami sebagai orang yang lebih tua dari kamu. Hentikan tindakan kamu yang berbahaya ini, mereka bukan lawan kamu. Orang yang kita anggap baik dialah pelaku, sedangkan penjahat dialah korban." Mami melangkah meminta Winda keluar.


"Jangan anggap Winda bodoh, mungkin saat itu aku masih kecil. Tetapi sekarang semuanya berubah, jika tidak dihentikan bagaimana orang yang meninggal mendapatkan keadilan?" Winda mengambil gunting yang tergeletak.


"Apa yang kamu ketahui Winda? bagi kamu aku wanita malam yang menjual anak kecil, lalu ada pembantai dan pelecehan secara membabi buta. Apa yang kamu ketahui? kamu tidak tahu betapa mengerikannya hari itu." Mami menetes air matanya, mencengkram kuat lengan Winda menarikan untuk keluar.


Air mata Winda juga menetes, menipis tangan Mami. Keduanya saling pandang dengan luka masing-masing.


"Aku tahu kamu meyelamatkan aku, bahkan menggantikan posisi aku yang sudah terkapar berlumuran darah. Siapa pemuda yang membawa aku pergi?" Winda menarik nafas, menghapus air matanya. Kepala mami tertunduk langsung menutup wajahnya.


"Sekarang kamu cukup diam, aku akan membalas mereka semua. Memberikan keadilan untuk semua korban, aku janji akan membebaskan kamu sebagai balasan kejadian masa lalu. Kita memang tidak akan pernah akur, ada konflik diantara kita yang sama-sama menghacurkan hidup Ar. Sekarang aku akan memancing mereka keluar." Winda menatap gunting membuat Mami mundur.


Winda langsung melangkah keluar, Mami berlari mengejar Winda.

__ADS_1


"Kamu tahu hukuman untuk orang yang menyakiti anak yang masih aku sayang, belum sempat aku memamerkan, beraninya kamu merusaknya." Winda tersenyum melihat Ais yang cuek saja mengabaikan Winda.


Langkah kaki Winda terdengar langsung berlari, Mami menutup matanya berjaga di pintu takut Ar pulang.


Suara teriak Ais terdengar, Winda menarik rambut panjang langsung megulungnya habis, Mami menganga melihat Winda yang memotong rambut Ais sampai terguling.


Winda duduk di atas tubuh Ais yang tengkurap, menginjak kedua tangannya kuat, menghabiskan rambutnya sampai berhamburan di lantai.


"Tolong." Ais berteriak sambil menangis.


"Winda hentikan, jika Ar melihat kamu hubungan kalian akan berantakan."


"Aku tidak perduli, sekalipun Ar memukul, menjambak bahkan memecahkan kepalaku tidak masalah." Winda membenturkan kepala Ais di lantai.


"Ar tidak mungkin berani melawan wanita gila seperti kamu." Mami takut Ar pulang.


Tubuh Ais terkulai lemas, Winda menarik rambutnya yang sisa sedikit langsung membawa keluar dari pintu belakang.


Tubuh Ais dilempar ke kolam, Winda juga langsung menceburkan dirinya mengejar Ais yang berenang berusaha melarikan diri dari pintu belakang.


"Di mana ponsel Ais Mami?" Winda berteriak membiarkan Ais kabur.


Cepat Mami berlari mencari ponsel, dari pada melawan wanita gila.


"Ini Winda." Mami menyerahkan ponsel, menatap Winda yang langsung menghubungi seseorang.


[Hai kakak, masih mengigat diriku. Gadis kecil yang berlumuran darah, hampir menjadi korban pelecehan kalian yang sedang berpesta kelulusan. Aku kembali untuk membalas dendam, selamatkan adikmu Ranty yang sedang berlari di jalanan." Winda tersenyum sinis membuang ponsel ke dalam kolam.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT


FOLLOW IG VHIAAZAIRA

__ADS_1


***


__ADS_2