
Reva sedang duduk sambil berbicara bersama Septi dan Tya yang akan langsung pulang bersama Ivan juga Ammar.
"yakin langsung pulang, bule saja belum pulang." Reva melirik kearah Bisma dan temannya, juga ada Ammar dan Ivan bergabung.
"Tya ikut mau suami Va, katanya langsung pulang ya pulang."
"Kamu ikut pacar!" Reva menatap Septi.
"iyalah, daripada nanti di jalan ada ketemu cacing, mending aku jadi buntut."
"Dasar bucin!"
"Yang bucin mbak Reva," Jum datang langsung ikut duduk.
"Jum betul!"
"Kenapa Bule putih?" Jum melihat kearah suaminya yang masih asik tertawa.
"Karena mereka tinggal di LN."
"LN?" Jum menatap Reva tajam.
"manusia langit, seperti malaikat. Malaikat maut tapi." Reva tertawa diikuti Septi, mereka berdua pernah kenal Bule gila yang bercerita jika bertemu malaikat maut.
Septi dan Tya langsung menemui orang tua Jum dan penduduk untuk pamit pulang, ibu juga membawakan oleh-oleh juga makanan untuk Tya dan Septi.
Ammar dan Ivan juga pamit l, kepada Rama juga Bima Bisma dan yang lainnya untuk kembali lebih dulu.
Semuanya melambaikan tangan mengantar sampai ke depan pintu, Septi dan Ammar masuk mobil sendiri begitupun dengan Ivan. Dua mobil keluar dari pekarangan rumah Jum.
"Tante Reva juga mau membawa oleh-oleh tapi tidak mau satu, tapi lima ya." Reva memeluk ibu Jum menunjukkan jarinya 5.
"Serakah sekali kamu ini, tidak niat bagi dengan yang lainnya."
"Tidak mau, pokonya mau lima."
"Baiklah demi kamu Tante bungkus lima," ibu Jum mengelus rambut Reva dan meninggalkannya ke dapur.
Bisma menatap Reva sambil tersenyum, sifatnya yang mudah dekat membuat suasana menjadi lebih berwarna. Melihat Reva yang manja tapi di depan anak-anak sangat dewasa dan keibuan.
"Semoga saja kak Bima dan Reva jodoh."
Halaman rumah Jum sudah sepi, Septi, Ammar, Tya dan Ivan juga sudah pulang lebih dulu. Bisma masuk ke rumah tapi langsung dipanggil Rama. Bisma mendekati Rama yang duduk bersama Bima.
"Rencana tinggal di mana kak?"
"Ikut Jum Ram, dia mau tidak jika aku bawa keluar negeri."
"Ini hanya usulan Rama, Viana juga kak Bima. Jika kakak bersedia untuk tinggal di rumah yang sudah kami sediakan." Rama menyerahkan surat-surat lengkap rumah dan properti.
__ADS_1
Bisma melihat dan membacanya, dia langsung tersenyum dan meletakan kembali ke atas meja.
"Jika kamu menolak, silahkan di jual karena ini kado pernikahan kalian." Bima menambahkan.
"Ini rumah tidak jauh dari rumah Lo Ram, pasti rencana Viana biar bisa ngibah dengan istri gue."
Rama hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Bima juga memberikan surat mobil dan beberapa asset perusahaan.
"Bima terima mobilnya tapi tidak dengan perusahaan. Bisma sudah mempunyai bisnis sendiri."
"Perusahaan ini milik kamu, kakak memiliki perusahaan sendiri yang membutuhkan kakak. Berikan kepada keturunan kamu, tetap olah agar tidak menyebabkan semakin banyaknya pengaguran."
"Bisma punya bisnis di LN, jika mengolah di Indonesia berarti kalian memaksa Bisma untuk tetap tinggal di Indonesia."
Reva, Jum dan Viana datang mendekati para lelaki yang sedang mengobrol. Mendengarkan pembicaraan mereka yang membuat Jum cepat melangkah mendekati.
"Jum tidak mau tinggal di LN, Jum takut."
"Enak tinggal di sana Jum, sangat berbeda jauh dengan indo." Viana menimpali langsung duduk di samping Rama.
"Jum tidak mau tinggal di LANGIT." Wajah Jum langsung menunjukan kesedihan membuat semua orang melihat kearahnya.
Reva sudah duduk di lantai memegang perutnya tertawa terpingkal-pingkal. Jum binggung melihat orang memandanginya, Viana memalingkan wajahnya mengelus perutnya jangan sampai otak anaknya lemot kayak Jum.
"Sayang LN artinya luar negeri bukan langit, kamu pikir aku selama ini sudah inalilahi." Bisma geleng-geleng.
"Reva yang bilang mas, katanya teman mas Bima putih-putih karena mereka dari langit. Jum jadinya takut."
"Reva Lo jail banget sama istri gue."
"Gue hanya bercanda, tadi gue lihat teman Lo mukanya Putih kayak vampir, dari pada gue bilang dia berasal dari kuburan mending dari langit. Salah Reva di mana?"
"Sudah ya Jum, berhenti berteman dengan Reva dan Viana. Otak mereka berdua memang menyesatkan kepolosan kamu."
"Tapi! Jum sayang mereka, kak Vi dan Reva baik walaupun jahil. Jum tidak mau tidur sama mas Bisma." Jum menghentakkan kakinya dan melangkah pergi masuk kamar.
"Kenapa jadi gue yang salah?" Bisma mengerutkan keningnya.
"Cie yang gagal malam pertama. Tidur di luar." Viana melangkah pergi sambil tertawa.
"Makanya Bisma perempuan tidak pernah salah, jika mereka melakukan kesalahan maka lelaki yang disalahkan." Reva pergi melambaikan tangannya menjulurkan lidah mengejek Bisma.
"Reva! kapan kamu tidak membuat masalah." Bisma teriak kesal melihat ulahnya Jum ngambek karena kejahilan Reva.
Reva mencari Windy yang ternyata sedang ngambek, karena ulah Ravi dan Tian yang tidak ingin bermain dengan wanita.
"Kenapa sayang?"
"Lihat mam, Ravi bilang perempuan temannya perempuan, laki-laki temannya laki-laki."
__ADS_1
"Iya benar, tapi laki-laki harus menjaga perempuan."
"Mengapa aunty? mereka bisa menjaga diri sendiri, tidak perlu menyusahkan orang lain." Ravi duduk di depan Reva.
"Karena perempuan ratu."
"Laki-laki raja, statusnya lebih tinggi dari ratu." Tian menimpali.
"Status laki-laki memang berada di atas wanita, tapi Drajat wanita jauh lebih terhormat dari lelaki. Karena wanita yang mengandung, melahirkan, menyusui, juga membesarkan. Ravi rela melihat mommy terluka, Tian juga rela melihat Bunda terluka."
"Tidak!" Ravi dan Tian menjawab bersamaan.
"Ravi akan menjaga Mommy selalu,"
"Tian juga aunty, nanti Tian juga jagain kak Windy."
"Pintar sekali, kalian anak baik."
Ravi langsung berlari mengambil minum memberikannya kepasa Windy, Tian juga memberikan mainan mereka mengajak Windy ikut bermain.
"Kak Windy seorang ratu, jadinya kita harus melayani dengan pelayanan terbaik. Iyakan Tian."
"Panggil kakak!"
"Tidak mau!"
Bima yang dari tadi memperhatikan Reva hanya tertawa, Vi yang berada di belakang Bima bersama Rama juga tertawa. Reva kembali pusing karena keributan Tian dan Ravi soal panggilan.
"Tian tidak mau berteman sama Ravi!"
"Tian harus mau menjadi teman Ravi!" teriakkan Ravi lebih sengit lagi.
Windy hanya celingak-celinguk melihat wajah kedua bocah yang sedang berdebat. Ravi memaksa Tian menjadi temannya, sedangkan Tian ingin berteman jika dipanggil Kaka.
"Cukup! Kalian berdua sudah punya kakak, namanya Windy Bramasta. Jadi kamu panggil dia Tian, dan Tian panggil dia Ravi." Windy berjabatan tangan, keputusan ratu sudah tidak bisa diganggu lagi.
"Windy Bramasta, Bastian Bramasta dan Ravi Prasetya. Nama Ravi tidak punya teman." Ravi masih protes lagi soal nama.
"Nanti ada, lagi di dalam perut Mommy." Windy menyakinkan, ada Prasetya selanjutnya.
"OHH iya, adiknya Ravi ya. Jadi kita dua Bramasta dan dua Prasetya."
Yeeeeee ketiganya lompat kesenangan, Reva hanya diam. Merasa geli melihat pembicaraan ketiganya.
"Beberapa tahun ke depan bukan hanya kalian bertiga, akan bertambah lagi personilnya." Batin Reva tersenyum.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***