MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 SAH


__ADS_3

Sudah dua bulan berlalu, Windy menggenggam tangan Stev melangkah bersama menuruni tangga. Steven tersenyum lebar melihat kakinya.


Stev langsung merangkul Windy, mengusap kepalanya untuk pergi ke bandara menjemput keluarga.


Rumah Stev akan ramai kembali setelah beberapa bulan yang lalu seluruh keluarga kembali, mereka akan menghadiri pernikahan Vero dan Citra.


Setelahnya pernikahan Windy dan Stev, mereka akan kembali ke tanah air mempersiapkan pernikahan mereka.


Di mobil Stev mencium tangan Windy, mengucapakan terima kasih sudah setia menunggu dan mendampinginya.


Sampai di bandara, Stev dan Windy masih menunggu.


"Win, bagaimana kabar raja Hanz? kemarin dia tidak datang berkunjung."


Saat Stev menghilang seluruh keluarga kerajaan hadir, menghibur Windy dan membantu pencarian.


Setelah satu tahun kepergian Stev, nenek Arum meninggal dunia, satu tahun kemudian Raja Hanz juga meninggal.


Windy dan keluarga besar datang ke sana mengantar kepergian nenek dan Ayah Windy, bersyukurnya sebelum kepergian Ayahnya sudah sempat melihat Atha dan Wilo menikah, walaupun tidak bisa melihat anak mereka.


"Aku turut berbelasungkawa Windy." Stev tersenyum.


"Iya Ay."


"Apa Ay." Winda sudah di depan Stev minta digendong.


Steven menggendong Winda tinggi memeluknya, Stev menyapa seluruh keluarga kali ini lebih ramai lagi karena ada keluarga Ammar.


"Selamat datang kak Ammar." Stev menyalami Ammar.


Winda turun mengambil kopernya langsung berjalan sambil bernyanyi kecil, Vira berlari membawa koper sendiri langsung menabrak Winda.


Ravi Tian berusaha menangkap, tapi tidak berhasil Winda dan Vira terguling-guling menuruni tangga bersama koper mereka.


Koper terpental jauh, Winda langsung cepat berdiri duduk di tangga. Vira juga duduk diam.


Bella sudah tertawa kuat, di depan umum terjatuh sampai terguling ke bawah.


Winda menundukkan kepalanya menahan malu, banyak orang yang tertawa melihat mereka berdua. Bima dan Rama turun tangga melihat kaki, kepala tangan takutnya ada luka.


"Vira ini tempat umum jangan bermain koper, lihat akibatnya jatuh melukai orang lain juga. Seandainya tadi nenek-nenek yang kamu tabrak."


"Tau ne Vira, tidak kira-kira Winda jadinya malu."


"Iya maaf, Vira tidak sengaja."

__ADS_1


"Bella juga tertawa, sahabat jatuh ditolong bukannya tertawa. Sakitnya biasa malunya luar biasa." Winda melipat tangannya.


Beberapa mobil datang, Billa mengambil koper Winda dan Vira agar segera naik mobil.


Seluruh keluarga pergi ke hotel berbintang, seluruh persiapan sudah dilakukan. Keluarga masuk kamar masing-masing untuk menganti baju.


Steven sudah rapi berjalan bersama Bima, Rama, Bisma dan Ammar yang menjadi saksi nikah.


"Kak Bim, sejak kapan Vero masuk Islam?"


"Emhhh sudah lama Stev, dia ingin bersujud agar bisa mendoakan kamu."


Steven tersenyum, Ravi Tian dan Erik sudah ada di tempat acara menunggu pengantin pria. Tamu undangan hanay khusus keluarga dan teman terdekat. Pesta akan dimulai dua jam setelah ijab qobul.


Pengantin pria muncul, Vero langsung memeluk Stev meminta maaf karena menikah lebih dulu. Stev tidak mempermasalahkan demi kebahagiaan Vero.


Windy di kamar pengantin bersama Can, Windy melihat makeup Can memperbaikinya sedikit mengajari karyawan agar lebih teliti lagi. Setelahnya melangkah keluar untuk melihat dekorasi.


Reva, Viana, Jum, dan Septi masuk melihat Can yang sangat cantik dibalut jilbab. Viana memeluk Reva rasanya dia ingin menikah lagi.


"Kenapa kak Vi ingin menikah lagi?"


"Dulu aku menikah tanpa cinta, jadi momen pernikahan biasa saja, tidak peduli make up, makanan, gaun, bahkan foto. Semuanya diurus oleh nenek Flo."


"Dijodohkan."


Semuanya tertawa melihat Viana, Can sangat penasaran dengan cinta Vi dan Rama.


"Menikah pasti ada kelebihan dan kekurangan Can, aku pikir dengan hidup mewah punya segalanya, berkuasa, cantik, seksi, mandiri hidup aku bahagia, tapi ternyata aku salah semua itu sebenarnya kekurangan, aku tidak membutuhkannya."


"Apa yang kak Vi butuhkan?"


"Cinta, kasih sayang, keluarga, kebersamaan juga Allah."


"Rama pasti ABG luar biasa."


"Pernikahan hanyalah sebuah pandangan baik bagi banyak orang, aku bisa hidup bebas, bocah ini juga silahkan hidup bebas, kami menikah dalam kehidupan masing-masing, karena di mata kak Vi dia hanya pemuda yang masih harus bersenang-senang." Viana tertawa.


"Ternyata Viana salah besar, dia jatuh cinta dengan ABG." Reva tertawa jika mengigat masa cakar-cakaran.


"Kak Vi dulu seksi sekali, perutnya kelihatan, body seksi bahenol, dadanya kelihatan belahannya, terus punggungnya bolong." Jum tertawa bersama Reva, Can juga menutup mulut tertawa.


"Kalian tidak tahu, pakaiannya lagi trend pada masanya, harganya juga fantastis."


"Bajunya di keluarkan semuanya, dibagi-bagi ke orang, ada yang dibuat lap. Saat kak Vi buka lemari bajunya hilang semua."

__ADS_1


"Seriusan kak Vi?" Can kaget.


"Dua rius, Rama ABG kejam. Aku mau kerja baju ingin dia gunting, tidak boleh pulang malam, tidak boleh ke bar, minum. Sekali aku kasih dia makan tempe gosong, ayam goreng hitam." Viana tertawa bersama yang lainnya.


"Kak Vi sama Reva dua wanita kurang normal, Reva masak nasi tapi saat di buka beras, kak Vi kalau masak api tinggi sekali." Septi menghela nafas.


"Mendingan kita tidak bisa masak, dari pada kamu Jum suami tidak diberi makan." Reva dan Viana mengejek Jum.


"Bukan tidak dikasih makan, salah dia sendiri makan sama perempuan lain di luar, berarti lebih enak bersama orang lain." Jum menaikan nadanya.


"Jum jadi perempuan jangan terlalu cemburuan, sama sekretaris saja cemburu."


"Mbak Reva juga cemburuan, waktu Bima di hotel sama Brit sampai kecelakaan."


"iya Reva kamu juga."


"Kak Vi lebih parah, dulu siapa yang mengerjai Chintya." Reva menatap tajam.


"Sudah jangan bertengkar." Can menghentikan tri istri.


"Sah."


Semuanya langsung menatap layar, Can langsung menangis. Gara-gara suara tri istri besar Can tidak bisa mendengar acara ijab kabul.


"Can belum melihat, ini sah tidak?" Can menangis kesal.


"Sah Can, amin saja." Viana mendorong Jum dan Reva.


"Iya sah, tidak harus ditonton." Reva menggaruk kepalanya.


Windy datang bersama Ghina melihat Can menangis, Windy langsung meminta berhenti menangis nanti make up luntur.


Tri istri langsung keluar, berlari ke tempat acara. Windy memperbaiki make up Can, menemaninya turun ke bawah.


"Kenapa kamu kesal seharusnya bahagia?" Windy menatap Cantika.


"Mommy, Mami sama Bunda berantem. Can tidak mendengar acara ijab kabul, suara mereka jauh lebih besar."


"Jadi kamu menangis bukan karena terharu?"


"Terharu apanya, cuman terdengar suara sah."


Windy dan Ghina menahan tawa, ibu sama anak sama saja suka bertengkar. Bukan hanya Vira, Winda dan Bella yang rusuh di bawah, di atas lebih rusuh lagi.


"Maafkan Mommy, Mami dan Bunda Can, mereka memang seperti itu, bahkan ada orang melahirkan bayinya masuk lagi jika ada mereka." Windy tertawa bersama Can.

__ADS_1


***


__ADS_2