MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 CEK KANDUNGAN


__ADS_3

Sudah siang baru Stev bisa makan dan minum dengan tenang, Windy sudah bersiap untuk pergi ke dokter bersama Reva.


Rumah utama yang ramai membuat rusuh, pertengkaran Winda dan Vira yang sudah main jambak membuat Viana berteriak kuat melihat putrinya yang sangat suka bertengkar.


Windy bukan menghentikan adiknya bertengkar, tapi semakin bertepuk tangan memberikan semangat agar keduanya bisa menang.


Jum menasehati Windy tidak baik membiarkan anak-anak bertengkar, nantinya menjadi kebiasaan.


"Maaf Bunda, mereka sejak bayi sudah main tonjok-tonjokan." Windy tertawa.


"Bawaan ibu hamil memang aneh, ada saja tingkah uniknya." Jum hanya menggelengkan kepalanya, meminta Stev segara ke dokter untuk memastikan.


Steven akhirnya pergi bersama Windy yang tidak berhenti mengomel sambil mulutnya tidak berhenti mengunyah makanan.


"Ay nanti kita beli es krim yang banyak." Windy mengunyah kue yang dia bawa ke dalam mobil.


Senyuman Steven terlihat, mengusap kepala istrinya yang sangat menggemaskan. Moments yang tidak ingin Stev ketinggalan bisa melihat masa kehamilan istrinya sampai akhirnya malaikat kecil hadir dalam hidup mereka.


"Boleh sayang, tapi jangan banyak-banyak sayang." Stev menggenggam jari jemari Windy menciumnya lembut.


"Ay, Mami ketinggalan, katanya ingin pergi ke dokter juga." Senyuman Windy terlihat, Stev langsung menoleh ke belakang.


Steven menepuk jidat, dia lupa jika Reva ketinggalan, bisa dikutuk menjadi menantu durhaka.


Windy hanya tertawa, Reva menghubungi Steven langsung marah-marah mengomeli menantunya yang kurang ajar.


Reva capek menunggu tenyata Stev sudah pergi duluan, suara Bima meminta Reva mengecilkan suaranya tapi semakin besar.


Steven hanya diam, mendengarkan kemarahan mertuanya yang berteriak kesal. Stev hanya meminta maaf jika dia lupa.


"Sayang, jangan tertawa terus. Mami lagi marah, karena terlalu heboh di rumah sampai lupa sama Mami." Stev mengaruk kepalanya.


Sesampainya di rumah sakit Windy langsung berjalan bersama Steven ke dokter kandungan, Stev juga sudah membuat janji jadinya mereka tidak perlu menunggu.


Senyuman Windy terlihat menatap Erik sudah menunggunya, melihat Windy datang Erik langsung melangkah mendekatinya langsung mempersilahkan.


"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tatapan Windy tajam, Erik hanya tersenyum saja tidak memberikan jawaban.

__ADS_1


"Kamu tidak mendengar kak Windy bertanya?"


"Iya Erik dengar, hanya main-main saja. Mendengar kabar kak Windy ke sini jadinya Erik juga menunggu sekalian ingin melihat anak kak Win." Senyuman Erik terlihat melangkah bersama Windy dan Stev.


"Kamu ingin menjadi dokter, belajar yang giat cepat ambil jurusan kedokteran. Kamu sebenarnya anak yang jenius Erik, kak Windy tahu banyak sikap karakter kamu. Mulai saat ini harus punya pandangan masa depan, jangan mengikuti sesuatu yang tidak ada dalam kemampuan kamu." Tangan Windy langsung memeluk lengan Erik yang hanya tersenyum saja.


"Menurut kak Windy Erik cocok tidak menjadi dokter? seandainya cocok bagusnya menjadi dokter apa?"


"Kandungan mau?"


"Jangan kandungan, nanti otak Erik traveling melihat punya orang." Suara Erik tertawa terdengar.


Windy langsung memukuli Erik, meminta pulang saja karena membuat kesal.


Erik langsung pamit pulang, Steven menatap tajam membiarkan Windy masuk lebih dulu.


"Ternyata dia sudah menjadi dokter termuda, atau baru sekolah kedokteran. Keluarga ini memang memiliki bibit yang unggul, Erik juga memiliki kepintaran di atas rata-rata. Ayahnya abdi negara, ibunya koki terkenal sedangkan dia dokter termuda masih menunggu kabar adiknya menjadi apa?" Stev langsung masuk ke dalam ruangan dokter kandungan.


Senyuman dokter terlihat menatap bule tampan yang menemani istrinya, Windy sudah menunjukkan hasil tesnya.


Mata Windy langsung menatap sinis, tidak menyukai ada yang tersenyum menatap suaminya.


Dokter menyentuh perut Windy, mempertanyakan kapan terakhir Windy halangan.


"Tidak tahu, Windy tidak menghitungnya."


"Biasanya ayah bayi paling tahu, menurut bapak kapan terakhir kalian libur berhubungan?" Dokter Nana menatap Stev yang sedang berpikir.


"Emh, mungkin bulan kemarin, kemarin lagi." Steven juga binggung dia tidak memperhatikan, juga tidak terburu-buru setelah melihat Windy keguguran.


"Istri saya pernah keguguran dok, beberapa bulan yang lalu. Kami tidak terlalu terburu-buru karena takutnya masih terlalu dini." Stev menjelaskan mereka juga tidak mengetahui jika istrinya sedang hamil.


"Memangnya dokter sebelumnya melarang cepat hamil? setelah dua minggu keguguran jika tidak ada masalah dan masuk masa subur juga hal baik untuk tidak menunda." Dokter langsung melakukan USG karena perut Windy sudah terlihat.


"Tidak ada larangan, tapi saya mengkhawatirkan istri saya. Dia yang mengandung dan merasakan sakit." Stev menatap Windy yang tersenyum, baru tahu alasan Stev jarang berhubungan jika tidak Windy yang meminta.


"Suami yang pengertian, insyaallah kabar baik untuk kalian berdua. Perhatikan layarnya." Senyuman dokter terlihat menatap wajah Stev yang kebingungan.

__ADS_1


Pintu terbuka kuat, Windy, Steven dan dokter Nana terkejut langsung melihat ke arah pintu.


"Mbak Reva?"


"Bagus Na, Lo yang menangani anak gue, menantu kurang ajar satu ini, bisa kamu ya Stev meninggalkan Mami." Reva bertolak pinggang meluapkan kemarahannya.


"Maaf Mom, namanya juga lupa."


"Reva stop! ini rumah sakit kecilkan suara kamu. Bisa tidak satu hari saja kamu tidak membuat masalah?" Dokter Nana mengusap dadanya, tidak memperhatikan nama Windy yang ternyata putrinya wanita pembuat masalah.


"Tidak bisa Na, karena aku memang sumber masalah."


Windy tertawa melihat Maminya, Nana juga tertawa melihat Reva yang mengakui siapa dirinya.


"Bagaimana keadaan kandungan Windy?"


"Dengarkan aku jangan dipotong." Dokter Nana juga meminta Steven memperhatikan.


Kandungan Windy sudah terlihat nampak, dokter memperkirakan kandungan sudah lebih dari delapan minggu.


Steven cukup kaget, menjelaskan jika Windy sempat bermain permainan ekstrim, bahkan lari-larian.


Dokter tidak mempermasalahkan, untuk saat ini kandungan Windy aman. Dokter menyarankan agar Windy lebih berhati-hati, dokter melihat ada sesuatu yang aneh, tapi belum bisa memastikan karena kandungan masih kecil.


"Jangan kelelahan, minuman dan makan makanan yang sehat, satu lagi kemungkinan Windy rawan keguguran, karena pernah mengalami pendarahan cukup parah. Jaga baik-baik Windy kandungan kamu, tiga minggu lagi kita bertemu saya tidak ingin mendengar kabar kandungan lemah." Dokter Nana menuliskan resep kepada Windy.


Senyuman Windy terlihat, dia sangat santai menanggapi ucapan dokter. Berbeda dengan Steven yang tegang, langsung terlihat panik.


Reva juga tidak begitu nyaman, khawatir dengan ucapan dokter. Cukup sekali Stev dan Windy kehilangan, tidak ingin terulang kembali.


Selesai periksa ke dokter Windy mengucapkan terima kasih, Reva dan Stev masih belum tenang sampai Windy menyakinkan jika dia bisa menjaga anaknya.


"Terima kasih dokter, kami minta tolong bantuannya sampai Windy melahirkan." Stev menundukkan kepalanya melangkah keluar bersama Windy.


"Menantu kamu lembut dan penyayang." Dokter Nana tersenyum menatap Reva yang keluar.


***

__ADS_1


UP LAGI GIRING SAMPAI TAMAT BULAN INU.


__ADS_2