
Langkah kaki Winda pelan masuk ke dalam kamar Ummi, tapi orang yang dia cari tidak terlihat.
Winda melihat sebuah kotak, langsung membukanya foto Ar kecil juga foto mantan suaminya.
Suara Winda teriak terdengar, sungguh tidak bisa Winda percaya langsung berkeliling mencari Mami yang ternyata tidak ada di rumah.
"Di mana nenek peot satu ini?"
Winda langsung keluar lagi, masuk ke dalam mobilnya menuju kediaman Arlando. Ada rasa was-was karena tidak izin dengan Ar terlebih dahulu.
Winda sangat berharap Ar tidak mengetahui kepergiannya, tidak membuat keributan lagi.
"Aduh, izin apa tidak?" Winda menggaruk kepalanya.
Akhirnya dengan terpaksa Winda mengabari Ar jika dia pergi ke rumah Arlando, karena ada urusan penting.
Karena sedang meeting, Ar tidak menghidupkan ponselnya sehingga tidak mengetahui apa yang istrinya lakukan.
Sesampainya di rumah Arlando, Winda mendengar pertengkaran Ummi dan Josua. Suara keduanya sama-sama tinggi sampai keluar kamar.
"Winda, kenapa kamu di sini?" Joseph kebingungan, melihat pertengkaran kakaknya
Jari telunjuk Winda berada di bibir, meminta Joseph diam. Menunggu sampai pertengkaran keduanya berakhir.
"Ceraikan aku Josua."
"Tidak."
"Bukannya kamu ingin membunuhku, sampai meminta Joseph untuk menculik aku." Suara tinggi Liza terdengar membentak pria di kursi roda.
"Iya tentu aku ingin membunuh kamu, lihat apa yang kamu lakukan kepada adikku. Dia koma Liza, seandainya kamu tidak melibatkan dia, mungkin dia tidak tergeletak di sana. Siapa yang ingin bertanggung jawab? Winda, kamu atau Riska. Aku hampir gila mengurus perusahaan, sedangkan kamu membuat masalah." Suara teriakan marah terdengar, suara tangisan terdengar.
"Aku dan Ranty hanya ingin membantu perusahaan kamu, jika Ranty menikah dengan Ar setidaknya meringankan masalah perusahaan, kamu juga tahu betapa sulitnya aku bertemu Ar." Tangisan semakin pecah.
Josua meminta Liza keluar, bukan hanya kakinya yang mati rasa sebentar lagi otaknya ikutan mati.
"Keluar Liza, cepat keluar sebelum aku emosi."
"Kamu sudah dari tadi emosi bodoh, kamu pikir memangnya dari tadi sedang bernyanyi."
"Keluar Eliza! keluar sekarang."
"Iya sabar, kenapa teriak-teriak nanti darah tinggi? Ranty semakin koma mendengar suara kamu."
"Wanita sialan."
"Laki-laki brengsek, ayo kita cerai." Suara langkah kaki berlari terdengar, langsung keluar kamar sambil membanting pintu.
__ADS_1
"Josua brengsek." Wajah Mami terkejut melihat Winda mendengar semua percakapan mereka.
"Winda, kamu ...."
Winda menunjukkan surat nikah, tenyata selama ini Ummi Ar tinggal bersama Josua, karena mereka sudah menikah. Josua beragama Islam sejak dirinya ingin menikahi Reva, tapi batal sebelum Reva tahu perasaannya.
"Mami jika Ar tahu bagaimana?" Wajah Winda binggung, Mami lebih binggung lagi.
Winda langsung melangkah mengikuti Mami, meminta penjelasan soal hubungan dengan keluarga Arlando.
"Mami sejak kapan menikah dengan Josua?"
"Mungkin delapan tahun, dia memaksa untuk menikah. Mami yang tidak punya pilihan terpaksa juga menerimanya." Tatapan sinis wanita yang ada di depan Winda memang selalu menarik emosi.
"Mami punya anak?"
"Punya, kamu ingin melihatnya? Jackson."
Winda menepuk jidat melihat bocah tampan seumuran Wira, dia sangat mirip Papinya. Winda juga ingin tertawa, ternyata Ar memiliki seorang adik.
"Jack perkenalkan, dia Winda. Kamu bisa memanggil wanita ular."
"Mami, kecilkan suara mami, aunty Ranty masih sakit."
"Kamu seharusnya menasehati papi kamu yang mulutnya mirip singa suka meraung."
"Bukan urusan kamu, sana kembali ke kamar."
Winda mengerutkan keningnya melihat Maminya yang terlihat tidak menyayangi Jacky, hati Winda merasakan sakit.
"Kenapa Mami tidak mencintai Jack?"
"Mami sayang Jack, tapi aku tidak mencintai Papinya. Sejak Jack lahir aku sudah minta cerai, tapi Josua selalu menghalangi aku untuk pergi. Jack tidak sama dengan putra pertamaku."
"Setiap anak berbeda mi, mereka punya keistimewaan masing-masing. Jangan karena tidak mencintai Papinya lalu mengabaikan dia, Jack dan anak sebelumnya tidak mungkin sama. Mami tidak merasa bersalah terhadap Ar, lalu kenapa menyakiti Jack juga?"
"Winda, aku sudah meminta dia untuk pergi bersama, tapi Jack lebih memilih Papinya."
"Mami, seorang anak tidak bisa memilih untuk bersama ayah atau ibunya, mereka ingin keduanya. Kenapa banyak orangtuanya menghindari perceraian, karena anak Mi. Mereka membutuhkan keduanya." Winda menatap kesal, air mata Mami menetes langsung melangkah pergi ke kamar putranya.
Josua tersenyum melihat Winda, langsung melangkah pergi meminta Winda kembali menjelaskan kepada Ar soal ummi.
"Ini sungguh mengejutkan, tapi aku percaya Papi ayah yang baik untuk Jack sehingga dia sangat dewasa. Winda mempunyai keponakan seumuran Jack, dia anak yang sangat nakal."
"Dia sangat beruntung Win, memiliki orang tua yang mencintainya. Aku ingin memberikan keluarga yang lengkap untuk Jack, meskipun sulit sekali mempertahankan Maminya." Senyuman Josua terlihat.
Ketidaksempurnaan dirinya tidak bisa mendampingi Jack pergi ke sekolah, bertemu dengan wali murid. Joseph orang yang selalu mengantikan dirinya.
__ADS_1
"Jack tidak dekat dengan Maminya, karena Liza yang sangat keras. Aku ingin hidup lama hanya untuk melihat putraku tumbuh menjadi anak yang baik."
"Semangat papi, Winda akan mendukung. Percayalah sebenarnya mami wanita baik, tapi sikap bar-bar dia sulit hilang, lupa umur jika sudah tua." Winda tertawa melihat Josua juga tertawa.
Winda melihat ponselnya, pesan sudah dibaca, tapi tidak ada balasan.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun." Winda teriak kuat.
"Siapa yang meninggal Win?"
"Handphone Winda meninggal, niatnya menyadap ponsel Ar, tapi kebalikan. Ar bisa mendengar pembicaraan juga keberadaan Winda." Winda langsung terjatuh berpura-pura pingsan.
Ar sudah berdiri di depan Josua, tatapan keduanya sama tajamnya. Winda langsung merangkak bersembunyi di balik sofa.
"Silahkan masuk Ar, kamu ingin bertemu Winda atau Mami kamu?" Josua tertawa melihat Winda yang memukul ponselnya.
Winda melupakan jika suaminya lelaki jenius yang dengan mudah bisa melacaknya, niat busuk Winda menyadap menjadi senjata makan Tuan.
"Keluar Winda." Ar menatap Winda yang hanya nyengir kuda.
"Di mana Mami Ar ingin bicara?"
Josua meminta bawahnya untuk memanggil Liza di kamar putranya, Mami kaget melihat Ar langsung putar arah balik lagi.
Jackson berjalan ke arah Ar, menundukkan kepalanya memberikan salam sambil memperkenalkan diri.
"Hai kakak, aku Jackson Arlando. Salam kenal."
"Hai Jack, aku Armand Prasetya." Ar menyambut jabatan tangan Jack.
"Kakak keluarga Prasetya, mereka pengusaha semua. Jack sering membaca artikel tentang keturunan mereka, baru-baru ini salah satu keluarga Prasetya menikahi Putri Bramasta yang juga terkenal." Jack tersenyum menunjukkan artikelnya, dia banyak belajar dari internet.
"Kenapa wajah Winda tidak terlihat, putri Bramasta ini." Winda tersenyum, langsung diam melihat suaminya.
Ar tersenyum mengusap kepala Ar, langsung mendekati maminya. Air mata Ar rasanya ingin menetes, langsung berlutut.
"Ummi maafkan ibunya Ar yang mencelakai putra kesayangannya Ummi, Ar juga minta maaf tidak bisa menolong Ummi sepuluh tahun yang lalu, Ar juga minta maaf untuk semua rasa sakit Ummi. Ar sayang Ummi, sangat menghormati Ummi. Maafkan Ar yang gagal menjadi putra kebanggaan Ummi." Ar mencium kaki ummi sambil tersenyum.
"Ummi yang minta maaf Ar, maafkan ummi."
"Jaga adik Ar, cintai dia karena Jack anak yang sangat pintar." Ar memeluk umminya.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN TAMBAH FAVORIT
FOLLOW IG VHIAAZAIRA
__ADS_1