
Sudah satu minggu pernikahan Windy dan Steven, tinggal di Indonesia memang nyaman, tapi Steven juga merindukan pekerjaan yang sudah lama dia tinggalkan.
Bima menyadari kegelisahan Steven, dia tidak ingin berbicara karena tahu betapa beratnya Reva jauh dari Windy, Stev juga tidak bisa meninggalkan Windy.
"Steven ikut Papi ke peternakan."
"Oke kak Bim." Steven tertawa melihat tatapan Bima yang sangat lembut.
Steven menyetir mobil bersama mertuanya menuju peternakan terbesar, Stev tidak mengerti kenapa orang sukses dan sibuk seperti Bima masih punya waktu untuk berkunjung ke tempat peternakan.
"Kak Bim kenapa tidak ke kantor saja?"
"Memangnya kenapa?"
"Bau kak, Stev dari dulu tidak suka bau busuk."
Bima tertawa, jangankan Steven tidak ada orang yang menyukai bau busuk.
"Berada di kantor membuat kepala pusing, membuat cepat tua, tapi melihat alam lebih segar."
"Stev pikir kak Bima ada kelainan, orang menyukai wanita seksi, kak Bim menyukai kerbau berbodi." Steven tertawa lucu.
Bima hanya tersenyum saja, bagi Bima wanita cantik tidak akan ada habisnya. Tidak ada manusia yang sempurna, kemarin, hari ini dan besok cukup dijalanin sesuai batas kemampuan.
Jangan mengejar yang lebih, karena dia akan datang. Jangan terlalu terobsesi sesuatu jika memberatkan.
"Steven, kamu tahu jika cinta sebenarnya bisa berubah. Jika hari ini kamu sangat mencintai mungkin besok cinta akan berkurang, terus berkurang sampai akhirnya menemukan cinta baru."
"Steven tidak ingin membayangkannya."
"Semuanya bisa berubah, tergantung kamu ingin memilih yang mana. Suatu hari kamu akan menyadari perubahan dari waktu ke waktu pernikahan kalian, Papi berharap kamu bisa bertahan juga mempertahankan."
"Steven akan berjuang bertahan dan mempertahankan, menerima baik buruknya pasangan." Stev tersenyum melihat foto keluarga tergantung di mobil Bima.
Bima menyentuh gantungan, melihat keluarga kecilnya yang sangat bahagia.
"Dulu di sini hanya ada Windy, beberapa tahun kemudian ada Reva berdua dengan Windy, lalu berganti foto Reva, Windy dan dua bayi mungil. Setiap tahun Reva mengantikan dengan foto baru." Bima tersenyum.
"Kenapa sekarang ada foto kak Bima?" Stev menatap ke arah Bima.
"Saat Winda sudah lancar bicara, matanya selalu menatap bingkai ini. Saat Reva bertanya dia hanya menggelengkan kepalanya. Setiap hari dia melihat mobil hanya untuk mengecek foto."
"Dia mencari foto kak Bima?"
"Iya, dia menunggu sampai foto berubah menjadi aku, Reva, Windy, Wildan dan Winda. Teriak kebahagiaan Winda pertama kali saat Reva memasang foto lengkap."
Steven tersenyum, tidak heran Winda sangat menyayangi keluarganya. Sejak kecil Winda hanya ingin keluarga utuh.
__ADS_1
"Stev, kedua putriku memiliki karakter yang sangat berbeda jauh. Windy wanita lembut, dewasa, baik hati, juga sangat setia dengan apapun yang dia miliki sangat berbeda dengan Winda, dia keras kepala, sulit diatur, tegas, juga pendendam, berisik sekali."
"Mereka berdua memiliki kelebihan masing-masing kak, Windy memang baik, tapi aku juga yakin saat Winda besar dia akan menjadi wanita baik."
"Kamu tahu barusan terjadi, Winda membunuh satu kolam ikan orang. Semua ikan dia racun, Winda tidak memiliki kelembutan."
"Serius kak? dia marah karena apa?"
"Reva meminta maid baru menggoreng ikan, tidak sengaja menangkap ikan Winda, jadinya semua ikan dia bunuh."
"Astaghfirullah Al azim, mengerikan sekali Winda."
"Dia tidak menangis, tapi lanjut main lagi. Sikap Winda sebenarnya tertutup dia pintar menutupi kesedihan."
Steven menatap Bima, sebenarnya Reva juga orang yang sama seperti Winda. Saat kuliah karya Reva desain dicoret seseorang yang tidak sengaja terjatuh, Reva tidak marah, tapi menghancurkan karyanya menghilang dari kampus hampir satu minggu.
"Kamu pasti sedang berpikir jika Winda sama dengan Reva?" Bima tersenyum.
"Iya kak Bima, bukannya mereka mirip."
"Aku harus menghadapi dua wanita yang memiliki karakter keras, menguatkan hati mengubah masalah menjadi pelajaran."
"Steven yakin kak Bima orang yang hebat bisa mengendalikan keduanya."
"Makanya Stev, aku minta kamu melindungi Windy, mencintai, menyayangi, memprioritaskan lebih dari aku. Kamu lebih berhak atas Windy daripada aku, Papi mohon jaga dia terutama hatinya yang lembut, jika tergores lagi sembuhnya lama, cukup dia menderita kehilangan kamu."
"Selama Steven bernafas, Stev pastikan Windy bahagia." Steven tersenyum yakin dengan dirinya.
"Dulu Stev nakal."
"Kamu berhati-hatilah Stev, kenakalan kamu akan turun kepada anak kamu. Masih ingat lelahnya aku mengurus kamu, syukurnya dulu masih muda, jika sekarang rontok semua tulang."
"Iya maaf, terima kasih Papi sudah datang demi Stev yang tidak berguna ini." Steven menahan sedih melihat tangan yang sama selalu mengusap punggungnya.
"Tangan kak Bima tidak berotot seperti saat muda, dulu Stev pikir preman."
"Yang kamu lihat Bisma, saat berpapasan kamu berlari langsung dikejar, Bisma berpikir kamu pencuri."
Steven dan Bima tertawa lucu, jika ada Bisma pasti dia marah karena salah paham.
"Kembalilah bersama Windy, jangan lupa jika disini juga rumah kalian."
Steven menatap Bima saat mobil sudah berhenti di peternakan, langsung menyusul keluar.
"Steven ingin bekerja lagi kak Bim?"
"Bekerjalah, menjadi suami yang bertanggung jawab, luangkan waktu untuk keluarga." Bima berjalan menyusuri jalan kecil bersama Steven.
__ADS_1
"Steven janji akan sering pulang, setiap ada acara penting keluarga Stev akan menyempatkan diri."
"Iya Steven, kamu boleh pergi bersama putriku. Aku tahu dia tidak bisa jauh dari Mami Nya."
"Bukan Mami yang tidak bisa jauh."
"Dua-duanya."
Steven tertawa, melangkah mundur menolak untuk masuk. Bima menarik Steven untuk berkenalan dengan pengurus peternakan.
"Busuk." Steven menutup hidungnya.
Steven melihat banyaknya karyawan yang bekerja, melihat Bima langsung menundukkan kepalanya.
"Wow, apa semua yang berkerja di sini orang asli?" Stev menatap kagum.
"Tentu kita orang asli, tidak mungkin hantu. Dasar bule aneh."
"Maafkan menantu saya, Steven bukan membahas hantu, tapi warga asli."
"Oh, dia menantu kamu Bima, tampan juga bule."
"Dia bule Palsu, rambut sengaja diwarnai, putihnya pasti disuntik." Seseorang menyindir Steven
Steven hanya tertawa, akhirnya ada orang yang tidak mengaguminya setidaknya ada perubahan.
Sampai sore Bima dan Steven baru pulang, sepanjang perjalanan mengobrol banyak hal.
Steven selalu tertawa lepas, pria dingin seperti mertuanya memang hanya bisa mengobrol hal serius, jarang tertawa lepas sangat cocok dengan Rama, sedangkan Steven lebih cocok dengan Bisma.
"Papi, bukannya itu kak Bisma?" Steven membuka jendela, melihat Bisma bersama wanita seksi.
"Astaghfirullah Al azim, kak Bisma mencari masalah." Stev menatap tajam.
"Jangan salah paham dulu, selidiki apa tanya langsung." Bima menatap Bisma yang menggaruk kepalanya.
Steven langsung tertawa melihat di balik pintu restoran ada Bella yang acak-acakan, Billa menundukkan kepalanya, tidak lama Vira keluar bersama Winda.
Bima sudah berlari keluar mobil, rencana membeli minum langsung dibatalkan.
"Ada apa Bisma?"
"Jangan bertanya kak, pusing kepala Bisma. Steven jangan tertawa." Bisma menatap tajam.
"Lucu."
"Aku sumpah kamu memiliki anak nakal seperti mereka, kalau bisa kembar lima." Bisma meminta dua putrinya masuk mobil.
__ADS_1
Winda mengedipkan matanya kepada Steven yang tersenyum.
***