
Hari H tiba, keluarga besar Reva sudah berdatangan ke hotel, masuk ke dalam kamar masing-masing. Reva juga sudah berada di dalam kamarnya.
Dari pagi Reva sudah sangat gelisah, ibunya Reva duduk di dekat Reva yang masih menatap keluar jendela.
"Kamu takut nak,"
"Iya Bu, jantung Reva berdegup kencang. Pernikahan yang indah terasa menakutkan. Langkah kami berdiri di pelaminan sangat sulit."
"Anak ibu yang kuat, kamu harus tersenyum apapun yang terjadi menjadi rahasia Allah. Kita hanya bisa berdoa memohon yang terbaik."
"Iya Bu, terimakasih ibu merestui Reva menikahi lelaki impian Reva."
"Jika kamu bahagia, menjadi kebahagiaan orangtua nak."
"Doakan Reva menjadi istri dan ibu yang baik, selalu mendampingi suami dalam suka dan duka."
"Amin ya Allah, doa setia orang tua melihat anak-anak hidup bahagia."
"Ayo tersenyum, nanti Ratna datang. Dia sudah seharian bersedih karena kamu akan menikah, tunjukan kepada adik-adik kamu, pernikahan ini sangat membuat kamu bahagia."
"Ibu percaya sama Ratna, dia hanya mengincar barang-barang limited edition milik Reva." Ibu dan Reva langsung tertawa, mereka sangat mengenal Ratna. Bahkan pernah memalak Bima demi mendapatkan tas bermerek.
Beberapa tukang rias sudah datang, ibu langsung pamit keluar. Canda dan tawa terus terlontar dari tim Reva yang bertugas mendadani Reva.
Viana masuk ke kamar pengantin melihat Reva yang tertawa bahagia, wajah cantik Reva juga sudah di poles. Viana mengawasi proses menghias wajah Reva.
"Kak Vi lihat ini." Reva yang sedang dihias memperlihatkan foto pernikahan Jum beberapa bulan yang lalu, Viana dan Reva tertawa lucu.
Pintu diketuk Jum juga datang, cepat dia masuk melihat Vi dan Va sudah tertawa.
"Masya Allah cantiknya calon pengganti."
"Kak Jum, kalau Reva jelek mereka semua Reva pecat."
"jangan salahkan yang dandan, jika yang didandani memang jelek." Lisa tertawa membuat Jum kesal.
"Setiap yang dandan karena ingin terlihat cantik, jika hasilnya tidak bagus sia-sia keluar duit. Berarti yang tukang dandan tidak pantas menjadi tukang rias." Viana menimpali dengan sengit.
__ADS_1
"Kak Reva di dandan atau tidak memang sudah cantik, karena kecantikan sesungguhnya dari hati."
"Lilis memang terbaik,"
Setelah berdandan untuk ijab qobul selesai, Reva Viana dan Jum berkumpul. Yang lainnya langsung keluar, ketiganya saling tatap dan tersenyum tipis.
"Reva kak Vi, perasaan Jum tidak enak. Jantung Jum berdegup kencang."
"Lo sudah menikah Jum, mengapa masih jantungan. Reva yang panik, coba rasakan tangan Reva dingin."
"Jum, sudah isi belum."
"Belum kak Vi,"
"Nanti juga duluan Reva, mau terus dipompa sampai endut perutnya."
"Awas saja," Jum melenguh kesal.
Di dalam kamarnya Bima juga duduk diam, bapak masuk dan cepat Bima mencium tangan calon mertuanya.
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Jadikan kami orangtua kamu nak, bapak bangga mempunyai menantu baik seperti kamu."
"Bima yang beruntung bisa menjadi bagian dari keluar bapak."
"Bima, jaga Reva setelah kalian menikah, bapak lepas tanggung jawab. Bapak mempercayakan kebahagiaan Reva pada kamu.
"Pasti pak, doakan Bima bisa menjadi suami yang memberikan contoh yang baik untuk anak dan istri." Bima dan bapak mengaminkan semua doa baik Bima.
Jantung Reva berdegup kencang saat melihat Bima dari layar akan melakukan ijab qobul, di depan penghulu dan juga bapaknya.
Keluarga sudah berkumpul untuk segera memulai acara, Bima menarik nafas dalam-dalam. Dari jauh Bima melihat Windy yang tersenyum, menyemangatinya. Bisma juga melihat malaikat kecil Bima yang melipat tangannya terus memberikan Papi semangat, air mata Bisma menetes.
"Brit, kamu bodoh banget meninggalkan Bima, lihatlah putri kecil kamu dia akan bahagia ditangan Reva." Batin Bisma dalam hati.
Bima menyambut tangan bapak Reva, suara bapak Reva mengucapakan sangat lantang. Langsung di sambut Bima sangat sekali tarikan.
__ADS_1
"Saya terima nikah dan kawinnya Reva Pratiwi...." Bima menyelesaikan ijab qobul hanya sekali ucap, sampai seluruh saksi mengatakan SAH.
Reva yang masih di dalam kamar tersenyum haru, perlahan Reva ingin menangis tapi Jum mengingatkan soal make up.
"Selamat ya Va, sekarang sudah menjadi istri dari Bima Bramasta, sudah tidak menjadi Om Duren lagi." Jum tersenyum memeluk Reva.
"Selamat ya, sekarang kita sah menjadi Tri istri." Viana memeluk dua wanita yang sudah seperti adik baginya.
Acara ijab qobul lancar, bukan berarti tidak ada masalah. Ammar yang menjaga keamanan sudah bertahan menghentikan kekacauan sampai Bima menyelesaikan ijab qobul.
Bisma langsung berlari menemui Ammar yang sudah menahan para pengacau, beberapa pemuda dikirim untuk menghancurkan pernikahan Bima Reva, tapi mereka gagal masuk karena keamanan yang Ammar lakukan sangat ketat. Tapi seketat apapun Ammar identitas Reva sebagai desainer muda, juga Bima duda sukses tersorot kamera.
"Bisma kabarin Bima soal ini!"
"kamu coba mengulur waktu, sampai pemasangan cincin. Jangan sampai pernikahan kakak aku kacau."
"Cepatlah! aku sudah mati-mati menangkap orang, tapi menangkap kamera mana bisa." Ammar teriak kesal, sedangkan Bisma sudah berlari.
Reva keluar dari kamar menuju tempat Bima menunggu, kabar kekacauan di luar sudah Bima dengar. Beberapa orang kepercayaannya juga sudah menyebar membantu Ammar, Rama juga sudah mengirim orang untuk menjaga keamanan keluar.
Bima tersenyum melihat Reva yang sangat cantik, kebaya putih terjuntai panjang mempercantik dirinya dengan balutan hijab. Bima tidak perduli dengan kekacauan, pemandangan dihadapannya terlalu indah. Wanita yang selalu mengejar cintanya sekarang sah menjadi istrinya.
"Bima, cepatlah! nanti mata kamu keluar memandangi Reva." Bisma kesal, orang lagi cemas sedangkan Bima masih tersenyum.
Tangan Bima meraih tangan Reva, senyum bahagia terlihat dari keduanya. Ratna mengambilkan cincin dan memberikannya kepada Bima, dan langsung memasangkannya ke jari manis Reva, lalu mencium keningnya. Reva juga memasangkan cincin ke jari manis Bima.
Tangan Bima berada di kepala Reva melantunkan doa kebahagiaan untuk rumah tangganya, setiap doa Bima selalu diaminkan oleh Reva. Mendengar doa Bima Reva tidak bisa menahan air matanya, sebuah kebanggaan untuk Reva mendapatkan mas kawin bacaan ayat suci Al Qur'an surat Ar Rahman, juga seperangkat alat sholat yang harus selalu Reva gunakan untuk berdoa dihadapan Allah.
"Alhamdulillah ya Allah, engkau persatuan hamba dengan lelaki yang Sholeh, yang selalu mengingatkan hamba untuk terus bersyukur."
"Ya Allah sebuah rezeki yang tidak pernah ternilai, engkau ciptakan seorang wanita yang bersedia menerima setiap kekurangan hamba," Bima memeluk Reva penuh kelembutan.
Bisma menarik baju Bima agar selesai dramanya, anak-anak juga sudah di bawa ketempat yang aman. Bima membisikkan sesuatu kepada Reva, yang membuatnya melotot.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***