
Acara syukuran tujuh bulan kehamilan Reva, dilaksanakan di kediaman orangtuanya, Jum juga sedang pergi ke Desa keluarganya untuk melakukan acara tujuh bulanan dengan adat masing-masing.
Keluarga besar Viana juga tidak bisa hadir karena harus pergi ke luar Negeri untuk acara pernikahan adiknya Verrel dan Sisi. Keduanya melakukan pesta pernikahan di luar Negeri atas permintaan Mami Vi, sehingga Tri istri berpisah.
Septi dan Ammar juga tidak hadir baik acara Reva maupun acara Bisma, Karena sedang liburan bulan madu bersama dengan Erik.
Reva tersenyum sambil mengelus perutnya, sebentar lagi dia akan menyambut kehadiran putra dan putrinya.
"Apa yang kamu pikirkan sayang, sebaiknya tidur karena kamu capek dengan banyaknya acara hari ini."
"Reva bahagia Ayy, lihatlah kita semua memiliki kebahagiaan masing-masing."
"Iya sayang, semoga kebahagiaan ini abadi selamanya. Kita juga berjodoh sampai maut memisahkan."
"Amin ya Allah."
Bima juga sangat bahagia, memiliki seorang Reva ya g berhati lembut, penuh kasih sayang, wanita kuat, mandiri juga sangat keibuan. Tidak pernah Bima bayangan akan ada di masa dia akan menikahi seorang wanita muda yang berpikir dewasa, wanita kecil, cerewet, berisik tapi akan menjadi ibu untuk anak-anaknya.
Dunia sangat adil jika kita menyadarinya, jodoh cerminan diri ada baik dan buruknya, ada kurang dan lebihnya, perbedaan akan selalu ada, perdebatan akan tetap terjadi.
Bima sangat mensyukuri nikmat yang Allah berikan, istri dan anak-anaknya harta yang paling berharga untuknya. Mendengar ucapan Reva ingin anaknya hidup merakyat, tidak berfoya-foya dengan harta yang orang tuanya miliki, Reva ingin anak-anak seperti dirinya dahulu, bekerja dan pandai menghargai, waktu, uang, tenaga, juga kesempatan.
"Reva, terima sudah menjadi wanita paling sempurna dalam hidupku. Jika suatu hari aku marah, tegur Ayy ya Va, ingatkan Ayy jika sangat mencintai kamu."
"Terima kasih sudah menjadi suami dan Papi yang baik untuk kami, jika suatu hari Reva lalai dalam kewajiban sebagai ibu dan istri, ingatkan Reva perjuangan untuk bisa memiliki Ayy."
Bima memeluk Reva, untuk berpelukan di depan sangat sulit untuk Bima dan Reva karena bulatan besar di perut Reva sedang menjadi penghalang, jadinya Bima hanya bisa memeluk istrinya dari belakang, tubuh Reva juga sudah gemuk, terutama bagian dada, perut, bokongnya.
"Reva gemuk ya Ayy?"
"Tidak masalah sayang, yang terpenting kamu sehat."
"Ayy jangan melirik perempuan lain, Reva gemuk karena Ayy."
"Iya sayang, ini salah Ayy."
__ADS_1
"Reva lapar, pengen makan marajengjeng." Reva langsung menutup mulutnya, Bima tidak suka dengan makanan yang Reva sebut.
Langkah kaki Reva mencari makanan di dapur sisa acara tadi siang, Windy juga berdiri di dapur karena lapar.
"Mami Windy lapar."
"Tunggu di meja ya sayang, Mami siapkan dulu."
"Biar Papi saja, Mami juga duduk."
Reva ingin sekali menolak, dia ingin makan sesuatu tapi akhirnya menurut dan duduk di ruang makan bersama Windy.
Bima meletakkan piring Windy dengan ayam goreng juga semur daging, Bima meletakkan piring Reva juga beberapa makanan lainnya, dan semangkok marajengjeng.
"Reva bisa makan sendiri, Windy tidak suka bau ini." Reva menunjukkan mangkok.
"Siapa bilang Mami, kemarin nenek mengantarkan semur marajengjeng tapi habis, lupa menyisakan untuk mami." Windy ikut menyendok yang ada di mangkok dan memakannya. Reva langsung menopang dagunya, tersenyum melihat Windy.
Bima meminta Reva membuka mulutnya, sendok makan dimasukkan ke dalam mulut Reva. Bima juga ikut makan satu piring, senyuman Reva terus terlihat memandangi Windy tanpa sadar jika Bima juga memakan yang ada di mangkok.
"Ayo makan Bu." Bima menawari mertuanya.
"Lanjut saja nak."
"Enak Nenek, Windy boleh minta lagi. Soal yang dikirim kemarin dihabisi Papi."
Reva langsung tersedak, Bima memberikan minum sambil mengelus punggung Reva.
"Pelan-pelan sayang," Bima khawatir melihat Reva yang menatapnya, ibu Reva menambah semur yang Windy inginkan.
"Ayy makan ini juga?"
"Iya, buatan ibu enak."
"Coba, Reva mau lihat." Dengan wajah semangat Reva melihat Bima memasukan jengkol ke mulutnya, mengunyahnya sampai habis. Reva langsung menepuk tangannya.
__ADS_1
"Ayy saja yang makan ini, Reva suka melihatnya."
"Kenapa suka melihat, Ayy tidak pernah makan khas seperti ini."
"Terus kenapa di makan?"
Saat mengetahui Reva bersedih, Bima meminta tolong ibunya Reva yang memang sengaja ingin berkunjung. Meminta dimasakkan semur jengkol, awalnya saat mencobanya Bima takut, hanya memakan kuahnya tapi ternyata enak. Windy yang penasaran juga ikut mencoba, keduanya perlahan memakan jengkol dan merasakan nyaman, jika disadari saat di masak semur rasanya, baunya hilang karena ditutupi banyaknya bumbu, Bima lupa jika terlalu banyak makan sampai habis dan tidak menunjukkan kepada Reva.
"Ayy minta maaf ya, dulu pernah menolak keinginan kamu."
"Iya Ayy, Reva senang karena Ayy ingin mencobanya." Reva mencium pipi Bima.
"Jangan sedih lagi ya anak Papi, lihatlah Papi sudah memakannya. Awas saja kalian nanti tidak suka." Bima dan Reva tertawa.
Tiba-tiba Reva ingat Jum, langsung melakukan panggilan vC, Jum terlihat sangat bahagia, rumah Jum juga ramai warga kampung, Reva menyapa semuanya. Banyak ucapan selamat dari warga untuk Reva, mendoakan kandungan Reva sehat, Reva juga sehat sampai lahiran, diberikan kemudahan, kelancaran.
Reva berterima kasih, meminta oleh-oleh dari sana yang ternyata memang sudah menyiapkan banyak oleh-oleh makanan khas warga kampung, untuk Reva yang hobi makan. Sebelum Jum pulang, Reva juga menitipkan banyak oleh-oleh untuk warga. Hebatnya Reva bisa mengingat banyaknya orang yang terlibat dalam acara pernikahan.
Ibu Jum juga membawakan minyak urut spesial untuk Reva, jika badannya pegal minta Bima memijitnya dengan minyak, nenek Jum juga membuatnya gelang dari tumbuhan kampung untuk anak Reva dan Bima yang berjenis kelamin putra dan putri.
[Terima kasih semuanya, salam dari Wildan dan Winda. Nenek juga sehat terus, nanti main bersama Bella Billa juga Wildan dan Winda.]
[Iya cu, kamu juga jaga kesehatan harus kuat, nenek dulu juga kembar Lima lancar-luncur." Ibu Jum langsung tertawa, Reva juga ikut tertawa, Jum apalagi, seluruh orang tertawa.
"[Alhamdulillah ya nek, pasti mbak Jambrong yang menolong nenek."] Reva tertawa sambil dirangkul oleh Bima.
[Mbak Reva cocok bicara sama nenek, omongannya tinggi tapi hasilnya nol besar.] Jum menepuk jidatnya.
[Tidak masalah Jum, yang terpenting nenek senang. Kamu pulang nanti hati-hati Jum, kabarin Reva terus.]
[Iya tenang saja, pasti tidak sabar ingin mengambil oleh-oleh.]
[Pastinya, takut oleh-olehnya jatuh. Ayo cepat pulang, Reva besok juga pulang.]
Setelah menyapa Reva memeluk Bima untuk masuk ke kamar, beristirahat dari rasa lelah. Sebelum tidur rutinitas baru Bima membacakan ayat pendek untuk anaknya, mengajaknya berbicara sampai Reva tertidur.
__ADS_1
***