
Winda langsung menangis melihat ikan di air yang jernih. Wildan meminta Winda diam, dia sangat jelek saat menangis.
"Jika buaya yang membawa Kak Stev berarti dia sudah dimakan buaya, lihat itu ikan Winda." Tangan Winda menunjuk ke arah ikan.
Suara seorang wanita terdengar, memanggil nama Maung. Buaya yang sedang berjemur langsung mendekat, menerima makanan dari wanita yang baru datang.
"Maung, pria itu akhirnya mulai berjalan. Dia tidak ingin bicara sampai detik ini, apa yang harus aku lakukan?"
Wildan tersenyum menatap empat wanita yang menutup mulutnya kesenangan, mereka yakin pria yang dimaksudkan Om Steven.
Wildan bersembunyi bersama Vira dan twins, melangkah mengikuti wanita yang menggunakan baju sederhana, masuk ke tengah hutan.
Seorang anak kecil berlari ke arah wanita yang dia panggil Mama, mata Wildan berkedip menatap wajah anak kecil yang tidak asing.
Anak kecil berusia 5 tahun, juga seorang anak remaja berusia belasan tahun. Winda mengerutkan keningnya memonyongkan bibirnya.
"Kak Wil apa yang harus kita lakukan?"
"Mengintai."
Cukup lama Wildan berpikir, Winda langsung berkumpul bersama Vira, Bella Billa. Mereka langsung mengintip keluarga harmonis.
Tatapan mata Winda tajam, melihat seorang pria keluar menggunakan tongkat. Air mata Winda menetes melihat Steven dengan penampilan kurus, wajahnya pucat, rambutnya berantakan, belum lagi jalannya yang sudah tidak normal.
Wildan juga melihat keadaan Steven yang tidak normal, Winda menatap Vira yang memegang kepalanya sedang berpikir.
"Mungkin tidak anak kecil itu anaknya Om Stev?" Bella menunjuk ke arah anak perempuan yang lucu.
"Kenapa Om Stev tidak pulang? apa karena dia sudah memiliki keluarga?" Vira menatap Winda.
"Mungkin tidak Om Stev malu menemui keluarga karena penampilan fisiknya." Billa mengusap air matanya.
"Kak Steven hilang ingatan, dia lupa kita." Winda menatap Steven yang belajar jalan bersama anak lelaki hitam.
Wildan melangkah pergi kembali ke sungai, Winda dak yang lainnya juga ikut balik ke sungai.
Wildan juga binggung harus melakukan apa, semua ucapan kakak adiknya benar, bisa saja Stev hilang ingatan sehingga tidak bisa pulang, atau mungkin Stev tidak ingin pulang karena malu dengan penampilannya.
Di pondok kecil yang sederhana, Steven duduk diam melihat ke langit. Seseorang menyiapkannya makan sambil tersenyum.
"Sudah tiga tahun kamu tidak pernah berbicara, aku tidak tahu siapa nama kamu, apa kamu hilang ingatan, atau bisu."
"Mama papa." Gadis kecil mencium pipi Stev.
"Ada apa sayang? kamu lapar Mama akan temani kamu makan setelah menyuapi papa."
__ADS_1
"Iya Mama Can."
"Ma, biar Mouza yang menyuapi papa."
"Kakak Mou memang baik, Mei ingin makan Mama Can."
Cantika menyerahkan makanan Steven kepada Mouza, anak remaja yang merawat Stev bersama Can.
Stev tidak bisa bergerak selama bertahun-tahun, dia bergerak juga harus dibantu oleh Mou, makan dan mandi juga Mou yang merawatnya.
"Pa, Mou ingin sekali mendengar suara Papa, sejak pertama bertemu Mou tidak tahu siapa papa."
"Pa, Mama Can menemukan Pa di sungai bersama dengan Maung, Mama berpikir Maung membunuh orang, tapi ternyata Maung menyelamatkan Pa dari derasnya arus." Mou menyuapi Steven perlahan.
"Maung Mama temukan saat masih kecil, merawatnya hingga dewasa, Maung sangat menurut dengan Mama hingga dia dewasa."
"Papa pasti bosan mendengar cerita kakak Mouza yang diulang-ulang terus."
"Iya maaf, kak Mouza hanya ingin direspon oleh papa."
"Papa sakit apa? Mei tidak mengerti kenapa papa tidak pernah berbicara."
Can mengusap kepala Mei, papa sakit memiliki trauma yang membuatnya sulit berbicara, bisa makan, minum juga mulai belajar berjalan juga suatu perkembangan yang sangat luar biasa.
Wildan berhasil mendengar percakapan keluarga mengatakan jika Om Stev tidak pernah berbicara, berarti Om Stev bisa saja hilang ingatan sampai mengalami trauma.
"Ikuti caranya Winda." Winda langsung berdiri, memperbaiki penampilannya.
"Apa yang ingin kamu lakukan Winda? kita sebaiknya kembali mengatakan kepada orang tua jika kita bertemu kak Stev."
"Winda tidak akan pulang sebelum bertemu Kak Stev, membawanya pulang bersama kita." Winda melipatkan kedua tangannya.
"Apa yang ingin kita katakan Win? permisi kami tersesat, astaga kak Stev masih hidup. Masa iya kita seperti itu, belum tentu juga kak Stev mengenal kita." Vira menatap Winda.
"Sebaiknya kita pulang seperti ucapan Wildan, mungkin orang dewasa lebih bisa memecahkan masalah ini." Bella meminta persetujuan.
"Tidak mau! Winda akan tetap berada di sini."
"Winda jangan keras kepala." Wildan menarik tangan Winda.
"Bagaimana jika kak Stev lupa kita? sudah tiga tahun Winda menunggu, merayakan ulangtahun tanpa kak Stev, padahal kak Steven pernah janji merayakan ulang tahun bersama, sekarang Winda sudah 10 tahun, sudah besar." Winda menangis sesenggukan.
"Papi pasti punya solusinya."
"Winda tidak mau pulang, ingin bertemu Kak Stev, jika Winda juga merasakan rindu apalagi kak Windy, Kak Wildan tidak mengerti perasaan wanita, karena kakak egois." Winda melepaskan tangannya.
__ADS_1
Wildan menghela nafas, Winda meminta semuanya pulang meninggalkannya sendiri, Winda akan menemui Steven sendirian.
Winda langsung berlari, diikuti oleh Vira, Bella dan Billa. Wildan tidak punya pilihan kecuali mengikuti keinginan adiknya.
Steven sedang duduk santai bersama Cantika, Mei dan Mouza. Mereka sedang membakar ubi untuk makan malam.
"Daddy." Winda menangis berlari ke arah Steven langsung memeluk pinggang Stev.
"Daddy jahat, kenapa meninggalkan kita lama sekali. Daddy Winda rindu."
"Siapa kamu?" Can menatap Winda.
"Anaknya Daddy." Winda menunjukkan foto di handphonenya.
Cantika kaget melihat Steven berfoto bersama Windy dan Winda yang mencium pipinya. Stev juga binggung melihat Winda.
"Daddy." Vira langsung berlari.
"Daddy." Bella dan Billa juga memeluk Steven.
Cantika kebingungan, melihat banyaknya anak kecil yang memanggil Daddy. Mei dan Mouza saling pandang melihat tangisan empat gadis yang memeluk Stev.
"Siapa kalian semua?" Mouza menaikan nada bicaranya.
"Perkenalkan aku Vira, putri pertama." Vira menyalami Mouza.
"Aku Bella, dia adikku Billa."
"Winda Bramasta, adiknya Wildan Bramasta." Winda memeluk Steven yang masih belum merespon.
Wildan berjalan perlahan, mata Wildan dan Steven bertemu. Tatapan mata Wildan menunjukkan kesedihan, dia mengusap wajahnya mencium tangan Steven.
"Kenapa lama sekali, seluruh keluarga bersedih setiap hari menunggu kepulangan Daddy. Apa Daddy melupakan kami, tidak sayang kami lagi? terkadang Wildan selalu bertanya cobaan ini berat sekali, tapi Mami selalu mengatakan, aku kuat, akan akan terus menunggu sampai Ay pulang." Wildan memeluk Steven erat.
"Iya, kak Windy selalu mengatakan akan terus menunggu sampai kapanpun." Winda naik kursi mencium pipi Steven langsung minta digendong.
"Winda." Steven meneteskan air matanya, bibirnya bergetar memegang dadanya.
Cantika tersenyum mendengar suara Steven.
"Daddy mengingat Winda, I love you Om bule." Winda mencium lama, bersamaan dengan air matanya yang menetes.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA
__ADS_1
JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP
***