MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 PERSIAPAN KE BALI


__ADS_3

Sejak Windy hamil mereka tinggal di rumah utama, Stev tidak bisa bekerja karena setiap hari muntah.


Reva dan Bima juga tinggal di rumah utama untuk mengawasi Windy yang tidak bisa diam, belum lagi Stev yang mengalami mual, muntah juga mengidam.


Dari subuh sampai siang Stev baru bisa pulih dan bisa beraktivitas, sedangkan Windy tidak berhenti makan membuat tubuhnya semakin berisi.


"Ay, bangun ayo beli es krim." Windy tidur di atas tubuh Stev yang masih lemas.


"Bentar lagi sayang, kamu istirahat dulu jangan banyak aktivitas." Sentuhan tangan Steven lembut mengusap kepala istrinya yang sangat manja.


Perlahan mata Windy mulai tertutup, kebiasaanya tidur pagi sedangkan malamnya bergadang.


Steven meletakkan Windy di sebelahnya, langsung melangkah turun ranjang untuk langsung mandi dan melihat beberapa pekerjaannya soal perusahan.


Vero tidak bisa terlalu fokus ke perusahaan, karena keadaan istrinya Can yang sedang hamil juga.


"Astaga pernikahan Saka, aku hampir melupakannya karena terlalu fokus dan bahagia karena kehamilan Windy." Steven langsung menghubungi Saka yang menjawab sambil mengomel.


Selesai mandi Steven menemui Reva yang sedang mengobrol bersama Bima, melihat Steven keluar Reva langsung mempersilahkan makan.


"Mam, Pi. Besok Steven pergi ke pernikahannya Saka. Dia akan menikah dua hari lagi, tidak enak jika Stev tidak pergi." Steven mengambil makanan, langsung menyantapnya.


"Bagaimana dengan keadaan kamu morning sickness?"


"Acaranya malam Mi."


"Bagaimana dengan Windy? dia lagi hamil muda tidak aman menggunakan pesawat." Bima menatap Steven yang sedang berpikir.


"Steven hanya dua hari, jadinya Windy tinggal saja demi keamanan dia."


Bima dan Reva hanya menganggukkan kepalanya menyetujui keputusan Steven, dia masih harus bicara dengan Windy.


***


Windy tidak mengizinkan Steven pergi jika tidak dengan dirinya, Bima sudah berusaha untuk bicara pelan, tapi Windy tetap ingin ikut pergi.


"Aku hanya sebentar, hari ini berangkat besoknya pesta selesainya pulang." Steven meminta pengertian Windy

__ADS_1


"Tidak mau."


"Astaga sayang, tidak enak jika tidak hadir kamu tahu sendiri peran Saka dan ayahnya dalam hidup aku, setidaknya hargai kebaikan orang." Stev berbicara pelan, menggenggam tangan Windy. Meminta mengizinkan walau hanya sebentar.


"Kita pergi lewat darat saja, atau lewat air." Tangan Windy memohon.


Reva langsung melangkah pergi, tertawa bersama Bima melihat tingkah Windy. Steven sampai pusing sendiri melihatnya.


Sampai berjam-jam Steven harus membujuk Windy sampai akhirnya kesempatan selesai di tengah, Stev boleh pergi jika Winda, Vira dan Bella Billa ikut.


Tian, Ravi Erik juga ikut, Windy tidak akan membiarkan ada pelakor yang hadir dalam rumah tangganya.


Vira dan Winda sudah joget-joget kesenangan, akhirnya mereka bisa jalan-jalan. Erik dan Ravi yang paling malas karena mereka tidak punya urusan ke sana.


"Ay Windy ikut ya, janji tidak banyak gerak." Windy mencium wajah Stev masih memelas.


"Sayang, masih ingat apa kata dokter. Aku hanya khawatir Windy, lagian kehamilan kamu baru delapan minggu sampai ke minggu empat belas masih rawan sayang." Stev memeluk Windy memintanya mengerti.


"Windy ingin melihat kak Ghina juga, dia juga banyak membantu Windy. Bahkan mereka berdua tidak menikah demi menjaga perasaan Windy." Air mata Windy menetes, teringat kembali betapa beratnya menunggu cinta.


Steven terdiam, Saka dan Ghina ada di dalam cerita perjuangan Steven dan Windy. Keduanya memang tidak memiliki hubungan darah, tapi kebaikannya, kesetiannya melebihi rasa saudara.


"Alhamdulillah, terima kasih Ay. I love you, Windy tidak akan nakal.


Steven tersenyum menatap istrinya yang semakin manja, tangan Stev menyentuh perut Windy yang terlihat sedikit membuncit.


Ada banyak doa untuk kebahagian Windy dan Steven juga anak mereka, bagi Stev kebahagiaan terbesarnya saat bisa menikahi Windy, juga bisa melihat anaknya.


"Kita jaga dia ya sayang, semoga Allah memberikan kita izin untuk menjadi orang tua yang baik, mendidik dia menjadi anak yang sholeh dan sholeha." Stev mencium perut Windy.


"Amin ya Allah, semoga ya Ay dia mirip Windy." Senyuman Windy terlihat menatap wajah suaminya yang cemberut.


Suara tawa keduanya terdengar sangat bahagia, rasa sedih juga sakit bertahun-tahun berpisah terobati setelah hidup bersama.


"Sebenarnya kita ini boleh ikut tidak?" Winda menatap tajam.


"Boleh, tapi janji tidak nakal dan membuat masalah." Stev memberikan jari kelingkingnya.

__ADS_1


Winda menganggukkan kepalanya, berjanji tidak akan nakal. Dia sudah besar, bisa menjaga diri lagian dia juga tidak sendirian ada Bella Billa dan Vira.


Windy langsung berdiri memeluk Tian yang baru datang, Stev langsung menahan tangan Windy untuk tidak berlari.


"Sayang ingat kamu lagi hamil, astaghfirullah perempuan bar-bar satu ini." Stev memeluk Windy yang menepuk jidatnya.


Tian langsung memeluk lembut, meminta Windy lebih berhati-hati jangan berlari ataupun bergerak berlebihan demi keamanan kandungan.


Senyuman Tian juga terlihat melihat foto hasil USG pertama, Winda juga langsung memeluk leher Tian tersenyum melihat si kecil yang sedang tumbuh.


"Bismillah kita akan segera bertemu, akhirnya kak Tian menjadi Uncle Winda juga menjadi Aunty." Senyuman Tian terlihat, mengusap kepala Winda yang tersenyum melihat adik kecil.


"Dia pasti nantinya nakal, Winda juga nakal." Suara Winda tertawa kuat, dia akan mengajari keponakan menjadi anak nakal.


"Winda, harusnya doakan yang baik. Semoga menjadi anak Sholeh Sholeha, jangan nakal karena cukup Winda saja yang nakalnya istimewa." Tian memeluk adik remajanya yang sudah mulai tumbuh besar.


"Kak Tian punya pacar, kemarin Bella mengamuk karena kak Tian satu mobil dengan perempuan." Winda melipat tangannya di dada melihat putra utama Bramasta yang mulai jatuh cinta.


"Hanya teman saja, jangan membuat gosip nanti Bella semakin mengamuk." Tian tertawa melihat Winda melangkah pergi.


"Kamu punya pacar Tian?"


"Tidak kak Win, masih jauh pikiran untuk pacaran."


"Kamu sudah besar, sudah hampir lulus kuliah. Kenapa tidak mungkin?" Steven menatap Tian.


"Tian tidak boleh menikah sembarang, dia memiliki banyak adik perempuan harus melindungi mereka, calon istrinya juga harus orang yang menerima keluarga Tian, bukan hanya Tian seorang." Windy menatap tidak suka.


"Kenapa sekarang bahas Tian? tidak ada pacar-pacaran. Sukses dulu, baru memikirkan pendamping, Tian juga masih muda." Senyuman Tian terlihat.


Suara Winda bertengkar dengan Reva terdengar, Winda ingin pulang ke rumahnya tidak betah jauh dari sahabatnya.


Rumah utama memang besar, luas dan sangat nyaman, tapi jika hanya sendirian tidak akan bisa membuatnya bahagia.


"Winda kecilkan suara kamu, nanti pulang bersama kak Tian."


"Siap bos." Winda menjulurkan lidahnya kepada Reva yang melotot.

__ADS_1


Steven meminta bantuan Tian untuk mengurus kepergian mereka ke Bali, karena Tian memang terbiasa di sana juga mengurus hotel di daerah Bali.


***


__ADS_2