MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 DARAH


__ADS_3

Pintu kamar terbuka, Steven langsung menarik Lukas dari atas Windy yang menyakiti dirinya sendiri. Can langsung menutupi tubuh Windy memeluknya erat.


"Brengsek!" Steven memukuli Lukas bertubi-tubi, mencekik kuat lehernya.


Vero menatap Windy yang meminta Can melepaskannya, karena tubuhnya panas. Lukas sudah penuh darah, Vero langsung menarik Steven.


"Kak lihat Windy dulu." Steven menatap Windy yang wajahnya merah.


"Ay tolong Windy, tidak tahan lagi." Windy langsung memeluk erat Steven menciumi lehernya.


"Windy sadar sayang, apa yang kamu lakukan?" Steven menatap Windy yang ingin membuka bajunya.


"Kak Windy meminum obat perangsang, sebaiknya kami keluar." Vero meminta Can keluar, Vero menarik Lukas untuk memberikan pelajaran.


Steven mendorong Windy ke atas ranjang, teriakan Windy meminta Stev menyentuhnya.


"Ay ingin pergi ke mana?" Windy membuka kancing baju Stev.


"Hanya mengunci pintu sayang."


"Ayo cepat Ay, Windy tidak kuat menahannya."


Steven tidak bernafsu sedikitpun melihat tindakan Windy yang memuaskan dirinya sendiri, perasaan Steven sakit melihat istrinya yang biasanya sangat lembut berubah menjadi menggebu-gebu.


"Windy cukup, kamu sudah lelah sayang. Sekarang tidur dulu."


"Tidak mau Ay, Windy belum puas."


Steven memeluk tubuh Windy yang melemas, mengusap punggungnya yang tidak menggunakan apapun.


"Lagi Ay."


"Sudah sayang. Kamu capek."


"Capek, tapi tubuh Windy masih menginginkannya. Ay pindah di atas satu kali saja please."


"Cukup Windy, kamu sudah lelah. Istirahat dulu sayang." Stev memeluk erat tubuh Windy.


Mata Steven tidak bisa terpejam, masih merasakan Windy yang menciuminya, mengigit tubuhnya meminta Steven memuaskannya.


Stev melihat ponselnya yang berbunyi, melepaskan Windy perlahan yang sudah tidur. Melangkah menjauh menjawab panggilan.


Saka menghubungi Steven, jika Lukas dibawa ke rumah sakit dalam keadaan koma. Kepalanya mengalami benturan kuat, karena pukulan Stev yang langsung menghantam kepala membuat gegar otak.


Satu hal lagi yang membuat kondisi Lukas semakin buruk karena bagian bawahnya yang pernah operasi terluka kembali karena ulah Vero.


[Apa yang ingin kamu lakukan Stev?]


[Aku tidak ingin hukum yang bertindak, dia harus lebih tersakiti dari saat ini. Saat dia sadar nanti hilangkan yang berharga dari tubuhnya. Buat dia hidup seakan-akan ingin mati.] Steven menatap ke depan dengan kemarahan.

__ADS_1


Steven tidak terima istrinya, wanita yang dicintainya memiliki trauma karena Lukas. Walaupun Windy akhirnya melakukan dengan Steven tetap saja, hubungan keduanya hanya dalam pengaruh obat bukan atas dasar komunikasi hubungan suami istri.


Steven langsung mengambil bajunya, meminta pihak hotel bertemu. Hati Steven masih sakit menatap seluruh karyawan hotel yang terlibat.


Bagus juga ada di sana sedang menyelidiki, menyerahkan laporan jika Lukas pengusaha yang sedang ada perjalanan bisnis. Selama ini Lukas berbisnis di luar negeri


Menurut penyelidikan Bagus, Lukas membayar resepsionis yang ternyata wanita malam yang Lukas selalu gunakan.


Windy yang sudah terbiasa dengan hotel milik BB grup yang dijalankan oleh bawahan Papinya tidak merasakan curiga sedikitpun.


Jeni asisten pribadi juga mengatakan jika Windy sedang sakit kepala, jadinya lebih perbanyak minum.


Minuman yang diberikan resepsionisnya sudah mengandung obat, acara rapat tidak ada yang menyiapkan hotel untuk beristirahat karena rapat tidak lama.


"Lukas yang memesan hotel? kurang ajar sekali dia."


"Iya, selain Lukas hanya Vero yang memesan hotel, karena Mei ingin menginap."


"Aku tahu itu."


"Sejak kapan Windy sering sakit kepala? setiap pagi dia terlihat baik-baik saja?" Steven menatap Jeni.


"Ibu Win jarang mengeluh pak, hanya saja dalam minggu ini dia mengeluh pusing, tapi tidak lama. Saat ingin pergi tadi memang mengatakan pusing, saya meninggalkan ibu karena ingin mengecek ruang rapat. Maafkan saya pak." Jeni langsung menangis sesenggukan.


"Diam, kamu boleh pulang. Bersiaplah jika dipanggil untuk saksi di kantor polisi." Steven menatap tajam.


"Baik pak."


"Tolong urus mereka Gus, aku ingin mereka mendekam di penjara dalam waktu lama."


"Siap pak, bisa tidak jangan minta tolong, karena kamu terlihat berbeda Stev."


Bagus langsung pamit, Stev masih berdiri di depan pintu. Steven binggung harus mengabari Reva atau tidak.


"Daddy, jangan bersedih." Mei keluar dari kamarnya langsung berlari memeluk Steven yang berjongkok menyambut si kecil.


"Mommy sakit ya Daddy? seharusnya Mommy dilarikan ke rumah sakit."


"Tidak sayang, Mommy hanya sedang beristirahat karena lelah bekerja."


"Oh, tapi kenapa Papa marah-marah? Mei mendengar Papa lagi telponan bicaranya kasar sekali, Mei takut."


"Papa hanya sedang kecewa, Papa Mei sedang menutupi kesedihannya dengan marah, Mei harus memperhatikan Papa."


"Hmzz ... Mei pikir Papa marah, Mei merasa bersalah karena belum mengatakan Mei sayang Papa."


Steven tersenyum, Can hanya melihat dari balik pintu meminta putrinya masuk membiarkan Steven istirahat.


"Can, peringatkan Vero agar menjaga ucapannya, apalagi ada anak kecil."

__ADS_1


"Vero sudah menyingkir, tapi dasar putrinya saja yang kepo."


"Dasar anak sama bapak karakternya sama."


"Kak Stev sebaiknya istirahat, temani Windy. Besok Can buatan minuman khusus untuk Windy."


"Terima kasih Can, terima kasih juga untuk hari ini."


Steven langsung masuk, mandi membersihkan tubuhnya, selesai mandi langsung tidur di samping Windy.


"Maafkan aku Win lalai menjaga kamu, maaf sudah membuat kamu menangis." Steven mencium kening Windy langsung memejamkan matanya untuk tidur.


***


Windy terbangun merasakan perutnya sakit, menatap wajah tampan suaminya membuat Windy tersenyum bahagia.


"Lukas kamu jahat, Om Stev lelaki satu-satunya yang Windy cintai." Windy mencium pipi Stev.


Wajah Windy meringis merasakan sakit perutnya, langsung mengusap perlahan. Windy memejamkan mata, sakit perutnya semakin parah.


"Astaga sakit sekali." Windy langsung turun dari ranjang perlahan agar tidak membangunkan Steven.


Windy megambil penutup tubuhnya langsung berdiri, Windy terduduk kembali karena merasakan tubuhnya tidak bertenaga untuk bangkit.


"Apa aku kelelahan?" Windy berusaha berdiri lagi.


"Astaghfirullah Al azim, darah apa ini?" Windy melihat darah di atas ranjang.


Windy memperhatikan seluruh rajang merah, jika dia bulanan tidak mungkin parah, Windy melihat kakinya yang penuh dengan darah, bahkan darah terus mengalir menetes dilantai.


Langkah kaki Windy berusaha untuk ke kamar mandi, berjalan pelan untuk membersikan darah di tubuhnya.


Di dalam kamar mandi Windy membersihkan darah, terus meringis merasakan sakit perutnya.


Steven menepuk di sampingnya, langsung membuka mata mencari Windy.


"Sayang. Astaghfirullah Al azim darah apa in?" Stev melihat tubuhnya juga terkena darah.


Steven mendengar suara gemericik air langsung melangkah ke kamar mandi, mengetuk pintu.


"Sayang kamu sedang mandi, kenapa di atas ranjang darah semua? kamu lagi bulanan."


"Ay tolong sakit." Windy menangis.


Steven langsung membuka pintu kaget melihat darah semua, langsung menggendong Windy ke luar kamar mandi.


Steven tidak banyak tanya lagi, memakaikan baju mandi langsung melarikan Windy ke rumah sakit.


"Ay." Windy mengusap wajah Steven yang sangat panik.

__ADS_1


***


__ADS_2