
Musik berdentum, Winda mengendarai mobilnya dengan pelan. Vira joget bersama Bella yang tidak tahu diri jika perutnya sudah siap meletus.
Billa hanya tertawa saja, dia harus menjaga tiga bumil yang sedang ingin shoping. Kebiasaan mereka jika sudah bersama harus kuliner.
Restoran mewah menjadi tujuan pertama, Billa melarang untuk makanan pedas, karena bahaya untuk kesehatan bumil.
Akhirnya mereka makan seafood tanpa diolah, hanya direbus saja. Billa merasa tidak nyaman, setidaknya dibakar.
Vira dan Winda melahap kepiting, udang dengan lahap. Bella juga makan sambil menuangkan Snack ke dalam piringnya.
Billa hanya diam saja meminum jus, Vira juga meminta salad sayur dan buah. Winda juga ingin langsung memakannya.
"Kalian bisa pelan-pelan makannya, dilihatin orang."
"Kamu foto siapa saja yang memperhatikan kita, selesai makan aku akan pecahkan biji mata mereka." Bella menatap tajam, salad buah dituang di dalam seafood.
"Suka-suka saja lah." Billa membiarkan.
Selesai restoran lanjut lagi untuk melihat jajanan dipinggir jalan, Winda membeli banyak buah-buahan.
Lanjut lagi ke mall mencari baju baby twins, pilihan sangat banyak bahkan hampir membeli semuanya.
"Anaknya kak Bel cowok atau cewek?" Winda mengambil banyak baju wanita yang menurutnya lucu.
"Kita harus membeli boneka ini, ada empat satu-satu." Vira mengambil banyak boneka, langsung membawanya.
"Lihat tas ini lucu sekali, ambil." Bella memasuki apapun yang dia suka untuk anaknya.
Billa hanya melihat saja, karena dia yakin pasti akan kesulitan membawanya. Sebentar lagi satu mall dibeli.
Winda melakukan pembayaran untuk semua pakaian anak-anak, nominal yang dibayar juga tidak sedikit, karena belanjaan mereka sangat banyak.
"Berapa mbak, nanti tolong dikirim ke beberapa alamat panti. Tulis pengirimnya hamba Allah." Winda menyerahkan kartunya, setelah membayar langsung pergi.
Lanjut lagi membeli cemilan, saat melihat makanan sungguh membuat gila, empat keranjang penuh berisi seluruh makanan.
Vira menyerahkan kartunya, meminta dikirim ke beberapa alamat anak yatim yang biasanya dia santuni.
Bella juga membeli beberapa hadiah mewah, untuk mahasiswa yang berprestasi untuk menjadi penyemangat.
"Acara terakhir ayo menonton." Winda melihat daftar film.
Mereka melakukan suit, Billa memenangkannya langsung memilih film horor. Wajah Bella terpaksa ikut, Vira dan Winda apalagi.
Tempat duduk penuh, Winda duduk memegang makanannya. Lampu langsung mati, film belum dimulai Vira sudah teriak, langsung dipukul oleh Bella.
__ADS_1
Baru saja hantu muncul, teriakan Bella, Vira dan Winda membuat Billa menutup telinganya.
"Setan! brengsek." Vira teriak kuat, terdengar tawa penonton lain. Billa benar-benar malu melihat tingkah tiba wanita disampingnya.
"Minggir, dasar bodoh. Di belakang kamu ada kutil." Winda rasanya ingin menangis.
Suara tawa kembali terdengar, film horor menjadi lawak, bahkan ada yang menyahut hantunya ada koreng, bisul, membuat Billa malu sekali, mana ada hantu kutil.
Teriak Bella kuat, ingin memecahkan layar. Suara tawa semakin terdengar tidak ada yang konsentrasi dengan film.
Suara Vira mengutuk hantu, Winda yang menangis karena banyak korban meninggal, sedangkan Bella yang marah-marah dengan para pemain.
Billa langsung melangkah perlahan, lebih baik dia pergi dari pada menahan malu melihat tiga bumil yang tidak bisa diam, bahkan makanan mereka berhamburan di badan bukan masuk mulut.
Film akhirnya selesai, tepuk tangan Bella, Vira dan Winda kuat. Mereka puas melihat filmnya.
"Ternyata seru juga menonton horor." Vira tersenyum manis.
"Ternyata hantu bodoh, jika Winda lebih baik tinggal di istana presiden, atau pindah luar negeri lumayan tidak perlu membayar tiket pesawat daripada rumah kosong."
"Takut mereka Win, nanti diusir hantu luar negeri, karena membutuhkan surat pindah." Vira tertawa, tidak melihat keberadaan Billa.
"Di mana Billa?"
"Hei ... hei kalian bertiga ayo kita pulang, hari ini kita harus ke hotel, sudah dari jam pagi kita menghilang." Billa menatap lemas.
Winda langsung berjalan ke arah luar, ingin mencari toilet terlebih dahulu. Antrian cukup panjang sampai ada keributan.
Bella diminta untuk mundur, Vira Winda menatap santai. Billa yang biasanya di belakang berdiri di depan sekali untuk melindungi.
Suara tamparan juga pukulan terdengar, Billa langsung menangkap seorang wanita memintanya untuk keluar.
"Jika kalian ingin membuat keributan lanjutkan di luar, kita ingin menggunakan toilet."
"Siapa kamu?" tubuh Billa terdorong.
Karena merasa dipojokkan, Billa menahan tangan wanita yang ingin memukulnya. Beberapa wanita lainnya menyerang Billa.
Vira dan Winda saling pandang, melihat ke arah Bella yang menatap tajam. Genggaman tangannya sudah kuat.
Lima orang terlempar keluar, Billa melayangkan pukulan kuat membuat semua orang takut.
Winda langsung mundur, Bella tertawa melihat adiknya bsja menyerang juga.
"Gunakan toiletnya sekarang kak, Winda Vira juga masuk. Hati-hati di dalam takutnya licin."
__ADS_1
"Wow Billa, kamu hari ini tidak terbaik." Vira tersenyum langsung melangkah masuk.
***
Sesampainya di rumah Winda langsung mencium suaminya, wajah Ar masih pucat.
"Dari mana sayang?" Ar menatap Winda yang terlihat happy.
"Belanja, nonton juga makan." Winda juga membawa buah-buahan.
"Kamu setiap belanja tidak pernah membawa barang pulang."
"Iya, soalnya disumbangkan." Winda memeluk suaminya, meminta dicium.
"Ayo kita bersiap ke hotel."
"Siap Abi Ar, peluk dulu, ini kemauan anak ya bukan uminya." Tawa Winda dan Ar terdengar.
Keduanya langsung bersiap, melihat beberapa mobil mewah sudah bersusun di depan rumah masing-masing.
Ar duduk di pinggir mobil, melihat perdebatan Asih dan Kasih soal mobil. Senyuman Ar terlihat membayangkan memiliki putri gemes seperti Rasih.
Ning juga sama, marah dengan ibunya tidak tahu apa sebabnya, syukurnya ada Tama yang selalu mengutamakan kebahagiaan Ning.
Suara Em terdengar menggunakan mobil-mobilan, langsung terjungkal jatuh, mengambil pentungan memecahkan mobilnya, Billa sudah datang ingin memukul putrinya yang sudah berlari.
Ar tertawa bahagia melihatnya, menatap Elang yang duduk menggunakan kacamata membaca buku dengan santai, sedangkan Raka menggunakan kacamata hitam sambil mendengarkan sesuatu.
"Ya Allah bahagianya melihat mereka, jadikan hamba sosok ayah yang luar biasa agar bisa menjaga anak-anak kami, mendidiknya menjadi pribadi yang baik." senyuman Ar terlihat, langsung masuk mobil untuk peresmian hotel VIRDAN, juga doa untuk kesehatan dua bumil.
Winda memasukan buah-buahan yang sudah dipotong, langsung duduk di dalam mobil mengemil bersama Ar. Sejak Winda hamil, rasa masam menjadi makanan paling enak.
Reva mengomeli Winda yang membeli banyak buah, sedangkan di rumah juga masih banyak.
"Winda lupa Mami."
"Kamu tadi belanja apa?"
"Banyak sekali, tapi sudah disumbangkan."
"Kenapa kamu membelinya? jika ingin menyumbang bisa kirim donasi." Ar mengunyah buah sambil menatap Winda.
Bagi Winda hanya hobi, mereka memiliki segalanya bisa membeli apapun, tapi untuk apa membeli sesuatu berlebihan, jika tidak digunakan. Jadi membelinya untuk kepuasan diri juga bermanfaat untuk orang lain.
***
__ADS_1