
Seluruh orang keluar dari ruang persidangan, Steven sudah lebih dulu melangkah pergi. Tangannya ditarik kuat sampai terpojok.
Renata menatap Steven tajam, sedangkan Steven hanya tersenyum santai. Tatapan kemarahan terlihat dari Jaksa cantik yang selalu membutuhkan perhatian Steven.
"Kenapa kamu selalu seperti ini Stev? dia pembunuh akan tetap menjadi tersangka! aku tidak mengerti apa yang kamu pikirkan, memberikan kebebasan kepada pembunuh berdarah dingin." Rena menatap tajam Steven.
"Pembunuh berdarah dingin kamu bilang? dia hanya seorang Ayah yang menyelamatkan anaknya. Coba Kamu bandingan dengan kasus kamu yang membela pembunuh berantai, berapa banyak orang yang dia bunuh dalam satu malam, mereka baru pantas kamu sebut berdarah dingin. Buka mata kamu lihat lebih jelas." Steven menyingkirkan tangan Rena untuk pergi.
Renata menahan Steven, keduanya beradu tatap masih dengan pendapat masing-masing.
"Aku sangat mencintai kamu, aku tidak ingin kamu melawan Stev." Rena meneteskan air matanya.
"Maaf Rena kita tidak sejalan, aku tidak bisa mengimbangi kamu yang terlalu angkuh." Steven langsung melangkah pergi.
Rena menendang dinding, menghamburkan berkasnya dari persidangan.
Tidak ada orang yang bisa menghentikan Steven dalam bertindak, dia tidak memiliki rasa takut sama sekali.
Langkah Steven terhenti, seorang hakim menatap tajam Steven berjalan beriringan. Bocah remaja yang dulunya menangis histeris kehilangan kakaknya sekeluarga, baru saja ditinggal kedua orangtuanya, lanjut ditinggalkan kakak, kakak ipar juga keponakan.
Steven tidak memiliki keluarga, dia menghibur kesepian dengan bermain dan mencari ketenangan.
"Kenapa kamu selalu seperti ini Steven? jika kamu memiliki banyak bukti seharusnya dari awal kita bisa membebaskan."
"Anda benar, tapi aku hanya ingin mengamankan kelurganya. Melihat ke dalam hatinya setulus apa dirinya dalam keluarga." Steven tersenyum melihat pria paru baya yang dulunya pernah Steven kejar, untuk mengungkap kecelakaan kakaknya.
"Kenapa kamu tidak menjadi hakim saja? kamu cukup memiliki kekuasaan untuk mendapatkan posisi hakim, jadinya kamu bebas bisa memutuskan."
"Stev akan tetap menjadi pengacara, tolong jangan bosan melihat Steven." Steven tersenyum masuk ke dalam sebuah ruangan.
Windy mengikuti Steven bersama Wilo dan Lukas, rasa kagum Windy semakin besar, menatap Wilo yang juga menatap penuh kagum.
"Dia seorang pengacara yang suka mencari mati." Lukas mengerutkan keningnya, Windy sudah memukuli Lukas.
"Kurang ajar, beraninya kamu menyumpahi Om bule." Bibir Windy langsung cemberut.
"Bukan, menyumpahi Windy, tapi masalah tidak selesai di sini. Dia memiliki banyak musuh dari kalangan atas."
__ADS_1
"Wilo setuju dengan Lukas, tapi di satu sisi kenapa Wilo merasa Om Steven juga tidak berhenti di sini. Dia pengacara yang berpengalaman, hal seperti ini sudah menjadi makanan sehari-hari."
Windy tersenyum tidak peduli akhirnya, Windy akan maju untuk mengejar cinta Om bulenya. Windy tidak perduli seperti apa bahaya hadir dalam hidup seorang pengacara, orang yang memegang teguh hukum, memiliki banyak hubungan dengan orang terpandang, hal yang paling penting, Windy akan menjadi bagian cerita hidup Steven.
Mondar-mandir Windy menunggu Steven di parkiran, Wilo dan Lukas sudah kesal menunggu Windy yang mengatakan mereka semuanya bisa pulang bersama Om Stev.
"Win berapa lama lagi?" Lukas mengacak-acak rambut.
"Sabar, mungkin sebentar lagi." Windy menghela nafas, dia sedang menahan lapar ingin makan bersama.
Seorang anak kecil berlarian menunggu seseorang bersama Ibunya, air mata terus mengalir membasahi pipi Ibunya.
"Paman, Papi Ara sudah boleh pulang?" Ara langsung berlari masuk ke dalam pelukan Steven.
"Iya sayang, Ara bisa membawa Papi Ara pulang. Kalian bisa makan chicken bersama, makan pizza, hamburger." Steven menggendong Ara mendekati Ibunya.
Kepala Ibu Ara tertunduk, langsung berlutut bejalan mendekati kaki Steven, cepat tangan Steven membantu untuk berdiri.
Ucapan terima kasih tidak hentinya terdengar, tangisan sesegukan semakin terdengar menyayat hati.
"Terima kasih, terima kasih, bagaimana cara keluarga kami mengucapkan terima kasih."
"Papi." Ara langsung berlari melihat Papinya, tubuhnya langsung di angkat ke atas, tawa gadis kecil terdengar.
Ibu Ara juga berlari masuk ke dalam pelukan suaminya, tangisan bahagia terdengar dari keluarga kecil, Steven tersenyum melangkah pergi.
"Kak Stevie, Steven selalu akan menjadi orang baik seperti keinginan kakak, walaupun seumur hidup Steven tidak merasakan hangatnya keluarga." Steven melangkah menuju mobilnya.
Wajah Steven kaget, merasakan pelukan tubuh kecil yang tangannya sudah bergantung di leher Steven. Windy memeluk erat, Steven nyegir meminta Windy melepaskannya. Tangan Steven menyentuh pinggang Windy menarik bajunya yang terangkat.
"Steven, terima kasih untuk perjuangan kamu, saya sangat berterima kasih."
Steven melepaskan pelukan Windy, langsung menyambut tangan bapak yang ingin bersalaman, Windy tersenyum malu-malu.
"Pacarnya Paman Bule cantik, tapi wajahnya kecil imut seperti Ara." Ara menyambut tangan Windy.
"Dia adik saya, adik ketemu besar." Steven tersenyum melihat Windy yang juga tersenyum.
__ADS_1
"Bisa menjadi calon pacar." Tawa terdengar, langsung pamitan dengan Steven.
Windy melambaikan tangannya menatap Ara, langsung tersenyum melihat Steven yang merapikan bajunya.
"Kamu tidak marah lagi Win?" Steven menarik baju Windy yang sangat ketat.
"Tidak, Windy sekarang lapar Om. Ayo kita makan." Windy berjalan menuju mobil Steven.
"Kenapa harus menggunakan baju ketat, memperlihat perutnya. Astaga aku suka wanita seksi, tapi tidak rela melihat tubuh Windy menjadi pusat perhatian." Batin Steven menghela nafasnya.
Steven binggung melihat dua bocah yang memasang wajah marah, memaksa Stev untuk membuka pintu mobil. Langsung masuk ke dalam mobil, menghidupkan AC karena kepanasan.
"Kenapa kalian semua di sini?" Steven melihat ke arah kursi penumpang."
"Om hari ini menang persidangan, jadinya Om traktir kita." Lukas tersenyum.
"Windy yang meminta mereka ikut Om, Windy malu menunggu sendirian." Windy tersenyum menatap Steven.
Steven akhirnya menghidupkan mobilnya, bertanya ingin makan apa? semuanya menjawab terserah. Sebenarnya Steven tidak suka dengan kata terserah, ucapan yang pasrah, tapi ada penekanan memaksa.
Karena lelah Windy tidur di mobil, Lukas dan Wilo juga tidur. Steven tertawa kecil menjadi supir para bocah, padahal dia ada perkejaan, tapi ditinggal tidur.
Mobil berhenti di apartemennya, Steven langsung membangunkan jika sudah sampai, Windy langsung keluar binggung melihat parkiran apartemen.
"Di mana Restoran tempat kita makannya Om?" Wilo melihat sekeliling penuh taman.
"Aku tidak mengatakan ingin pergi ke Restoran." Steven tersenyum.
"Kenapa kita ke apartemen? memangnya di sana kita bisa makan apa?" Lukas menguap lebar melihat Steven.
"Terserah!" Steven langsung tertawa, melangkah masuk ke dalam. Windy langsung mengejar, Wilo dan Lukas juga ikut masuk ke dalam lift.
Tatapan mata tiga mahasiswa tajam melihat Steven, mereka kesal karena lapar belum makan.
***
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
__ADS_1
SEKALIAN JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP
***