
Tangan Reva bergerak meraba di sampingnya, saat membuka mata Reva tidak melihat Bima di sisinya. Saat Reva ingin bergerak, ada rasa sakit sehingga Reva mengurungkan niatnya untuk bangkit.
Saat mendengar suara amin, Reva langsung melihat ke samping. Bima sedangkan melakukan sholat malam, melihat suaminya yang sedang berdoa membuat Reva tersenyum juga ingin meneteskan air matanya.
"Ya Allah ampunilah hamba yang sangat mengagumi makhluk yang engkau ciptakan, dia tidak ada cacatnya di mataku. Tampan, mapan, Sholeh."
Lama Reva memandangi punggung Bima, saat berbalik mata keduanya bertemu. Bima membuka kopiah juga sarungnya.
"Mau sholat malam Va?"
"Dingin mau mandi."
"Ada air panas, jangan buat alasan." Bima mendekat dan mencium kening Reva lembut.
"Hehehe, doanya sudah Reva titip kepada Ayy tadi jadi amin saja."
"Memangnya tahu doanya?"
Reva hanya tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya. Semua doa Bima pasti baik, jadi tidak perlu ada yang dikoreksi lagi.
"Aku berdoa Va, semoga Allah memberikan kepercayaan kepada kita untuk segera memiliki momongan."
"Amin ya Allah, semoga saja dapatkan kembar cowok dan cewek."
"Insyaallah, cowok atau cewek kita Syukuri. Karena anak ujian juga rezeki untuk kita."
Kebahagiaan sedang pengantin baru rasakan, keindahan dan kenikmatan hubungan suami istri juga halal mereka lakukan.
"Lanjut tidur lagi, sekarang masih jam 02.13. Kamu juga sebaiknya pakai baju, takutnya tidak jadi tidur."
"Memangnya kita mau main petak umpet,"
"Bukan, takutnya kepancing bikin yang kita bicarakan tadi." Bima tersenyum, mengacak rambut Reva.
"Ayy jangan bilang sekarang ketagihan, hayo jawab." Reva tertawa, langsung berbaring satu bantal dengan Bima.
"Kalau iya, bolehkan disalurkan. Minta kepada istri halal juga pahala sayang."
"Melayani suami juga dapat pahala, iya kan Ayy."
"Betul, jadi sekarang boleh ya." Bima tersenyum, menyentuh hidung Reva, mengigit pelan langsung turun ke bibirnya.
Cuaca yang mendadak hujan deras, tapi tetap terasa panas di dalam kamar Bima. Kenikmatan yang mereka rasakan melupakan cuaca, nafas juga tidak beraturan.
"Ayy, capek." Reva memeluk juga mengigit bahu Bima.
Bima menatap wajah Reva yang terpejam karena kelelahan, nafasnya juga masih naik turun.
"Va, aku menyakiti kamu ya." Bima merasa bersalah melihat Reva yang, lemas juga kelelahan.
__ADS_1
"Enggak Ayy, mungkin karena ini hari pertama kita. Reva belum terbiasa mengimbangi kekuatan Ayy, lagian Ayy punya tubuh bagus seperti pria seumuran dengan Reva."
"Itu pujian atau hinaan,"
"Pujian suamiku, Ayy ganteng parah."
"Va, apa ini yang namanya ketagihan, kenapa aku tidak puas hanya satu dua kali."
"Jadi masih mau lagi?" Reva melotot melihat Bima yang sudah tertawa.
Menjadi moments yang indah, setelah lelah berolahraga malam. Lanjut dengan bercerita baru lanjut tidur saling memeluk.
***
Waktu subuh sudah tiba, Windy sudah bersiap-siap untuk ke ruangan khusus sholat. Lama Windy menunggu Papi dan Mami keluar tapi belum juga terlihat batang hidungnya. Akhirnya Windy memutuskan untuk mengetuk pintu.
"Papi, Mami sudah sholat belum?" berkali-kali Windy mengetuk sampai mengedor.
Bima terbangun mendengar gedoran pintu, dilihatnya Reva masih terlelap dalam pelukannya.
"Papi!" teriak kesal Windy.
"Iya sayang,"
"Ayo sholat, Windy sudah lama menunggu."
"Kamu sholat sendiri ya sayang, tidak apakan Windy."
Bima bernafas lega, dilihatnya jam sudah pukul 05.01. Cepat langsung bangun untuk mandi, menyiapkan air hangat untuk Reva mandi.
Selesai mandi Bima menyiapkan perlengkapan sholat, Reva belum juga bangun. Panggilan Bima hanya diabaikan.
"Reva ayo bangun, sholat dulu." Bima menggakat tubuh Reva yang masih terpejam.
"Ayy saja, Reva capek." Mata Reva terbuka sebentar lalu terpejam lagi.
"Tidak boleh seperti itu Reva, sholat kewajiban. Kita hampir telat, ayo sayang sudah sholat kamu boleh tidur lagi."
"Titip Ayy, sholatnya double."
"Mana ada sholat diwakilkan."
"Reva lagi haid Ayy, lihat sendiri ada darahnya."
"Astaghfirullah Al azim, masih sempat bercanda. Haid sudah lewat, ini darah perawan. Ayo Va bangun sholat dulu."
Reva masih memejamkan matanya, Bima berhenti dan meletakan kepala Reva di atas bantal. Dia langsung bangkit untuk melaksanakan sholat subuh.
"Ayy,"
__ADS_1
"Tidurlah, tidak usah sholat. Jika aku tahu perbuatan aku membuat kamu lelah sampai menunda kewajiban, lebih baik tidak usah kita ulangi lagi."
Cepat Reva duduk, dia ingin membungkus tubuhnya dengan selimut, langsung berjalan pelan ke arah kamar mandi.
"Ayy tungguin ya." Kepala Reva terlihat dari balik pintu.
Harus ada drama terlebih dahulu, Reva mandi cepat, sakit ditubuhnya langsung hilang. Ucapan Bima lembut tapi penuh ancaman, dalam pikiran Reva yang Omesh bukan dirinya tapi Bima yang tidak ada kata puasnya. Di luar kamar mandi Bima menunggu sambil membaca ayat pendek, melihat Reva sudah keluar dan langsung mengenakan mukenanya.
Keduanya melaksanakan sholat berjamaah, saat berdoa mata Reva tertutup, mulutnya menguap. Bima hanya menggelengkan kepalanya saat berbalik melihat Reva yang tidak khusyuk mendengarkan doanya.
Reva langsung mencium tangan Bima, juga mendapatkan ciuman di keningnya. Reva masuk ke dalam pelukan Bima sambil memejamkan matanya.
"Ayy sekarang sudah mulai mengancam."
"Jika perintah aku soal keburukan, kamu boleh menolak dan melawan. Tapi jika demi kebaikan tidak ada salahnya dilaksanakan."
"Iya Om."
Senyum terukir di bibir Bima, mulut Reva mengomel tapi pelukannya sangat erat. Bima langsung menggendong, meletakkan tubuh Reva di atas ranjang, membuka mukenanya dan menutupnya dengan selimut.
"Kamu boleh lanjut tidur." Bima bangkit, membereskan bekas sholat mereka, barulah dia ke kamar sebelah yang langsung melewati pintu di kamarnya.
Kebiasaan Bima setiap harinya, selesai sholat lanjut berolahraga. Sejak usia muda Bima sangat menjaga kebugaran tubuhnya, makanannya juga sangat sehat. Kebiasaan Bima makan sehat juga diikuti oleh putrinya. Tidak heran Bima jauh terlihat lebih muda dari usianya, jika orang melihat Bima pria berusia 28tahun padahal usianya masuk 38tahun.
"Reva sayang, Ayy pergi ke kantor dulu." Selesai olahraga dan bersiap Bima akhirnya turun ke bawah untuk sarapan dan menemui putrinya barulah dia bekerja.
"Mami mana Papi?"
"Masih tidur, Mami capek."
"Emhh, tapi Mami sehatkan Papi, capek bukan karena sakit."
"Hanya capek saja, Mbak nanti tolong siapkan sarapan nyonya, juga susu hangat."
"Baik tuan."
Bima langsung mencium pipi Windy dan pergi ke kantor, sedangkan Windy pergi sekolahnya di antar supir.
"Mami tidak kerja tapi capek."
"Capek melayani Papi kamu Windy, namanya juga pengantin baru. Kamu berdoa saja agar cepat punya adek."
"Sangkut pautnya apa punya adek sama capek."
"Jangan bicara sembarangan Lara, Non Windy masih polos."
"Iya lupa."
Windy hanya tersenyum, tapi dia juga mengaminkan agar segera mempunyai adik. Walaupun Windy masih bertanya-tanya, mungkinkah dirinya masih di sayang, tapi Windy yakin, dia akan di sayang sama seperti adiknya. Mami dan Papi orang baik, juga cerminan untuk Windy.
__ADS_1
***