
Windy berdiri bersama Vero di kejauhan melihat Steven yang mengantarkan Tegar ke tempat peristirahatan terakhir. Dari awal sampai akhir Stev mengantarkan Tegar, sampai tanah menutupi lubang.
Stev melangkah pergi, Saka menahan Bagus yang ingin berbicara dengan Stev. Membiarkan Steven sendiri, semuanya sudah selesai hanya menunggu pengadilan memutuskan hukuman seberat-beratnya.
Sudah hampir satu minggu Steven berada di apartemen, tidak ada yang mengganggunya. Steven memutuskan kembali ke Mansion melihat foto Stevie dan keluarga, senyum Steven terlihat mengelus wajah kakaknya.
"Semuanya sudah berakhir kak, seluruh kasus sudah terbongkar. Tidak ada lagi yang namanya bantuan dari dalam maupun luar. Steven sudah menyelesaikan tugas terakhir kak Vie, walaupun Steven kehilangan satu teman."
Pelukan dari belakang, juga tangisan terdengar, Steven mengusap kepala Vero yang menangis sesenggukan. Steven tahu Vero sudah melihat kasus kematian orang tuanya.
Windy langsung melangkah masuk ke kamarnya, tidak berani menemui Steven, langsung menghubungi Maminya, menceritakan yang terjadi. Air mata Windy menetes kesal dengan dirinya sendiri, tidak memiliki pengalaman, tapi ingin tahu segalanya dengan cara cepat, tidak ingin mencari tahu lebih dulu.
Steven berdiri di depan pintu kamar Windy mendengar ocehannya kepada kedua orangtuanya, Steven tersenyum terkadang Windy menjadi gadis manja, dewasa juga gadis bar-bar.
Ponsel Steven bergetar mendapatkan email dari seseorang, Steven langsung menemui Vero mengatakan jika dia keluar sebentar, meminta Vero menjaga Windy.
Di dalam mobil Steven mendengarkan semuanya, Saka menjelaskan jika kehilangan satu bukti yang paling penting, Saka sedang melakukan pengejaran kepada seseorang.
Steven tiba di rumah elite, langsung masuk melihat Glen menundukkan kepalanya. Bagus juga ada di sana melihat kekacauan, seseorang berhasil membobol brangkas mengambil daftar penting yang akan Glen gunakan di persidangan.
"Di mana Saka?" Steven duduk melihat beberapa berkas yang berhamburan.
"Melakukan pengejaran, pelaku juga belum diketahui." Glen menatap Stevens dan Bagus.
"Saka pasti tahu siapa pelakunya, masalah dia akan membebaskan atau menangkap?" Bagus menatap Steven.
"Jika dia wanita setia pantas diperjuangkan, tapi dia sudah berkhianat dengan alasan apapun dia salah." Steven menunggu Saka kembali.
Glen terdiam mengerti siapa orang yang Steven dan Bagus maksud, wanita yang pernah Ghina ceritakan. Partner kerja juga calon istri Saka yang membuatnya menjadi seorang bajingan, wanita yang dia anggap sudah meninggal, tapi kenyataannya berkhianat menghilangkan jejak hidup menjadi istri ketiga.
Ponsel Glen mendapatkan panggilan dari Ghina, ekspresi Glen tidak suka dengan panggilan Ghina, mengabaikan panggilannya.
Sekali lagi berbunyi, Steven langsung mengambil ponsel Glen, menjawab panggilan Ghina. Steven terkejut, Ghina berada di apartemen Saka.
Mereka bertemu di lobi, Saka dalam keadaan mabuk berat, Saka juga menyerahkan bukti yang menghilang. Sekarang Ghina sedang kewalahan menghadapi sikap gila Saka yang meminta kepuasan.
Steven menatap Bagus, Glen masih duduk diam.
__ADS_1
"Apa yang kita tunggu?"
"Kamu mendengar tidak ucapan Ghina yang terakhir, haruskah kita mengganggu mereka melakukannya. Saka pernah mengatakan dia ingin berhubungan dengan Ghina." Bagus tersenyum, Glen menahan tawa.
"Kalian berdua gila, Saka dalam keadaan mabuk, berarti tidak sadar. Bagaimana jika Ghina wanita itu, bukan wanita malam?"
"Wanita itu apa?" Bagus tersenyum menatap Glen dan Stev.
"Ayo kita ke tempat Saka?"
"Duluan saja Stev, kita menyusul."
Steven ragu untuk pergi sendirian, di apartemen Saka ada manusia jadi-jadian. Stev langsung merinding membayangkan Jeni yang selalu berkeliaran di sekitar apartemen.
Steven langsung melangkah pergi, Bagus Glen akhirnya ikut menyusul, tidak tega melihat Steven pergi sendirian menemui Saka.
Di perjalanan terjadi macet, karena ada kecelakaan. Hampir satu jam baru sampai apartemen, ketiganya langsung berlari, bertepatan lift mati, pilihan terakhir tangga darurat langsung melangkah cepat untuk sampai ke lantai paling atas.
Tiba di depan pintu nafas tidak beraturan, Steven meminta Bagus membuka pintu kamar. Bagus langsung memasukkan sandi, tapi salah, berkali-kali salah.
"Saka, Ghina kalian masih di dalam?" Steven mengedor pintu.
Steven kaget melihat keadaan Ghina yang sudah berantakan, ada kekerasan juga yang Saka lakukan kepada Ghina.
"Ghin kamu terluka, sebaiknya ke rumah sakit bersama Glen." Steven melihat ada darah, bibir Ghina juga pecah.
"Ayo Ghina aku antar kamu ke rumah sakit, maafkan kita yang terlambat."
"Aku baik-baik saja." Ghina langsung melangkah keluar, menyerahkan Map, juga rekaman kepada Steven.
Steven menghubungi Windy untuk membantu Ghina, Steven kasihan melihatnya yang mengalami kekerasan ulah Saka yang mabuk, bisa jadi Saka meluapkan kemarahan kepada mantannya, tapi tidak menyadari yang bersamanya Ghina.
Bagus masuk melihat seluruh barang berantakan, terjadi pertengkaran besar di dalam kamar apartemen Saka, Glen melihat Saka tertidur pulas di atas ranjangnya.
Windy yang mendapatkan panggilan langsung cepat menuju tujuan, Vero mengantar Windy sesuai perintah Steven untuk menemui Ghina di apartemen.
Sesampainya Steven sudah menunggu di depan apartemen Saka, meminta Windy masuk ke dalam apartemen di depan kamar Saka.
__ADS_1
Windy membunyikan bel, teriak memintanya Ghina membukakan pintu. Ghina membukanya mempersilakan Windy masuk, wajah Windy kaget melihat wajah Ghina yang babak belur.
"Saka gila!"
"Dia tidak menyadarinya Win, minuman membantu Saka meluapkan emosinya kepada orang yang salah. Mungkin kak Ghin juga pantas disakiti, karena banyak melakukan kesalahan di masa lalu." Ghina meneteskan air matanya.
"Windy bantu mengobati kak, di mana tempat obat-obatan."
Ghina langsung berdiri, merasakan sakit bagian bawah membuat Windy kaget, juga tidak tega melihat keadaan Ghina.
"Kak jangan bilang jika Saka melakukannya?"
"Lupakan saja Win, dia tidak akan mengingatnya. Kak Ghin tidak ingin terlihat lemah dihadapan siapapun."
"Kak, setidaknya Saka harus bertanggung jawab!"
"Sudahlah Windy kita lupakan, kak Ghin akan melupakannya, bertanggungjawab hanya untuk orang yang memiliki hubungan, di negara ini bukan suatu hal yang mengejutkan."
Windy menghela nafas panjang, meneteskan air matanya melihat keadaan Ghina. Windy keluar dari kamar Ghina terduduk di depan pintu menangis sesenggukan, Steven melihat Windy yang menagis.
"Ada apa sayang?" Steven duduk di depan Windy.
"Om, keadaan di sini sudah biasa berhubungan tanpa pertanggungjawaban?"
"Iya, jika kedua belah pihak memutuskan untuk mengakhiri dalam satu malam."
"Bagaimana jika hamil Om?"
"Mereka memiliki aborsi, bukan sesuatu yang mengejutkan Win. Om sudah memperingati kamu sejak awal, menjaga kamu dengan baik, pergaulan kejam Win." Steven menghapus air mata Windy.
Windy masuk kembali bersama Steven, Ghina sudah menyiapkan makan untuk dirinya dan Windy, tersenyum melihat Stev yang ternyata pacaran dengan Windy.
"Mami Reva tahu Win kalian berdua pacaran?"
"Tahu, Reva tahu." Steven yang menjawab, melihat Ghina yang seakan semuanya baik.
"Pasti Mami mengamuk, dia tidak mungkin rela putri kesayangannya menikah dengan Om-om." Ghina tersenyum.
__ADS_1
"Tidak ada yang tidak mungkin jika berniat serius." Steven menggenggam tangan Windy.
***