
Teriakan anak panti terdengar, mereka berlari menyambut kedatangan Bima. Windy dengan semangat membagikan banyak makanan, Reva dan Bima bersalaman dengan pengurus panti.
Mata Windy berkeliling melihat setiap anak, dia mencari Bastian tapi tidak terlihat.
"Papi Bastian tidak ada di sini?"
"Ada sayang, Bastian memang jarang komunikasi dengan orang." Ibu panti menunjuk ke arah sebuah kursi.
Windy langsung berlari, Bima hanya tersenyum melihat putrinya yang sangat bahagia. Dari kejauhan Reva memperhatikan interaksi antara Windy dan teman cowoknya. Reva tersenyum melihat bocah kecil yang dingin mengabaikan Windy yang sibuk mengoceh.
"Apa yang lucu?" Bima mengikuti arah pandang Reva, terlihat Windy yang sedang ngomel-ngomel.
"Windy lucu, tapi diperhatikan wajah mereka berdua hampir mirip."
Bima berjalan mendekat, dia memperhatikan wajah bocah cowok yang tatapan matanya sangat dingin. Bima mengelus kepalanya, tapi langsung ditepis dan dia berlari meninggalkan Bima dan Windy.
"Tian!" Windy memanggil dengan teriak, tapi mulutnya langsung ditutup oleh Bima.
Di dalam panti Reva mendekati ibu panti, dia menanyakan soal Bastian.
"Bu, Tian di sini sejak bayi?"
"Bastian! dia di sini Lima tahun yang lalu, ibunya meninggalkannya di panti. Tian tidak pernah membicarakan soal ibunya, dia hanya menyebutkan namanya."
"Dia punya trauma masalalu, jahat banget ibunya!" Reva bersedih mengigat tatapan dari Tian, walaupun dari kejauhan.
"Iya nak Reva, dia sangat sulit komunikasi tapi kami tetap memberikan pendidikan yang terbaik untuknya."
"Boleh tidak Reva mengadopsi dia Bu." Hati Reva tergerak ingin memberikan kasih sayang.
"Dia sudah diadopsi oleh seseorang, tapi maaf saya tidak bisa memberitahu."
Bima yang mendengarkan percakapan Reva dan ibu panti hanya tersenyum, dia tahu siapa pemuda yang ibu panti maksud, dan mencoba menutupi ayah angkat dari Bastian.
"Boleh saya membawa Tian sekarang!" Bima mendekati ibu panti yang tersenyum padanya.
"Om tuli ya! dia sudah diadopsi." Reva melotot.
"Tentu boleh, Tian pasti akan senang sekali."
"Bu, tadi bilangnya sudah diadopsi?" Reva langsung nyolot tidak mengerti.
__ADS_1
"Bapak ini yang mengadopsi Tian, lima tahun yang lalu."
Reva langsung menganga, Bima menutup mulutnya Reva. Bima hanya tersenyum, jadi yang mengambil adiknya Windy Bisma. Dulu gayanya marah tapi ternyata yang mengancam Brit memang benar Bisma.
Sebelum pulang Windy mencari Tian, dan pamit untuk pulang. Tapi Tian hanya menatap sekilas dan memandangi Bima yang tersenyum.
"Tian kak Windy pulang, assalamualaikum."
Tian memandangi kedekatan Bima dan Windy, ada kesedihan di matanya. Sudah lama Ayahnya tidak datang, tapi saat datang bersama keluarganya. Ibu panti menyerahkan surat penitipan dari Bima untuk Bastian.
Di dalam kamar Tian membaca surat dari Bima, dia mengatakan akan datang waktu. Di mana ayahnya akan datang menjemput, Bima meminta Tian berdoa agar ayahnya cepat mendapatkan sosok ibu yang baik untuk Tian. Bima juga menyelipkan foto saat kecil Bima dan Bisma, terdapat juga nama mereka. Tian langsung tersenyum.
"Ayah Bisma, Om Bima. Jadi Windy anaknya Om Bima." Tian memeluk foto yang dia dapatkan dari Bima.
***
"Om Reva masih penasaran, mengapa Om menunda untuk membawa Tian pulang."
"Tian anak angkat Bisma, putra dari Brit dengan selingkuhannya."
"Jangan bilang, dia saudara Windy." Reva melihat kearah Windy yang sudah tertidur.
"Iya, tapi beda ayah." Bima merasa ada yang aneh, Reva seakan tahu siapa Brit.
"Demi menyelamatkan Windy yang berada dalam kandungan Brit. Setelah Windy lahir kami bercerai." Bima tidak mengatakan alasan yang sebenarnya, jika dia dijebak Brit, agar menikahinya kalau tidak dia akan menyakiti Viana.
Brit mengincar harta keluarga Bima, yang 50% milik Bima dan sisanya milik kembarannya Bisma. Tapi saat Brit tahu, Bima tidak mempunyai apapun, seluruh harta kekayaan keluarga Bima dia serahkan ke Bisma tanpa menyisakan sedikitpun untuk dirinya. Brit mulai selingkuh dan gonta-ganti laki-laki sampai akhirnya bercerai.
"Terus, Tian anak Brit dengan siapa? Kenapa bisa bersama Bisma." Reva menggakat kedua bahunya.
"Aku tidak tahu! lebih jelasnya tanya Bisma." Bima hanya tersenyum mendengar Reva mengoceh, kini Bima sadar jika selama ini Reva tidak hilang ingatan.
"Harus kasih tahu kak Jum ini, kenapa musuh aku dan kak Jum sama. Brit banyak banget suaminya, jangan bilang nanti ada lagi anak Brit." Reva terus ngomong sambil nyemil kue.
"Kamu ingat Brit, tapi lupa sama aku." Bima menegur Reva, dia langsung batuk dan mencari minum.
"Reva tahu dari Windy,"
Bima hanya tersenyum sambil menggagukan, dia sangat tahu Windy yang tidak pernah menyebut nama ibunya. Mana mungkin Windy mau bercerita ke Reva.
"Va!"
__ADS_1
"Ya Om!"
"Jangan cerita ke Windy, sampai Bisma yang mengatakannya."
"Iya, tapi Reva tidak bisa menahan diri untuk tidak cerita ke kak Jum."
"Jangan Reva! Bisma dan Jum juga belum jelas hubungannya. Biarkan Bisma yang mengatakan semuanya."
"Ahhh Om, gak asik!" Reva langsung cemberut, tapi apa yang Bima katakan ada benarnya.
Bima menghela nafas, dia heran mengapa bisa nyaman bersama gadis berisik seperti Reva. Selama ini Reva berhasil membuatnya tidak nyaman tidur, belum lagi dengan drama Reva yang hilang ingatan. Bima sangat yakin jika Reva berbohong, apapun alasannya Bima akui Reva berhasil membuatnya terluka.
"Viana, masih ingat tidak saat aku katakan. Jika aku akan menikah dengan wanita lemah lembut, kalem dan halus tapi kenyataannya aku jatuh cinta dengan wanita setengah waras." Bima tertawa dalam hati, sambil mendengarkan ocehan Reva, dia ingin sekali menghubungi Jum membagi cerita dengan Vi tapi Bima tetap melarangnya.
"Om! jangan-jangan! Tian anaknya Bisma sama Brit." Reva langsung teriak kaget.
Bima yang sedang menyimak ucapannya, langsung mengerem mobilnya dengan kuat. Kepala Windy terbentur karena sedang tidur, Reva juga hampir menghantam Dasbor mobil.
Bima cepat meminggirkan mobilnya, melihat Windy yang sudah terbangun dengan meringis menahan sakit. Bima mengelus kepala Windy dan meminta maaf.
"Om mau membunuh Reva ya!" mata Reva langsung melotot dengan kesal.
"Kamu yang bicara sembarangan, kalau ngomong tidak main saring."
"Reva hanya mengutarakan unek-unek Om, salah om yang mengerem mendadak." Reva menantang Bima yang jidatnya sudah berkerut.
"Ya ya ya ya, saya yang salah!"
"Nah gitu, harus mengakui Om." Reva tertawa melihat wajah Bima yang sudah kesal.
"Kamu juga jangan sok tahu, nanti jadinya fitnah."
"Kenapa salah Reva? mungkin saja anak mereka."
"Reva!"
"Kenapa? Om masih cinta ya, hebat banget dia ya bisa menaklukkan hati dua saudara kembar."
"Reva cukup!?" Bima jadinya berpikir ingin segera menemui Bisma, tapi dia langsung menepisnya. Bisma sangat membenci Brit, tidak mungkin dia sembarangan menjalin hubungan.
***
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA
***