MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 CINCIN KAWIN


__ADS_3

Tumpukan berkas tinggi di atas meja, Steven mengacak rambutnya setelah subuh bergelut dengan pekerjaan yang tidak ada tanda selesainya.


Hal yang paling Steven tidak sukai mengurus perusahaan, banyakan berkas yang harus dia baca, juga kerjasama dengan banyak orang.


Stev lebih menyukai suasana tenang, bukan banyak bertemu orang. Menjadi pengusaha juga membuat Stev tidak punya waktu, semua waktunya mengurus bisnis.


"Aku menyerah, tidak sanggup otak aku rasanya ingin pecah." Steven menguap, berjalan ke sofa untuk tidur.


Pintu ruang kerja Stev terbuka, Winda masuk melihat banyaknya buku di ruang kerja, ruang kerja lebih mirip perpustakaan.


"Wow, ada kamar mewah, mobil mewah, akuarium mewah, perpustakaan mewah, rumah kak Stev serba ada." Winda tersenyum mengukur tubuhnya yang pendek, dengan lemari tinggi yang berisi buku.


Steven mendengar suara langkah kaki, membuka sedikit matanya kaget melihat Winda ada di dalam ruangannya, Steven lupa jika hari ini seluruh keluarga datang untuk mengukur baju.


Steven langsung duduk, Winda teriak kaget melihat Stev mendadak bangun. Suara nyaring Reva sudah terdengar, Stev langsung melangkah keluar, Winda juga berlari keluar.


"Reva kapan kalian datang? kenapa tidak menghubungi aku untuk menjemput?" Stev duduk di samping Reva yang sedang melihat undangan.


"Vero yang jemput, katanya tidak tega menemui kamu di ruang kerja yang terlihat pusing."


Steven tersenyum meminta bantuan Reva untuk melihat berkas penting perusahaan, Steven pusing melihat banyaknya tumpukan berkas.


"Aku dengar Vero cukup hebat mengurus perusahaan, kenapa kamu tidak meminta Vero sepenuhnya fokus mengurus perusahaan, kamu bisa fokus ke pernikahan terlebih dahulu." Reva menatap Steven.


"Vero ada balapan malam ini, waktu Vero sudah banyak terbuang untuk menyelamatkan perusahaan saat saham jatuh, aku tidak ingin menghalangi mimpi, hobinya Vero."


Reva tertawa Stev langsung terlalu menyayangi Vero, sehingga tidak ingin adiknya banyak pikiran.


Vero tersenyum mendengar ucapan Stev, padahal Vero sudah mengundurkan diri, dia tahu Stev takut Vero balapan, karena berurusan dengan nyawa, tapi tidak juga melarang.


Windy datang bersama Bima, menunjukkan kepada Maminya semua persiapan pernikahan. Reva mencium wajah Windy, melihat kehebatan Windy dalam menghabiskan uang, memilih gedung paling mewah, juga wedding organizer termahal.


"Sudah berapa persen Windy?"


"Sudah 80% Papi, kita hanya perlu menyiapkan cincin dan gaun. Katanya Mommy gaun sudah di kirim ke salah satu butik Mommy yang berada di sini." Windy menunjukkan pesan dari Viana.


Bima meminta Windy dan Steven duduk, meminta Reva menyerahkan kado pernikahan. Mata Steven dan Windy melihat cincin nikah yang sangat indah.


"Cincin ini selesai setelah yang memesannya tiada. Aku ingin kalian menggunakannya." Bima mengambil cincin yang sangat indah.

__ADS_1


"Indah sekali Papi, Windy suka desainnya."


"Cincin ini milik Stevie, dia memesan sebelum kecelakaan. Papi yang mengambilnya menyimpan untuk mengembalikan kepada Steven."


Steven tersenyum melihat cincin nikah yang sangat indah, setuju menjadikannya cincin kawin mereka.


Reva meminta maaf karena sedikit mengubah desain agar terlihat lebih modern, Steven dan Windy tidak mempermasalahkan.


"Kita hanya perlu mencoba baju pengantin, minggu depan Windy menjadi seorang istri." Windy tertawa mengejar adiknya Winda yang sudah membawa sapu, tidak tahu apa yang ingin dia lakukan.


Bima menggenggam tangan Steven, meminta menjaga Windy setelah menikah, Steven harus bisa menjaga hubungan baik dengan keluarga Bramasta juga keluarga kerajaan.


Steven bukan hanya menikahi seorang Putri kerajaan, juga menikahi seorang Putri utama keluarga terpandang. Bima sudah 17 tahun melindungi Windy, menjaga, mencintainya, bukan hal yang mudah melepaskan Windy, tapi demi kebahagiaan dia Bima mempercayai Steven untuk menjaga Putri utamanya, harta paling berharga dalam keluarganya.


"Kak Bim, Steven tidak tahu harus mengatakan apa, tapi dari dalam hati Stev paling dalam, memohon izin membantu menjaganya. Pernikahan bukan hanya untuk mencari kebahagiaan, tapi meniti kehidupan bersama. Cinta Steven bukan hanya sebuah kata-kata, tapi ketulusan hati, dengan bismillah Stev menyanggupi melindungi, menjaga, membimbing, mencintai dan membahagiakan Windy." Steven menggenggam erat tangan Bima.


Reva meneteskan air matanya, tersenyum melihat Windy yang terlihat sangat bahagia. Tidak pernah Reva sangka, akhirnya putri kecilnya akan segera menikah.


"Stev, aku jatuh cinta padanya saat pertemuan pertama. Aku merasa Windy bagian hidupku." Reva mengusap air matanya.


"Aku tahu Va, kamu ibu paling luar biasa."


"Kak Win, kenapa harus menikah muda?"


"Wildan kamu tidak menyukai kak Stev?" Windy menatap Wildan yang melihat kearah Steven.


"Suka, hanya saja perasaan Wildan tidak enak."


"Kak Wildan lapar, jika Winda perasaannya tidak enak pasti lapar."


Steven mengusap kepala Wildan, bertanya apa yang Wildan khawatirkan. Sebagai seorang anak kecil Wildan pikirannya sangat dewasa, mungkin bisa mengimbangi Steven.


"Siapa Sisilia?"


Steven dan Windy saling pandang, Vero yang mendekat juga terhenti langkahnya mendengar pertanyaan Wildan.


"Mantan kekasih Om Vero, dia seorang dokter." Windy mengusap kepala Wildan.


"Jangan remehkan dia, perempuan ini bisa menjadi penghalang." Wildan melangkah pergi.

__ADS_1


"Dia tidak memiliki koneksi Wil, kak Stev sudah mengecek semua tentang dia. Pengalaman sangat masih dasar." Steven menoleh ke arah Wildan.


"Kebencian, kemarahan, dendam, iri hati bisa membuat orang baik menjadi jahat, lemah menjadi kuat, awalnya tidak punya koneksi, bisa dalam hitungan detik bisa menjadi orang yang memiliki koneksi. Jangan remehkan kak Stev, selama ada kesempatan pasti ada kejahatan."


Steven tersenyum, dia akan menutup kesempatan untuk penjahat yang ingin menghentikan pernikahannya.


"Kenapa Wildan bertanya soal Lia kak?" Vero duduk di samping Steven.


"Apa lagi, playboy seperti Steven dari langit ke tujuh sudah tercium baunya. Dokter calon pelakor, minta Reva pecahkan kepalanya."


"Reva, jaga bicara kamu ada Winda." Bima tersenyum melihat putrinya yang melotot melihat Maminya.


"Winda tidak mendengar, Winda masih polos." Winda melangkah pergi, takut melihat Maminya.


"Di mana ada kesempatan di situ ada kejahatan, tapi bagi playboy di mana ada kesempatan di sana ada kenikmatan." Reva melotot melihat Steven.


"Kamu menyindir diri kamu sendiri Va, dulu kamu juga playgirl."


"Sudah taubat." Reva memeluk lengan Bima.


"Di mana ada kebaikan pasti ada jalan." Bima mengusap kepala Reva.


Windy menatap Steven dan Vero yang sedang berpikir, Sisilia memang gila harta, tapi belum ada kejahatan yang dia lakukan.


Vero juga mengenal baik Lia, dia gila harta demi mengejar mimpinya menjadi dokter. Soal cinta Lia jarang terobsesi.


"Ay Stev, sebaiknya Lia diawasi." Windy memohon.


"Aku yang akan mengawasinya." Vero menatap Windy dan Steven.


Steven menganggukkan kepalanya, meminta Vero berhati-hati. Bima meminta Jangan gegabah, pentingkah keselamatan diri terlebih dahulu, baru bisa menyelamatkan orang lain.


***


...JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA...


...JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA BIAR AUTOR SEMANGAT UP...


***

__ADS_1


__ADS_2