MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 INGIN BERTEMU


__ADS_3

Bima langsung masuk ke dalam mobil, bersamaan dengan Vero yang juga masuk membawa cake pesanan Winda.


Reva tersenyum melihat Bima, langsung memeluk lengannya. Steven menjalankan mobil menuju kediaman keluarga Bramasta.


Sepanjang perjalanan Windy diam, menatap luar jendela. Reva memperhatikan perubahan Windy, hal ini yang paling Reva takuti, Windy belum bisa ditolak keinginannya.


"Papi, boleh Windy bertanya?" Windy melihat ke arah Papinya.


"Boleh sayang, apa yang ingin kamu ketahui. Jika Papi tahu jawabannya, pasti akan Papi jawab."


Windy sebelumnya meminta maaf, pertanyaan mungkin akan sedikit menyinggung Papinya, menyangkut masa lalu Windy, juga beberapa hari mulai mengusik pikirannya.


Bima meminta Windy mengatakan yang dia ingin ketahui, jangan menjadi beban pikiran, jika menyangkut kebahagiaan Windy, apapun akan Bima lakukan.


"Siapa Ayah kandung Windy Papi?"


Vero langsung batuk menyemburkan minuman yang baru saja dia teguk, tatapan Vero melihat Windy, Vero cukup kaget.


"Ayah Windy sudah meninggal, tapi mungkin ada juga yang hidup. Papi akan menutupi terus tentang kamu, tidak ada yang berhak atas Windy selain Papi." Bima berbicara tenang, sesekali melihat Reva yang mengerutkan keningnya.


"Bagaimana jika Windy ingin menemuinya Papi? jika sudah mati setidaknya Windy tahu makam, tapi jika masih hidup Windy ingin melihat wajahnya." Windy melihat ke arah Bima yang tidak memberikan jawaban.


"Mami tidak akan memberikan izin, sekalipun dia hidup atau mati, tidak akan pernah Windy, berhenti membahasnya, jika kamu kuliah di luar hanya untuk memikirkan masa lalu, lebih baik kamu pindah kuliah di sini." Reva menatap tajam Windy yang sudah menudukan kepalanya.


"Suatu hari Windy akan melihat kenyataannya, biarkan waktu yang menjawab ...."


"Bima!" Reva teriak kuat, menatap Bima tidak suka dengan ucapan Bima.


"Reva, tidak pantas kamu memotong pembicaraan, juga menggunakan nada membentak." Bima mengusap kepala Reva.


Steven tersenyum, Bima belum berubah tidak heran banyak wanita yang mengidamkan untuk memilikinya, tenyata Reva wanita yang beruntung, menjadi wanita satu-satunya yang Bima cintai.


Sejak mengenal sosok Bima, Stev melihat Bima orang yang selalu mengalah, tidak pernah berbicara kasar, menegur juga dengan ucapan lembut, dengan belaian tangannya.


Keheningan terjadi, Vero binggung karena dia tidak mengetahui apapun. Duduk terpojok melihat ke arah keluar.


"Kak Stev, kemarin Stev melihat perusahaan Rama merambat ke luar negeri, beberapa sistem mereka berantakan, ada seorang pengacara yang menangani soal bisnis pengusaha luar, seperti kalah di persidangan." Stev mengalihkan pembicaraan agar lebih cair.


"Perusahaan RV yang kemarin ada sekitar 5 orang korupsi, pengacara yang menangani sudah dibayar milyaran untuk membuatnya kalah." Vero masih melihat orang lalu lalang.


Bima tersenyum perusahaan yang Steven katakan, bukan milik Rama, tapi seseorang yang menggunakan nama keluarga Rama, karena putra semata wayang, juga keturunan satu-satunya, menggunakan identitas keluarga Prasetya bisa membuat naik, tapi sayangnya cara kerja yang salah, bawahan Rama orang yang telah melaporkan, bahkan pengacara yang menutupi masalah perusahaan sudah ditahan.

__ADS_1


Stev kembali tersenyum, dugaannya benar. Bima memiliki banyak sekali orang yang berada di sekitarnya, kasus yang baru saja ditutup bisa dengan mudahnya Bima mendapatkan banyak informasi.


Perusahaan yang Stev, sudah dari awal diawasi, tapi tidak dikonsumsi publik, baru beberapa jam Bima bisa mengetahui segalanya.


"Kak Stev kalah dengan kak Bim yang orang luar, tidak heran kak Bima sukses dalam segala bisnis."


"Vero, kamu pintar mengoreksi Steven, memangnya kamu sudah punya sesuatu yang membanggakan." Reva mengerutkan keningnya, Vero sudah tersenyum mengaruk kepalanya.


"Win, kamu kenapa diam saja?" Reva melihat Windy yang duduk di samping Steven.


"Dia tidur Va, tidak kamu dengar suara dia mengorok." Steven tertawa melihat Windy yang bisa dengan mudahnya tidur.


***


Mobil masuk ke area kompleks perumahan, Steven sudah lama tidak datang berkunjung, terakhir datang saat pernikahan Bima, setelahnya kelahiran twins W.


"Lama tidak mampir ke sini kak Bim?" Steven mengehentikan mobil, Reva memukul lengan Steven dia salah mampir rumah.


"Stev, ini rumahnya Jum." Reva melotot.


"Rumah ini dulunya ada bayi?"


"Va, tidak masalah berhenti di manapun, rumah kita juga dekat."


"Iya Ayy, Reva hanya bercanda." Reva tersenyum langsung keluar mobil bersama Bima.


"Win, bangun kita sudah sampai." Stev mengelus pelan wajah Windy.


"Om, peluk, gendong." Windy tersenyum manja.


"Yakin gendong, di depan Papi." Steven menggoda Windy yang langsung mengucek matanya.


Bima membuka pintu mobil, menyambut tangan Windy.


Suara teriakan terdengar dari tiga rumah, Windy berdiri di tengah jalan menyambut adik-adiknya.


"Kak Win." Ravi melambaikan tangannya dari atas pohon, Windy melipat tangannya di dada melihat Ravi, Erik, Tian ada di atas pohon rambutan.


"Ravi!" Viana langsung bertolak pinggang melihat putranya yang sudah tertawa melihat Mommynya, matanya hampir keluar.


Vero langsung masuk rumah Bima, melihat seorang anak kecil duduk memainkan tabletnya sambil menunggu rambutan dijatuhkan.

__ADS_1


"Boleh Uncle minta?" Vero menatap Wildan yang cuek saja.


Vero mengulangi ucapannya, Wildan melihat wajah Vero, langsung memberikan seluruh rambutan yang ada di sampingnya.


"Cuek sekali ini bocah." Vero langsung memanjat, mendekati Ravi yang tersenyum.


"Buahnya manis tidak?" Vero duduk langsung mengambil buah yang merah.


"Uncle percumah manis, jika tidak setia." Ravi tertawa bersama Erik.


"Percumah cantik bocah, bukan manis." Steven protes.


"Ohhhh, ternyata paman ini perempuan, dia ingin dipanggil cantik." Erik tertawa kuat, diikuti oleh Ravi dan Tian.


Terlihat high heels berwarna merah melayang, Ravi Tian berhasil menghindar, high heels berhenti tepat di kepala Vero, Ravi sakit perut tertawa langsung turun pohon, Erik sudah lebih dulu turun.


Vero juga turun, Wildan menatap Vero yang mirip orang bodoh. meminta Vero untuk diam, jangan banyak bergerak.


Steven langsung berlari masuk, Ravi, Tian Erik sudah sembunyi, semua orang menatap Vero takut.


"Wow, keren terlihat seperti pawang ular, kita kemarin melihatnya di kebun binatang, ya kak?" Billa menatap Bella yang masih melongo.


"Serem, Win takut dengan ular, tapi Win suka ularnya kak Ravi." Winda sampai merinding.


"Ver, kamu diam jangan bergerak sedikitpun." Bima menenangkan.


Wildan melangkah mendekat, Steven meminta Wildan untuk mundur. Bella dan Vira dengan santainya mengeluarkan tembak-tembakan diarahkan kepada Steven.


Vero mendengar suara langsung menutup telinganya, tangannya gemetaran. Jum langsung mendekati Vero, Bisma melarang, tapi Jum menenangkan Bima, dia pasti baik-baik saja.


"Sekarang kalian lihat akibat tidak mendengarkan ucapan orang tua, bersyukurlah kalian bertiga tidak terkena masalah." Viana menghembuskan nafasnya yang mulai normal.


"Apa yang merayap di kepala Vero?" Vero menatap seluruh orang yang berlarian meninggalkan dirinya.


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


***

__ADS_1


__ADS_2