MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 HAPPY BIRTHDAY *


__ADS_3

Sudah tiga bulan berlalu sejak kecelakaan yang menimpa Ar dan Winda, putra putri mereka juga sudah bisa tersenyum jika melihat sanak saudara datang berkunjung.


Berita duka kepergian Vivi, sudah diikhlaskan. Seluruh keluarga ikhlas mendoakan malaikat kecil yang hanya menyapa beberapa hari.


Tingkah konyol Wira yang selalu membuat masalah, bahkan memaksa ingin mengganti nama Arsyila menjadi Arum, hanya karena petir.


Arum akan menjadi gadis kuat, meskipun ada hujan, angin dan suara gemuruh langit yang tidak bersahabat. Dia menjadi wanita yang menyinari kegelapan.


Winda dan Ar tidak punya pilihan selain mengikuti keinginan, cucu tertua Bramasta.


"Abi butuh bantuan?" Winda mendekati suaminya langsung mencuri ciuman.


Suara tawa Ar sangat pelan, istrinya semakin memiliki anak, manja sangat berlebihan.


"Abi, Kenapa Winda semakin gemuk? semuanya karena mereka berdua." Bibir Winda monyong, meminta kiss dari suaminya.


"Sayang, kamu cantik tambah cantik. Aku lebih suka tubuh kamu yang sekarang, jangan protes dulu. Dulu cantik sekarang jauh lebih cantik, jujur kamu sangat cantik." Ar tertawa, memeluk istrinya wanita yang sangat dicintainya.


Winda dan Ar kaget mendengar suara teriakan Arum, dia mengoceh dengan suaranya yang tidak jelas bahkan memainkan air liurnya.


"Kenapa kamu tidak terima Arum?" Winda langsung mencium pipi tembem putrinya, tawa kecil juga sudah terlihat.


Pintu terbuka, Erik sudah menggunakan baju santai menunggu keluarga yang lain datang, karena ingin memberikan sesuatu untuk Ar.


Vira juga muncul langsung lompat ke atas ranjang, menciumi Arum yang terus tertawa, dua wanita menyerangnya.


"Bagaimana keadaan Virdan kak?"


"Bagus, dia sekarang sedang tidur." Wildan menyerahkan kepada Winda, langsung memeluk bayi tampan yang kerjaannya hanya tidur.


Vira bahkan selalu mengamuk membangunkan putranya, dia tidak menangis meskipun lapar, hanya mengeluarkan suara, juga ekspresi wajahnya yang memelas.


Ar duduk melihat ponselnya, meskipun sudah bisa berjalan sementara Ar tetap di kursi roda agar tidak lelah.


Selama tiga bulan tidak melihat perusahannya banyak hal yang harus Ar lakukan, baik perusahaan dalam dan luar negeri.


Kepala Ar masih terduduk melihat laporan yang masuk, Winda membuka pintu pelan mengambil kue.


Seluruh keluarga masuk perlahan, anak-anak diminta diam melangkah pelan. Wildan tahu jika Ar sedang konsentrasi dia tidak menyadari sekitarnya.


Vira langsung menggendong Arum, Wildan menggendong putranya, sedangkan Arwin berada dalam gendongan Bima.


"Wildan, boleh aku meminta laporan soal meeting kemarin." Ar melihat ke depan, senyuman Wildan terlihat ternyata Ar sadar jika dirinya ada di depan bukan di samping.


"Apa yang kalian lakukan?" Ar menatap seluruh keluarga yang masih diam.

__ADS_1


Erik menatap serius, tidak mungkin Ar tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan. Tatapan Winda langsung sedih, melihat suaminya.


"Kak Ar tidak tahu ini hari apa?"


"Tahu, ulang tahunku. Aku juga tahu semua gerakan kalian, masalahnya tanggal lahir di kelahiran aku belum tentu benar, sehingga aku ragu kapan aku berulang tahun?" Kepala Ar tertunduk.


Keluarga saling pandang, ucapan Ar ada benarnya. Dia tidak tahu kapan tepatnya dia lahir?


"Ini hari ulang tahun kamu, hari kematian putraku, juga kelahiran kamu. Tiga tahun putraku meninggal, kamu lahir ke dunia ini. Ini juga tanggal di mana kamu menjadi yatim piatu, benci Mami kepada kamu sampai mengingatkan terus hari ini waktunya kamu mati." Air mata Mami menetes, langsung bersujud di kaki Ar yang sudah meneteskan air matanya.


"Maafkan Mami Ar, hari ini pasti menakutkan bagi kamu, karena Mami pasti akan mengatakan kamu harus mati untuk menembus kesalahan masa lalu, tapi sekarang Mami ingin kamu hidup lama, panjang umur, menjadi anak yang tidak pernah sirna kebaikannya." Mami memeluk Ar yang juga berlutut memeluk Maminya.


"Maafkan Ar ya Mami, terima kasih untuk doanya. Ar ingin hidup lama, melihat kedua anak Ar tumbuh, mendampingi Winda sampai kami tua. Tidak ada pinta Ar, hanya ingin terus bersama wanita yang dicintai juga kedua buah hati kami." Tangan Ar menutup matanya, jika dulu doa Ar hanya satu bisa selalu bersama Abinya, setelah Abinya tiada Ar melupakan hari kelahirannya.


Suara ledakan terdengar, Wira tersenyum tidak sengaja memutari confeti membuat kertas warna-warni berhamburan.


Armand langsung tertawa melihatnya, Asih juga memutar miliknya, tapi kesulitan. Em melihat ekspresi Asih yang kesulitan membuatnya langsung marah, membuang jauh tidak ingin bermain.


Langsung mengambil milik Elang, memutarnya sampai kertas warna-warni berhamburan. Kasih menghidupkan lilin yang ada di kue.


Suara Ar tertawa masih terdengar, memeluk Asih yang mengucapkan happy birthday, mendoakannya agar membelikan mainan terbaru.


"Uncle harus sehat, kita bosan ke rumah sakit terus. Jika tidak ke rumah sakit, kita rindu Arum, Arwin dan Virdan." Asih memeluk lembut.


Em juga langsung lompat-lompat bahagia memeluk Ar, mencium pipinya membuat air mata Ar kembali menetes.


"Abi, cium dulu." Winda mencium pipi suaminya, lalu mendapatkan pukulan dari Reva.


"Tidak bisa nanti, kita semua ada di sini. Antrian panjang, untuk mengucapkan ulang tahun." Tatapan Reva tajam tidak sabaran.


Semuanya bernyanyi selamat ulang tahun, sesekali air mata Ar masih menetes. Air mata kali ini ungkapan bahagia, tahun yang penuh rasa syukur karena memiliki keluarga.


Bima memeluk menantunya, mengusap punggung Ar agar menjadi Ayah juga suami yang lebih baik lagi.


Rama juga memeluk putranya, meminta Ar selalu sehat, lancar segala urusan. Menjadi orang yang rajin sedekah.


Satu persatu mengucapkan selamat ulang tahun, menjadi ulang tahun pertamanya yang paling bahagia.


"Ar selamat ulang tahun." Joseph menepuk punggung Ar.


"Terima kasih Uncle, terima kasih juga sudah datang."


"Kakak happy birthday, Jack doakan kak Ar sehat selalu, murah rezekinya, bahagia dunia akhirat." Senyuman Jack terlihat.


"Haduh lama sekali, Em sudah tidak sabar ingin makan kue." Teriakan Em menghentikan semuanya.

__ADS_1


Suara tangisan Ning terdengar, semuanya antara ingin tertawa sama bahagia melihat kehebohan anak-anak.


"Bukan Asih yang nakal."


"Em juga tidak nakal." Em dan Asih angkat tangan jika bukan mereka pelakunya.


"Kenapa Ning?" Wira melihat paha Ning merah, ada bekas gigi.


Bella langsung mengambil putrinya, meminta Tian menjaga putri nakalnya yang suka mengigit orang.


"Pukul gigi Bulan ya?" Bella melotot ingin memukul gigi putrinya.


Suara tawa terdengar, Bulan menunjukkan semua giginya meminta Bella memukulnya.


Tian mencium putrinya, tidak mengizinkan ada yang menyakitinya.


Winda mencium suaminya, menyatukan hidung mereka.


"Happy birthday Abi, panjang umur, sehat selalu, menjadi suami dan Ayah yang luar biasa untuk kami, satu hal lagi I LOVE you." Winda mencium bibir Ar, tidak memperdulikan keributan.


"I love you too Winda, terima kasih sayang." Ar juga mencium bibir istrinya.


"Ar Winda, awas saja kalian langsung membuat anak. Ini lahiran Caesar setidaknya satu tahun paling cepat, bisa juga lima tahun."


"What?" Ar dan Wildan kaget mendengar ucapan mommy yang mengerutkan keningnya.


"Satu tahun, lima tahun." Wildan menatap Vira yang tersenyum lucu.


***



ARMAND PRASETYA.



WINDA BRAMASTA





__ADS_1


NOVEL INI MENDEKATI TAMAT


__ADS_2