MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S3 MENCINTAI MU


__ADS_3

Sudah larut malam Ar tidak bisa tidur, menatap punggung Winda yang membelakanginya. Kepala Ar pusing dengan permintaan Maminya, semuanya tidak akan berakhir semudah yang Ar harapkan.


Winda merasakan Ar turun dari atas ranjang, melangkah pergi duduk di sofa. Winda melihat suaminya yang memijit pelipisnya, karena pusing mengatasi masalah Maminya yang selalu membuat masalah.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? berencana untuk bercerai?" cara Winda bicara terlihat sekali tidak menyukai karakter Ar yang terlalu menghormati wanita, yang tidak menghargainya.


"Jangan bicara seperti itu." Ar langsung kembali ke atas ranjang, menatap wajah Winda yang alami tanpa make up.


Tatapan mata Winda sinis, menepis tangan Ar yang ingin menyentuh wajahnya. Senyuman Ar masih terlihat sudah terbiasa dengan sikap kasar Winda.


"Win, aku tahu kamu membenci diriku, tapi izinkan aku mengubah rasa benci menjadi cinta. Jujur aku tidak tahu kapan mengagumi kamu? kapan jatuh cinta? kamu harus tahu cinta aku tulus untuk kamu." Senyuman Ar terlihat, dia akan terus menunggu sampai hati Winda luluh, menerimanya dengan cinta dan memiliki buah hati.


"Penikahan kita masih hitungan hari, tapi kamu lihat siapa yang hadir. Ummi kamu ingin memisahkan kita, sedangkan kamu tidak bisa bersikap tegas bahkan menghadirkan orang ketiga." Tangan Winda mendorong Ar agar menjauhinya, dirinya sangat muak melihat drama ummi Ar yang licik.


"Kamu tahu aku berada di pilihan yang sulit, meskipun ummi bukan wanita yang melahirkan aku, setidaknya aku hidup bersamanya selama delapan belas tahun. Winda jangan minta aku memilih salah satu dari kalian, memiliki kalian berdua harapan hidupku. Izinkan aku mempertahankan istriku, dan mempertahankan ibuku." Tangan Ar menarik tubuh Winda untuk berdekatan dengannya, Winda langsung memberontak.


"Sebentar saja Win, aku janji tidak akan berbuat lebih. Aku hanya ingin memeluk kamu." Ar memeluk tubuh Winda erat, wanita pertama yang Ar rasakan kehangatan tubuhnya, pelukan yang tidak pernah dia dapatkan baik dari ibu kandung maupun ibu angkat.


Winda akhirnya luluh, membiarkan Ar memeluk tanpa jarak antara tubuh mereka. Winda bisa merasakan ada air mata yang keluar.


"Bertahanlah, sekuat apa kamu bisa, tapi satu hal yang harus kamu tahu jika aku tidak bisa mempertahankan kamu. Mungkin kita akan berpisah atau saling ...." Winda tidak melanjutkan ucapannya, Ar menutup mulutnya, tidak ingin mendengar lagi.


Pelukan terlepas, selimut ditarik menutupi tubuh Winda. Ar meminta Winda tidur, langsung melangkah ingin keluar kamar.


"Ke mana?" Winda menahan Ar yang sudah turun dari atas ranjang.


"Aku ingin bekerja, kamu tidur duluan."


Winda duduk di pinggir ranjang, menyentuh tangan pria tampan dihadapannya. Ar tidak memiliki cacat sedikitpun, dia unggul dalam banyak hal, bahkan memiliki wajah yang sangat tampan.


"Kamu harus mengigat ini, sungguh harga diriku jatuh. Ingat ini selalu Ar, jika wanita satu-satunya yang boleh kamu sentuh hanya aku." Winda langsung berdiri, mengantungkan tangannya di leher Ar.

__ADS_1


Bibir Winda menyentuh bibir suaminya, mata keduanya terpejam merasakan bibir bersentuhan. Jantung Ar langsung berdegup kencang, tangannya langsung panas dingin, keringat sampai keluar merasakan apa yang Winda lakukan.


"Good night." Winda langsung melepaskan Ar, menyentuh bibir suaminya yang basah.


Senyuman licik Winda terlihat langsung memejamkan matanya untuk tidur, sedangkan Ar masih menjadi patung, menyentuh dadanya yang hampir jantungan.


Bersentuhan dengan istrinya saja membuat mematung, tapi terlihat senyuman dari bibir yang baru saja mendapatkan sentuhan.


Ar membatalkan niatnya untuk keluar, langsung memejamkan matanya untuk tidur di samping Winda.


***


Ar terbangun, melihat Winda sudah tidur di atas tubuhnya. Tidak bisa Ar bayangkan tempat tidur luas, tapi tidak bisa menampung Winda yang tidurnya berputar-putar.


Perlahan Winda diturunkan, senyuman Ar terlihat mengusap rambut Winda. Menatap wanita cantik yang memiliki hidung mancung, bibir tipis, mata indah, kulit putih bersih.


"Kamu sangat cantik Win, aku mencintai kamu. Perjalanan pernikahan kita pasti banyak cobaan, tapi aku akan mempertahankan kamu, tidak akan melepaskan sedikitpun." Ar mencium kening Windy membuat hatinya sangat bahagia.


Selesai mandi Ar membangunkan Winda untuk sholat bersama, Winda langsung bangun menolak untuk mandi, hanya mengganti bajunya.


Selesai sholat Winda lanjut tidur lagi, terbangun setelah matahari tinggi.


"Sial, kenapa bangun siang? pelakor sudah lebih dulu mengurus suami kamu Winda." Bantal guling langsung dilempar, Ar menangkapnya.


"Kenapa pagi-pagi marah?"


"Kamu dari mana?"


"Ruangan olahraga, sekarang ingin ke kantor." Ar mengambil dasinya, tersenyum melihat Winda yang berdiri di atas tempat tidur.


Di meja makan sudah siap makanan yang disiapkan oleh Aisyah, senyuman manis wanita berhijab terlihat.

__ADS_1


Ar langsung duduk, menatap banyaknya makanan yang tersedia.


"Pagi Yusuf, lihatlah Aisyah bangun pagi untuk menyiapkan kamu sarapan. Begini baru namanya istri." Senyuman maminya Ar terlihat, meminta Ar makan.


"Itu bukan istri, tapi pembantu." Winda tersenyum lucu, langsung duduk di samping Ar yang ragu ingin memakan masakan Aisyah tidak ingin menyinggung perasaan Winda.


"Mulai besok kamu jangan memasak lagi, aku tidak terbiasa memakan masakan orang lain. Maaf sebelumnya aku tidak bisa memakannya." Ar meminta maid membawa roti, langsung menyiapkan untuk dirinya dan Winda.


Tatapan Aisyah tajam, dia tidak menyangka Ar akan menolak masakannya.


"Kamu sekarang banyak berubah, tidak menghargai makanan lagi." Mami mulai membentak.


"Mami, ayo makan. Tidak baik pagi-pagi sudah terdengar keributan, Mami tolong hargai keputusan Ar." Senyuman Ar terlihat, meminta maminya juga makan.


Winda tersenyum, langsung mengambil roti yang suaminya siapkan.


"Winda, nanti aku pulang makan siang untuk membelikan kamu makanan. Seadanya kamu ingin pergi aku menyiapkan satu sopir khusus, juga ada bodyguard yang akan mengawal. Sebelum pergi izin dulu." Ar mengambil dompetnya, menyerahkan tiga kartunya untuk Winda.


"Kenapa kamu menyerahkan seluruh kartu kamu kepadanya?" Mami langsung merampas seluruh kartu Ar, tidak mengizinkan digunakan oleh Winda.


"Mami, jika Winda tidak diizinkan menggunakan, maka Ar juga tidak bisa membiayai Aisyah. Mulai sekarang seluruh keuangan Ar Winda yang memegang, jika Aisyah membutuhkan sesuatu tidak harus menemui Ar, tapi harus meminta kepada Winda." Suara tamparan kuat menghantam wajah Ar, Winda langsung berdiri melihat suaminya ditampar.


"Inilah penyebab aku sangat membenci kamu, tidak bisa satu kali saja kamu membuat Mami bangga. Kamu mirip budak wanita ular ini, pokoknya Mami tidak setuju." Pertengkaran terjadi, Winda sudah menggenggam kuat tangannya.


"Keputusan Ar tidak bisa ditarik lagi, Mami memiliki kebebasan menggunakan uang Ar, kenapa istri Ar tidak boleh? sudahlah Ar pergi kerja dulu." Ar meminta Winda mengambil kartu di maminya, langsung mengusap kepala Winda melangkah pergi untuk bekerja.


Mendengar suara mobil Ar sudah menghilang, Winda langsung mencengkram kuat tangan Mami, mengambil kartu secara paksa.


"Nenek lampir sialan, kamu tidak akan pernah menang. Ar pemuda jenius, dia baik karena menghormati anda, selain itu kamu bukan siapa-siapa. Satu hal lagi, Ar memiliki keluarga kandung yang sangat menyayanginya." Suara Winda tertawa, memperingati Aisyah untuk berhenti mencari perhatian.


***

__ADS_1


__ADS_2