MENGEJAR CINTA OM DUREN

MENGEJAR CINTA OM DUREN
S2 LALAT KOTOR


__ADS_3

Pertengkaran Reva dan Steven terdengar oleh Windy dan Winda yang langsung berlari. Bima menutup mulut istrinya yang langsung memeluk ingin menangis, Steven sudah tertawa lepas melihat Reva yang ingin menangis.


"Maaf Reva, aku hanya bercanda." Steven mengulurkan tangannya.


Reva langsung menepis tangan Steven, Bima tersenyum meminta Reva juga tersenyum langsung bersiap untuk pergi.


"Awas kamu Steven." Reva menatap sinis masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas.


Bima tersenyum melihat istrinya yang selalu menyimpan dendam dengan Stev, Vero melongo bersama Wildan melihat Reva hampir baku hantam dengan Steven.


Vero baru mengetahui jika kakaknya ternyata bisa melucu juga, bukan hanya dingin, seriusan tanpa senyuman.


"Wil, Bunda kamu cerewet dan menakutkan."


"Mami bukan Bunda." Wildan langsung melangkah keluar untuk masuk ke dalam mobil.


Stev membawa mobil, Vero langsung masuk rebutan dengan Windy. Suara teriakan Winda kuat, melotot melihat ke arah Vero.


"Winda, kamu ingin pergi ke mana?" Vira teriak, tapi tidak berwujud.


"Keluar makan di Restoran."


"Kenapa Vira tidak diajak?" Vira nongol dari balik dinding.


Steven memegang dadanya kaget melihat bocah rambut acak-acakan mengintip, Windy sudah cekikikan tertawa melihat Vira yang melambaikan tangannya, langsung lari ke dalam rumahnya.


Windy duduk di samping Steven, Vero duduk di belakang bersama Winda. Reva datang bersama Bima langsung masuk ke dalam mobil.


"Winda duduk di mana?" Winda langsung duduk dipangkuan Vero sambil cemberut.


"Jalan Stev." Reva meminta cepat jalan.


Mobil keluar gerbang, suara teriakan kuat terdengar. Steven menghentikan mobilnya melihat kaca spion, Wildan melipatkan kedua tangannya di dada.


"Mami Papi, kenapa Wildan ditinggalkan?"


Reva langsung tertawa lepas, Bima juga tertawa melihat putranya ternyata bisa teriak. Pintu di buka, wajah Wildan kesal binggung juga harus duduk sebelah mana.


"Kamu dari mana Wil?"


"Mobil belakang, kenapa menggunakan satu mobil Papi?"


"Biar terasa kekeluargaannya Wil."


"Wildan duduk di mana?" Wil menatap tidak ada sedikitpun ruang untuk dirinya.


"Belakang." Reva keluar meminta Bima keluar, agar Wildan bisa masuk.

__ADS_1


"Winda kamu juga duduk di belakang."


"Kenapa Winda? Mami saja." Winda menggelengkan kepalanya.


"Vero saja di belakang." Vero langsung pindah tempat duduk


Setelah semuanya siap barulah mobil jalan, ocehan Winda mengobrol dengan Windy menjadi penghibur di dalam mobil.


"Vero, kenapa sekarang kamu banyak diam?" Bima menatap Vero.


"Trauma Om, baru datang sudah disambut oleh ular." Vero nyegir kuda.


"Santai saja Vero, kamu bisa menganggap kami keluarga."


"Seriusan Om, boleh tidak Stev kenalan dengan gadis sini?"


"Dasar laki-laki cap kapang, hanya tahu soal perempuan." Reva menatap sinis.


"Di sini jarang ada perempuan lajang, perumahan isinya orang terdekat."


Mobil sampai di Restoran yang sudah dipesan, Bima mengandeng tangan Reva, Steven mengandeng Winda bersama Windy. Wildan jalan lebih dulu bersama Vero.


Kepala Wildan fokus di layar ponselnya, seorang pria berlari kencang. Vero menarik Wildan, menendang kuat kaki pria yang berlari sampai tersungkur.


"Dasar kurang ajar, beraninya kamu menodai aku." Seorang wanita seksi memukuli pria yang hampir pingsan.


"Bodoh amat." Vero langsung berlari ke dalam mengejar Bima yang sudah mengandeng Wildan.


Makan malam sudah siap, Wildan mengucapkan terima kasih kepada Vero sudah menolongnya. Bima bertemu rekan kerjanya langsung mengobrol sebentar, Reva juga ikut menyapa.


"Om Stev sudah menemukan soal Mikel?" Wildan menatap Steven.


"Wildan sayang, Om minta tolong kamu jangan terlibat. Terlalu berbahaya sayang." Steven berbicara pelan.


"Jika menyangkut kak Win, Wildan tidak akan tinggal diam."


"Kamu harus percaya Wil, Om tidak akan membiarkan ada yang menyakiti Windy, kebenaran tidak perlu kita kejar, dia akan datang dengan sendirinya. Kita tunggu waktu yang tepat."


Windy mengusap kepala Wildan, mengatakan jika dia tidak akan terluka. Windy wanita kuat seperti Maminya.


Wildan mengagukan kepalanya, percaya kepada Steven bisa menjaga kakaknya. Stev juga sudah berjanji akan melindungi Windy.


Kening Steven langsung berkerut melihat Vero dan Windy sudah pindah meja, Winda tertawa menjadi Mak comblang untuk Vero yang berkenalan dengan wanita berhijab yang sangat cantik.


Winda meminta Nabila bergabung dengan keluarganya, mata Nabila menatap Steven sambil tersenyum.


"Hai aku Nabil, dia adik kamu?" Nabilla mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Winda ingin kakak berkenalan dengan kak Vero bukan kak Steven." Winda langsung melotot.


"Kak Vero terlalu muda, kak Nabil lebih suka pria dewasa."


"Jangan kak Stev, punya kak Win. Jika ingin pria dewasa kenalan saja sama Papi ...." Winda langsung menaikan suaranya.


"Enak saja kamu Winda, jadi kamu ingin wanita ini mengantikan Mami, dasar kamu Win, ingin Mami masukan lagi ke dalam perut." Reva menatap tajam Nabila.


"Mami, Win belum selesai bicara. Tidak ada yang bisa mengalahkan kecantikan Mami Windy."


"Maafkan ucapan putri saya." Bima langsung memanggil pelayan untuk meminta ruangan pribadi.


Windy menatap tajam melihat Nabilla tidak berhenti menatap Steven, padahal tidak direspon sama sekali. Reva melihat kekesalan Windy, langsung membisikan sesuatu.


Senyum Windy terlihat, Reva menunggu Windy mendekati Nabila, membisikan sesuatu yang langsung membuat Nabil marah memukul meja.


Nabila tidak terima dengan ucapan Windy langsung ingin menamparnya, belum sempat wajah Windy tersentuh, Reva sudah menangkap tangan Nabil, sedangkan Windy sudah mencengkram rahang.


"Beraninya kamu menyentuh putriku, ingat Nabil keluarga kami tidak bisa kamu sentuh dengan mudah." Reva menatap tajam.


Vero mengatakan kepada Reva jika dia melihat seorang wanita yang mengawasi kediaman, saat berada di atas pohon. Reva meminta orang suruhannya mengawasi sampai mereka tiba di Restoran Nabil juga ikut masuk.


Nabil wanita yang satu pesawat dengan Steven, dia tergila-gila pandangan pertama. Mengejar Steven sampai sejauh ini.


"Jangan pernah kamu memperlihatkan wajah kamu dihadapan kami, apalagi berusaha untuk memiliki dia, aku bukan hanya bisa membuat wajah kamu cacat, tapi merontokkan gigi dan tulang belulang kamu." Windy melepaskan cengkeramannya.


Nabilla langsung berlari keluar, Reva menghela nafas. Putrinya bisa dalam masalah jika terus mengejar cinta Om Bule, sejak Reva mengejar cinta Bima, Steven sudah memiliki pesona, memiliki banyak pengemar.


"Mami, om Steven seperti kotoran."


"Jorok sekali Windy."


"Memanggil banyak lalat-lalat busuk."


Winda melihat Windy dan Reva yang menghajar wanita genit, langsung bertepuk tangan. Reva tersenyum langsung mendekati Winda yang mengemaskan, menggendongnya untuk masuk ke dalam.


"Mami, kakak tadi cantik, tapi menyukai milik orang lain, awalnya Winda suka tapi sekarang tidak lagi. Jangankan untuk kak Stev, untuk kak Vero saja Win tidak rela." Winda menatap tajam.


"Baiklah dua Win, sebaiknya kita makan, lupakan sejenak masalah. Kita bersenang-senang, Mami akan melindungi kalian dari lalat kotor."


***


JANGAN LUPA LIKE COMENT DAN VOTE TAMBAH FAVORIT JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP


JANGAN LUPA KASIH HADIAH JUGA YA BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UP NYA


***

__ADS_1


__ADS_2