
Suasana makan malam di keluarga Arlando terasa hening, Winda dan Mami saling pandang melihat Ar dan Josua hanya diam saja.
"Silahkan makan Kak Ar." Jack mempersilahkan, Joseph juga langsung makan.
"Makanlah Ar, di sini makanan halal meskipun Joseph dan Ranty non muslim." Josua mempersilahkan Windy juga makan.
"Aku tidak lapar, kalian makan saja." Ar menyingkirkan piringnya.
"Ar ada masalah dengan makanannya?" Winda berbisik pelan, langsung menyantap makanan.
Kepala Ar hanya menggeleng, mengambil pelan sendok mencoba makanan. Josua tersenyum melihat Ar makan meskipun sedikit.
"Bagaimana keadaan Ranty?"
"Mulai membaik, dia sudah merespon. Dokter juga sedang menunggu Ranty sadar."
"Kenapa tidak dilarikan saja ke rumah sakit?"
"Tidak ada yang mengawasi dia, aku tidak ingin ada yang menyakiti Ranty lagi, terima kasih kamu sudah menangkap Riska." Tatapan Josua tajam, tapi saat melihat putranya langsung berubah menjadi sangat lembut.
"Aku akan berinvestasi di perusahaan kalian, mengatasnamakan Jackson. Saham yang aku tanamkan milik Jack, saat dia besar nanti dia yang akan memimpin." Ar berbicara santai.
Josua, Joseph dan mami kaget, Ar berani mengeluarkan uang yang sangat fantastis hanya demi adik yang tidak ada hubungan darah sama sekali dengannya.
"Jack, kamu harus belajar dengan giat, menjadi kebanggaan Mami dan Papi kamu, juga kebanggaan kak Ar." Senyuman lembut Ar terlihat, memeluk Jack yang juga memeluknya erat.
"Aku minta maaf soal Ranty, atas nama Winda juga aku minta maaf. Sebagai tanggung jawab kami ...." Ar menatap Winda yang menghentikan pembicaraannya.
"Apa maksudnya Winda salah, tanggung jawab apa? kamu ingin menikahi Ranty? ceraikan dulu Winda, dasar laki-laki brengsek." Winda langsung melangkah pergi, Mami menahan tawa melihat Winda.
"Aku akan menanggung biaya pengobatan Ranty, sebaiknya dia dilarikan ke rumah sakit terbesar dengan dokter terbaik, bukan berarti di sini tidak baik, hanya saran agar dia mendapatkan penanganan yang sepantasnya." Kepala Ar tertunduk, meminta maaf kepada Josua, berjabatan tangan agar hubungan mereka menjadi saudara yang saling mendukung bukan menjatuhkan.
Winda yang mendengar tepuk jidat, Mami sudah terpingkal-pingkal menutup mulutnya melihat Winda yang menggaruk kepala.
Selesai bicara Ar langsung pamit pulang kepada Mami dan Josua, bersalaman juga dengan Joseph.
"Semoga kamu bisa menemukan wanita yang tepat, kita bertemu besok di kantor untuk membicarakan kerja sama." Ar menepuk pelan pundak Joseph.
"Terima kasih Ar, aku senang bisa berkerja dengan kamu." Joseph menundukkan kepalanya.
"Winda pamitan dulu dengan Mami."
__ADS_1
"Nenek lampir Winda pulang dulu." Winda melambaikan tangannya, Ar berbalik badan melihat istrinya.
"Hati-hati di jalan wanita ular, jika ada mobil di depan tumbur." Mami tertawa, langsung diam mendapatkan tatapan tajam dari Josua.
Ar langsung melangkah pergi bersama Winda untuk pulang dan beristirahat, senyuman Winda terlihat menatap Ar yang hanya diam saja.
"Winda, kamu jangan lupa jika ada hutang."
"Hutang, Winda tidak punya hutang." Wajah Winda serius mencoba memikirkan hutangnya.
"Selama kamu mengenal aku, apa yang tidak pernah aku ubah?" Ar tersenyum melihat wajah Winda yang berekspresi mengemaskan.
"Emhhh ... semuanya. Hal yang paling Winda tidak suka, apa yang kamu ucap tidak pernah ditarik kembali?" Winda mengigit bibirnya melihat Ar yang hanya tertawa.
"Masih ingat apa yang aku katakan di kantor?"
"Tidak, Winda tidak ingat." Ekspresi Winda memprihatinkan, membenturkan kepalanya di dasbor mobil.
Suara tawa Ar terdengar, lucu melihat tingkah Winda yang memeluk tubuhnya.
Mobil tiba di villa, Winda langsung cepat keluar, berlari kencang membuat Ar tertawa terpingkal-pingkal merasakan lucu melihat tingkah istrinya.
"Winda, ayo cepat aku juga ingin mandi belum sholat." Ar membuka pintu kamar mandi secara otomatis.
Winda langsung berlari keluar kamar, membuat Ar tertawa. Membiarkan Winda yang menghindarinya.
Selesai mandi dan sholat, Ar membaca beberapa berkas sambil bersantai di kamar setelah selesai langsung mematikan seluruh lampu villa.
Suara teriakan Winda menggema di mana-mana, suara langkah kakinya terdengar mendobrak pintu langsung memeluk erat Ar.
Lampu hidup kembali, senyuman Ar terlihat langsung memeluk balik Winda. Posisi Winda ada di bawah.
"Kenapa kamu menyadap handphone?" Ar mencium kedua mata Winda, tatapan tajam Winda langsung hilang.
"Anu, hanya ingin saja, tapi kamu yang menyadap Winda juga." Mata Winda terpejam, jantungan berdegup kencang, ciuman lembut dikening membuat Winda melemas.
"Win."
"Iya,"
"Kenapa kamu membenci aku?" Ar menatap mata Winda, dari bibir sampai ke bulu matanya yang lentik.
__ADS_1
"Tidak tahu, hanya ingin saja." Winda memegang jantungnya takut terbang.
"Aku mencintai kamu Win, aku ingin memiliki keturunan dari kamu, tapi jika kamu membenci maka aku tidak akan menyentuh. Hubungan suami-istri dia yang saling menikmati, bukan hanya sekedar memuaskan diri, jika aku bahagia bisa bersama, setidaknya kamu juga harus bahagia." Senyuman Ar terlihat, langsung duduk melepaskan Winda.
Di dalam hati Winda ingin meminta lebih, tapi ucapan Ar ada benarnya jika mereka melakukan hubungan setidaknya harapan untuk berpisah kecil.
"Aku tidak membenci kamu, hanya saja aku tidak suka melihat kamu terlalu baik." Winda menundukkan kepalanya, ada ucapan yang ingin sekali Winda kata, ucapan maaf juga terima kasih.
"Winda, aku sayang kamu, akan terus menunggu sampai kamu menerima perasaan aku."
"Kak Ar, Winda ingin mengatakan sesuatu, apa Winda terlihat seperti wanita yang tidak punya harga diri?"
"Kamu wanita terhormat Winda."
"Maaf, terima kasih. Dua ungkapan ini sangat sulit Winda katakan, maaf dan terima kasih. Sekian tanpa alasan." Winda menutup mulutnya, rasanya malu sekali mengakui kekalahannya.
"Terima kasih Winda, katakan jika kamu tidak membenci aku." Ar berharap akan keluar kata setidaknya kata sayang, atau rasa ingin bersama.
"Aku tidak membenci kamu, dari awal Winda tidak suka kamu yang terlalu baik."
"Apa kamu ingin memiliki anak dari aku?" Ar menatap mata Winda, pembicaraan mereka serius, tidak ada candaan.
"Ar, aku takut kamu kecewa. Mungkin tidak akan mencintai aku lagi, sebenarnya aku tidak sebaik yang kamu pikirkan, mungkin bukan hanya kamu yang kecewa, kedua orang tua Winda juga." Winda melihat ke arah lain, nada bicara Winda sangat pelan. Ada kekhwatiran yang terlihat.
"Ada apa Winda? katakan. Aku akan menerima apapun." Ar menyentuh tangan Winda yang dingin.
"Kejadian sepuluh tahun yang lalu, Winda membenci diri sendiri, karena rasa penasaran Winda melakukannya dengan lelaki lain."
Ar mengerutkan keningnya, tersenyum dengan ucapan Winda yang tidak mungkin bagi Ar. Lelaki lain yang Winda maksud sungguh membuat Ar tidak percaya.
"Bisa langsung intinya saja."
"Winda, sudah melakukan hubungan intim dengan lelaki lain, hanya untuk membuktikan masih perawan atau tidak. Winda kehilangan kehormatan itu. Maaf, aku tahu ini kebenaran yang sangat menyakitkan. Winda tidak memaksa kamu masih ingin berhubungan dengan Winda atau tidak, apalagi memiliki anak dari Winda. Maafkan Winda." Kepala Winda tertunduk, Ar melepaskan genggaman tangannya.
***
HAI READY, SAMA SEPERTI SUAMIKU MASIH ABG, MENGEJAR CINTA OM DUREN JUGA MELAKUKAN GIVE AWAY KALIAN CUKUP FOLLOW IG AUTHOR.
AKHIR BULAN AKAN ADA PERTANYAAN DI IG SOAL S1 S2 DAN S3, KALIAN BISA JAWAB DI KOLOM KOMENTAR.
__ADS_1